
Hari ini adalah hari minggu yang juga bertepatan dengan liburnya Tami dari restoran. Hari ini rencananya Tami, Cita dan Rio akan pergi nonton bioskop. Ini adalah kegiatan rutin sahabat tiga serangkai ini. Mereka sering nonton bersama jika ada waktu. Tentu saja dengan Cita sebagai donaturnya. Karena ia akan sangat marah jika sahabatnya itu mengeluarkan uang mereka sendiri.
Pernah saat mereka duduk di kelas 2 SMA, Rio membayar makan mereka di café saat Cita sedang ke toilet dan Cita sangat tidak mau berbicara dengannya selama beberapa hari. Dengan susah payah merayu dan membujuk, akhirnya Cita pun kembali mau berbicara dengan Rio dengan syarat Rio tidak akan mengulangi hal yang sama. Sejak saat itu, Tami dan Rio tidak ada yang berani mengeluarkan uang mereka saat sedang jalan bersama Cita.
Mereka berangkat ke mall dengan menggunakan mobil Cita. Saat akan pergi jalan, Cita selalu menjemput Tami dan Rio karena rumah mereka berdua searah dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Sehingga memudahkan Cita untuk menjemput kedua sahabatnya itu.
Setibanya di mall, mereka masuk sambil bercanda ria. Namun tak sengaja Tami menabrak seseorang yang berjalan dengan terburu-buru sampai ia terjatuh.
“Maaf” ucap Tami sambil berdiri.
“Anda tidak apa\-apa nona” tanya pria tersebut.
Sesaat setelah Tami berdiri dan menatap pria tersebut, ia jadi terkejut. Bukan hanya Tami bahkan pria tersebut pun juga kaget.
“Kau lagi? Apa matamu itu tidak bisa digunakan dengan benar” gerutu pria tersebut yang merupakan Satria. Orang yang terkena tumpahan minuman yang dibawa Tami saat direstoran tempatnya bekerja.
Saat melihat Tami, tiba-tiba Satria memiliki ide.
“Ikut aku” pintanya sambil menarik tangan Tami. Namun Tami yang terkejut pun memberontak berusaha melepaskan tangannya dari tangan Satria.
“Lepaskan” Tami memberontak.
“Siapa kau? Lepaskan temanku” ucap Rio sengah berteriak. Hal itu tentu saja mengundang perhatian pengunjung mall.
“Aku calon suaminya” jawab Satria santai yang tentu saja membuat Tami dan sahabatnya tercengang karena kaget. Namun pengunjung yang mendengar ucapan Satria perlahan membubarkan diri, karena menganggap ini adalah urusan pribadi.
Tami yang masih kaget dengan ucapan Satria pun tak bergeming saat Satria menarik tangannya dan membawanya pergi dari hadapan kedua sahabatnya itu.
“Kenapa Tami tidak pernah cerita kalau dia sudah punya calon suami?” tanya Cita pada Rio yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Nanti kita tanyakan langsung padanya” ucap Rio. “Ayo kita ke bioskop saja” ajak Rio sambim menarik tangan Cita.
Cita yang mendapat perlakuan seperti itu dari Rio tentu saja merasa sangat bahagia. Ini karena Cita memiliki rasa yang tak biasa dengan sahabatnya itu.
---- ---- ----
__ADS_1
Satria membawa Tami ke dalam sebuah butik yang ada di mall. Ia meminta pada salah seorang karyawan di butik tersebut untuk memberikan pakaian terbaik pada Tami.
“Untuk apa anda membawa saya kesini tuan? Dan kenapa anda bilang kepada sahabat saya kalau anda calon suami saya. Anda merusak acara saya” gerutu Tami.
Satria yang mendengar Tami menggerutu hanya tersenyum simpul.
“Aku butuh bantuanmu sekarang. Aku akan memberikan bayaran kepadamu untuk bantuanmu” ucapnya yang membuat Tami terlihat semakin bingung.
“Apa?” tanya Tami dengan ekspresi bingungnya.
“Aku tahu kau butuh banyak uang. Aku tidak akan memberikan bayaran sedikit untuk hal ini. Kau hanya perlu berakting sebagai kekasihku di depan keluargaku.” Jawab Satria dengan santainya.
“Apa? Aku tidak mau. Aku akan kembali kepada teman\-temanku. Permisi” Tami hendak beranjak dari tempatnya. Namun tangannya keburu ditahan oleh Satria.
“Aku mohon. Ini demi hidup dan matiku” Satria berkata dengan nada memelas agar hati Tami tergerak untuk membantunya.
“Aku akan memberikan apapun agar kau mau membantuku. Aku mohon. Aku tidak punya waktu lagi” pintanya kembali.
Tami yang masih belum mengetahui situasi apa yang dihadapi Satria akhirnya mengangguk sebagai tanda menyetujui permintaan Satria. Ia hanya berpikir ini berkaitan dengan hidup dan mati seseorang.
Melihat Tami yang telah selesai di make up, Satria sempat terpana karena Tami terlihat sangat cantik dan anggun dengan make up dan pakaian yang digunakannya.
“Kau bahkan jadi sangat cantik” puji Satria yang membuat Tami tersipu.
Satria pun menggandeng tangan Tami dan membawanya menuju ke sebuah restoran mewah yang ada di mall tersebut.
“Nanti kau cukup diam, jika ada yang bertanya aku yang akan menjawabnya” titah Satria. Tami hanya mengangguk saja mendengar ucapan Satria.
---- ---- ---- ----
“Kemana anak itu, lama sekali” seorang wanita yang sudah cukup berumur terlihat tampak sangat khawatir.
“Tunggu saja. Dia pasti datang. Mungkin masih ada pekerjaan makanya ia terlambat. Maafkan anak kami” ucap seorang pria paruh baya kepada istrinya dan kepada beberapa orang yang ada dihadapannya.
__ADS_1
“Tidak apa om, Syifa mengerti kok” ucap Syifa dengan manja.
Mereka yang sedang menunggu kedatangan seseorang tersebut merupakan orang tua Satria bersama dengan rekan kerja ayahnya. Mereka berniat mengenalkan Satria dengan seorang gadis yang bernama Syifa agar Satria mau kembali menjalin hubungan dengan seorang wanita.
Syifa merupakan teman sekolah Satria. Saat orangtuanya mengatakan akan mengenalkannya dengan anak temannya, Syifa menolak. Ia merasa orangtuanya akan menjodohkannya. Namun saat melihat foto dari orang yang akan dikenalkan kepadanya tersebut, Syifa langsung berubah pikiran. Bahkan ia sangat bersemangat dan tak sabar ingin bertemu dengan rekan ayahnya tersebut.
Hal itu karena orang yang ada di foto tersebut adalah Satria. Pria yang sudah disukainya cukup lama, sejak sekolah. Namun Satria bahkan tak pernah menanggapinya. Bukan tanpa alasan, hanya saja Satria tidak menyukai sifat wanita itu. Sejak sekolah Syifa selalu bersikap angkuh dan semena-mena. Bahkan ia sering memaki jika orang membuatnya marah atau kesal. Selain itu ia juga orang yang egois.
“Maaf terlambat” suara Satria membuat semua orang yang ada di ruangan VVIP tersebut menoleh ke arah pintu. Saat melihat Satria yang datang dengan seorang gadis, tentu saja membuat semua orang merasa terkejut.
“Satria? Siapa gadis ini?” tanya nyonya Emma, mama Satria.
“Ini kekasihku” ucap Satria sambil menarik kursi untuk Tami duduk. Setelah Tami duduk, Satria pun ikut duduk di sebelah Tami.
Belum hilang rasa terkejut mereka karena Satria datang membawa seorang gadis, kini mereka kembali dikejutkan dengan jawaban Satria yang mengatakan bahwa wanita itu adalah kekasihnya.
“Apa\-apaan ini?” tanya Hendri, ayah Satria dengan suara yang agak tingga dan tatapan sinis terhadap Satria dan Tami.
“Bukankah ayah bilang akan makan siang dengan kolega ayah yang membawa serta anak gadisnya? Makanya aku membawa kekasihku juga kesini” jawab Satria santai.
Tami yang baru pertama kali berada disituasi inipun wajahnya memucat. Ia tidak menyangka jika Satria akan membawanya bertemu dengan keluarganya. Bahkan penyambutan yang diterima pun membuatnya merinding. Satria yang menyadari ketakutan Tami tersebut langsung menggenggam tangan Tami sehingga mengurangi sedikit ketegangan diwajah Tami.
Syifa yang melihat itu menjadi kesal karena Satria sama sekali tak meliriknya.
“Satria perkenalkan ini Syifa, anak pak Bandi. Dio teman papa” terang Hendri.
“Udah kenal pa. Kami dulu satu sekolah” acuh Satria.
“Bagus donk kalau kalian sudah saling kenal. Kalian bisa jadi lebih dekat lagi dengan cepat” sambung pak Bandi yang membuat Satria tersenyum malas.
“Oh ya perkenalkan ini Tami, ke\-ka\-sih\-ku” ucap Satria yang menekankan kata kekasihku sambil melihat Syifa. Tami pun hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum canggung saat Satria memperkenalkannya kepada keluarga.
“Ya sudah ayo kita makan” ajaknya nyonya Emma.
Mereka yang masih merasa situasi cukup tegang ini pun makan dalam diam. Hanya Satria yang tidak merasa ketegangan itu. Ia bahkan sesekali menyuapi Tami dengan makanannya. Walau dengan tak enak hati, namun Tami tetap membuka mulutnya saat Satria menyuapinya.
Perlakuan satria terhadap Tami membuat Syifa semakin kesal. Namun tidak dengan Emma, ia merasa sangat senang karena putra kesayangannya bisa berlaku manis terhadap perempuan.
__ADS_1