
**Tak ada yang salah dengan khayalan, karena hidup penuh dengan ilusi. Namun untuk mampu merealisasikannya membuatmu bahagia.
°°°°°**
Siswa dan siswi Mekar Sari tampak berhamburan menuju satu ruangan, dimana di sana merupakan ruangan terbesar disekolah itu dan terletak dilantai tiga gedung itu. Yap, saat akan jam waktu mengajar tiba, tiba-tiba saja pengumuman yang terdengar lewat speaker yang di letakan di setiap ruangan bahkan di seluruh penjuru sekolah itu membuat suasana seketika menjadi hening.
"DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH SISWA DAN SISWI MEKAR SARI UNTUK SEGERA BERKUMPUL DI AULA SEKOLAH. Sekian dan terimakasih".
Pengumuman itu sontak saja membuat para siswa dan siswi menjadi penuh tanda tanya, karena mereka tidak tau apa tujuan mereka dikumpulkan.
"Aku dengar sih, kata mereka pemilik sekolah ini akan datang" Timpal seorang siswi dengan temannya.
"Apa kau benar?". Pertanyaan itu lolos saat ia mendengar ucapan temannya.
Mutiara, Dini dan Helen berjalan bersama menuju aula, mereka memang satu kelas. jadi tidak heran kalau selalu pergi bersama.
"Kalian duluan saja, aku kebelet ni". Perkataan mutiara sukses membuat anggukan bersama antara Dini dan Helen.
Helen dan Dini pergi lebih dulu, sementara Mutiara langsung berlari kecil menuju toilet yang terletak di ujung tempat itu.
Saat melewati lorong sekolah itu, tidak sengaja mata Mutiara menangkap sosok seorang pria tinggi dan tampan serta memiliki postur tubuh yang sexi melewatinya dari arah yang berlawanan. Lelaki itu melewati Mutiara tanpa menoleh sedikitpun dia hanya sibuk dengan benda yang sedang ia mainkan ditangannya, tidak lain adalah ponselnya sendiri.
Begitu pria itu berlalu di samping Mutiara, parfum pria itu langsung menyeruak memasuki rongga-rongga hidung Mutiara. Wangi dan menggoda. Itulah yang Mutiara rasakan. Dia bahkan langsung menghentikan langkahnya sebentar hanya untuk menikmati aroma parfum itu, sejenak ia memejamkan matanya membiarkan hembusan angin dan wangi pria itu menghantam tubuhnya.
Mutiara tampak langsung tersenyum saat wangi parfum pria itu masih melekat dalam hidungnya. Ia langsung bergegas menyelesaikan keinginannya dan langsung kembali ke aula dimana mereka dikumpulkan.
Sepanjang jalan Mutiara hanya selalu tersenyum, ingin rasanya ia menemui pria itu lagi dan menghirup aroma parfum pria itu sepuas mungkin.
Saat memasuki ruangan aula itu, dia langsung bisa melihat lambaian tangan Helen dan Dini dari kejauhan. Dia langsung tersenyum senang lalu kemudian berjalan dengan cepat menghampiri kedua sahabatnya yang sudah mengosongkan bangku untuk tempatnya duduk.
Mutiara langsung duduk tepat ditengah-tengah diantara Helen dan Dini.
"Apa acaranya belum mulai?". Tanya mutiara kemudian.
"Bagaimana mau mulai, kan bintang tamunya saja baru datang". Sahut Helen seraya melirik Mutiara.
"Siapa yang akan jadi bintang tamunya?, memangnya ada yang pakai acara Bintan tamu segala?". Celetuk Mutiara keheranan.
__ADS_1
"Tentu saja ada, itu dia...". Tunjuk Dini kerah panggung.
Helen dan mutiara langsung menoleh dan mereka bisa melihat seorang pria tampan dengan memakai setelan jas silver yang sudah menjadi pusat perhatian banyak orang di sana terutama bagi kalangan siswi-siswi. Wajar lah, secara kan pria itu kelewat sempurna.
Mutiara langsung tersenyum begitu melihat pria itu, karena baru tadi dia berpapasan dengannya. Sungguh. Pucuk dicinta Bulan pun tiba.
Pangeran ku, tunggulah, sang putri akan segera menghampirimu.
Helen dan Dini bergidik saat melihat Mutiara cengar-cengir sejak tadi. Aneh bukan sih?, tentu saja, Mutiara senyam-senyum tanpa alasan.
"Hey...". Seraya menepuk pelan pundak Mutiara.
Sontak saja khayalan Mutiara langsung buyar karena diganggu oleh Helen. Dia kemudian langsung menatap Helen dengan horor.
Marah, kesal, tentu saja. Padahal dia sedang berkhayal menaiki kuda putih bersama sang pangeran impiannya. Untung saja dalam khayalannya dia tidak sampai terjatuh hanya karena Helen mengganggunya, jika tidak mungkin saja Dia marah besar pada Helen.
"Kau mengganggu ku ". Mendengar protes dari Mutiara, Helen langsung menatap bingung.
"memangnya kau ngapain?". Tanya Helen langsung.
"Berkhayal menaiki kuda putih bersama pangeran ku". Jawabnya seraya tersenyum melihat pria yang sudah berdiri di atas panggung.
Mutiara sama sekali tidak menggubris protes dari kedua temannya ia tetap tersenyum senang dengan tatapan tak pernah lepas dari atas panggung.
"Biarin, yang penting pangeran ku tetap menjadi milikku". Sahutnya kemudian.
Kedua temannya langsung melongo mendengar respon dari Mutiara, entah siapa pangeran yang Mutiara maksud, mereka sama sekali tidak tau.
Acara sekolah langsung dimulai begitu orang yang penting itu sudah menaiki panggung. Beberapa patah kata sambutan langsung diluncurkan oleh sang pembawa acara yang tak lain adalah guru bahasa hingga akhirnya mereka memasuki acara puncak yaitu mendengarkan arahan dari sang pemilik sekolah sekaligus akan menjadi kepala sekolah itu.
Segera pria itu langsung naik ke podium. Ia tampak sedikit tertegun saat melihat banyaknya siswa dan siswi sekolah itu. Tentu saja sekolah itu merupakan sekolah terbaik di kota tersebut.
Kata-kata pembukaan langsung pria itu lancarkan hingga memasuki perkenalan diri.
"Nama saya Sofyan Hadi Rudyatmo, Usia saya 28 tahun, selain menjadi kepala sekolah saya juga akan mengajar beberapa kelas di sekolah Mekar Sari ini".
Perkataan Sofyan langsung membuat para siswa riuh, mereka tampak senang saat mengetahui kalau Sofyan juga akan mengajar disekolah tersebut. Sama halnya dengan Mutiara dia langsung bersorak bahagia dan langsung tersenyum kegirangan. Tidak disangka pangeran yang dia maksud adalah Sofyan akan mengajar disekolah nya dengan begitu dia akan memiliki banyak waktu melihat sang pangerannya.
__ADS_1
Setelah acara itu berakhir, kini sudah memasuki siang. Mutiara dan kedua temannya langsung duduk disalah satu kursi di kantin tersebut.
"Muti, kau tau tidak, bapak Sofyan masih sangat tampan bukan?". Tanya Helen kemudian.
Mendengar nama Sofyan disebut membuat hati Mutiara langsung bergemuruh kegirangan.
"Tentu saja, dia kan pangeran ku". Sahut Mutiara tanpa sadar.
Helen dan Dini langsung menahan senyum saat mendengar penuturan Mutiara yang blak-blakan.
"Kau jangan bermimpi deh". Ucapan Helen sukses membuat Mutiara menjadi kesal. Bukannya mendukung, kedua temannya tampak sedang mengejeknya.
"Tapi dari yang aku dengar pak Sofyan belum menikah lo". Kali ini perkataan Dini langsung membuat senyum Mutiara kembali mekar.
Kalau jodoh ma, nggak akan kemana.
"Benarkah?. Berarti aku masih memiliki kesempatan dong".
Kedua temannya langsung tertawa saat mendengar ucapan Mutiara mereka tidak menyangka kalau mutiara sangat berambisi untuk menjadikan pemilik sekolah itu menjadi pangerannya.
hahaha.
Seketika Mutiara langsung cemberut saat melihat kedua temannya. Dia menjadi kesal sendiri namun itu tidak membuat tekatnya menjadi lemah, dia akan tetap berusaha menjadikan khayalannya menjadi kenyataan dan membuktikan pada kedua temannya kalau Sofyan benar-benar jodohnya.
.
.
.
**masih penasaran dengan cerita selanjutnya, tetap ikuti ummi ya.
jangan lupa :
vote
like
__ADS_1
komen + favorit
jika sekiranya ada masukan silahkan tulis di kolom komentar ya**...