Cinta Sebatas Angan-angan

Cinta Sebatas Angan-angan
Kembali sekolah


__ADS_3

" Bunda, Muti ngak mau disuntik. Muti ngak mau... hiks...hiks..."


"Putri ayah ngak boleh gitu. Percaya sama ayah, Muti akan baik-baik saja" jelas Andi mencoba meyakinkan


Akhirnya sang dokter hanya bisa pasrah dan kembali menyimpan alat suntik tersebut.


"Dek, dokter tidak akan menyuntik Adek. Coba liat, suntikannya sudah tidak ada" ucap dokter berhijab itu dengan lembut


Mutiara langsung menoleh dan menghentikan tangisnya saat sudah tidak melihat suntikan tadi. Pandangannya kemudian langsung mengarah pada Sofyan yang tampak masih setia menemaninya.


Seketika Mutiara merasa malu sendiri mengingat ulahnya yang takut disuntik seperti anak kecil. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang takut disuntik.


Menyadari kegugupan Mutiara, Sofyan langsung paham. Dia kemudian menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Mutiara.


"Mutiara, apa lukanya masih begitu sakit?" tanya Sofyan dengan lembut


"Tidak pak, sudah tidak terlalu sakit" sahut Mutiara dengan gugup sehingga membuat Sofyan tersenyum simpul.


Melihat itu membuat jantung Mutiara seakan seperti lari maraton, dan dia sedikit tertegun melihat senyum menawan Sofyan apalagi jarak mereka tidak jauh.


Melihat Mutiara yang tampak tidak menghiraukan kehadiran dokter tadi, Sofyan langsung memberi isyarat mata agar dokter segera menyelesaikan tugasnya. Sementara dirinya terus mengajak Mutiara mengobrol ringan agar ketakutan Mutiara mulai menghilang.


"Muti, bukankah kau ketua kelas di sekolah?" tanya Sofyan tiba-tiba


"Iya pak, Muti ketua kelas" sahut Mutiara dengan gugup.


"Bisa kau katakan siapa yang akan menggantikan posisimu untuk sementara nanti? soalnya bapak harus mengumpulkan tugas yang kemaren, sementara Mutiara sendiri masih dirumah sakit" Jelas Sofyan panjang lebar.


Auuuggghhh..... Mutiara sedikit meringis karena merasa ada bagian tubuhnya yang seperti tersengat semut besar. Tapi karena fokusnya hanya pada obrolannya dengan Sofyan membuatnya tidak menghiraukan rasa sakit tersebut, dia malah menanggapi pertanyaan Sofyan.


"Bapak bisa mengandalkan Niko nanti. Biasanya Niko yang akan mengambil alih tugas Mutiara saat Mutiara tidak hadir atau berhalangan" jelas Mutiara sehingga membuat Sofyan kembali tersenyum sembari mengangguk mengerti.


Sementara Erna dan Andi hanya terkekeh pelan saat putrinya tidak menyadari kalau dirinya sudah disuntik oleh dokter. Dan sekali lagi Sofyan telah membantu Mutiara agar cepat sembuh.


Setelah bercerita cukup lama, akhirnya Sofyan pamit undur diri. Karena walau bagaimanapun dia harus istirahat mengingat dia harus mengajar besoknya disekolah.


"Bunda apa ranjang rumah sakit disini ada semut nya?" tanya mutiara dengan polos saat dia kembali teringan sengatan tadi.


"Tidak kok, iya kan yah? mungkin hanya perasaan Mutiara saja" sangkal Erna meyakinkan.

__ADS_1


°°°°°


Lima hari berlalu, saatnya Mutiara kembali kepada aktifitasnya seperti dulu. Seperti biasa pagi ini dia akan berangkat ke sekolah tapi sepertinya mentari yang tampak cerah membuat Mutiara terlihat berbeda.


Mutiara yang biasanya berjalan kaki dan menaiki bus kali ini Malah mengayuh sepeda dan menyelusuri jalanan yang masih tampak sepi seperti biasanya.


"Neng, pakai sepeda ya...?" sapa penjual sayur yang melihat Mutiara.


"Iya mang, capek jalan terus" sahut Mutiara.


Setalah Menempuh perjalanan, kini sampailah Mutiara disekolah. Dia segara membantu satpam memebuka pintu gerbang seperti biasanya.


"Eh, Mutiara. Kemana aja hampir satu Minggu bapak ngak liat?" tanya satpam itu penasaran.


"Kurang sehat pak, tapi sekarang Alhamdulillah sudah baik-baik saja"


"Bagus atuh..., memangnya kemaren sakit apa?"


"Sakit bisa pak, udah ya pak. Muti mau ketaman dulu" pamit Mutira kemudian.


Sang satpam hanya mengangguk sembari melepas kepergian Mutiara dengan tersenyum.


Mutiara langsung mengambil sebuah buku novel dari dalam tasnya dan mulai fokus membaca kata pekata dalam setiap tulisan yang ada di sana. Bahkan sesekali dia malah tersenyum sembari berhalusinasi menjadi tokoh utama dalam novel yang dia baca.


"Pocong, pocong...." gagap Mutiara sangking kagetnya.


"Apaan sih lu, senang banget liat temannya jantungan" ketus Mutiara


"Hehehehe.... Maaf, Lo kaget juga ternyata" cengenges Helen tanpa rasa bersalah.


Mutiara hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah absolut temannya sendiri.


"Biang gosip mana? belum datang?" tanya Mutiara


"Teman sendiri dikatai" jawab Helen


"Emang kenyatannya kan, Dini ratu gosip?"


"Iya sih, kagak salah lagi 100% benar" ucap Helen mbenarkan.

__ADS_1


Lalu kemudian mereka tertawa merasa lucu dengan ucapan mereka sendiri. Walaupun begitu tetap saja Dini adalah teman mereka yang paling mereka sayangi.


"Guys, hari ini kita bakal belajar di lapangan sama pak Sofyan" ucap Dini tiba-tiba


"Pajang umur juga ternyata" gumam Helen dan Mutiara bersamaan.


"Dapat info dari mana lu?" tanya Helen


"Tadi gue dengar buk Evi ngobrol sama pak Eko, katanya bapak Sofyan akan mengajak kita belajar ditaman luar sekolah guna untuk menjernihkan pemikiran siswanya..."


"Yang benar...?" tanya Mutira tiba-tiba


"Ya elah elu. Baru sehat juga udah main potong ucapan orang aja. Ya benar lah, memangnya kapan gosip dari Dini salah" sombong Dini kemudian memuji dirinya sendiri.


Helen dan Mutira hanya terkekeh melihat tingkah Dini yang menurut mereka sangat lucu.


Ternya benar, Sofyan langsung mengajak kelas mereka belajar diluar sekolah tapi tidak dengan kelas Dini. Dimana Sofyan memberikan beberapa materi dan ternyata usahanya tidak sia-sia hanya sedikit yang tidak mengerti penjelasan dan hampir semua mengerti akan ucapannya dan tentunya itu semua akan mempermudah pembelajaran siswanya nanti.


"Mutiara kamu sudah sehat?" tanya Sofyan tiba-tiba sehingga para siswa langsung terfokus pada Mutiara yang duduk dibelakang.


Sofyan baru menyadari kalau ternyata Mutiara ikut kelasnya, dia pikir Mutiara masih sakit dan masih dirumah sakit.


"Iya pak, saya sudah lebih baik" jawab Mutiara dengan sopan.


"Baiklah nanti kalau kamu merasa kurang enak badan, bilang saja. Tidak usah sungkan" jelas Sofyan.


Mutiara langsung mengangguk dan Sofyan kembali menjelaskan materi yang akan dia sampaikan sampai tibalah waktunya mereka istirahat.


Mutiara duduk dibawah pohon beringin yang begitu rindang sembari menunggu Helen mengambilkan air Minum, dari kejauhan Dia bisa melihat beberapa anak kecil dengan ibu dan pengasuh masing-masing tampak sangat bahagia dan itu membuat senyum diwajahnya.


"Minumlah, bukankah ini saatnya kau minum obat" ucap seseorang dari samping.


Sontak saja mendengar ucapan pria itu Mutiara langsung menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat Sofyan dengan tangan yang menyodorkan sebotol air minum untuknya.


"Bapak, tidak perlu. Sebentar lagi Helen akan datang dan membawakan minum untuk saya" tolak Mutiara dengan halus.


"Helen sudah pulang, tadi dia pamit sama bapak, katanya dia harus mejenguk neneknya yang berada di Surabaya bersama orang tuanya" jelas Sofyan


"APA??? kenapa Helen ngak bilang sama Muti?"

__ADS_1


"Dia buru-buru dan tidak sempat memberitahu mu" jawab Sofyan


Setelah mengetahui kalau Helen pergi, mutiara tampak sedikit kecewa karena Helen tidak memberitahunya namun walaupun begitu dia berdoa agar Helen dan keluarganya baik-baik saja.


__ADS_2