
Kejarlah jika menurutmu itu baik, gapai lah jika itu benar, berjuanglah jika itu pantas untuk kau perjuangkan. Maka bahagia lah agar semua terasa mudah.
°°°°°
Selama didalam mobil Mutiara hanya bisa terus tersenyum seraya mencuri-curi pandang kearah Sofyan yang tengah sedang serius mengemudi. Benar, karena melihat kondisi sekolah yang mulai sepi membuat Sofyan sedikit cemas untuk meninggalkan Mutiara sendiri karena itu dia menawarkan tumpangan pada Mutiara. Awalnya Mutiara menolak, tapi karena terus dipaksa oleh Sofyan akhirnya dia lebih memilih menurut saja.
Jantung Mutiara berdegup dengan kencang saat melihat wajah yang terlihat maskulin saat Sofyan begitu fokus untuk mengemudi. Senyumnya tidak pernah lepas, tapi sayang Sofyan samasekali tidak menyadari kalau muridnya itu sedang mengagumi dirinya bahkan mencuri-curi pandang kearahnya.
Mobil berhenti sesuai dengan alamat yang ditunjukkan oleh Mutiara, dengan cepat dia langsung membuka pintu dan mulai keluar dari mobil Sofyan.
"Terimakasih banyak pak, sekali lagi maaf telah merepotkan bapak" ucap Mutiara dengan sopan.
"Tidak perlu sungkan, seharusnya bapak yang berterimakasih karena telah menemukan kunci mobi bapak. Bapak hanya membalas kebaikanmu saja" sahut Sofyan tidak kalah sopan.
Mutiara hanya tersenyum, setelah itu dia langsung pamit untuk pulang.
Setelah kepergian Mutiara, Sofyan langsung meninggalkan tempat tersebut dan bermaksud langsung pulang kerumahnya.
"Baru pulang neng ?" tanya salah seorang ibu-ibu yang tidak sengaja lewat didepan rumah Mutiara dan melihat Mutiara masih memakai seragam sekolah.
"Hehehehe, Ibuk. Dari mana buk ?" tanya mutiara tanpa menjawab pertanyaan ibu itu, melainkan dia hanya membalas dengan senyuman.
"Dari rumah nenek Nunung, dia sedang sakit keras, tadi mampir sebentar buat liat" sahut ibu itu seraya menunjuk arah rumah nenek Nunung.
"Sakitnya tambah parah ya buk ?, kenapa tidak dibawa ke dokter saja?.
"Tadi anaknya sudah ditelpon katanya dia akan segera sampai dan membawanya ke rumah sakit" terang ibu itu pada Mutiara.
"Kalau begitu Ibuk pamit dulu neng, maklum masih banyak kerjaan" pamit Ibuk itu kemudian.
Mutiara lantas mengangguk, dan memasuki rumahnya setelah ibu tadi pergi. Lelah pastinya, karena hari juga sudah sore tapi mengingat pangerannya yang tadi sempat mengantarkan dirinya pulang membuatnya seketika tersenyum hingga melupakan penatnya saat ini.
Dreeeet.....dreeet... Ponsel Mutiara seketika langsung berdering.
📞"Muti jadi nggak ni?" tanya orang dari sebrang telpon.
📞"Salam dulu kek, ini langsung nyorocos aja tuh mulut" omel Mutiara pada Helen.
📞"Hehehehe... Maaf, Assalamualaikum Muti !!!" sapa Helen dengan sopan mengulangi ucapannya.
📞"Walaikumsalam, ada apa kamu telpon?"
__ADS_1
📞"Ya elah, kamu lupa ? kita ada janji buat jalan-jalan malam ini Lo. Seperti biasa nongkrong" sahut Helen.
📞"Aku nggak lupa, cuman lagi nggak ingat aja. Ya sudah, nanti aku bakal datang. Seperti biasa datang tidak dijemput tapi pulang diantar".
📞"Elo mah, sama aja kali, lupa dan tidak ingat. Ya sudah aku cuman mau bilang itu aja. Kalau masalah antar, itu mah beressss...."
Setelah itu telpon langsung dimatikan oleh Mutiara, dia langsung bergegas membereskan rumahnya dibantu dengan salah seorang asisten rumah tangga mereka yang ditempatkan oleh ayahnya untuk mengurus keperluan dapur.
Matahari sudah tampak terbenam digantikan dengan gelap yang mulai menutupi cahaya. Kini keluarga mereka tengah sedang berkumpul untuk sarapan atau yang lebih tepatnya makan malam.
"Muti kamu jadi keluar?" tanya sang ayah pada putrinya.
"Jadi yah, Muti janji nggak bakal pulang larut malam" sahut Mutiara seraya membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Bunda nggak melarang muti buta keluar, tapi seperti biasa muti harus hati-hati dan jaga diri dengan baik. Dan satu lagi...." perkataan bunda langsung terputus oleh Mutiara.
"Jangan salah pergaulan, dan jangan menjadi cewek liar. Muti selalu ingat bunda" Ucap Mutiara seraya mengucapkan apa yang akan bundanya katakan.
Setelah terasa cukup, Mutiara kini mengambil tas selempang yang akan menghiasi penampilannya malam ini. Mutiara mengenakan rok tutu sedikit di atas mata kaki dan dipadukan dengan kaos putih beserta jaket jeans yang melekat ditubuhnya. Tidak lupa rambutnya dikepang menjadi satu dan dibiarkan tergelatak di bahunya.
"Ayah, bunda, Muti pamit ya" seraya menyalami keduanya untuk pamit keluar.
Mutiara memesan taksi dan mulai melesat menuju tempat mereka nongkrong. Taksi itu berhenti tepat pada sebuah kafe tempat dimana banyak orang-orang selalu nongkrong hanya untuk sekedar tegur sapa dengan teman-teman masing-masing.
"Malam muti, seperti biasa kan?" tanya salah seorang pegawai kafe itu saat melihat Mutiara.
"Iya mbak, dan jangan lupa antar ketempat biasa" sahutnya kemudian.
Mutiara dan teman-temannya memang sering nongkrong ditempat itu, sehingga pegawai yang ada di sana sudah tidak heran dengan mereka lagi. Bahkan kebanyakan mereka sudah tau apa yang akan mereka pesan, selain itu ruangan mereka juga khusus.
Setelah kepergian Mutiara, kini seorang lelaki memasuki tempat itu dengan aura yang cukup membuat orang kagum saat melihatnya.
"Tuan, mari saya antar" Manajer cafe itu langsung menyambut orang tersebut dengan hormat.
Sofyan lantas langsung mengangguk dan mengikuti langkah manajer itu. Benar Brian adalah pemilik cafe tersebut, selain menjadi kepala sekolah dan mengajar ia juga mengelola beberapa bisnis. Dan perusahaannya tergolong merupakan perusahaan yang disegani oleh banyak orang, namun untuk saat ini yang menjalankan perusahannya adalah orang kepercayaannya.
"Bagaimana perkembangan cafe ini?" tanya Sofyan langsung.
"Semuanya berjalan dengan sempurna tuan, bahkan anak cabang yang ada dipinggiran kota juga sudah mulai rami oleh pengunjung. Tapi kebanyakan pengunjung adalah anak-anak muda dan beberapa orang-orang yang ingin mengadakan rapat" jelas manajer itu melaporkan.
Sofyan langsung tersenyum puas, walau dia tidak turun tangan langsung tapi dia percaya pada orang-orangnya. Namun tetap saja jika ada kesempatan dia akan selalu berkunjung.
__ADS_1
Disisi lain.
Seseorang tengah sedang berlari terburu-buru melewati beberapa meja dengan pisau yang ada ditangannya. Lelaki itu bermaksud akan menghajar teman selingkuhan pacarnya yang dia ketahui sekarang sedang berkencan dengan pacarnya di cafe ini.
Brakkk..... Dengan spontan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu langsung mendongak, bukan hanya itu semua mata pengunjung langsung menuju kerah meja No 8 itu.
"JADI DIA SELINGKUHAN MU ?" tanya lelaki itu dengan api kemarahan pada wanita yang kini sedang menatapnya dengan gusar.
"Aku....aku...." wanita itu langsung gugup tidak tau harus menjawab apa.
"Akan ku bunuh kau !!"
Aaaaaaaa....aaaaa
Semua orang langsung histeris saat lelaki itu hendak menancapkan pisau tepat pada selingkuhan wanita tersebut. Beruntung dia langsung bisa menangkis serangan mendadak tersebut.
Melihat kegaduhan yang terjadi membuat para pengunjung histeris bukan main. Bagaimana tidak, salah seorang menggunakan pisau dan satunya lagi hanya menggunakan tangan kosong. Saat lawannya tersungkur kebelakang lelaki itu bersiap-siap akan melempar pisau yang sedari tadi ia gunakan untuk menghabisi pria yang menjadi selingkuhan pacarnya.
Tidak butuh waktu yang lama pisau tersebut langsung menancap pada perut seseorang. Tapi ternyata bukan pada lawannya melainkan pada tubuh orang lain.
Darah segar langsung mengalir begitu saja membasahi baju yang ia kenakan.
.
.
.
.
.
.
Masih penasaran dengan cerita selanjutnya ?, ikuti "cinta sebatas angan-angan" terus ya...
Jangan lupa buat dukungannya, mudah kok.
Like
vote
__ADS_1
komen + favorit.