Cinta Sebatas Angan-angan

Cinta Sebatas Angan-angan
Mengaku sebagai keluarga


__ADS_3

Sofyan yang melihat kejadian di cafenya sangat terkejut ingin rasanya dia menghentikan semua itu tapi terlambat, seseorang sudah terluka karena keteledoran keamanan tempatnya.


Mutiara melihat kerah perutnya yang kini masih tertancap dengan kokoh sebuah pisau. Darah mengalir derasnya membuat dirinya membeku seketika, ingin rasanya dia berteriak minta tolong tapi suaranya terasa habis dan lidahnya terasa kelu saat ingin mengucapkan hal itu.


"MUTIARA...." teriak Sofyan dengan berlari secepat mungkin saat melihat tubuh mutiara mulai tumbang.


Dengan samar Mutiara melihat Sofyan mendekap tubuhnya dengan erat, Dia mulai tersenyum samar saat melihat kecemasan dalam ucapan Sofyan.


dengan cepat Sofyan langsung mencabut pisau yang masih tertancap diperut Mutiara. Mutiara sempat meneteskan air mata saat pisau itu dicabut rasa sakit yang luar biasa langsung menyeruak memasuki bagian perutnya.


Melihat darah yang terus mengalir membuat Sofyan semakin cemas. Buru-buru dia langsung melepas jas yang dia kenakan dan langsung ia gulung dengan maksud menyumbat darah yang terus mengalir diperut Mutiara.


"SIAPKAN MOBIL...." teriakan Sofyan begitu menggelegar ditempat itu.


Tidak lama manajer cafe itu datang menghampiri Sofyan yang sedang sibuk menekan perut Mutiara agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi dan dia langsung mengatakan kalau mobil sudah siap.


Sofyan dengan buru-buru menggendong tubuh Mutiara dan melarikannya menuju rumah sakit terdekat secepat mungkin.


Wajah Mutiara terlihat pucat, bibirnya bergetar hebat saat menahan rasa sakit ditubuhnya tidak lama setelah itu dia sudah kehilangan kesadarannya.


"Mutiara sadarlah.. Mutiara" Sofyan terus berusaha membuat Mutiara tetap terjaga tapi usahanya sia-sia karena tidak kuat menahan rasa sakit ditubuhnya dia langsung pingsan dalam dekapan Sofyan.


"LEBIH CEPAT LAGI" titah Sofyan pada supirnya.


Sebenarnya Sofyan tidak membawa supir tapi salah satu karyawan cafe langsung menawarkan diri untuk mengantar Mutiara dan Sofyan ke rumah sakit mengingat Mutiara harus memiliki teman didalam mobil.


"Baik tuan" sahut supir itu dengan gugup.


Sekitar 10 menit, sekarang mereka sudah sampai pada sebuah rumah sakit yang berada di kota itu. Buru-buru Soraya kembali menggendong Mutiara dan berlari memasuki rumah sakit dengan berteriak minta tolong.


Mutiara dibawa memasuki ruangan UGD dan langsung ditangani oleh beberapa dokter.


"Keluarga pasien?" tanya salah seorang suster yang keluar dari ruangan mutiara.


"Iya sus, saya keluarganya" bohong Sofyan.


Sebenarnya Sofyan tidak ingin berbohong tapi rasanya akan membutuhkan banyak waktu kalau dia harus menghubungi keluarga Mutiara terlebih dahulu, mengingat dia bahkan belum memiliki kontak keluarga Mutiara. Baginya saat ini hanya keselamatan Mutiara saja.


"Mari ikut saya" titah suster itu.


Sofyan hanya mengikuti dan mereka berhenti pada sebuah meja yang bisa Sofyan simpulkan kalau meja itu untuk mengisi data-data pasien dan sekaligus administrasi.

__ADS_1


Sejenak Sofyan mencoba mengingat nama Mutiara dan akhirnya dia ingat saat dia mulai mengabsen nama murid saat disekolah.


"Mutiara Bening. Benar kalau tidak salah namanya memang itu" gumam Sofyan dengan pelan.


Setelah mengisi semua data dan menyelesaikan administrasi Sofyan kembali menunggu Mutiara di salah satu kursi yang sudah tersedia didepan ruang UGD itu.


°°°°°


"Kasihan sekali Mutiara, dia terkena dampaknya akibat pertengkaran tadi" ucap salah seorang pelayan pada temannya yang berdiri disampingnya.


Helen dan Dini yang tidak sengaja mendengar ucapan mereka sangat dibuat bingung. Benar, ruangan mereka sedikit jauh dari kejadian tadi, tepatnya kejadian tadi terjadi didekat pintu masuk sementara keberadaan mereka berada dilantai dua jadi tidak heran kalau mereka tidak tau apa-apa tentang kejadian tadi.


"Mutiara, memangnya apa yang terjadi?" tanya Helen seraya menatap Dini yang juga ikut menatapnya.


Dini hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia juga tidak tau apa-apa. Kerena penasaran akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya pada pelayanan tadi.


"Hey..." panggil Helen.


"Ya nona, ada yang bisa kami bantu" sahut mereka dengan sopan dan langsung menghampiri Helen.


"Apa yang kalian bicarakan tadi, dan kenapa kalian menyebut nama Mutiara?" tanya Helen langsung.


Sejenak kedua pelayan itu saling pandang dan kemudian beralih menatap Helen dan Dini kembali.


Seketika Helen dan Dini langsung shock dan buru-buru menyambar tas masing-masing dan meninggalkan pelayan itu tanpa pamit.


"Oh iya, katakan sekarang Mutiara dimana?" tanya Dini memastikan.


"Tuan membawa nona Mutiara ke rumah sakit" sahutnya kemudian.


Dengan sedikit berlari-lari kecil Helen dan Dini meninggalkan cafe itu dan langsung menuju rumah sakit. Mereka tau pasti Mutiara berada di rumah sakit terdekat dari cafe tersebut. Walaupun sebenarnya mereka tidak tau tuan siapa yang membawa Mutiara, tapi bisa dipastikan kalau dia pasti orang baik.


"Hubungi om Andi dan Tante Erna" titah Helen pada Dini.


Dini lantas langsung mengangguk dan mengambil benda pilih yang sejak tadi didalam tasnya. Buru-buru dia mencari kontak Om Andi atau yang lebih tepatnya ayah Mutiara.


📞"Halo nak Dini, ada apa?" tanya Andi langsung karena dia memang sudah mengenal kedua teman putrinya Mutiara.


📞"Om, om harus ke rumah sakit sekarang, Mutiara masuk rumah sakit" sahut Dini dengan gugup. Dia tidak tau apa yang harus dia katakan jadi dia mengatakan apa yang terlintas di pikirannya saja.


📞"Apa? kenapa bisa?, apa yang terjadi?" panik Andi saat mendengar kabar kalau putrinya masuk rumah sakit.

__ADS_1


📞"Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang om. Lebih baik om siap-siap dan segera datang ke rumah sakit Kasih bunda yang berada dijalan XXX" sahut Dini.


Dini tau rumah sakit yang terdekat dari kejadian itu memang rumah sakit Kasih bunda jadi dia bisa langsung menyimpulkan kalau Mutiara pasti berada di sana.


Helen langsung memarkirkan mobilnya dan berlari memasuki rumah sakit mereka langsung menghampiri meja resepsionis dan menanyakan ruangan Mutiara.


Benar saja Mutiara memang dibawa ke rumah sakit itu. Sontak sja mereka tertegun saat melihat Sofyan yang duduk dengan perasaan cemas didepan ruangan Mutiara saat ini.


"Bapak, kenapa bapak ada disini?" tanya Helen penasaran.


Sofyan langsung mendongak saat mendengar suara Helen.


"Kalian disini, kalian berdua pasti teman Mutiara?" tanya Sofyan memastikan.


Helen dan Dini langsung mengangguk membenarkan ucapan Sofyan.


"Baguslah, aku yang membawa Mutiara kemari. Untunglah kalian sudah disini, apa kalian sudah menghubungi orang tua Mutiara?" tanya Sofyan kembali.


"Sudah pak, sebentar lagi mereka akan datang" jawab Dini.


"Bagaimana keadaan mutiara pak?" tanya Helen lagi.


"Bapak belum tau, dokter yang menangani Mutiara belum keluar" sahut Sofyan.


Kini mereka bertiga menunggu Mutiara dengan perasaan cemas dan panik.


.


.


.


.


.


jangan lupa buat tinggalin jejak kalian ya...


like


vote

__ADS_1


komen + favorit


__ADS_2