Cinta Sebatas Angan-angan

Cinta Sebatas Angan-angan
Bukan pertanyaan


__ADS_3

Hidup ini singkat. Jalani hidupmu selagi bisa, jangan peduli apa yang orang katakan tentangmu. Lakukan apa yang membuatmu bahagia.


°°°°°


Bel sekolah sudah berbunyi sekarang ketiga Sahab itu langsung bergegas menuju kelas. mereka melewati beberapa kelas dan ruangan untuk mencapai kelas mereka. Cukup jauh, tentu saja. Biasanya mereka tidak pernah melewati jalan itu hanya untuk menuju kelas karena tergolong jauh, namun karena Mutiara ngotot ingin lewat jalan itu, akhirnya Dini, dan Helen hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan Mutiara kali ini.


Mutiara tampak was-was bercampur senang karena sebentar lagi dia akan melewati ruang kepala sekolah yang tak lain sekarang menjadi ruangan Sofyan.


Pangeran ku, Princess mu ada disini.


Mutiara bersorak bahagia saat melihat Sofyan dari luar jendela yang sedikit terbuka karena gorden jendela itu tidak ditutup dengan sempurna. Terlihat Sofyan sedang serius melihat berkas-berkas yang tergelatak di mejanya.


"Muti ayok, kenapa masih bengong sih?". Ajak Dini seraya menarik tangan mutiara yang masih terdiam menatap kerah ruang kepala sekolah.


Mutiara langsung mengikuti langkah Dini dengan matanya yang masih setia menatap ruangan itu.


"Stop deh Muti, kamu tidak akan bisa menjadikan pak Sofyan menjadi pangeran mu". Tutur Helen dengan menyadarkan lamunan Mutiara sejak tadi.


Mutiara langsung menatap kedua temannya dengan jengkel.


"Kalian ini temanku atau bukan sih?". Tanya Mutiara sedikit kesal.


"Tentu saja, menurutmu?". Helen malah balik tanya.


"Seharusnya kalian itu dukung aku. Bukan malah bikin teman sediri down ". Mendengar itu Dini dan Helen langsung mendesah kasar.


"Baiklah Mutiara sayang, yang semangat ya buat kejar pangeran". Celetuk Helen dengan gemes.


Dini hanya mengangguk seraya menahan senyum saat melihat Helen yang mulai lebay untuk mengembalikan mood Mutiara yang mulai hilang.


Tidak berselang lama seorang guru langsung memasuki ruangan itu.


"Siang anak-anak". Sapa nya dengan ramah.


"Siang pak...." Jawab mereka serentak.


Mendengar suara serak lelaki itu. Mutiara yang tadinya tertunduk kini langsung mengangkat wajahnya. Senyumnya kembali mengembang saat melihat Sofyan lah yang masuk kedalam kelas mereka.


"Mulai sekarang bapak akan mengantikan pak Budi mengajar Matematika". Perkataan Sofyan langsung membuat mata para siswi berbinar dengan terang.


"Kalian pasti sudah tau nama bapak. Selain itu apakah ada yang ingin ditanyakan?". Tanya Sofyan dengan ramah.


Terlihat jelas para siswi saling pandang dengan teman-temannya dan berbisik-bisik tidak jelas.


"Pak....". Salah seorang siswi langsung mengangkat tangan.


"Iya silahkan". Sahut Sofyan dengan ramah.


"Apa bapak sudah menikah?". Tangannya kemudian.


Terlihat jelas di mata siswa menanti jawaban yang akan Sofyan berikan. Seketika kelas terasa hening saat Sofyan tidak kunjung angkat suara.

__ADS_1


"Belum saya belum menikah". Jawabnya kemudian.


Ada beberapa siswi langsung mengelus dada saat mendengar jawaban Sofyan, mereka terlihat bersyukur karena Sofyan belum menikah.


"Apakah masih ada yang ingin ditanyakan?". Tanya Sofyan kembali memecah keheningan.


Dengan ragu-ragu Mutiara kini angkat tangan. Semua mata langsung tertuju pada Mutiara yang duduk di belakang.


"Iya, silahkan". Ucap Sofyan mempersilahkan Mutiara berbicara dengan sopan.


Mutiara tampak ragu-ragu ingin mengatakannya. Namun ia sangat ingin mengatakan hal tersebut.


Sofyan terdiam dan setia menantikan apa yang akan dikatakan oleh siswanya itu.


"Bapak sangat tampan". Ucap Mutiara dengan berani.


Semua orang terdiam dan mencerna ucapan Mutiara, kalau kemudian mereka langsung tertawa dengan keras.


Sofyan sendiri menahan senyum saat mendengar ucapan Mutiara. Dia tidak menyangka kalau siswanya akan mengatakan hal itu.


"Sudah, sudah, hentikan". Peringatan Sofyan langsung menghentikan tawa semua orang, seketika kelas langsung terasa hening.


"Siapa namamu?". Tanya Sofyan dengan berjalan mendekati Mutiara.


Mutiara merasakan jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat tatapan lelaki itu. Sungguh dia sedikit gugup menjawab pertanyaan Pria yang sudah Dia anggap sebagai pangeran.


"Mu.... Mutiara Bening". Jawab Mutiara dengan gugup.


"Baiklah Mutiara, yang kamu katakan tadi bukan pertanyaan, melainkan pernyataan". Sahut Sofyan kemudian.


Mutiara hanya tertunduk malu, dan sedikit tersenyum walau begitu ia sudah sangat senang karena Sofyan menatap dirinya.


Setelah sedikit basa-basi dengan siswa kelas itu kini Sofyan langsung memulai pelajarannya dengan tenang. Terlihat ada beberapa siswa yang semangat untuk belajar dan ada yang sekedar memperhatikan namun pikiran mereka entah dimana.


Sementara Mutiara sejak tadi hanya tersenyum seraya terus menatap wajah Sofyan yang tampan, Mulut Sofyan yang terus komat-kamit sejak tadi menambah kadar ketampanan Sofyan apalagi dengan keseriusan pria itu.


°°°°°


"Muti, kau pulang dengan siapa?". Tanya Dini.


"Aku naik taksi nanti". Sahutnya kemudian.


"Kalau begitu kami duluan ya". Ucap Dini dan Helen barengan.


Rumah Helen dan Dini memang searah jadi hampir setiap pulang sekolah mereka selalu bersama karena Dini akan selalu membawa motor, sementara Mutiara akan selalu menggunakan taksi untuk pulang.


Sekolah sudah tampak sepi karena sudah jam pulang' sekolah, namun Mutiara tampak enggan untuk pulang, karena di rumah dia akan kesepian, mengingat ibu dan ayahnya selalu pergi bekerja.


Sofyan yang tidak kunjung menemukan kunci mobilnya akhirnya memutuskan untuk menyelusuri jalan yang ia lalui tadi sebelum ke parkiran.


"Bapak cari sesuatu?". Tanya Mutiara.

__ADS_1


Sejak tadi Mutiara sudah memperhatikan lelaki itu, dari raut wajah Sofyan terlihat jelas kalau dia mencari sesuatu.


Sofyan langsung mendongak dan menatap Mutiara.


"Ah iya, bapak kehilangan kunci mobil, sepertinya terjatuh tadi saat keluar dari ruangan". Sahut Sofyan kemudian.


"Butuh bantuan pak?" Tanya Mutiara kemudian.


Ayo pak, bilang iya. Jika begini kan aku bisa lama-lama menatap bapak. Arggghh...., sangat tampan, tidak salah aku memilih pak Sofyan menjadi pangeran ku.


Sofyan kemudian langsung mengangguk. Tidak ada salahnya juga dia meminta bantuan dari orang lain karena menurutnya itu bisa menghemat waktu dan memungkinkan akan lebih cepat menemukan kunci mobilnya.


Mutiara langsung tersenyum senang, ia kemudian mencoba menyelusuri jalan yang kemungkinkan dilalui oleh Sofyan tadi. tanpa membutuhkan waktu yang lama akhirnya Mutiara menemukan kunci mobil Sofyan yang ternyata terjatuh didekat mobilnya sendiri.


"Pak ini kuncinya...". Teriak Mutiara sedikit keras karena jaraknya dengan Sofyan cukup jauh.


Sofyan langsung berjalan menghampiri Mutiara yang berdiri di dekat mobilnya.


"Benar, terimakasih banyak. Tapi kau menemukannya dimana". Tanya Sofyan penasaran.


Mutiara hanya tersenyum manis dengan menatap Sofyan.


"Disini, mungkin terjatuh tadi". Sahutnya kemudian.


Sofyan hanya mengangguk, mungkin tadi kuncinya terjatuh saat ia mengambil ponselnya dari sakunya. Dia langsung membuka pintu mobilnya dan memasukkan tasnya kedalam sana.


"Kau belum pulang?". Tanya Sofyan kemudian karena melihat Mutiara masih berdiri disitu.


Mutiara langsung menggeleng dan menjawab.


"Nanti saja pak, aku masih betah disini". Seraya terus tersenyum dengan manis.


.


.


.


.


.


Masih penasaran dengan kelanjutan "Cinta Sebatas Angan-angan?".


Ikuti terus ya...


Jangan lupa kasih like jika suka...


Vote jika menurut kalian cerita ummi patut untuk di teruskan.


Dan kasih saran atau masukan jika menurut kalian ada yang perlu diperbaiki...+ favorit ya...

__ADS_1


__ADS_2