Cinta Sebatas Angan-angan

Cinta Sebatas Angan-angan
Takut suntikan


__ADS_3

Andi dan Erna berlari dengan terburu-buru melewati kordinator rumah sakit. Setelah mengetahui putri mereka masuk rumah sakit tanpa pikir panjang mereka langsung datang.


Dari kejauhan Andi sudah melihat Dini dan Helen tengah sedang duduk didepan diruang UGD bersama seorang lelaki yang mereka sama sekali tidak mengetahui siapa.


"Helen, bagaimana keadaan Mutiara?" tanya Erna dengan panik.


"Tante. Helen belum tau, kita masih menunggu" jawab Helen dengan sedih.


Tidak lama setelah itu dokter keluar dan menghampiri Sofyan dan yang lainnya.


"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Sofyan tidak sabaran.


"Keadaannya sudah stabil, hanya saja dia belum sadar. Sekarang dia sudah bisa dipindahkan keruangan pemulihan"


Sofyan tampak lega setelah mendengar ucapan dokter tersebut. Dan benar saja, tidak lama setelah itu beberapa perawat tampak sibuk memindahkan Mutiara, Tanpa pikir panjang Sofyan langsung memerintahkan agar Mutiara ditempatkan ditempat yang nyaman.


"Kenapa putri saya belum sadar dok?" tanya Erna pada dokter yang tengah sedang mencek keadaan Mutiara.


"Mungkin karena pengaruh obat buk. Dan sebentar lagi dia pasti sadar, beruntung tusukan pisaunya tidak terlampau dalam"


Seketika Andi dan Erna merasa shock mendengar ucapan dokter itu, mereka tidak tau kalau putrinya terkena pisau.


Melihat ekspresi orang tua Mutiara, Sofyan berinisiatif untuk menceritakan kejadian sebenarnya.


"Sebelumnya maaf pak, buk. Ini semua kesalahan saya, saat itu Mutiara terkena pisau yang digunakan salah seorang lelaki yang ingin menghabisi musuhnya. Namun tidak disangka kalau Mutiara lah yang menjadi korbannya".


"Nak apa maksudmu? ini bukan kesalahanmu!!. Seharusnya kami berterimakasih karena kamu telah membawa putri kami ke rumah sakit ini" sahut Andi.


"Tidak pak, ini murni kesalahan saya. Semua ini terjadi di cafe saya dan saya telah lalai dalam meningkatkan keamanan cafe saya sendiri" sesal Sofyan dengan kukuh masih menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak ada yang ingin mengalami semua ini. Ini sudah kehendak Allah, jadi jangan salahkan dirimu sendiri nak" timpal Erna dengan lembut.


Sofyan sedikit tersentuh dengan ketabahan orang tua Mutiara. Bisa dia simpulkan kalau mereka adalah orang yang sangat baik. Mungkin jika orang lain pasti sudah meminta pertanggung jawaban dan ganti rugi.


"Siapa namamu nak?" tanya Andi kemudian.


"Panggil saya Sofyan pak" Andi lantas langsung mengangguk dan kemudian kembali memandang wajah Mutiara yang terlihat sedikit pucat.


Setelah 2 jam akhirnya Mutiara sadar dan pertama kali matanya langsung terkunci pada sosok pria yang sangat dia kagumi.

__ADS_1


"Pangeran....." gumam Mutiara dengan pelan.


Sofyan dan orang tua Mutiara langsung menoleh kala mendengar suara Mutiara walaupun hanya pelan.


"Sayang kau sudah bangun? mana yang sakti katakan pada bunda"


"Bunda, ayah" ternyata bukan hanya Sofyan tapi ayah dan ibunya juga ada disampingnya sementara Dini dan Helen sudah pulang karena hari juga sudah semakin larut.


Mutiara mencoba untuk duduk karena merasa tidak nyaman namun kegiatannya langsung terhenti saat Sofyan menyuruhnya jangan bergerak.


"Tetaplah berbaring. Kau masih butuh banyak istirahat" ucap Sofyan.


"Bapak.... Kenapa bapak ada disini?" tanya Mutiara.


"Nak Sofyan yang membawamu sayang. Berterimakasih lah padanya" titah Erna.


Mutiara sedikit tertegun, dia pikir tadinya dia hanya berhalusinasi saat Sofyan mendekapnya dan menggendongnya keluar dari cafe sakit tapi ternyata itu sebuah kenyataan.


"Terimakasih pak, maaf telah merepotkan bapak"


"Tidak masalah, lagipula saya gurumu selain itu saya juga pemilik cafe tempat kejadian tadi dan sudah seharusnya saya bertanggung jawab atas apa yang terjadi" jawab Sofyan dengan sopan.


"Jadi kau guru Mutiara disekolah?" Tanya Andi.


Mutiara hanya tersenyum secara sembunyi-sembunyi. Tidak bisa dia pungkiri kalau dia sangat senang saat dikhawatirkan oleh Sofyan dan beruntungnya dia ketika Sofyan yang menyelamatkannya.


"Muti kau kenapa nak? kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Erna khawatir saat melihat Mutiara senyum-senyum sendiri.


Mutiara terkesiap mendengar ucapan bundanya, buru-buru dia langsung bersikap bisa kembali dan menyembunyikan perasaannya.


"Tidak bunda, Mutiara tidak senyum-senyum. Mutiara hanya tidak ingin berlama-lama di rumah sakit, Mutiara ngak suka"


"Putri ayah ngak boleh gitu. Kalau putri ayah sudah sembuh pasti nanti dibolehkan pulang" jawab Andi.


"Lagipula kau harus dirawat agar cepat sembuh dengan begitu kau bisa kembali sekolah nanti" timpal Sofyan.


"Tapi bau rumah sakit tidak enak Bun. Muti ngak suka, apalagi nanti dokter suntik Mutiara. Mutiara nggak mau" tolak Mutiara.


Mutiara memang paling benci yang namanya rumah sakit, menurunnya rumah sakit sangat menyeramkan karena di sana dia bisa melihat berbagai macam penyakit orang-orang. Mulai dari yang kakinya putus, sampai wajahnya terlihat hancur dan itu membuat Mutiara merasa ngeri. Ditambah Dia juga sangat takut saat disuntik.

__ADS_1


"Sayang, disuntik itu tidak sakit. Hanya seperti digigit semut saja" ucap Erna mencoba meyakinkan putrinya.


"Tidak bunda, nanti jarumnya akan menusuk kulit Mutiara dan itu menyakitkan. Mutiara nggak mau"


Tidak lama setelah itu seorang dokter masuk dengan tujuan melihat keadaan Mutiara sembari memeriksa perkembangannya.


"Halo dek, apa kabar? bagaimana perasaannya? apakah lukanya masih sakit" tanya dokter wanita berjilbab dengan kisaran umur sudah mencapai 35 tahun.


"Masih dokter. rasanya seperti nyut-nyutan dok" jawab Mutiara dengan polos.


Dokter itu langsung tersenyum dan kemudian melanjutkan tugasnya dan sesekali dia akan mengajak Mutiara untuk mengobrol agar perasaan Mutiara tetap baik dan itu pasti akan sangat membantu proses penyembuhannya.


"Dokter apa saya harus dirawat lama di rumah sakit Ini?"


"Tidak, sebentar lagi adek sudah boleh pulang tentunya setelah keadaannya membaik"


Mutiara langsung tersenyum girang, dengan begitu dia tidak harus lama-lama menginap di rumah sakit. Namun rasa senangnya tidak bertahan lama saat melihat dokter itu mengeluarkan sebuah alat yang menurutnya sangat mengerikan.


"Dok, Muti nggak mau disuntik. Jangan suntik Mutiara" tolak mutiara saat dokter itu mulai membuka penutup jarumnya.


Dokter tersebut langsung memandang Mutiara yang tampak ketakutan, namun dia faham karena tidak setiap orang berani disuntik ada beberapa orang yang takut melihat jarum suntik dan salah satunya adalah Mutiara.


"Disuntik itu tidak akan sakit, kau cukup berbaring dan diam saja. ok" nasihat dokter teresebut mencoba meyakinkan Mutiara.


Namun lagi-lagi Mutiara tetap menolak, ia masih kukuh dengan pendirinya yang tidak mau disuntik. Tentu saja sikap Mutiara membuat dokter itu sedikit kesulitan walau bagaimanapun dia harus menyuntik Mutiara guna untuk mempercepat penyembuhannya.


"Jangan suntik Mutiara, Mutiara nggak mau... Hiks....hiks..., nggak mau" tolaknya bahkan sekarang dia sudah menangis karena takutnya disuntik.


Sofyan yang sejak tadi masih di sana hanya bisa diam karena jujur saja dia tidak tau bagaimana cara membujuk orang agar mau disuntik.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ummi kembali lagi nih... jangan lupa like ya...


__ADS_2