Cinta Sedekat Urat Nadi

Cinta Sedekat Urat Nadi
10 Desember 2010


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Rania mulai sadarkan diri dan membuka matanya secara perlahan dan melihat sekitar ruangan.


" Aku ada dimana, Aagghh " Ucap Rania kemudian merasa kesakitan di bagian kepalanya.


" Kamu lagi ada di rumah sakit, semalam ada seorang pria yang membawamu kemari." Jawab Suster yang merawat Rania.


" Seorang pria, siapa? " Ucap Rania penasaran


" Dia ada diluar, semalaman dia menunggu kamu di ruang tunggu." Ucap Suster tersebut


" Boleh minta tolong panggilkan dia, Sus? " Pinta Rania


" Ya tentu, tunggu saya panggilkan dulu!" Ucap Suster itu dan kemudian dia keluar ruangan untuk memanggil pria itu.


" Pak, pasien atas nama Rania sudah sadarkan diri dan dia sekarang ingin bertemu dengan bapak." Ucapan Suster memberitahu.


" Jadi dia sudah sadarkan diri, makasih Suster kalau begitu saya akan melihatnya kedalam." Ucap pria itu lalu segera masuk kedalam ruangan.


" Alhamdulillah kalau kamu sudah sadarkan diri, perkenalkan namaku Reyhan! Aku semalam yang membawamu ke rumah sakit" Ucap pria itu lalu memperkenalkan dirinya.


" Terima kasih ya kamu sudah nolongin aku, namaku Rania " Ucap Rania dengan senyum ramahnya.


" Sama-sama. Rania, sepertinya nama kamu tidak asing bagiku" Ucap Reyhan dan merasa kalau ia pernah mengenal nama itu.


" Benarkah, apa kita pernah bertemu sebelumnya? " Tanya Rania


" Entahlah aku juga tidak tau, tapi yang pasti nama kamu tidak asing bagiku" Jawab Reyhan


" Kalau boleh tau, kenapa kamu bisa sampai terluka semalam? " Tanya Reyhan


" Eehhmm.. Aku semalam di..." Jawab Rania namun terhenti saat Suster memotong pembicaraannya.


" Nona, ini tasnya. Barangkali ingin menghubungi keluarga atau kerabatnya." Ucap Suster tersebut memotong bicara Rania.


" Terima kasih, Sus" Sahut Rania lalu mengambil tas yang diberikan Suster kepadanya.


Reyhan merasa mengenali saat ia melihat gantungan tas kecil berbentuk kucing dan terdapat letter R yang bergantung di tas Rania. Sepertinya ia pernah memilikinya waktu remaja dulu, saat ia masih tinggal dibandung.


" Gantungan tas ini kamu beli dimana? " Tanya Reyhan karena penasaran


" Oh ini, aku tidak membelinya. Sebenarnya ini punya seseorang yang aku kenal waktu masih remaja dulu. Namanya Rey, dia menjatuhkan gantungan tas ini di taman waktu aku masih dibandung." Jawab Rania menjelaskan


" Apakah dia yang pernah mengobati lukamu waktu kamu hampir tertabrak motor?" Tanya Reyhan lagi

__ADS_1


" Benar, bagaimana kamu tau?" Ucap Rania heran.


" Aku Rey, Rania " Ucap Rey dengan raut wajah senangnya.


" Beneran kamu Rey? " Tanya Rania tidak menyangka


" Iya benar, Rania" Jawab Reyhan meyakinkan


" Kamu kok bisa ada di Jakarta, bukannya dulu kamu tinggal dibandung? " Tanya Maura


" Ehm.. Aku bisa ada di Jakarta karena..." Jawab Reyhan namun terhenti saat mendengar handphonenya berdering menandakan ada yang menelpon.


" Aku permisi angkat telepon dulu ya " Reyhan meminta izin dan Rania pun mengiyakannya. Reyhan keluar dari ruangan tersebut untuk menjawab telepon dan setelah beberapa menit kemudian ia pun selesai lalu kembali memasuki ruangan Rania.


" Maaf Rania aku harus pergi sekarang karena ada hal penting yang harus aku selesaikan nanti aku kembali lagi, Assalamualaikum " Ucap Reyhan berpamitan


" Wa'alaikumussalam " Jawab Rania kemudian Reyhan pergi sepertinya ia sedang terburu-buru.


Flashback...


10 Tahun Yang Lalu...


Bandung, 10 Desember 2010


Terlebih ia harus menerima kenyataan kalau Ayahnya telah meninggal dunia setelah satu tahun perceraian itu terjadi. Ayahnya meninggal saat berusaha melarikan diri dari kejaran polisi karena ketahuan dirinya adalah seorang pengedar narkoba. Hal itu ia lakukan karena tuntutan ekonominya yang memburuk, ia terpaksa menjadi pengedar narkoba ketika seorang temannya menawarkan pekerjaan haram itu.


Ayah Rania meninggal secara mengenaskan karena tertabrak mobil yang saat itu tengah melintas dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya penuh luka dan darah menggenangi sekitar tubuhnya, dan ia meninggal ditempat saat itu juga. Saat pemakaman Ayahnya, Rania menghadiri pemakaman bersama Ibunya.


Setelah selesai proses pemakaman sang Ayah, Rania memilih untuk tetap berada di sana sendiri sedangkan Ibu, keluarga serta orang-orang yang membantu pemakaman Ayahnya tadi sudah pergi meninggalkan tempat pemakaman.


" Ayah, kenapa Ayah ninggalin Rania? Hiks... Hiks... Hiks.. " Ucap Rania lalu menangis sambil mengusap pelan batu nisan makam Ayahnya.


" Ayah tau gak, Rania sedih banget pas tau Ayah dan Ibu bercerai. Sekarang, malah Ayah pergi ninggalin Rania selamanya. Hiks... Hiks... Hiks... " Ucapnya sangat bersedih hati


" Ayah yang tenang ya di sana, Rania pasti akan sangat rindu sama Ayah.Rania pulang ya, nanti Rania pasti akan ziarah ke makam Ayah lagi " Lanjut Rania tak kuasa menahan sedihnya. Kemudian ia beranjak pergi meninggalkan pemakaman Ayahnya


Saat di perjalanan pulang raut wajah Rania begitu sedih, tatapannya terlihat kosong seperti terdapat kehancuran pada hatinya, bagaimana ia sedih setelah perceraian kedua orang tuanya kini Rania harus berpisah dengan Ayahnya selamanya. Dengan langkah berat ia berjalan menyusuri jalan dan ia tidak menyadari sekitarnya bahwa ada sepeda motor yang akan menabraknya.


Saat hampir saja akan tertabrak namun ia diselamatkan oleh pria seumuran dengannya, pria itu mendorong tubuh Rania dengan cepat hingga membuat keduanya terjatuh bersamaan.


" Kamu gak apa-apa kan? " Tanya pria itu setelah mereka selamat


" Iya gak apa-apa, makasih ya udah nolongin aku" Ucap Rania berterima kasih sambil mengusap dan membersihkan sikunya yang kotor dan terluka.


" Ya sama-sama, kamu kok melamun dijalan sih " Tanya pria itu penasaran

__ADS_1


" Iya, aku lagi sedih " Jawab Rania


" Tangan kamu terluka, sini aku obatin kebetulan aku menyimpan obat luka di tasku " Ucap pria itu dan Rania mengangguk setuju.


" Ayo kita obatin di bangku taman sana aja " Ajak pria itu, menggenggam tangan Rania sehingga secara tidak sengaja nadi mereka saling bersentuhan.


" Lepasin! Aku bisa jalan sendiri kok, kamu gak perlu gandeng tangan aku seperti tadi " Ucap Rania seraya melepaskan genggaman tangan pria yang belum ia kenal itu.


" Maaf, yaudah kalo gitu ayo kita ke sana!" Ucap pria itu merasa tidak enak hati sedangkan Rania hanya mengiyakannya. Mereka pun berjalan ke arah taman tidak jauh dan terduduk di sana.


" Oh ya sebelumnya, kenalin nama aku Rey!" Pria itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


" Rania, sekali lagi makasih ya udah nolongin aku tadi " Ucap Rania seraya menjabat tangan Reyhan kemudian melepaskannya kembali.


" Ya sama-sama, oh ya sini aku obati lukamu!" Ucap Reyhan kemudian mengambil Obat luka dari dalam tas ranselnya.


" Kamu kok ngelamun sih dijalan tadi, bahaya tau kalau ketabrak tadi gimana?" Ucap Reyhan sambil mengobati siku Rania yang terluka.


" Biar aku mati sekalian, buat apa aku hidup kalau kedua orang tuaku saja tidak peduli padaku" Jawab Rania dengan mata yang berkaca-kaca


" Huusssttt... Jangan bicara seperti itu, gak baik tau." Sahut Reyhan


" Abisnya Ibu dan Ayahku sangat egois tidak pernah memperdulikan perasaan aku. Mereka bercerai dan tadi Ayahku baru saja dimakamkan karena tertabrak mobil, aku gak punya harapan untuk hidup bahagia lagi. Orang-orang yang aku sayangi tidak pernah mengerti perasaan aku. " Ucap Rania dan kini air mata jatuh tak tertahankan lagi.


" Aku turut berduka cita atas kematian Ayahmu dan masalah dalam hidupmu. Tapi kalo aku boleh kasih saran, aku cuma mau kamu tau kalo tuhan tidak akan memberi ujian dari batas kemampuan umatnya.


" Percayalah, semua masalah pasti akan ada solusinya. Kita hanya perlu bersabar dan berdoa agar kita bisa dikuatkan untuk menghadapi cobaan dalam hidup.


" Dan kita harus yakin kalau tuhan selalu ada didekat kita dan akan membantu kita. Jadi aku harap kamu harus bisa bersabar dan lebih kuat untuk menghadapi kenyataan pahit ini." Ucap Reyhan menenangkan Rania.


" Mungkin omongan kamu benar, makasih ya untuk masukannya. Mendengar perkataanmu kini aku merasa lebih kuat sekarang. Hidupku masih panjang dan masa depan masih ada harapan untuk kehidupan yang lebih baik, sekali lagi terima kasih Rey aku senang bisa dipertemukan dengan orang baik seperti kamu " Ucap Rania kemudian mengusap air matanya dan mulai tersenyum.


" Ya sama-sama, aku juga senang bisa bertemu dengan wanita kuat seperti kamu. Lukamu sudah aku obati, kalo gitu aku pamit pulang ya soalnya takut Ibu nyariin aku. Byee... Assalamu'alaikum" Ucap Reyhan kemudian berpamitan


" Wa'alaikumussalam " Balas Rania kemudian melambaikan tangannya pada Reyhan.


" Dia pria yang baik, aku harap aku bisa bertemu dengannya lagi dilain waktu " Umpat Rania dalam hati. Saat Rania akan pergi meninggalkan taman, ia melihat ada gantungan tas berukuran kecil berbentuk kucing dan ada letter huruf " R " milik Reyhan yang terlepas dan jatuh di atas bangku taman.


" Ini mungkin punya Rey, aku harus mengembalikannya. Aku harap dia akan lewat disini lagi besok, semoga saja." Ucap Rania seraya menggenggam gantungan tas tersebut kemudian melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah.


Keesokan Harinya...


Rania datang kembali ke taman tempat dia bertemu dengan Reyhan, ia menunggu hingga beberapa jam lamanya namun Reyhan belum juga terlihat. Merasa bosan menunggu Rania memilih untuk meninggalkan taman dan berniat untuk pulang ke rumah tapi saat dia baru saja pergi lumayan jauh.


Ternyata Reyhan terlihat melintasi taman ia tengah berjalan yang saat itu posisi Rania membelakangi Reyhan. Mereka tidak saling menyadari satu sama lain karena mereka berjalan berlawanan arah dan sekiranya Rania sudah jalan jauh dari taman ia melihat ke arah belakang sedangkan Reyhan sudah tidak terlihat lagi di sana.

__ADS_1


__ADS_2