
Langit malam itu seolah-olah runtuh menimpa tubuhku. Bagaimana tidak, kekasih yang selama ini begitu aku cintai, begitu aku puja, begitu aku kagumi dan aku banggakan kesetiaannya begitu tega bermesraan bersama wanita lain didepan mataku.
Ini bukan yang pertama kali, berkali-kali sahabatku mengatakan bahwa dia tidak setia. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman manis saja, karena aku begitu yakin bahwa dia benar-benar setia.
Sering juga aku temukan chat dari seorang wanita di handphonenya, namun dia berdalih bahwa itu hanya teman kerja, dan bodohnya aku begitu saja mempercayainya. Tak jarang pula ketika aku menghubunginya, panggilannya sedang dalam panggilan lain, dan lagi, aku masih menganggapnya hanya sekedar panggilan dari temannya, bahkan sampai larut malampun masih seperti itu.
Mungkin aku yang terlalu polos atau terlalu bodoh. Aku selalu menyisihkan tabunganku, bahkan harus hidup berhemat demi mewujudkan impian kami, membina rumah tangga bersama.
Kini, hancur sudah harapanku, aku hanya mampu menyeret langkahku yang begitu rapuh ditengah hujan, berharap agar air hujan menyamarkan air mataku, air mata kebodohanku.
"Riey, aku bisa jelasin semuanya. Ini cuma salah paham saja. Dia temanku, tidak lebih"
Berkali-kali dia ucapkan kalimat itu, namun yg terdengar di telingaku hanya gemuruh hujan.
Malam ini, aku hancur sehancur-hancurnya.
"Riey, kamu dengarin aku dulu, aku bisa jelaskan semua yang kamu lihat itu nggak benar" ucap adnan
Aku masih terdiam membisu, menatap sayu wajahnya tersamarkan derasnya hujan.
"Riey, aku mohon sama kamu, kamu dengarkan dulu penjelasanku, aku nggak sengaja ketemu dia disini tadi, beneran. Aku nggak bohong" ucapnya lagi
"Selama ini aku terlalu bodoh untuk tidak mempercayai ucapan teman-temanku sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa kamu bermesraan dengan dia di depan mataku" ucapku lirih
__ADS_1
"ini nggak seperti yang kamu lihat Riey, aku nggak bermesraan dengan dia, kami cuma sekedar ngobrol biasa, nggak lebih" jelasnya.
"Ngobrol biasa sampai gandengan tangan? Pegangan tangan? Dimana hatimu, dimana pikiranmu, apa kamu nggak mikirin perasaanku? Kita udah jalan 5 tahun adnan. Selama 5 tahun ini aku selalu menjaga kepercayaanku pada kesetiaanmu" ucapku
"Aku tau Riey, makanya kamu dengar dulu penjelasanku" ucapnya
"Udah nan, aku... Aku.. Aku nggak mau lagi dengar apapun dari mulut kamu, mulai malam ini kita udah berakhir. Tidak ada lagi kita, hanya aku dan kamu di jalan kita sendiri" ucapku.
Aku melangkah menjauh sejauh mungkin dari hadapannya. Sakit, begitu sakit yang aku rasa saat ini. Semua harapan dan impianku hancur seketika.
Malam semakin larut, namun aku masih belum bisa memejamkan mataku. Air mataku tak henti-hentinya berhenti. Aku mengabaikan semua pesan dan panggilan yang masuk ke dalam ponselku. Malam ini terasa begitu panjang, kenangan-kenangan bersamanya menghantuiku. Namun bayangan rasa sakit itu kembali menjelma seiring kenangan yang berlalu.
Lima tahun menjalin hubungan dengan dia bukanlah waktu yang begitu singkat. Kami sudah membangun hubungan ini sejak duduk di bangku SMA, kuliah di fakultas yang sama dan bekerja diperusahaan yang sama. Namun aku tidak pernah menyangka bahwa hubungan percintaan ini akan berakhir hanya karena hadirnya orang ketiga di antara kami.
Sekali lagi, kucoba pejamkan mata ini, berharap esok mentari kan datang membawa cahaya baru dalam hidupku.
Arini Anasha Maresta yang akrab dipanggil Riey dari tadi sibuk mondar mandir dikamarnya. Dia hampir telat berangkat kekantor karena bangun kesiangan. Kejadian semalam membuatnya susah untuk tidur dan hari ini ada rapat dengan beberapa klien. Jika sampai terlambat hari ini maka habislah karir yang selama ini dia bangun.
Dia berjalan bolak balik walkin closet. Mencari hightheels yang serasi dengan setelan bajunya hari ini, kemeja pink dipadukan dengan blezer hitam serta celana panjang hitam yang membuat tubuhnya terlihat jenjang dan rapi. Rambutnya dikuncir kuda dengan aksen poni manis menghias wajahnya. Arini kembali bercermin sembari sesekali memperbaiki blezernya setelah mendapatkan hightheels yang sesuai. Dia menyambar tas didinding kamarnya serta beberapa tumpukan map.
"Semangat riey..! Kamu pasti bisa..! Mulai hari baru dengan aktifitas baru..! Lupakan masa lalu.. Terus maju.. Masih banyak cowok ganteng dan tajir diluar sana. Kamu cantik dan seksi." ucap Arini untuk dirinya sendiri sambil menatap dirinya dalam cermin.
Handphonenya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan whatapps terpampang dilayar handphonenya yang membuyarkan semangatnya.
__ADS_1
"Aku dibawah. Berangkat bersama seperti biasanya. "
Pesan teks tersebut langsung menurunkan semangatnya yang sudah 100% menjadi 20%. Dilihatnya jam didinding sudah hampir telat kalau dia berangkat kekantor dengan kendaraan umum. Satu-satunya solusi dia harus mau tidak mau berangkat bersama laki-laki yang telah menghianatinya itu, Adnan alfarezi.
Arini berjalan dengan perasaan malas menuruni anak tangga kamarnya menuju lantai satu.
"Andai aja aku punya mobil sendiri." gumamnya dalam hati.
Arini membuka perlahan pintu depan rumahnya. Dia tinggal sendiri dirumah itu. Keduan orangtuanya dan adik-adiknya tinggal dikampung. Rumah berlantai dua dengan cat putih bergaya klasik itu dia beli dengan cara kredit. Gajinya hanya cukup untuk membayar cicilan rumah, makan dan keperluan bulanan dia serta dikirim untuk keperluan adik-adik dan orang tuanya. Digarasi rumahnya hanya ada sepeda motor butut yang dia beli saat pertama masuk kuliah dulu.
"Morning sayang. Hari ini meeting dengan klien penting, ingat. Kamu harus semangat!"
Ucapan adnan hanya dibalas dengan senyuman kecut oleh Arini sambil masuk kemobil sport berwarna merah itu. Dia hampir mengira bahwa hari ini dia bisa bebas dari adnan. Ternyata dia salah, adnan menganggap kejadian semalam itu tidak pernah terjadi.
Sepanjang perjalanan arini hanya diam mendengarkan arahan adnan tentang skedul meeting hari ini. Adnan adalah manager dikantor tempat Arini bekerja, dan arini adalah sekretaris pribadi Adnan. Usia mereka terpaut tiga tahun. Arini mulai pacaran dengan adnan saat dia kelas tiga SMA semester akhir. Mereka bertemu secara tidak sengaja pada acara pelepasan siswa kelas tiga. Saat itu adnan mahasiswa semester tujuh dan sudah bekerja diperusahaan itu sebagai pegawai magang. Bisa dibilang arini lah orang yang setia menemani adnan dari mulai dia bukan siapa-siap sampai dia menduduki jabatannya sekarang.
Arini bergegas menyiapkan bahan materi yang akan dia sampaikan pada rapat nanti di ruang rapat. Adnan memperhatikannya dengan seksama tanpa berpaling sedikitpun. Reflek tangan adnan memegang tangan arini.
"Sayang, aku tau semua yang kamu pikirkan saat ini. Tapi sampai kapanpun aku nggak akan lepasin kamu. Walaupun kamu marah, kamu kecewa, kamu benci sama aku. Aku akan tetap selalu ada untuk kamu. Itu janjiku selamanya." Ucap adnan.
Arini hanya diam menatap wajah lelaki tampan yang ada dihadapannya hari ini. Bayangan perselingkuhan adnan kembali terlintas diingatannya.
"Maaf pak adnan, rapat akan segera dimulai." ucap arini sambil menarik tangannya sebelum para klien memasuki ruang rapat.
__ADS_1
Note: Jangan pernah sekalipun ninggalin orang yang udah nemenin kalian dari nol sampai sukses ya.. 😘
***jangan lupa tinggalin jejak❤😍