Cintaku Di Halu

Cintaku Di Halu
Episode. 5


__ADS_3

Arini sudah siap dengan setelannya hari ini. Dia mengenakan turtle neck rajut berwarna cream dipadukan dengan sweater buntung warna maroon serta baggy pants berwarna maroon, menggunakan sepatu boots kekinian berwarna cream, rambut panjangnya dikepang kecil dikanan dan dikiri, sisanya dibiarkan tergerai, membuatnya terlihat masih seperti remaja usia belasan. Wajahnya yang masih terlihat baby face dengan balutan make up natural membuatnya begitu terlihat bersinar.


Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 08.30. Setengah jam lagi adnan akan datang menjemputkannya. Taman bermain pasti akan sangat ramai jika hari minggu seperti ini. Terbayang dibenaknya keseruan menaiki wahana-wahana permainan, makan es cream berdua sambil bergandengan tangan. Membayangkannya saja membuat arini sangat bahagia setelah beberapa hari ini adnan mengabaikannya.


"Setengah jam lagi, aku tunggu di teras aja deh." gumam arini dalam hati.


Arini mengunci pintunya dan menunggu adnan di kursi depan rumahnya. Sesekali dia melihat ponsel dan jam ditangannya. Waktu terasa berjalan begitu lambat hari ini. Arini memainkan ponselnya menghilangkan suntuk. Waktu terus berlalu tanpa terasa, dia sudah merasa bosan menunggu. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 10.00,


Sudah hampir satu jam setengah dia menanti adnan.


"Ingat janji kita hari ini?"


Arini mengirim pesan singkat kepada adnan, terkirim namun tidak terbaca. Arini sudah kehilangan kesabarannya. Dia berjalan menuju ruang tamu, mengambil kunci mobil dilaci dan melajukan mobilnya menuju rumah adnan. Hanya butuh waktu setengah jam arini sudah sampai di rumah adnan. Di garasi rumahnya tidak ada mobil adnan.


Arini segera turun dari mobilnya, menekan bel dipintu pagar, tak lama pembantu adnan berjalan ke arah arini.


"Non arini. Silahkan masuk non." kata wanita paruh baya itu.


"Nggak usah mbok. Bapak ma ibu kemana kok sepi banget?" tanya arini sekedar basa basi.


"Bapak ma ibu keluar kota non." ucap wanita itu.


"Kalau adnan kemana? Mobilnya kok nggak ada?" tanya arini.


"Kalau den adnan, pagi-pagi tadi udah pergi non." jawab wanita itu.


"Kemana bik?" tanya arini lagi.


"Kurang tau saya non. Tapi tadi sepertinya nyebutin ke taman Lula Park non. Soalnya tadi saya dengar dikit pembicaraan den adnan sama seseorang di telephone." jelas wanita itu lagi.


"Ooo.. Lula park ya bik. Ya udah kalau gitu. Permisi dulu ya bik." ucap arini berpamitan.


"Iya non.."


Arini segera memacu mobilnya menuju Lula Park. Dia sangat penasaran apa yang membuat adnan sampai lupa dengan janji mereka. Arini memilih alternative jalan tersingkat. Sekitar lima belas menit arini sudah sampai ke Lula Park. Arini segera memarkinkan mobilnya dan berjalan menuju pintu masuk. Setelah membayar tiker masuk, arini langsung menuju penjual mainan, dia ingin membeli sebuah topeng supaya bebas berjalan kesana kemari tanpa ada yang mengenalinya.

__ADS_1


Arini berjalan kesana kemari, mengamati setiap wahana, toko permainan dan cafe yang ada disana. Setelah beberapa lama berkeliling arini tidak juga melihat adnan. Arini memutuskan untuk beristirahat di sebuat cafe, perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Dia memesan satu cup mie instan dan segelas jus jeruk. Dia duduk sambil mengamati orang yang berlalu lalang didepannya.


"Kamu mau makan apa?"


Suara itu membuat jantungnya berdetak kencang. Suara itu berasal dari meja dibelakangnya. Suara yang sangat dia kenali, suara adnan. Arini mengangkat ponselnya, diarahkan tepat di meja belakang untuk melihat dengan siapa adnan berbicara.


"Shifa thalia!" gumam arini dalam hati.


Arini tidak ingin terbawa emosi. Sekuat tenaga dia mendinginkan hati dan pikirannya. Dia ingin mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, seputar bisnis atau hal lain.


"Kerjaan kamu gimana?" ucap shifa


"Biasa sih, sibuk dikitlah. Cuma tetap santai kok. Kalau kamu gimana?" ucap adnan sambil menyeruput jus jeruk dihadapannya.


"Aku lagi cari investor yang pas untuk mega proyek ku." jawab shifa santai.


"Mega proyek?" tanya adnan.


"Iya. Masa kamu nggak tau?" jawab shifa.


"Seriusan nih?" tanya adnan lugu.


"Terus, kenapa belum dapat investor?" tanya adnan lagi.


"Udah ada beberapa sih yang kasih penawaran, seperti LK Corporation, jelanik corp., masih banyak lagi. Tapi syarat yang mereka ajukan terlalu berbelit-belit. Aku nggak suka. Kamu tau sendirikan aku orangnya nggak suka ribet. To the point aja lah." jelas shifa.


"Oooo gtu.." jawab adnan singkat.


Arini sedikit bernapas lega mendengar pembicaraan mereka, hanya saja masih ada yang menggangu pikirannya, perihal kenapa adnan tidak jujur saja kalau memang harus ketemu dengan shifa thalia.


Mereka mengobrop santai seputar kerjaan dan keluarga hampir sekitar tiga jam lebih di tempat itu. Arini sudah mulai nggak nyaman dengan kondisinya saat ini. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan mereka. Arini saat ini hanya ingin pulang dan tidur tanpa memikirkan apapun. Masih ada perasaan kesal dan kecewa karena adnan membatalkan janji mereka begitu saja tanpa konfirmasi dan kabar terlebih dahulu.


Arini melajukan mobilnya kesebuah pasar swalayan terlebih dahulu sebelum pulang. Ada beberapa barang yang ingin dia beli.


Setelah cukup membeli apa yang ingin dibeli, arini langsung melajukan kendaraannya menuju rumah tercintanya.

__ADS_1


"Mobil adnan..ngapaen dia disini? ". Gumam arini dalam hati melihat mobil adnan terparkir d depan rumahnya. Arini segera memasukkan mobilnya ke garasi. Arini tau adnan mungkin sudah ada didalam rumahnya karena adnan memiliki kunci cadangan rumahnya. Arini membuka perlahan pintu rumahnya, dia melihat adnan sedang tertidur pulas di sofa di ruang tamu. Arini hanya melewatinya dan menatap wajahnya sesaat. Tersirat lelah dalam tidurnya. Arini tidak ingin membangunkan tidurnya, dia berjalan perlahan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti baju, setelah itu dia langsung menuji dapur, memasak makanan kesukaan adnan serta membuat sup sayuran untuk adnan.


Arini duduk menatap adnan yang tengah tertidur pulas. Dia ingin marah karena adnan sudah mengecewakannya hari ini, namun melihat adnan tidur lelap membuatnya terenyuh dan meredakan amarahnya. Dia memperhatikan setiap detail ekspresi wajah adnan yang tengah tertidur.


"Nggak usah dilihat, aku tidurpun cakep kok."


Arini kaget tiba-tiba adnan terbangun dari tidurnya. Arini langsung berjalan cepat kedapur salah tingkah.


"Kamu udah makan?" tanya arini buru-buru.


"Udah." jawab adnan santai.


"Makan dimana?" tanya arini


"Dirumah tadi sebelum kemari." jawab adnan


"Oh.. Gitu."


Arini tahu bahwa adnan tidak makan malam di rumah. Baju yang adnan pakai masih baju yang tadi siang dia pakai di Lula Park. Arini menahan sesak didadanya. Sekian lama bersama baru kali ini adnan membohonginya.


"Maaf ya sayang aku nggak nepatin janji tadi soalnya aku sibuk banget, banyak kerjaan, dikejar deadline, jadi seharian tadi aku ngurusin kerjaan nggak sempet nemenin kamu dan nggak ngabarin kamu." ucap adnan


"Hari minggu pun banyak kerjaan? "Tanya arini.


"Iya sayang. Kamu kan tau kalau aku lagi nangani proyek besar, jadi ya harus kerja full. Tapi aku janji minggu besok aku bakal temenin kamu kemana aja kamu mau." jelas adnan.


"Oke nggak apa-apa kok." jawab arini singkat.


"Kamu tadi kemana? Aku nunggu lama lho sampai ketiduran." ucap adnan sambil berjalan menuju arah arini.


"Oo.. Aku tadi ke swalayan beli keperluan bulanan." jawab arini.


"O.. Ya udah aku balik ya. Besok kan kita masuk pagi." ucap adnan.


"Ok.. Hati2 ya." ucap arini.

__ADS_1


"Love you sayang. Aku balik ya.. Bye."


Sosok adna perlahan menghilang dalam kegelapan malam. Arini menahan sesak didadanya. Dalam sehari adnan tega membohonginya. Arini membuang semua makanan yang telah khusus dia masak untuk adnan ke tong sampah. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya arini tidak ingin membayangkannya.


__ADS_2