
Jari-jari lentik arini menari di atas keybord di depannya. Deretan tulisan dan huruf terpampang didepan wajah arini
Matanya terfokus pada layar komputer didepannya. Sesekali arini membenarkan posisi duduknya jika dirasa kurang nyaman.
"Di kantor bos ada cewek, cakep banget."
Arini menghentikan pekerjaannya mendengar ucapan laras yang tiba-tiba duduk disampingnya.
" cewek? " tanya arini heran.
"Iya, cewek.. Masa cowok sih" ucap laras.
"Kok aku nggak lihat dia masuk ya? " tanya arini.
"Iya jelaslah nggak lihat, kan masuknya tadi bareng sama bos." tambah laras.
"Masa sih? " tanya arini meyakinkan.
"Coba aja deh masuk, kan kamu sekretarisnya." ucap laras
"Apaan sih, nggak kepo deh" ucap arini santai.
"Nggak kepo tapi penasaran kan... "Goda laras.
Arini hanya tersenyum mendengar ucapam laras. Dalam hatinya dia benar-benar penasaran siapa wanita yang ada dikantor adnan. Bagaimana bisa wanita itu masuk bersamaan dengan adnan.
"Kriiing... Kriiing... "
"Dengan arini, ada yang bisa dibantu pak?......
Baik, segera pak."
Arini bergegas bangkit dari kursinya menuju pantri setelah menjawab dering telephon tadi.
Arini segera membuat tiga cangkir teh hangat dan segera menuju ruangan adnan.
Jantungnya berdetak kencang, dia sangat penasaran dengan wanita yang ada didalam ruangan adnan. Arini membuka pintu perlahan.
Arini terpaku sesaat melihat wanita yang tengah duduk disebelah adnan melihat blue print proyek yang akan dikembangkan perusahaan mereka. mereka terlihat begitu akrab, saling bercanda gurau.
"Letakkan saja tehnya disitu. Kamu boleh pergi." ucap adnan.
Arini segera meletakkan teh yang dibawanya dan langsung berjalan keluar ruangan. Ada rasa sesak didadanya, namun dia harus tetap profesional karena ini dikantor.
Arini bergegas berjalan menuju mejanya, dia tidak ingin pikirannya melayang entah kemana. Arini kembali menyalakan komputernya, ingin fokus lagi pada kerjaannya, tapi hati dan pikirannya terlalu sulit untuk diajak kompromi.
"Sial!!!" gumam arini dalam hati.
Arini segera berjalan meninggalkan meja kerjanya menuju kantin. Pikirannya melayang jauh. Ini memang bukan yang pertama kali adnan sibuk dengan proyeknya, hanya saja ini pertama kali adnan terlibat begitu dekat dengan seorang wanita. Semua ini membuat pikirannya terganggu.
Arini duduk didekat jendela kantin. Memandang kendaraan yang berlalu lalang didepannya serta orang-orang yang tengah menikmati cerahnya hari. Pikirannya terpecah mendengar dering ponselnya.
"Halo.. " ucap arini.
"Kamu dimana? " suara dari ponsel.
"Aku dikantin bawah, dekat jalan." ucap arini.
"Aku kesana ya.."
"Oke." ucap singkat arini.
__ADS_1
Dia menutup ponselnya, meletakkan kembali ketempatnya semula dan kembali menikmati pemandangan yang ada didepannya.
Tak lama, seseorang sudah duduk didepannya depan senyuman manis. Arini menyambutnya dengan senyum simpul yang teramat manis. Dua buah lesung pipinya menambah indah senyumnya.
"Udah lama disini? "Tanya nya pada arini
"Lumayan.. " jawab arini singkat.
"Udah pesan makanan?"tanyanya lagi.
"Udah nih. Kamu pesan dulu aja" jawab arini
"Oke. Aku pesen dulu ya."
Arini memperhatikan sosok adnan yang berjalan meninggalkannya. Terkadang arini berpikir bahwa adnan sangat dekat, namun terkadang juga sangat jauh, mungkin karena latar belakang kehidupan mereka memang sedikit berbeda.
Beberapa saat kemudian adnan sudah kembali duduk dihadapan arini. Adnan duduk dengan santainya, dia melonggarkan dasinya supaya lebih nyaman serta melepaskan jas kerjanya. Ketika bersama arini dia hanya ingin selayaknya karyawan biasa, itu membuat arini lebih nyaman.
"Minggu ini kamu ada janji? " tanya adnan.
"Nggak, kosong. Kenapa? " tanya balik arini
"Kita jalan ya,. Kemana aja yang kamu mau,..terserah, aku nggak akan protes deh, buat ganti janji aku yang kemarin.. Gimana? "Ucap adnan santai.
Arini berpikir sejenak sebelum memberikan jawaban pada adnan. Arini pikir mungkin ini saatnya sedikit membalas perbuatan adnan yang kemarin.
"Bisa, cuma ada syaratnya.." ucap arini.
"Apa tu..? "Tanya adnan penasaran.
"Ponsel non aktif, pakai baju santai biasa, pakai sendal, terus kemanapun aku mau kamu harus setuju sekalipun itu ke salon, gimana? "Ucap arini.
"Janji...? " tanya arini lagi.
"Iya aku janji princess mungil aku.. Aku jemput jam 9 pagi. Nggak akan telat dan nggak akan ingkar kali ini, aku udah kosongin janji untuk weekend ini. Pokoknya aku mau minggu ini full untuk kamu sayang" ucap adnan manis.
"Okey....".
Mereka melanjutkan makan mereka sambil bersenda gurau bersama.
******
Rumah itu terlihat begitu ramai dengan derap langkah kaki yang berjalan begitu cepat kesana kemari. Arini bangun kesiangan karena ini weekend dan dia hampir lupa kalau hari ini ada janji dengan adnan. Arini bergegas mandi dan berganti pakaian yang lebih santai. Dia mengenakan kemeja berwarna bluesky dan celana hitam dilengkapi dengan flatshoes senada, rambut panjangnya dikuncir kuda dengan poni manis menghiasi, make up soft natural banget yang membuat wajahnya semakin cerah dan manis.
Samar-samar terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah arini. Dia pun bergegas keluar rumah, mengunci pintu dan pagar rumah.
"Udah? " tanya adnan dari dalam mobil.
"Udah donk, lihat.."ucap arini sambil memperlihatkan penampilannya.
"Uluh.... Manis banget sih baby imutku.. Ayo naik, nanti nggak keburu deh kita kelilingnya.."ucap adnan sambil membukakan pintu mobil.
Adnan segera memacu kendaraannya melesat jauh di keramaian. Arini menunjukkan pada adnan daftar tempat-tempat yang akan mereka kunjungi, mulai dari taman hiburan, butik, mall lalu bioskop baru taman kota pada malam hari. Adnan hanya mengiyakan semua daftar tujuan arini. Pertama-tama mereka menuju taman bermain terlebih dahulu. Sesampainya disana, adnan segera memarkirkan mobilnya, kemudian segera membeli tiket masuk taman hiburan.
"Kita mau naik apa dulu nih..? "Tanya adnan pada arini.
"Roller coster dong.. "Ucap arini semangat.
"Gila.... " gumam adnan.
"Kan kamu udah janji.. " ucap arini.
__ADS_1
Adnan hanya menuruti semua kemauan arini. Setelah puas berkeliling taman bermain mereka lanjut ke mall hanya untuk sekedar melihat-lihat. Setelah itu mereka kebioskop menonton film.
Adnan melajukan mobilnya menerjang aspal jalanan setelah dari bioskop. Mereka menuju taman kota. Mereka ingin bersantai sejenak disana menghabiskan malam. Jam di tangan arini masih menunjukkan pukul 20.00,masih terlalu sore untuk pulang kerumah.
Mereka duduk disalah satu kursi taman, menikmati bintang dan hembusan angin malam.
"Gimana hari ini, seru? " tanya adnan.
"Lumayan.. "Jawab arini singkat.
"Kok lumayan..? "Tanya adnan.
Arini hanya tersenyum manis, padahal hatinya bahagia.
"Kamu nggak ada rencana sewa PRT gitu..? "Tanya adnan.
"Emangnya kenapa? "Tanya arini heran.
"Kamu kan udah lama sendiri di rumah, aku khawatir, takut kalau kamu sakit pas aku lagi sibuk. Kalau ada PRT kan ada yg jagain kamu, bantuin kamu.. "Jelas adnan.
"Nggaklah.. Aku kan bisa lakuin semua sendiri, lagian juga kan tempat tinggalku tetangganya rame."ucap arini.
"Iya,. Cuma kan aku tetep aja khawatir ma kamu."
Tiba-tiba ponsel adnan berdering. Adnan memandang arini sejenak. Kemudian membiarkan ponsel itu tetap berdering.
Arini merasa bahwa dering panggilan itu dari shifa thalia. Bukan hanya sekali atau dua kali ponsel adnan berdering.
" siapa? " tanya arini.
"Clien" jawab adnan singkat
"Angkat aja kalau emang penting" ucap arini
"Aku kan udah janji ma kamu". jelas adnan
Ponsel adnan terus berdering. Adnan hanya melihat dari mana panggilan itu berasal. Sudah hampir beberapa kali. Arini merasa tidak nyaman dengan deringan ponsel adnan yang terus berdering.
"Udah, angkat aja, nggak apa-apa." ucap arini.
Adnan bangkit beranjak dari kursinya, melangkah sedikit menjauh dari arini.
"Hallo..! Ada apa? " ucap adnan singkat menjawab ponsel.
Arini memperhatikan gelagat adnan seperti ada yg tidak beres, ada sesuatu yang terjadi. Arini masih memperhatikan adnan. Sesekali dia menoleh kekanan dan kekiri memperhatikan keadaan taman yang sedikit mulai ramai.
Arini begitu tercengang. Adnan tiba-tiba pergi meninggalkannya dengan tergesa-gesa.
"Adnan! Kamu mau kemana?! Adnan..!!! "
Arini berteriak dan segera memburu adnan, namun langkah adnan terlalu cepat. Beberapa detik saja adnan sudah sampai ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"Adnan.... !!!!!!"
Teriakan arini pun sudah tidak dapat didengar lagi.
Arini terduduk lemas. Dia bingung kenapa adnan pergi meninggalkannya begitu saja di taman. Malam telah larut, taksi pun mungkin sudah tidak ada yang lewat. Dia mencoba menenangkan diri untuk berpikir sejenak, menebak siapa yang tega membuat adnan meninggalkannya begitu saja ditanam.
Arini menggambil ponselnya, menekan nomor yg tersimpan di ponselnya.
"Halo,. Thomas..?, ada yang mau aku tanyakan, kamu bisa nggak jemput aku di taman kota, aku tadi nggak bawa mobil terus mau naik taksi malah dompetku ketinggalan.".
__ADS_1