
Arini menggerakkan tangan-tangan lentiknya mengikuti barisan-barisan keyboard di mejanya. Ada beberapa tugas yang harus dia segera serahkan keatasannya hari ini. Sesekali dia berhenti dan terdiam sesaat, menggigit pena dan kemudian melanjutkan lagi. Kadang dia melirik jam didinding dan ditangannya.
"Kejar deadline? "Tanya laras yang muncul di depan meja kerjanya membawa secangkir teh hangat.
"Iya. Hari ini janji makan siang dengan adnan. "Jawab arini sambil terus mengetik.
"Udah baikan? "Tanya laras.
"Iya, semalam." Jawab arini singkat.
"Bagus deh."
Arini segera mempercepat langkahnya menuju kantor atasannya. Mengetuk pintu dan perlahan masuk kedalam ruangan. Di dalam ruangan itu sudah ada seorang pria yang tengah berdiri disamping pria yang tengah duduk dikursi memeriksa beberapa file.
"Hay, arini. Makin cantik aja". Goda pria yang tengah berdiri itu.
"Hay juga thomas. Tumben hari ini kekantor? Biasanya lebih milih kerja outdoor." ucap arini sambil berjalan menuju meja kerja atasannya.
"Lagi dibutuhin aja. Kalau nggak ya didepak lagi keluar kantor. "Ucap thomas sambil tersenyum.
Thomas andika, sekretaris pribadi adnan yang lain. Dia sahabat adnan sejak kuliah. Mereka satu angkatan pada saat kuliah dan dia mendapatkan jabatan itu bukan karena dia adalah sahabat adnan. Melainkan melalui kerja kerasnya beberapa tahun ini dibawah tekanan adnan sehingga dia mendapat kepercayaan adnan untuk menjadi sekretaris pribadinya, hanya saja adnan memperkerjakannya diluar kantor untuk menjalin dan mencari kolega-kolega yang memiliki tender besar dan paling berpengaruh dikota megan saat ini.
Arini menyerahkan file yang baru saja dia selesaikan kepada atasannya yang tidak lain adalah adnan. Adnan memperhatikan setiap detail laporan perjalanan bisnis yang selama ini mereka lakukan dengan sangat rapi dan terperinci.
"Mulai hari ini, thomas yang akan menemaniku kemanapun." ucap adnan singkat.
"Why? " tanya arini sedikit bingung.
"Kamu masih ingat wanita yang makan malam sama aku kemarin?"tanya adnan.
"Masih donk." ucap arini ketus.
"Namanya Shifa thalia. Dia saat ini lagi fokus untuk membangun sebuah hotel dipinggiran kota megan. Kita harus bisa dapatin proyek itu. Itu proyek terbesar saat ini dikota megan, banyak para investor yang mencoba untuk bekerja sama dengan dia namun semua ditolak karena alasan tidak cocok, dan aku berniat untuk melakukan pendekatan individual terlebih dahulu. Kalau berhasil maka aku akan mendapatkan 30% saham perusahaan ini dan akan diangkat menjadi wakil direktur. Keren kan..!" ucap adnan.
"Harus dengan pendekatan individual gitu? Apa nggak ada cara lain? ". Tanya arini dengan ekspresi kurang suka.
__ADS_1
"Sayang... Perusahaan investasi sebesar Lk. Corporation aja dia tolak. Perusahaan berkembang seperti kita mau maju kalau nggak pakai jalur belakang susah untuk maju sayang. Kalau kita berhasil jadi investor utamanya, 45% saham hotel dia akan jadi milik perusahaan kita dan perusahaan kita akan semakin maju dan terpandang sayang. Setelah itu perusahaan-perusahaan lain akan langsung datang berbondong-bondong dengan sendirinya ke kita. Kita nggak perlu capek-capek cari klien." tambah adnan.
Arini hanya diam mendengar penjelasan adnan. Adnan paham bahwa arini masih ragu dengan keputusannya. Dia berjalan mendekati arini, menggenggam kedua tangan arini dan menatap dalam mata arini.
"Sayang, percaya sama aku. Aku nggak akan main-main dengan perasaan seseorang. Kalau ini sukses, satu tahun lagi mungkin perusahaan ini bisa jadi milik kita dan kamu bisa membangun bisnis yang kamu impikan. Kamu ingin bangun sebuah mall kan, serta panti asuhan? Kita pasti bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita, sayang." jelas adnan mencoba meyakinkan arini.
"Ya udah, terserah kamu aja." jawab arini singkat.
"Gitu dong sayang. Ya udah ayo kita makan siang dulu." ucap adnan senang.
*****
Thomas melajukan mobilnya perlahan melewati jalanan raya. Deru suara mobil thomas memecahkan kesunyian malam. Sesekali thomas memperhatikan kaca spion mobilnya mengecek pengendara lain dibelakang mobilnya.
"Rumah kamu masih yang dulu kan?" tanya thomas.
"Masih." jawab arini singkat.
"Semangatlah sedikit. Aku bakal jagain adnan kok supaya dia tidak tergoda wanita itu. Dia memang cantik sih. Bunga kampus, kaya lagi. Tipe ideal banget buat cowok." ucap thomas.
"Hehehe... Bercanda.. Bercanda.. Dia bukan tipe impian adnan. Tempramentnya buruk banget. Jadi tenang aja, adnan itu setia kok walau agak centil. Inti nya ya kamu harus banyak-banyak sabar kedepannya. Dia kalau udah niat mau bagaimanapun pasti didapatkan." ucap thomas sambil tersenyum.
"Iya tau. Lagian aku juga nggak keberatan selama itu bisa menunjang karirnya jadi lebih maju." jawab arini
"Nah.. Gitu dong riey. Ini baru arini yang aku kenal." ucap thomas senang.
Thomas terus memacu mobilnya melewati beberapa komplek perumahan sampai akhirnya tiba di depan rumah arini. Thomas segera berhenti dan menurunkan arini. Dia tidak mampir karena arini tidak mempersilahkannya.
Arini segera membuka pintu rumahnya dan berjalan menuju kamarnya. Dia ingin segera mandi dan tidur malam ini. Dia tidak ingin membayangkan hal-hal yang akan terjadi kedepannya saat ucapan adnan dikantor tadi terbesit dipikirannya. Arini bergegas menuju kamar mandi untuk menyegarka badannya. Setelah mandi, arini membaringkan tubuhnya diatas kasur busa yang lembut, membuatnya terkantuk dan hampir tertidur lelap saat tiba-tiba ponselnya berdering.
"Hallo.." ucap arini.
"Aku didepan gerbang."
Arini bangkit dari tempat tidurnya, membuka tirai jendela kamarnya yang menghadap ke teras kemudian segera bergegas turun menuju pintu gerbang.
__ADS_1
"Udah tidur?". Tanya adnan yang dari tadi udah berdiri didepan pintu gerbang rumah arini.
"Baru mau tidur." ucap arini sambil membuka pintu gerbang rumahnya.
"Masuk.." tambah arini.
"Disini aja. Maaf ya tadi aku nggak anter kamu pulang." ucap adnan sambil bersandar dimobilnya.
"Nggak apa-apa, yang pentingkan sampai rumah dengan selamat." ucap arini sambil tersenyum manis.
"Emmm.... Beberapa hari ini mungkin aku nggak bisa jemput kamu." ucap adnan.
Arini berpikir sejenak mendengar ucapan adnan. Mungkin beberapa hari ini adnan bakal sibuk dengan kerjaannya pikir arini. Dia tidak ingin berpikir yang macam-macam.
"Oke." jawab arini singkat.
"Besok kita cari mobil baru untuk kamu sekalian urus SIM. Kamu kan bisa bawa mobil sendiri, jadi nggak masalahkan? " tanya adnan
"Iya, nggak masslah kok. Santai aja." jawab arini meyakinkan adnan.
"Aku janji, ini nggak akan lama. Mungkin beberapa bulan aja. Setelah itu kita akan berangkat bareng lagi. Itupun kalau kamu masih mau." canda adnan.
"Masihlah. Lebih nyaman kalau berangkat pakai supir pribadi." ledek arini.
"Nakal ya.." goda adnan sambil mencubit hidung arini.
Mereka bersenda gurau mesra beriring tawa melupakan apa yang sudah berlalu dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
*yang lalu biarlah berlalu. Yang esok akan datang biarlah jadi masa depan yang akan jadi kenangan lusa*
**uluh... Uluh... Ngomong apasih thor😂**
Btw... Mau dong dikasih mobil gratis ya kan.. 😍
*jangan lupa ninggalin noda di kolom komentar ya pembaca😘
__ADS_1