
Monday yang begitu membosankan. Arini seharian ini hanya duduk di depan meja kerjanya tanpa melakukan apapun, hanya bermalas-malasan didepan komputernya. Hari ini adnan terlalu sibuk dengan thomas dan jarang berada dikantornya. Berkali-kali dia melihat jam ditangannya, menati waktu pulang. Namun entah mengapa waktu berjalan begitu lambat.
Arini mengambil ponselnya, melihat pesan masuk di ponselnya. Namun pesan dari adnan sama sekali tidak ada. Arini mencoba memberanikan diri untuk mengirim pesan kepada adnan.
"Ada waktu untuk makan malam hari ini?"
**kirim**
Arini berkali-kali melihat layar di ponselnya. Belum juga ada balasan dari adnan. Sampai jam pulang kerja juga belum ada balasan dari adnan. Mungkin dia terlalu sibuk dengan klien nya pikir arini. Tanpa berpikir panjang lagi arini langsung menuju parkiran mobil dan segera memacu mobilnya menuju rumah. Sesampainya dirumah arini langsung mandi dan bersiap-siap untuk tidur, namun sesekali dia melirik ponselny, berharap ada pesan balasan dari adnan, namun sama sekali tidak ada ternyata.
Rasa kantuknya sudah tak terasa lagi, hatinya gusar dan khawatir. Jam di dinding kamarnya baru menunjukkan pukul 21.00 wib, masih terlalu dini untuk tidur. Arini beranjak dari tempat tidurnya menuju dapur, membuat secangkir teh hangat dan duduk dikursi beranda rumahnya, memperhatikan kendaraan dan anak-anak komplek perumahan berlalu lalang dengan riangnya. Sesekali mereka menyapanya dan arini hanya membalas dengan senyuman.
Tiba-tiba ponsel arini berdering. Arini cep, at-cepat melihat layar ponselnya, Ada rona bahagia bercampur kecewa.
"Hallo mama.." ucap arini
"Kamu apa kabar, nak?" terdengar suara wanita paruh baya dari ponsel arini.
"Baik ma,.. Mama ma papa gimana kabarnya? Adik-adik sehatkan ma? Mereka nggak nakal dan nggak nyusahin mama kan?" ucap arini sambil berjalan masuk rumah dan mengunci pintu rumahnya serta berjalan kembali kekamarnya, berdiri di balkon kamar yang menghadap teras rumanya.
"Baik.. Semua baik. Adnan gimana kabarnya?"tanya mama airin.
"Baik ma.." jawabnya singkat
"Lagi ada masalah?" tanya mama airin lagi.
"nggak ma, cuma dia lagi sibuk ngejar proyek baru. Baru tadi kok ma nggak ketemu." jelas airin.
"Yang penting kalian jaga diri baik-baik ya disana." ucap mama airin.
"Iya ma. Mama kalau ada waktu luang mainlah kemari sama papa dan adik-adik. Rumah ini kan rumah kita bersama. Bulan depan cicilan udah lunas ma. Jadi sering-seringlah kemari." ucap arini.
__ADS_1
"Nanti libur sekolah adik kamu, kami usahakan kesana ya." ucap mama airin.
Pembicaraan mereka berlanjut sampai airin benar-benar tertidur pulas.
Terkadang rasa rindu akan hangatnya kebersamaan menyelimuti jiwanya. Rasa rindu akan hangatnya pelukan dan canda tawa, namun semua itu sanggup airin tahan sendiri. Dia adalah tulang punggung keluarganya. Dia bukan anak sulung, dia memiliki seorang kakak laki-laki yang kabarnya sampai sekarang tidak lagi terdengar. Kakaknya seperti menghilang diperantauan saat dia masih kelas satu SMA. Ayahnya hanya pedagang biasa, dan ibunya hanya sebagai penjahit rumahan. Kedua adiknya, adit baru berusia 15 tahun, sedangkan alfian 17 tahun. Tahun ini alfian masuk kuliah dan membutuhkan biaya yang lumayan banyak, maka arini selalu berhemat dan menabung untuk keperluan mendadak.
*****
"Sudah hampir seminggu lho adnan cuma lalu lalang di depan kamu tanpa menyapa. Dia terlalu lengket dengan cowok ganteng disampingnya itu. Gemes deh.." canda laras.
"Maklumi aja lah, dia lagi fokus sama proyek besar. Nona dari keluarga kaya itu sangat pemilih." jawab arini sambil meregangkan otot tangannya.
"Iya juga sih. Alasannya selalu demi masa depan kamu. Emang dia kira kamu nggak butuh perhatian kali ya." ucap laras.
"Udah deh. Aku aja santai kok, kan ada kamu yang perhatian sama aku." ucap arini sambil tersenyum genit.
"Diiih... Aku masih normal lho."ucap laras.
"Kamu seharusnya bersyukur hubungan kalian cuma aku dan thomas yang tau. Kalau sekantor ini tau mungkin mereka bakal gosipin kalian yang nggak-nggak dibelakang kalian." ucap laras.
Memang benar kalau selama ini arini dan adnan merahasiakan hubungan mereka karena arini masih tergolong pegawai baru diperusahaan itu dan adnan tidak ingin menimbulkan spekulasi yang nggak-nggak di mata karyawannya untuk arini, dan arinipun tidak pernah keberatan dengan keputusan adnan karena bagi dirinya hubungan itu tidak perku dipublikasikan, selama mereka bahagia, buat apa peduli dengan pendapat orang lain.
"Besok weekend ke taman hiburan yuks." ajak arini pada laras.
"No.. No.. No.. No.. Aku weekend ada acara sama my beb. Maaf ya nona manis. Coba deh kamu ajak adnan. Kali aja dia butuh refreshing sebentar." jawab laras
"Emmm..... Coba aku kirim pesan ke dia."
Arini mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk adnan lalu mengirimnya.
"Weekend ke taman yuks. Bisa?" isi pesan arini.
__ADS_1
Arini dan laras menunggu balasan pesan dari adnan. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Drrrrt.."
Sebuah pesan masuk, dari adnan. Arini cepat-cepat membaca pesan itu dengan raut wajah penasaran dan bahagia.
"Oke. Jam 09.00 ya. Aku jemput. Dandan yang cantik gadis imutku." isi pesan adnan.
Arini senyum-senyum sendiri membaca pesan dari adnan. Walaupun mereka sudah bersama selama lima tahun, tapi setiap hari ucapan adnan selalu bisa membuat arini merasa seperti pertama kali mereka bertemu.
"Ehem... Ehem.. Bahagia syekali sih." goda laras.
Arini hanya tersenyum simpul menanggapi candaan laras. Sepertinya dia harus membeli beberapa setelan baru untuk weekend. Semua baju dilemarinya sudah pernah adnan lihat. Dia ingin terlihat begitu menawan setelah hampir seminggu tidak bertegur sapa.
"Pulang kerja temenin shopping ya.." ajak arini pada laras.
"Aku lagi berhemat.." jawab laras singkat.
"Aku beliin sepatu deh.." bujuk arini.
"Yang mahal ya?" goda laras.
"Yang seperempat harga ya. Kamu tau sendiri kan aku perlu bayar cicilan rumah dan mengirim untuk keluargaku." bujuk arini dnegan wajah memelas.
"Ya ampun.. Kena deh.. Ya udah aku temenin gratis deh, soalnya aku juga mau beli keperluan bulanan." ucap laras.
"Gitu dong. Kan aku jadi makin-makin ma kamu." ucap arini sambil mencubit pipi laras yang chubby itu.
Setelah pulang kerja, mereka langsung menuju salah satu mall di kota megan yabg tidak jauh dari kantornya. Mereka memilih beberapa setel baju yang sesuai dengan usia mereka, beberapa pasang sepatu dan aksesoris. Hari ini mereka ingin bersenang-senang sepuas hati mereka tanpa memikirkan apapun. Mereka berkeliling dari satu toko ketoko lain mencari sesuatu yang menarik untuk dibeli.
Setelah puas berbelanja, mereka segera pulang kerumah masing-masing. Arini terlebih dahulu mengantar laras pulang kerumahnya sebelum dia kembali kerumahnya sendiri dan mengistirahatkan hati dan pikirannya untuk menyambut esok hari yang cerah.
__ADS_1