Cintaku Di Halu

Cintaku Di Halu
Episode. 2 Maaf?


__ADS_3

"Kok nggak kamu makan? "


Arini mendongakkan kepalanya melihat sahabat baiknya, laras duduk didepannya.


"Nggak lapar." jawab arini singkat.


"Nggak lapar kok dibeli? "Tanya laras lagi.


"Cuma pengen aja." jawab arini.


"Pasti masih mikirin kejadian semalam ya?" tanya laras sambil menyantap bakso favoritenya.


"Nggak sih. Cuma nggak nyangka aja dia gitu sama aku. Kurang aku apa coba." ucap arini.


"Coba deh kamu bicarakan dulu, mungkin aja bener yang semalam itu klien dia atau sahabat dia dsn kebetulan ketemu terus makan malam bareng sambil bercanda." jelas laras.


"Masa sama klien gitu banget sampai pegangan tangan." ucap arini dengan wajah cemberut.


"Bisa jadikan. Kamu kan tau sendiri gimana adnan selama ini orangnya. Dia care sama semua orang, dia ramah, dia suka bercanda dan suka centil. Tapi kan cuma sewajarnya aja kan." jelas laras.


"Jadi kamu belain dia?! "Tanya arini


"Nggak sih. Cuma lebih baik kalian omongin deh baik-baik." ucap laras sambil menyeruput lemon tea dihadapannya.


"Nggak tau deh. Lihat aja nanti gimana kelanjutannya." jawab arini dengan nada malas.


"Inget lho kalian udah lama banget jalan."


Ucap laras lagi.


Arini hanya terdiam mendengar ucapan laras. Banyak hal yang dia pikirkan. Rasa kecewa masih menghantui pikiran dan hatinya.


"Ayo. Jam istirahat udah selesai." ucap laras.


Arini beranjak dari tempat duduknya mengikuti langkah laras kembali kekantornya. Ke meja kerjanya. Beberapa file harus diselesaikan hari ini juga. Sepertinya dia bakal lembur hari ini.


*****

__ADS_1


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 20.00 wib. Arini merentangkan tubuhnya. Punggungnya terasa sangat pegal seharian duduk didepan komputer. Kantor sudah sepi banget, tinggal arini yang bersiap-siap pulang. Lampu-lampu diruang lain juga sudah dimatikan. Arini mempercepat langkahnya, takut kalau-kalau ada sesuatu melintas, sesuatu yang tidak ingin dilihatnya dalam kantor yang udah sepi banget. Nggak biasanya dia lembur sampai jam segini. Arini mempercepat langkahnya menuju lobi kantornya.


"Udah selesai? "


Suara itu hampir membuat arini mati lemas karena kaget. Dipalingkan wajahnya, adnan duduk sendirian di lobi disudut yang agak gelap.


"Ayo pulang." ucap adnan sambil berjalan menuju pintu keluar.


Arini yang masih kaget segera mengikuti langkah adnan menuju parkiran dan segera masuk kedalam mobil adnan.


Sepanjang perjalanan arini hanya diam. Sesekali melirik ke adnan yang tengah fokus mengemudi. Adnan menangkap lirikan arini kepadanya dan tersenyum manis sambil terus fokus melihat jalan.


"Ada yang aneh sama wajahku? Makin ganteng atau makin maskulin? " tanya adnan menggoda arini.


"Diiih.. Amit-amit.." jawab arini sambil tersenyum agak aneh.


"Nah.. Gitu kan enak kalau dilihat. Dari tapi pagi cemberut mulu. Nggak takut apa tu muka makin jelek?." goda adnan.


"Fokus aja nyetir." jawab arini singkat.


"Sampai harus pegangan tangan segala?" tanya arini ketus.


"Sayang... Kamu kenal aku berapa lama sih? Kayak baru kenal kemarin aja. Itu cuma formalitas aja. Supaya kami lebih dekat. Perusahaan dia lagi maju-majunya. Kalau sampai aku bisa menjalin hubungan kerja sama dengan dia, bisa jadi aku di promosikan jadi wakil direktur, kan kamu juga yang nantinya bangga sayang." ucap adnan menyakinkan.


Arini hanya diam dan terus menatap kedepan.


"Selama masa itu kamu pasti bakal sibuk banget dan nggak akan peduliin aku dulu." gumam arini dalam hati.


*****


Arini membuka pagar rumahnya. Mempersilahkan adnan masuk dan duduk. Arini berjalan kedapur untuk membuatkan adnan secangkir kopi latte tanpa gula.


Arini menyuguhkan secangkir kopi itu kepada adnan. Adnan hanya menatapnya dengan senyuman manis.


"Aku mandi dan ganti baju dulu ya." ucap arini sambil berjalana menuju lantai dua rumahnya meninggalkan adnan sendiri.


Tidak butuh waktu lama arini sudah kembali keruang tamu dengan baju tidurnya serta rambut panjangnya yang tergerai serta dengan wajah polosnya tanpa make up, hanya mengenakan liptik berwarna nude. Arini duduk di sebelah adnan. Memperhatikan adnan yang masih sibuk dengan tracking dan data-data di handphonenya.

__ADS_1


Adnan segera meletakkan handphonenya melihat arini sudah duduk disebelahnya. Dia menatap wajah polos arini sambil memegang tangan arini.


"Aku lebih suka lihat kamu kayak gini. Lebih natural dan lebih cantik. Ini baru gadisku, gadis imutku." goda adnan sambil mencubit hidung arini.


"Apaan sih." jawab arini salah tingkah.


"Serius. Nanti kalau kita nikah, kamu nggak usah kerja lagi ya. Cukup jadi istriku aja, biar aku yang kerja untuk kamu dan anak-anak kita nanti." ucap adnan dengan senyum manisnya.


Arini hanya tersenyum mendengar ucapan manis adnan yang hampir tiap hari dia dengar.


"Kamu mau makan? Biar aku masakin." tanya arini.


"Boleh." jawab adnan.


"Mau aku masakin apa?" tanya arini.


"Nasi goreng juga boleh, seperti biasa."jawab adnan.


"Ya udah aku kedapur dulu ya." ucap arini.


"Oke sayang."


arini bergegas menuju dapur, menyiapkan bahan-bahan dan memotong beberapa bumbu dan sayuran untuk membuat dua porsi nasi goreng untuk mereka berdua. Tangan arini begitu sigap memasukkan bahan-bahan kedalam wajan. Tidak butuh waktu lama, dua porsi nasi goreng sudah tersaji lengkap dengan telur mata sapi dan irisan timun.


Arini kaget saat tiba-tiba adnan memeluknya dari belakang. Tidak biasanya adnan bermanja seperti itu, biasanya hanya bersandar di pundak atau sekedar menggenggam tangan aja. Cukup lama adnan memeluknya dari belakang. Arini hanya terdiam membiarkannya. Dalam pikirannya mungkin dia lelah dengan pekerjaannya selama ini.


"Aku sayang banget sama kamu Riey. Sampai kapanpun aku nggak akan ninggalin kamu. Maaf udah buat kamu nangis kayak semalam. Aku benar-benar nggak bermaksud." ucap adnan lembut.


Arini melepaskan pelukan adnan, membalikkan tubuhnya menatap wajah adnan yang begitu sendu. Dia menatap sosok lelaki yang udah lima tahun menemani hari-harinya. Dia menatap wajah adnan sambil tersenyum manis sekali.


"Aku tau. Aku juga janji nggak akan ninggalin kamu, apapun dan bagaimanapun kamu besok, lusa, kapanpun." ucap arini.


Adnan tersenyum simpul mendengar ucapan arini. Tangannya mengelus rambut panjang arini dengan lembut, matanya tertuju pada senyum manis arini yang selalu dia sukai. Perlahan-lahan dia mendekatkan wajahnya kewajah arini, dengan sangat-sangat perlahan takut kalau arini bakal menolaknya lagi padahal mereka sudah menjalin hubungan selama lima tahun. Adnan terus mendekatkan wajahnya kewajah arini. Kini bibir mereka sudah bersentuhan satu sama lain. Arini tidak melawan, dia hanya menutup mata membiarkan adnan mencium lembut bibirnya. Dia ingin menikmati setiap moment bersama adnan malam ini.


**aduh.. Ngapain ya.. Ngapain ya mereka.. Awas pikiran kalian jangan kemana-mana ya wey.. 😂


*jangan lupa ninggalin jejak😘😍

__ADS_1


__ADS_2