Cintaku Tetap Bersamaku

Cintaku Tetap Bersamaku
part 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh keluargaku, olehmu, mungkin juga olehku. Aku memang bahagia, teramat bahagia malah, tapi juga ada sebongkah beban yang tak mampu kuelakkan dari hatiku, maaf karena keegoisanku.....


Senyum itu semakin membuatku tak bisa berkata jujur. Terlihat sekali kau begitu bahagia hari ini. Hari pernikahan kita. Maafkan karena ternyata aku memang egois......


Malam ini kau pasti membayangkan kebahagiaan yang nyatanya tak akan pernah bisa kuberikan padamu. Harusnya aku mengatakannya dari awal, tapi aku terlalu pengecut, cukup sekali aku kehilanganmu, aku tak ingin lagi berjalan tanpa arah seperti orang linglung yang tak punya pegangan. Maaf karna aku terlalu egois....


“ Akhirnya selesai juga ya Ri. Untung kita jadi ngambil disini kalo nggak pasti sekarang masih ribet noh di rumah!”, katamu saat kami tiba di kamar hotel.


“ Mandi ah, gerah! Mau bareng nggak?”, godamu.


“ Nggak deh, aku ntar aja masih keringetan!”, jawabku sewajar mungkin.


Aku hanya melihat punggungnya saat dia memasuki kamar mandi. Mungkin akan seperti ini tidak lama lagi. Hanya bisa melihat punggungnya menjauh.


Kini giliranku mandi. Di dalam kamar mandi kucoba menenangkan pikiranku. Ternyata sesulit ini berkata jujur. Tuhan, inikah hukuman untuk keegoisanku?


Entah berapa lama aku diam di kamar mandi karna saat keluar kudapati kamu telah terlelap. Mungkin dia kecapekan seharian tadi. Niatku untuk berterus terang padanya akhirnya tertunda.


Wajah tidurnya yang seperti anak kecil itu tak berubah sejak dulu saat dia memang masih kanak-kanak, saat dia hanya seorang perusuh buatku. Sanggupkah aku melukainya dengan mengatakan yang sebenarnya? Maaf jika ternyata egoku akhirnya akan melukaimu.....


Kuputuskan tidur di sofa saja malam ini, entah mengapa aku merasa tak pantas berbaring di sampingnya, bahkan aku merasa jijik pada diriku sendiri.


Keesokan harinya kami pulang ke rumahku untuk pamitan. Ya, hari ini juga kami berangkat ke Bali, ke tempat dimana Angga bekerja.

__ADS_1


Sebenarnya dia bisa mengambil cuti lebih lama lagi, tapi aku kenal dia, si leo yang satu ini tak akan jauh berbeda denganku, meski pada akhirnya aku mengalah dan mengikutinya, tapi dia akan lakukan apapun semaksimal mungkin terutama untuk pekerjaannya.


“ Maaf ya!”, katamu saat kami sudah ada di pesawat.


“ Kenapa?”, tanyaku.


“ Karna pekerjaanku kita jadi nggak bisa honeymoon deh!”, jawabnya sedikit kecewa.


“ Tak apa aku ngerti kok!”, kataku sambil tersenyum setulus mungkin. Honeymoon yang sebenarnya yang tak akan pernah bisa kuberikan kepadamu.


“ Aku benar-benar tak salah mengambil istri ya!”, katamu riang tapi tetap menyodok ulu hatiku.


Rumah kontrakannya tak begitu besar, tapi cukup nyaman dan tenang, benar-benar pulau dewata yang penuh ketenangan. Kami beberes hampir menjelang sore. Kebersamaan ini benar-benar kunikmati karna mungkin tak akan terulang lagi semua karna keegoisanku.


“Bikin nasi goreng aja ya? Soalnya nasi bekal kita tadi belum dimakan.”, kataku.


“Boleh, asal jangan keasinan aja, kamu kan udah nikah!”, candanya seraya beranjak ke kamar mandi.


Suasana seperti ini mungkin tak akan terulang lagi setelah malam ini. Meskipun begitu rasa bersalah ini akan terus melekat dihatiku karna aku tak akan mungkin bisa melupakan kenangan manis bersamamu.


“Coba kita nikah dari dulu ya, pasti bakal sering aku makan nasi goreng enak kayak gini.”, pujimu sambil tetap mengunyah.


Aku hanya bisa diam terpaku. Jika kita nikah dari dulu mungkin aku nggak disini sekarang.

__ADS_1


Akhirnya saat itu datang juga, saat dimana aku harus jujur dan mengakhiri semua ini.


“Kenapa Ri?”, tanyanya heran saat aku menolak sentuhannya.


Inilah saatnya….


“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi sebelumnya maaf, harusnya aku jujur dari awal. Maaf, aku mungkin nggak akan bisa melakukan peranku sebagai istri kamu dengan sempurna seperti yang kamu inginkan. Aku nggak bisa.”, rasanya tiba-tiba semua berakhir saat itu juga.


“Aku nggak ngerti dengan apa yang kamu omongin Ri?”, katanya.


Aku tau ada ketakutan dan mungkin juga mulai timbul keraguan dihatinya. Perlahan kutuntun tangannya menyentuh beberapa bagian vital tubuhku yang memang tidak wajar. Terlihat dia begitu kaget dan segera menarik tangannya.


“Apa yang terjadi padamu Ri?”, tanyamu takut.


“Aku sendiri tak tau, atau mungkin lebih tepatnya takut mencari tau.”, jawabku pasrah.


Kamu hanya diam dan itu membuatku semakin tersiksa. Bicaralah Ngga, aku akan terima segala keputusanmu, batinku.


“Maaf Ngga, aku nggak bermaksud membohongimu. Aku tau aku egois, tapi aku juga tak sanggup mengatakannya padamu karna aku sendiripun tak tau apa yang terjadi pada diriku. Terlebih lagi pernikahan ini sangat penting untukku dan keluargaku, sekali lagi maaf Ngga!”, pintaku tulus.


Tiba-tiba kamu beranjak pergi, meninggalkan rumah dan mungkin juga meninggalkan hatiku….


###

__ADS_1


bagikan 💗💗💗 kalian buat author ya...


__ADS_2