Cintaku Tetap Bersamaku

Cintaku Tetap Bersamaku
part 4


__ADS_3

Esok paginya aku sudah siapkan bubur untuk sarapan, semula aku berfikir untuk tetap masuk kerja, tapi setelah kutimbang sebaiknya aku ijin saja hari ini, setidaknya untuk memastikan kalau kamu baik-baik saja hari ini.


Ku bawa semangkuk bubur ke kamarmu, sekalian melihat apa kau sudah bangun. Kulihat kau masih terlelap. Kusentuh keningmu, masih panas meski sudah tak sepanas semalam.


Kubiarkan kau tetap terpejam, dan mulai kubereskan beberapa barang yang sedikit berserakan di kamarmu. Kubuka jendela kamarmu agar udara pagi juga sinar mentari yang hangat membuat kamarmu lebih segar.


Entah mengapa rasanya senang sekali melakukannya, setelah sekian lama aku bahkan telah lupa perasaan senang ini. Tuhan, jangan membuatku berharap lebih dari sakitnya, sembuhkanlah dia, tak apa bagiku merasakan dinginnya malam sendiri asal dia sehat kembali, amin.


“Tutup saja jendelanya!” katamu tiba-tiba, tapi aku tak mengindahkannya.


“Makanlah lalu minum obatmu, jendela ini biar saja terbuka, kalau kau tak suka tutup saja sendiri!” jawabku tak enak didengar.


“Mau kemana?”, tanyamu cepat.


“Selama ini toh kau juga tak peduli kemana kakiku melangkah, makanlah lalu minum obatmu!”, perintahku lagi.


Kutinggalkan dia, Tuhan maafkan aku karna telah begitu kasar pada suamiku sendiri, tapi aku takut berharap Tuhan, aku takut merasakan sakit yang lebih dari saat ini hanya karena kesalahanku sendiri, maafkan aku Tuhan.


Sekitar seperempat jam kemudian aku masuk lagi ke kamarnya. Kulihat bubur masih dimeja, sama sekali tak disentuhnya, sedangkan kamu tengah termangu di depan jendela kamarmu. Kubawa bubur itu dan mendekatimu.


“Buka mulutmu!”, perintahku.

__ADS_1


“Ha?”, kusuapkan sesendok penuh bubur ke dalam mulutnya yang mau tak mau jadi dikunyahnya. Ditatapnya aku lekat-lekat. Ada perasaan takut juga malu saat dia menatapku seperti itu.


“Ha’?”, perintahku lagi. Kembali kusuapkan bubur di mangkuk itu, dan seterusnya hingga isi magkuk itu ludes.


“Buburnya enak.”, katamu singkat.


“Minum obatmu dan intirahatlah!”, kataku tanpa ekspresi. Sekuat tenaga kusembunyikan gejolak dihatiku, aku sungguh tak ingin dia tau.


“Setelah aku minum obatku, bolehkan aku minta sesuatu darimu?”, tanyanya pelan.


“Minum obatmu!”, perintahku tanpa kompromi.


Segera ditelannya 3 butir pil dari dokter yang harus diminumnya 3 kali sehari itu. Tatapannya tak lepas dari wajahku, aku tau wajahku kini menghangat, tapi aku harus tetap berusaha untuk menyembunyikannya, setidaknya aku tak boleh membiarkannya tau itu.


“Apa?”, jawabku agak melunak. Aku tak pernah bisa keras saat melihat sinar matanya langsung yang bagai anak kecil itu.


“Hey,,,,,”, pekikku tertahan.


Ditariknya tubuhku ke pelukannya.


“Sebentar saja, aku kangen banget sama kamu.”, katamu mengiba.

__ADS_1


Lama sekali tak kurasakan kehangatan pelukannya, lama sekali hingga aku hampir lupa rasanya. Tuhan, kalau ini mimpi biarkanlah aku menikmati dekapannya sebentar lagi tapi kalau ini nyata jangan biarkan aku berharap lebih dari ini. Dia mendekapku begitu erat. Entah mengapa aku tetap nggak bisa membalasnya, aku takut.


Kudorong tubuhnya perlahan, sesuatu itu membuatku sakit lagi. Angga nggak boleh melihatku kesakitan.


“Maaf kompor di dapur belum kumatikan.”, aku berusaha memasang raut muka sebiasa mungkin padahal aku sudah nggak kuat lagi menahan sakit ditubuhku. Aku bergegas keluar dari kamarnya, menerobos kamarku dan mencari penghilang rasa sakit. Dimana? Kenapa obat itu nggak ada? Aku panik sekali karena tidak menemukan pil itu di laci mejaku. Aku sudah nggak tahan lagi, sakit sekali…


Aku terduduk di sudut kamarku, meringkuk menahan sakit yang teramat. Gigiku beradu begitu kuatnya hingga menghasilkan bunyi yang seolah mengiris-iris ulu hatiku.


Tuhan, jangan sampai dia melihatku seperti ini, aku terus berdoa dalam hati. Sebelumnya aku tak pernah merasa sakit saat Angga di rumah, karna dia memang jarang ada di rumah. Tapi hari ini, aku serasa nggak bisa menahannya lagi. Tuhan, kuatkan aku kali ini.


Aku bersyukur karna hingga rasa sakitku mereda Angga sepertinya tak keluar dari kamarnya. Aku beranjak ke dapur untuk minum. Rasanya lelah sekali menahan sakit seperti itu.


“Kamu!”, Angga sedang berdiri di depan kompor di dapur. Aku sama sekali nggak menyangka dia akan menyusulku.


“Kompornya sudah kumatikan.”, katamu mengambang.


“Terima kasih.”, jawabku sebelum meneguk isi gelasku. Aku masih harus mengatur nafasku yang tadi masih tersengal. Rasanya memang seperti baru saja ikut pertandingan lari marathon.


“Kamu kenapa?”, tanyamu pelan. Aku masih membelakanginya, aku takut dia curiga.


“Aku nggak papa, sebaiknya kamu kembali ke kamarmu dan istirahat.”, jawabku sewajar mungkin.

__ADS_1


#####


berikan author 💝💝💝💝💝😘😘😘


__ADS_2