Cintaku Tetap Bersamaku

Cintaku Tetap Bersamaku
part 3


__ADS_3

Malamnya setelah pengajian kulihat kau terlelap di kamarku. Telah lama aku tak melihatmu tidur selelap itu. Kamu pasti lelah sekali hari ini, tidurlah, buang semua lelah dan kecewamu…..


Hari-hari berikutnya keluargaku masih sibuk hingga peringatan tujuh hari meninggalnya bapak.


Keesokan harinya setelah acara 7 harian, kami langsung pamit pulang ke Bali. Kami tak bicara sepatah katapun hingga sampai di rumah. Kamu langsung masuk ke kamar dan berbaring, terlihat sekali tubuhmu tak mampu lagi menahan letih.


Kusibukkan diriku dengan pekerjaan rumah yang telah menantiku sejak seminggu yang lalu, hingga hari mulai gelap kau tak kunjung terjaga. Entah mengapa cemas tiba-tiba menghinggapiku. Serta merta aku masuk ke kamar dan menghampirimu, kau masih terlelap.


Ada lega di hatiku melihat dadamu masih naik turun. Kuberanikan menyentuh keningmu. Astaghfirullah, badanmu panas sekali, inikah yang membuatku cemas sedari tadi?


Bergegas aku mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres keningmu. Menjelang maghrib kau mulai terbangun, panas badanmu sepertinya juga sudah mulai turun.


“Sudah mendingan?”, tanyaku ragu-ragu saat kamu mulai terjaga, kamu hanya mengangguk.


“Mau minum?”, tanyaku, lagi-lagi kau hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Kusodorkan gelas air putih disamping ranjangmu.


“Ya udah, aku mau sholat maghrib dulu, istirahatlah!”, kataku sebelum beranjak darinya.


Aku tau kau memandangi punggungku menjauh. Ingin sekali aku menoleh dan berkata semuanya baik-baik saja, tapi aku tau tak ada gunanya berbohong padamu, kau sendiri tau tak ada yang ‘baik-baik saja’ diantara kita.


Setelah sholat aku ke dapur untuk mengambil bubur yang tadi sempat kubuat untukmu dan mengantarkannya ke kamarmu.


“Sebaiknya kamu makan dulu, sejak pulang tadi perutmu belum terisi apapun!”, suruhku datar.


Perlahan kau mulai bangkit untuk duduk. Tak tega juga melihatmu bersusah payah untuk duduk, tanpa berpikir panjang aku membantumu, kau tak protes, menurut dan hanya diam. Kusodorkan mangkok berisi bubur hangat itu, kamu hanya memandangnya tanpa nafsu.


“Kamu harus makan sebelum minum obat, itupun kalau kamu emang mau sembuh!”, bahkan dengan sindirankupun kau tak bergeming. Gemes, akhirnya kusodorkan sendok ke depan mulutmu.


“Buka mulutnya!”, perintahku. Lama kamu tetap diam.


“Ya udah mungkin kamu nggak doyan bubur, aku beli roti aja di luar, biar kamu tetep bisa makan.”, kataku mulai bangkit dari dudukku. Tapi kau mencekal tanganku saat aku mulai melangkah.


“Tetaplah disini!”, katamu pelan, tapi benar-benar membuatku terpaku. Aku hampir tak menyangka ternyata kau masih menginginkan kehadiranku, meski aku tau ini hanya sesaat tapi rasa haru tetap memenuhi hatiku.


“Aku suka bubur kok!”, lanjutmu karna aku tetap diam. Aku kembali duduk dan menyodorkan mangkok bubur padamu, lagi-lagi kamu hanya diam.


“Kamu nggak makan?”, tanyamu.


“Makanlah dulu!”, jawabku singkat.


Karna kau tak kunjung menyambut mangkok itu, lalu kusodorkan sendok beris bubuk ke mulutmu. Tanpa kusuruh kau membuka mulutmu perlahan.

__ADS_1


“Gurih!”, gumammu, aku hanya bisa tertawa kecil.


“Kok malah ketawa sih?”,tanyamu heran.


“Dimana-mana kalau orang sakit itu kalau makan bilangnya pahit bukannya gurih!”, jawabku diselingi tawa geli.


“Loh emang gurih kok, nih cobain aja!”, dibaliknya arah sendok yang udah di depan mulutnya. Ragu-ragu tapi akhirnya kubuka juga mulutku dan perlahan mengunyah bubur buatanku sendiri.


“Gurih kan?”, katam riang, seperti anak-anak.


“Ya, tadi aku pakai santan sedikit lebih banyak.”, jawabku.


“Kamu nggak makan?”, tanyamu.


“Aku nanti aja.”, jawabku.


Kau mulai makan lagi. Taukah kau betapa bahagianya aku saat ini Ngga? Betapa rindunya aku akan suasana seperti ini.


“Mau tambah?”, tanyaku saat isi mangkok ini telah ludes.


“Nggak, makasih aku udah kenyang kok.”


Aku mulai bangkit membawa mangkok bubur yang telah kosong itu.


“Ke belakang naruh ini!”, jawabku singkat.


“Kembalilah kalau sudah!”, pintamu. Jujur aku heran dengan permintaanmu, atau mungkin lebih tepatnya kaget.


“Masih ada yang kamu perlukan?”, tanyaku saat kembali ke kamarmu.


“Kamu ada kerjaan lain ya?”, tanyamu kecewa.


“Nggak sih, paling cuma nonton tivi aja di depan!”, jawabku keki.


“Kenapa nggak nonton disini aja, tuh juga ada tivi?”, tawarmu. Aku sempat tertegun mendengarnya tapi kunyalakan juga televisi di sudut kamarmu.


Kami hanya diam sampai waktu isya’ berkumandang. Aku bangkit hendak keluar untuk sholat.


“Mau kemana?”, dari nada suaramu sepertinya kamu takut aku pergi.


“Aku sholat isya’ sebentar.”, jawabku sambil berlalu. Aku tak mau terhanyut dan berharap pada perubahanmu yang mungkin hanya sementara ini.

__ADS_1


Selesai sholat aku kembali lagi ke kamarmu. Kulihat kau sedang termenung. Seperti orang patah hati saja, atau mungkin kau memang sedang patah hati?


“Kamu mau minum obat sekarang?”, tanyaku.


“Ntar aja ah, aku masih mau melek.”, aku memutar langkahku.


“Mau kemana?” , tanyamu tiba-tiba.


“Aku ke depan dulu.”, jawabku datar. Aku hanya berusaha untuk tetap berpijak di bumi.


“Apa kamu udah nggak nyaman lagi berada di dekatku Ri?”, tanyamu pelan.


“Justru aku yang tak ingin membuatmu merasa tak nyaman dengan kehadiranku.”, jawabku jujur.


“Bisakah kau tinggal disini malam ini Ri?”, pintamu ragu. Aku takut menyimpulkan ini sebagai awal yang baik untuk kita, atau mungkin aku sudah lupa bagimana caranya berharap.


“Aku tau aku nggak pantas memintamu setelah apa yang kulakukan kepadamu, tapi saat ini aku benar-benar ingin kamu ada disini Ri!”, pintamu semakin mengiba. Tak tega juga akhirnya kunyalakan lagi televisi dan duduk di sofa di sisi kamarmu tanpa bicara sepatah katapun.


“Apa kau membenciku Ri?’, tayamu pelan.


“Harusnya aku yang menanyakan itu padamu. Apa kamu begitu membenciku?”, kubalikkan pertanyaanmu, karna tanpa ku jawab pertayaanmu pun harusnya kau tau jawaban apa yang akan keluar dari bibirku.


“Dulu kukira akulah yang paling mengenalmu dibanding siapapun bahkan dirimu sendiri, tapi ternyata aku salah. Aku bahkan tak tau apapun tentangmu. Yang aku tau hanya kau pernah mencintaiku dulu, sedangkan saat ini aku bahkan tak berani mengharapkan hal itu. Aku bahkan sudah tak tau lagi bagaimana wajahmu saat tersenyum.”, katamu terdengar seperti sebuah keluhan.


“Aku sendiri sudah lupa bagaimana caranya tersenyum.”, jawabku dingin.


“Ternyata aku memang payah banget ya!”, katamu pasrah. Aku mencoba tak mempedulikannya, meski dalam hatiku mulai ada bimbang.


“Minumlah obatmu, kau harus banyak istirahat!”, kataku beranjak mengambil obatmu.


“Aku minta racun aja!”, katamu mengagetkanku saat kusodorkanm obatmu.


“Tanpa minum racunpun kau tetap akan mati nanti!”, jawabku sadis.


“Apa kematianku akan mengembalikan kamu yang dulu?”, tanyamu.


“Inilah aku yang dulu, aku yang sebenarnya!”, jawabku semakin dingin. Aku benar-benar tak ingin membuat diriku berharap.


“Tidurlah! Kamu harus istirahat!”, perintahku tegas. Kau hanya diam dan mencoba menutup mata meski aku tau kau tak benar-benar tertidur.


###

__ADS_1


share 💖💖💖💖💖 kalian buat author ya....


__ADS_2