
Kuberanikan diri memasuki bangunan besar dan menakutkan ini. Aku harus tau jawabannya secepat mungkin. Meski sampai saat ini aku masih takut tapi aku harus siap. Aku nggak mau menyesal hanya karena menghilangkan sebuah kesempatan yang harusnya bisa kudapatkan, cuma karena aku takut.
“Bagaimana Dok?”, tanyaku cemas, tapi tetap kucoba untuk tenang.
“Ini hasil lab, saya sudah menyebutkan hal terburuk sebelumnya semoga Anda siap.”, jawab Dokter dimas.
Aku membuka amplop itu perlahan, meniti barisan huruf dan angka-angka yang ada. Mencoba memahami setiap baris kalimat yang di dominasi kata-kata kedokteran yang tak ku mengerti, hingga di baris terakhir,,,,
“Anda harus segera menjalani perawatan intensif. Resep yang akan saya berikan mungkin tidak banyak membantu tapi setidaknya bisa mengurangi rasa sakit anda, dan jangan lagi mengkonsumsi penghilang rasa sakit seperti biasanya. Saya sarankan Anda untuk segera memulai kemoterapi untuk menghambat penyebaran sel kankernya.”, Dokter Dimas menjelaskan.
“Saya usahakan untuk segera mengikuti saran Dokter.”, jawabku sewajar mungkin.
“Sembuh atau tidak itu tergantung Anda. Semakin Anda percaya akan sembuh berarti Anda juga memberikan kesempatan kepada tubuh Anda untuk berusaha dengan mengeluarkan energy positif. Jadi bukan hanya secara medis Anda perlu melakukan pengobatan, tapi juga buatlah diri Anda tetap nyaman dan jalani semuanya dengan tenang, karena selalu ada Tuhan yang akan menjaga kita. Sebisa mungkin maksimalkan produksi energy positif dalam diri Anda.”, dikterr muda itu menjelaskan dengan begitu tenang tapi juga penuh optimisme.
“Saya mengerti Dok.”, jawabku singkat.
“Baiklah, saya akan menunggu Anda datang lagi agar kita bisa berusaha bersama-sama!”, entah mengapa dokter ini begitu baik, atau mungkin pasien lain juga merasa begitu?
“Terima kasih Dok.”, jawabku.
Aku menyusuri koridor rumah sakit ini dengan langkah perlahan. Tuhan ini nampak begitu nyata, kuatkan aku Tuhan…
Aku tak mengatakan apapun perihal kepergianku ke rumah sakit pada Angga. Meskipun hubungan kami kini mulai terlihat membaik tapi tetap saja aku masih takut berharap dan lagi kalaupun boleh berharap apa yang akan terjadi jika Angga mengetahui apa yang terjadi padaku. Aku nggak mungkin bisa menanggung sakit yang sama untuk kedua kalinya karena terasing darinya, maaf karena aku masih saja egois…
“Sarapan apa kita pagi ini?”, tanyamu riang saat menghampiriku di dapur. Semua perubahan sikapmu benar-benar mengalahkan rasa takutku pada penyakit yang kini menggerogoti tubuhku.
“Wuiiihhh,,,,enak nih,hemmmm,,,,”, bergegas kau mulai sarapanmu, makan dengan lahapnya. Terima kasih untuk senyum manismu pagi ini.
“Hari ini kamu sibuk nggak Ri?”, tanyamu seusai makan saat aku masih mencuci piring bekas makanmu...
“Kenapa?”, tanyaku datar.
“Nonton yuk?”, ajakmu. Sejenak aku menghentikan kegiatanku.
“Jam berapa?”, tanyaku berusaha tetap wajar
__ADS_1
“Habis ini aja kita keluar, jalan kemana kek, terus makan siang diluar terus nonton sampai malem, gimana?”, tanyamu antusias.
“Maaf! Tapi aku ada janji sampai siang ini.?”, jawabku, kuakhiri kesibukanku dengan piring-piringku.
“Oh,,,Emm,,,atau kamu aku antar aja gimana? Habis urusanmu kelar kita nonton?”, tawarnya.
“Nggak usah repot-repot mengantarku, aku bisa jalan sendiri kok. Ntar kita ketemuan di bioskop aja.”, aku nggak tau harus menolaknya bagaimana, yang jelas aku nggak mau dia mengantarku, karena hari ini aku ada janji dengan Dokter Dimas.
“Yaudah kalau gitu, ntar kita ketemuan di bioskop aja jam 5 kira-kira urusanmu kelar belum?”, aku tau ada bersit kecewa dimatamu yang coba kau sembunyikan.
“Ya jam 5 juga nggak papa.”, jawabku.
“Siang Dok!”, sapaku saat memasuki ruangan praktek Dokter Dimas.
“Oh, selamat siang, mari silahkan!”, sapanya ramah.
“Bagaimana kabar Anda?”, tanya Dokter Dimas.
“Alhamdulillah Dok. Bisa kita mulai periksanya?”, tanyaku tanpa memperpanjang sesi basa-basi.
Beberapa saat Dokter Dimas mengecek kondisiku dibantu seorang suster yang cekatan.
“Kondisi Anda cukup bagus, hanya saja Saya akan tetap menyarankan agar Anda secepatnya menjalani terapi.”, kata Dokter Dimas seusai sesi periksa.
“Maksud Dokter kemo?”, pertanyaan yang sudah jelas aku tau jawabannya tapi entah mengapa kemoterapi terasa lebih menakutkan daripada penyakit yang kini menggerogoti tubuhku. Dokter Dimas hanya menggangguk pelan.
“Saya tau banyak pasien pasti akan merasa cemas akan dampak dari kemo, juga karena hasil dari kemo itu sendiri belum bisa benar-benar membunuh sel-sel kanker yang ada, tapi saat ini kemoterapi adalah cara yang paling tepat untuk menghambat berkembangnya sel-sel kanker walaupun efek samping radiasinya juga tidak bisa kita pungkiri.”, tambah Dok Dimas.
“Apa Anda datang sendiri lagi hari ini?”, tanya Dok Dimas mengagetkanku, aku hanya bisa mengangguk lemah.
“Apakah ada cara lain selain kemo Dok? Misal dengan minum obat lebih banyak pun tak apa.”, tanyaku mengalihkan topik.
“Kalau Anda belum menghendaki untuk memulai kemoterapi, saya hanya bisa membantu lewat obat-obatan tapi itu juga tidak bisa dipastikan sejauh mana bisa membantu. Semua tetap tergantung diri Anda sendiri. Jika Anda yakin bisa bertahan Anda pasti akan baik-baik saja selama yang Di Atas mengijinkan. Yang terpenting Anda harus selalu optimis.”, aku hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Dokter Dimas.
Entah mengapa aku bukannya takut mati lebih cepat, hanya saja aku tidak yakin apakah aku bisa ikhlas meninggalkan dia yang kini kembali menyentuh hatiku. Apakah aku bisa rela?
__ADS_1
Aku meninggalkan rumah sakit dengan perasaan yang tak karuan. Entahlah saat ini aku begitu takut. Takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum benar-benar kembali jadi milikku lagi. Tuhan kuatkan aku,,,,,
Ku sempatkan makan siang sebelum menuju bioskop. Aku tak boleh terlihat lesu ataupun sedih maka sedikit kuperbaiki riasanku di toilet rumah makan. Bergegas aku menuju bioskop. Dari jauh kulihat Angga bersandar di salah satu tiang lobby bioskop, padahal ini masih setengah jam sebelum waktu janjian kami.
Aku mendekatimu yang sedang asik mendengarkan musik dari headset yang tak pernah lupa dia bawa kemanapun, headset yang bahkan lebih sering ada di dekatmu daripada aku.
“Sore!”, sapaku ringan.
“Eh, hai! Udah sampai?”, tanyamu kaget sambil melepas headsetmu.
“Udah lama?”, tanyaku.
Kamu hanya menggeleng dan tersenyum begitu manis sambil menunjukkan 2 tiket di tanganmu.
“Mulainya masih setengah jam lagi, mau makan dulu?”, ajakmu.
“Kamu belum makan?”, tanyaku kaget. Kamu hanya menggeleng pelan dan kembali tersenyum.
Aku hanya menghela nafas dan bergegas menarikmu ke arah food court di samping gedung bioskop.
“Makan soto aja ya? Mbak sotonya 1 nasinya dipisah ya sama teh anget 2.”, tanpa menunggu jawabannya aku langsung saja memesan.
Kami duduk di kursi paling pinggir.
“Kok cuma pesan 1?”, tanyamu.
“Maaf, tapi aku sudah makan tadi bareng temenku.”, jawabku sedikit merasa bersalah, tapi kamu malah tersenyum dan menyentuh pipiku lembut.
“Syukurlah kamu nggak lupa makan.”, katamu lega.
Kamu makan dengan lahapnya, sama seperti pagi ini. Diselingi sesekali senyum manismu menghiasi bibir disela-sela mulutmu yang sedang bekerja.
Sore yang begitu manis hari ini. Kamu menggandengku memasuki gedung bioskop sama seperti dulu. Dan tetap menggenggam tanganku selama kita nonton, bahkan sampai kita keluar tangan kita tak terlepas. Andai saja dunia berhenti disini,,,,,
#####
__ADS_1
author sangat berharap kalian membagi ❤❤❤❤❤ kalian untuk author