
Hari-hari berikutnya semakin terasa berat kujalani. Kau sama sekali tidak memutuskan apapun, kau bahkan tak bicara apapun. Kau hanya diam, bahkan semakin tak menganggapku ada di rumahmu.
Mulai kusibukkan diriku dengan pekerjaan baru yang bisa kudapatkan disini, setidaknya bisa sedikit membuatku merasa masih ada di dunia meski nyatanya saat aku kembali lagi ke rumahmu siksaan yang kau berikan amat sangat menyakitkan, tapi akan aku terima karna memang akulah yang bersalah, akulah yang telah melukaimu lebih dulu.
Berbulan-bulan kau hanya diam, tak sepatah katapun terucap dari bibirmu saat kau berada di rumah, taukah kau betapa aku sangat merindukan suaramu? Aku tau kau pasti jauh lebih menderita saat ini dan semua itu hanya karna keegoisanku, andai saja aku bisa jujur dari awal…
Setengah tahun sudah kita jalani rumah tangga tak wajar ini, lelah sekali rasanya. Andai kau bicarakan apa maumu Ngga, sepahit apapun keputusanmu akan aku terima dengan ikhlas, bahkan jika kau ingin benar-benar pergi dari lingkaran duniakupun aku akan rela.
Sedangkan kondisi tubuhku kian hari semakin membuatku tak nyaman. Aku takut Ngga, aku takut jika apa yang sekarang ada ditubuhku adalah apa yang selama ini aku takutkan, aku tak ingin mati dengan keadaan kita yang seperti ini, kumohon Ngga, bicaralah…..
Senin pagi ada telepon dari Jogja, kabar yang membuatku harus pulang saat itu juga. Aku sengaja tak langsung pamit padamu, aku hanya meninggalkan memo kecil di meja kerjamu sebelum meninggalkan rumah, mungkin kau akan membacanya nanti atau mungkin besok, aku sudah tak ingin berharap.
Tak sampai satu jam aku telah berada di pesawat. Sengaja aku naik pesawat agar bisa sampai Jogja hari ini juga. Sesampainya di Adisucipto aku bergegas keluar mencari ojek dan melayang secepatnya ke rumah.
Aku tak ingin ketinggalan upacara pemakaman ayahku, aku ingin melihatnya untuk yang terakhir kali. Entah mengapa tak ada duka dihatiku, bahkan air matapun tak menetes hingga detik ini. Aku benar-benar ikhlas dengan kehendak_Nya.
Rumahku telah ramai, meski ayahku termasuk orang yang tidak begitu disukai di kampung ini, tapi rasa gotong-royong warga disini tetap terjaga baik saat keluargaku dalam kesusahan.
__ADS_1
“Sudah sampai kamu Ri?”, tanya mbakku.
“Iya tadi naik pesawat biar bisa cepet sampai.”, jawabku seadanya.
“Makan dulu sana, nanti nggak sempet makan!”, suruhnya, aku hanya menurut dan kemudian pergi ke dapur yang juga udah lumayan ramai. Tapi bukannya makan aku malah sibuk diwawancarai tetangga-tetanggaku.
“Suamimu mana Ri kok pulang sendirian?”, tanya tetanggaku.
“Mungkin baru bisa kesini besok, tadi pas Mbak Anik telpon dia udah berangkat kerja, jadi tadi kusuruh kesini besok aja!”, bohongku, aku bahkan tak tau apa kau mau datang atau tidak.
Keluarga-keluarga kami dari pihak bapak dan ibu mulai berdatangan, aku bersyukur karena masih banyak yang bersimpati pada keluarga kami meski Bapak bukan termasuk orang yang bisa dibilang baik.
Prosesi pemakaman berjalan lancar, aku sangat bersyukur karnanya. Sorenya kusempatkan kembali ke makam Bapak sendirian.
“Maaf Pak kalo aku belum bisa jadi anak baik seperti yang Bapak mau. Maaf juga kalau aku sudah terlalu banyak merepotkan Bapak selama ini. Terima kasih telah menerimaku jadi anak Bapak, terima kasih karna telah rela merawat dan membesarkanku. Semoga Allah mengampuni segala kesalahan Bapak dan memberikan tempat terbaik disisi-Nya, amin.”, aku berdoa setulus hatiku, mungkin doa pertamaku untuk Bapak yang benar-benar tulus dari dalam hatiku.
Tiba-tiba seseorang duduk di sampingku dan berdoa, tanpa menolehpun aku tau itu kamu, aroma tubuhmu telah melekat kuat dimemori otakku.
__ADS_1
“Terima kasih telah datang.”, kataku setelah kulihat dia selesai berdoa.
“Kaamu nggak papa?”, aku hampir tak percaya mendengar suaramu lagi. Suara yang selalu kurindui.
“Aku toh memang tak pernah merasa memiliki beliau seutuhnya. Mungkin ini juga sudah jadi jalan yang terbaik buat kami sekeluarga.”, jawabku apa adanya.
“Sampai kapan kamu akan tinggal disini?”, tanyamu datar. Entah mengapa ada yang sakit saat kau menanyakan itu.
“Sampai seminggu mungkin, setelah itu aku akan kembali ke Bali. Sementara itu kamu bisa menyiapkan perpisahan kita.”, jawabku setegar mungkin.
Tidak ada sedikitpun perubahan diraut wajahmu, dan itu benar-benar membuatku terluka saat itu. Kau sama sekali tak peduli….
“Aku pulang bersamamu!”, katanu singkat kemudian beranjak keluar dari area pemakaman. Aku berpamitan pada Bapak kemudian mengekor dibelakangmu.
###
bagikan banyak 💞💞💞💞 buat author ya.....
__ADS_1