
Kondisi fisikku semakin hari semakin memburuk, tapi tidak dengan keadaan psikisku, saat ini adalah saat yang paling bahagia dalam hidupku. Disisiku selalu ada sepasang tangan yang memelukku begitu hangat, meski perih yang dirasanya. Aku merasa begitu tenang karena disisiku ada Angga dengan cinta yang begitu besar. Aku bahkan hanya tergolek lemah di ranjangku, terkadang Angga menggendongku keluar dan kami duduk di taman menikmati sore di sudut Bali. Keluargaku atau keluarga Angga belum ada yang mengetahui perihal kondisiku. Aku memang melarangnya memberitahu keluargaku. Aku tak ingin melukai lebih banyak orang lagi.
“Suatu hari nanti saat waktunya tiba apa kamu akan sedih Ngga?”, tanyaku suatu sore saat kami kembali duduk di taman.
Angga hanya terdiam menerawang jauh ke arah jalan di samping rumah mungil kami.
“Pernah baca sebuah cerita tentang seorang istri yang meninggal dengan bahagia di sisi suaminya?”, tanyaku lagi, kamu tetap diam.
“Aku pernah baca cerita seperti itu dulu. Dulu sekali bahkan sebelum aku jadi seorang istri. Aku ingin seperti itu nanti kalau waktunya sudah tiba.”, imbuhku.
“Bisakah berhenti membicarakan ini?”, tanyamu datar.
Aku tau kamu sedang menahan amarah, tapi aku ingin sekali melihatmu meluapkan amarahmu kali ini, mungkin untuk terakhir kalinya. Karena itu akan membuatmu sedikit lebih lega setelah sekian lama menahan segala macam rasa dihatimu.
“Dalam cerita itu si istri juga sakit parah, saat dia tau kalau dia sakit dan tau umurnya nggak akan panjang segera dia menyusun sebuah proyek untuk mencarikan calon istri untuk suaminya.”, kamu tetap terdiam.
“Dan kamu tau, Tuhan memang yang terbaik. Saat waktunya hampir tiba si suami baru mengetahui bahwa dia akan kehilangan seseorang yang begitu dicintainya, tapi si istri dengan tenang berkata, suamiku, cintaku, jangan bersedih karena saat aku pergi nanti akan ada seorang wanita baik hati yang akan menjagamu dan membuatkan kopi yang enak untukmu. Kamu tau wahai suamiku, seorang istri akan bahagia meski diujung hidupnya jika yang pertama suaminya bisa dengan ikhlas melepasnya dan kedua dia tau bahwa suaminya akan tetap hidup dengan bahagia meski berada disisi wanita lain…..”
__ADS_1
“Stop it!”, kamu berteriak tertahan. Seketika kamu berdiri dari dudukmu. Terlihat rahangmu menegang menahan amarah, teruskan Ngga marahlah, bisik batinku.
“Aku mungkin nggak bisa memastikan kamu bakal bisa bahagia saat waktunya tiba nanti, tapi bolehkah aku minta yang pertama? Bisakah kamu ikhlas Ngga? Biar aku juga bisa tenang ninggalin kamu?”, aku terus saja mendesakmu, maaf,,,,,
“Please, stop it! Aku nggak mau denger lagi Ri! Dan aku nggak akan pernah ikhlas, aku juga nggak akan hidup bahagia kalau tanpa kamu!”, kamu berjalan masuk ke rumah meninggalkanku sendiri di taman. Aku tau kamu tak ingin memperlihatkan emosimu padaku.
Hingga adzan maghrib terdengar kamu baru keluar dan menggendongku masuk kembali ke rumah. Masih kurasakan pelukanmu yang begitu hangat. Yah, tempat ternyaman memang di pelukanmu,,,,,
Kau kecup keningku seusai kita jamaah sholat. Entah apakah kita bisa berjamaah sholat lagi atau tidak, yang pasti aku sangat menikmati kebersamaan kita.
“Ngga, bisakah memelukku sebentar saja?”, pintaku tiba-tiba.
“Berada di pelukanmu memang tempat yang paling nyaman ya?”, kataku sambil tersenyum.
“Aku akan kuat jika kamu minta aku kuat, aku akan ikhlas jika itu juga yang kamu inginkan, aku bahkan bisa menjalani hidupku dengan bahagia nantinya jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang, tapi jangan memintaku untuk mencari penggantimu. Aku hanya manusia biasa, yang pasti akan merasa sedih saat kehilangan seseorang yang sangat berarti buatku, tapi aku janji aku nggak akan jadi rapuh, aku janji aku akan cepat move on. Aku juga nggak akan protes sama Tuhan, meskipun Dia telah menyakitiku begitu dalam. Aku nggak akan merusak hidupku meski Dia sudah menghancurkan hatiku berkeping-keping karena memisahkanku dari cintaku. Aku akan ikhlas kalau memang itu maumu, aku janji,,,,,”, katamu terbata-bata.
Aku tak kuasa menahan air mataku. Tuhan jagalah suamiku, berikan dia kebahagian yang tak pernah bisa keberikan padanya, meski dengan jodoh lain yang bahkan tak dikehendakinya saat ini aku rela. Tuhan aku ikhlas kapanpun Kau memintaku pulang, aku akan pulang dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Esok paginya kondisiku menurun drastis. Aku masih sempat melihat wajah cemas Angga saat menggendongku memasuki mobil dan memacu mobilnya begitu kencang. Dia menggenggam tanganku erat. Aku tak apa-apa Ngga, aku hanya akan pulang, batinku.
Saat memasuki rumah sakit aku hanya samar-samar mendengar suara ranjang didorong dan orang-orang berlari, lalu suara alat medis, suara jantungku yang semakin samar lalu semuanya sunyi dan gelap. Selamat tinggal Ngga, terima kasih untuk semua kebahagiaan ini, jangan lupa janjimu ya….
Dokter Dimas keluar dari ruang ICU. Angga masih duduk tegang di sebelah pintu.
“Maaf Pak Angga, kami tidak bisa membantu. Semoga Anda bisa ikhlas seperti istri Anda.”, kata Dokter Dimas sebelum meninggalkan Angga.
Perlahan Angga memasuki ruangan itu. Ruangan dimana tubuh istrinya tergeletak tak bernyawa. Wanita yag begitu berarti di hidupnya, yang begitu dicintainya kini telah benar-benar pulang. Tak ada air mata, tak juga raungan protes pada Tuhan. Senyum terakhir Ri bisa menghapus semuanya. Luka yang selama ini menghimpit jatungnyapun seketika lenyap.
Dingin, hanya itu yang dirasa hati Angga kini. Meski Angga sangat tau bahwa setelah hari ini hidupnya akan benar-benar berbeda. Setelah dia keluar dari ruangan ini tak akan ada lagi Ri yang begitu tenang, tak akan ada lagi Ri yang selalu menyimpan semua lukanya sendiri, tak ada lagi Ri yang bikin nasi goreng enak, juga bubur yang gurih, tak akan ada lagi Ri yang bisa dipeluknya dengan hangat.
Angga sangat sadar itu, dan dia ikhlas, dia pasti bisa ikhlas, karna Ri, karna ada Ri yang akan selalu menemaninya, menemani setiap langkahnya meski sulit. Ri yang akan selalu hidup di hatinya, Ri yang nggak akan pernah mati, karna Ri adalah hidupnya, istri tercintanya.
Terima kasih Tuhan telah menciptakan wanita sehebat dia, terima kasih juga karena telah mengijinkanku hidup bersamanya, terima kasih atas cinta ini, terima kasih atas semuanya, doa batin Angga di samping pusara Ri. Senyum menghiasi bibir Angga, tatapa teduhnya juga terlihat begitu tenang. Setenang jiwa Ri yang kini begitu damai di rumah Tuhan.
¤¤¤¤¤¤¤ END ¤¤¤¤¤¤¤
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT READER SEMUA 😘😘😘😘😘