City Of The Dead

City Of The Dead
Bab 10 Tamu Tidak Di Undang


__ADS_3

Teo dan yang lainnya mulai berpencar untuk menemukan peta area kampus dan beberapa hal penting lainnya. Clara yang masih setia menggendong Garfield bersama Alwi pergi menuju ke lantai dua. 


Alwi mengarahkan busur panahnya ke depan sebagai cara untuk berjaga-jaga. Sedangkan Agasa dan Teo menyusuri lorong di lantai tiga.


"Tidak ada apa pun di sini, kecuali hanya sampah-sampah sisa dari kerusakan yang masif." Teo melihat beberapa ruangan yang sudah berantakan, berdebu serta berbau busuk.


"Tetaplah waspada, aku tidak mau menjadi santapan dari para The Unknown," ucap Agasa. Ia tetap siaga dengan Crossbow miliknya.


"Profesor, kemari." Teo memasuki sebuah ruangan. Ia melihat sebuah kerangka manusia yang terduduk di atas kursi.


"Dan sebaiknya kau lihat jabatannya," tunjuk Agasa ke sebuah papan nama di atas meja.


"Rektor? Itu sangat mengejutkan." Teo membuka beberapa laci milik si tengkorak. 


Ia menemukan sebuah kamera DSLR yang masih utuh dan terjaga dengan baik.


"Aku juga menemukan sesuatu. Lebih tepatnya sesuatu hal yang bisa mengupgrade senjata kita," ucap Agasa.


Ia menemukan sebuah brankas yang terbuat dari baja solid.


Teo mencoba untuk menghidupkan kamera DSLR itu. Ia menekan tombol on, berharap masih ada daya baterai yang tersisa. Sedangkan Agasa menggunakan teknik lama untuk membobol brankas yang terkunci dengan alat stetoskop yang dibawanya di backpack.


"Apa masih bisa hidup?" Tanya Agasa.


"Tidak, baterainya mati sepenuhnya. Sial!" Teo merasa sangat kecewa.


"Simpan saja kameranya, mungkin saja bisa kita gunakan untuk sesuatu di suatu hari nanti," pikir Agasa.


Brankas berhasil terbuka. Agasa membuka pintu brankas itu.


"Lalu bagaimana cara menghidupkannya? Apa kita harus menciptakan baterai lagi?"


Tanya Teo.


"Apa kau tahu raja dari dunia modern? Menurutmu apa?" Tanya Agasa. 


Ia melihat begitu banyak batang emas dan beberapa uang tunai tersimpan di dalam brankas. Agasa langsung memasukkan semua batang emas itu ke dalam backpack miliknya.


"Uang?" Jawab Teo asal.


"Menurutmu yang aku pegang saat ini apa?" Tanya Agasa.


Ia menunjukkan dirinya sedang memegang satu pack uang pecahan seratus ribu.


"Uang sudah tidak berguna bila sudah tidak ada barang yang berharga untuk ditukarkan. Ia hanyalah alat tukar, bukan harta." Agasa membuang semua uang itu ke lantai.


"Lalu apa?" Tanya Teo lagi.


"Energi, sumber daya yang bisa diperbaharui. Contohnya seperti listrik," ucap Agasa.


"Kau berpikir untuk membuat pembangkit listrik?" Pikir Teo yang heran bercampur bingung.


"Menurutmu Arc Quantum Reactor itu apa? Itu adalah pembangkit energi berdaya maha dahsyat! Ia bisa memberikan pasokan energi listrik secara terus menerus dengan jumlah tidak terbatas dalam satu wilayah di sebuah negara besar," jelas Agasa.

__ADS_1


"Butuh waktu untuk membuatnya. Apa kau tidak bisa menciptakan sesuatu yang bisa kita gunakan dalam waktu dekat ini?" Tanya Teo.


"Tentu ada. Kita bisa membuat aki sederhana. Berdoalah kampus ini memiliki ruang laboratorium kimia," ucap Agasa.


Mereka berdua akhirnya keluar dari ruangan rektor dan menuju ke lantai dua.


Di lain tempat, Alwi dan Clara menemukan dua buah peta di dalam ruang arsip gedung direktorat. Mereka segera mengambilnya dan kembali menemui Teo dan Agasa.


Di antara dua cabang lorong dari arah Alwi dan Clara berada, serta dari arah tangga tempat Teo dan Agasa turun, ada seseorang yang berdiri membawa sebuah tombak besi panjang dengan ujung berduri. 


Wajahnya hancur, mata kanannya tertutup oleh gumpalan daging dari bagian wajahnya. Tubuhnya begitu gemuk dan berisi, namun kulitnya terlihat busuk menghitam layaknya sisik reptil.


"A–, apa itu?" Tanya Agasa yang menghentikan langkahnya.


"The Unknown lainnya," ucap Teo. Ia segera mencabut katana miliknya.


"Alwi stop! Siapkan panahmu," ucap Clara. Ia mengambil flare gun dari sarungnya yang diletakkan di ikat pinggang.


Alwi menarik tali busur panahnya. Ia memasang kuda-kuda untuk bersiap menembakkan anak panahnya. Agasa pun sudah mengarahkan Crossbow miliknya ke arah The Unknown itu.


Teo coba menimpuk The Unknown itu dengan batu kecil. 


"Apa yang kau lakukan!" Bisik Agasa yang begitu kesal.


"Memancing, memprovokasi, atau apalah itu namanya," jawab Teo.


The Unknown itu menoleh ke arah Teo. Ia meringis dan mengangkat tombak panjang berduri yang panjangnya mencapai lima meter. Makhluk itu langsung melemparkan tombaknya ke arah Teo.


WUSH!!!


Teo dan Agasa segera menghindar. Agasa segera bergegas lari kembali ke atas dan diikuti oleh Teo dari belakang. Lemparan tombak milik The Unknown itu sampai membuat dinding runtuh.


Keduanya segera lari hingga menuju ke lantai empat. The Unknown itu mengikuti Teo dan Agasa dengan menaiki tangga.


"Kak, kita harus menolong mereka!" Seru Alwi.


"Tenang! Kita butuh rencana untuk mengalahkan Gilgamesh. Saat ini kita cari sesuatu yang bisa digunakan di luar gedung. Kakak melihat ada fakultas kimia dan juga mesin. Kita butuh senjata yang lebih besar untuk memotongnya menjadi beberapa bagian," ungkap Clara 


Mereka berdua segera turun menuju ke lantai dasar dan berlari menuju ke gedung fakultas kimia dan mesin.


"Kenapa kau menyebutnya The Unknown itu dengan nama Gilgamesh?" Tanya Alwi penasaran.


"Karena ia mengingatkanku dengan Gilgamesh yang berada di dalam sejarah negara/kota Uruk di Sumeria. Ia merupakan tokoh pahlawan dalam mitologi Mesopotamia kuno dan tokoh utama dalam Epos Gilgamesh," jelas Clara.


Mereka berdua segera mencari kesana-kemari gedung fakultas kimia dan mesin.


"Buntu! Ini jalan buntu!" Teriak Teo yang begitu panik.


"Teo! Ia datang!" Teriak Agasa sambil menembakan 2-5 peluru panah perak ke arah wajah The Unknown itu.


"Peluru itu hanya meleleh? Ia tidak terbakar menjadi abu?" Agasa terlihat heran.


"Sepertinya, semakin tinggi rank para The Unknown, semakin tinggi pula ketahanan tubuhnya," pikir Teo.

__ADS_1


"Kau mau melawannya?" Tanya Agasa.


"Apa kau gila? Aku bisa terbelah menjadi dua bila terkena duri-duri dari tombaknya itu!" Ucap Teo.


"Lalu kita harus apa?! Di belakang hanya ada dinding!" Agasa mulai panik.


The Unknown Gilgamesh mengambil kuda-kuda untuk melemparkan tombak besi panjang nan besar itu ke arah mereka berdua.


"Awas, Profesor!" Mata Teo terbelalak.


Satu tombak besar dengan duri tajam di sekitar ujungnya melesak terbang menuju ke arah mereka berdua. 


WUSH!!!


"Professor! Merapat dan menempel ke dinding!" Perintah Teo.


BRAK!!!


Mereka berdua segera merapat ke dinding. Terlihat tombak besar itu menghantam dinding diujung jalan buntu hingga hancur dan membuat lubang besar. Tombak tersebut sampai terlempar keluar dan tertancap di jalanan aspal. 


"Astaga! Hampir saja kita menjadi daging giling!" Ucap Agasa yang merasa lega.


HEARRRGH!!!


The Unknown Gilgamesh berteriak begitu keras hingga menggema ke seluruh gedung. Ia mengambil ancang-ancang untuk lari ke arah mereka berdua.


"Oh, Tidak! Ia mau lari kemari!" Teriak Agasa.


"Profesor, lompat!" Teo segera melompat dari lantai empat menuju ke kanopi bawah di lantai dasar.


BRAK!!!


"Aw!" Teo jatuh dengan keadaan tiduran. Untungnya ia hanya mengalami cidera kecil.


"Lompat!" Teriak Teo dari bawah.


"Menyebalkan!" Agasa mengambil ancang-ancang untuk lari. Di belakangnya, Gilgamesh sudah mulai lari dan mulai mendekati Agasa.


Pria tua itu langsung melompat dan jatuh menimpa kanopi. Ia sesegera mungkin untuk turun dari atas kanopi dengan dibantu oleh Teo.


"Tulang belakangku terasa hancur," keluh Agasa.


Tidak lama kemudian, Gilgamesh melompat hingga melewati Teo dan Agasa. Ia mendarat dengan kedua kakinya. 


BUAK!!!


jalan aspal di sekitarnya langsung mengalami retak dan rusak seketika.


"Profesor, temui Clara dan Alwi! Aku akan menahan The Unknown ini di sini!" Teriak Teo.


Ia mengambil katana dan tombak milik Clara. Teo menggenggam keduanya di kedua tangan.


"Tetaplah hidup sampai aku kembali," pesan Agasa. 

__ADS_1


Ia segera pergi meninggalkan Teo dan The Unknown itu berdua saja.


"Saatnya untuk mati," kata Teo lirih sambil tersenyum kecil.


__ADS_2