
Gilgamesh mencabut tombak besi yang menancap di rusuk bagian sebelah kanannya. Ia membawa tombak itu dan berjalan menuju ke tengah jalan tempat Alwi berada.
Mereka berdua saling berhadapan satu sama lain dengan jarak di antara mereka sekitar 40 puluh meter. Alwi mengambil ancang-ancang untuk melempar tombak miliknya lagi, ia berfokus pada satu titik target.
Gilgamesh pun juga melakukan hal yang sama, ia sedang bersiap untuk melemparkan tombak yang tertancap di tubuhnya tadi. Keduanya bersamaan melemparkan tombak yang masing-masing mereka pegang.
"Profesor!"
Clara berteriak dan memberi aba-aba agar Agasa segera mencabut pemantik granat di ujung tombak yang ia pegang. Setelah pemantik granat dicabut, ia segera melemparnya menuju ke arah Gilgamesh dengan sekuat tenaga dari balik mobil rongsok.
Tombak yang dilemparkan Gilgamesh mendekat dan membuat goresan luka di perut Alwi sebelah kanan.
SRAAT!!!
Kecepatannya lebih cepat dari tombak yang dilemparkan Alwi. Untungnya ia berhasil menghindar ke sisi kiri yang berakhir dengan terjatuh. Tombak yang melukainya itu sampai menancap begitu dalam di jalan aspal.
"Hampir saja," ungkap Alwi yang begitu terkejut.
Tombak milik Alwi tidak mengenai apa pun, jarak yang begitu jauh dan tidak adanya tenaga yang cukup kuat untuk melempar, membuat tombak itu hanya mendarat di jalan aspal dengan sia-sia. Namun, tombak milik Clara berhasil menusuk kaki kanan Gilgamesh.
HEAARGH!!!
Gilgamesh berteriak keras.
"Lumayan," ungkap Clara.
Ia dan Agasa menghampiri Alwi yang masih berbaring di jalan aspal sambil memegangi perutnya yang terluka karena tergores oleh tombak yang dilemparkan Gilgamesh.
HWAAARRGGGH!!!
BRUUUAR!!!
Granat yang dililitkan di sekitar ujung tombak itu meledak dan membuat kaki kanan Gilgamesh meledak dan hancur. Ia lumpuh dan terjatuh sambil menatap ke arah Clara.
"Alwi! Kamu terluka?" ucap Agasa.
Pria tua itu segera memeriksa luka Alwi. Terlihat tidak begitu dalam lukanya, namun goresannya cukup panjang dan membuat lukanya terbuka lumayan lebar.
"Kamu harus kuat, Profesor kita harus bagaimana?" Tanya Clara.
Ia melihat Alwi yang menangis menahan rasa sakit.
"Kita mundur dulu, kita harus segera menjahit luka ini dan membungkusnya dengan perban." Agasa yang di bantu Clara segera membopong tubuh Alwi.
Namun, Gilgamesh belum menyerah. Selagi ketiganya sedang sibuk jalan untuk menjauh, makhluk itu mengambil tombak yang menghantam kaki kanannya tadi dan langsung melemparnya ke arah mereka bertiga.
WUSH!!!
JOHN!!!
Teo berteriak memberi tanda pada John. ia segera menjatuhkan satu drum solar yang ditemukannya di ruang lab kimia dari atas rooftop ke arah Gilgamesh yang ada di bawah gedung.
Teo menghadang tombak yang dilemparkan Gilgamesh ke arah mereka bertiga dan menahannya dengan sebuah lempeng besi baja yang dibawa olehnya sebagai tameng.
TAANG!!!
TEO?!
__ADS_1
Clara melihat Teo berdiri dan berlindung dari tombak yang dilemparkan Gilgamesh ke arahnya.
"Kakak?" Ucap Alwi.
"Kau datang dari mana?" Tanya Agasa.
"Diam dan masuk saja ke gedung itu. Biar kami berdua yang urus sisanya. Clara, aku pinjam flare gun," ucap Teo.
Untungnya tombak besi yang dilemparkan Gilgamesh meleset saat menghantam tameng baja yang dibawa Teo. Ia mendapatkannya setelah melihat lempengan itu tergeletak di salah satu ruangan di gedung fakultas teknik mesin.
Teo segera menyingkirkan lempengan baja itu. Di tangannya sudah ada flare gun milik Clara dengan satu pelurunya. Solar yang ditumpahkan John dari rooftop pun sudah membasahi sekujur tubuh Gilgamesh.
"Tetaplah hidup," ucap Clara.
Ia segera kembali membopong tubuh Alwi setelah memberikan flare gun itu ke Teo.
"Ayo kita mulai pertandingan yang kedua!" Teo sangat bersemangat, ia sampai tersenyum.
Teo menembakkan flare gun itu ke arah Gilgamesh. John yang ada di atas juga tidak ingin ketinggalan. Ia memanah Gilgamesh, di mana ujung anak panahnya sudah diselimuti oleh api yang berkobar.
Peluru dari flare gun milik Clara dan anak panah yang ditembakkan oleh John melesak cepat dan mengenai tubuh besar Gilgamesh. Lalu, api besar muncul dan membakar seluruh tubuh Gilgamesh hingga ia meronta ke sana kemari.
BRUUUAR!!!
HWAAARRGGGH!!!
Teo melihatnya dengan penuh perasaan puas. John pun yang berada di atas rooftop tersenyum lebar, ia segera menemui Teo dibawah.
"Alwi bertahanlah," ucap Agasa.
Ia segera mengeluarkan kotak P3K yang di bawa di backpack miliknya.
"Sa–sakit! Pe–perih sekali," ungkap Alwi yang tidak berhenti merintih.
HWAAARRGGGH!!!
HWAAARRGGGH!!!
Jeritan Gilgamesh yang meronta kesakitan terdengar ke seluruh penjuru area kampus. John dan Teo berdiri di hadapan The Unknown yang perkasa itu.
Perlahan tapi pasti, seluruh tubuh Gilgamesh terbakar tanpa celah. Kobaran api begitu besar hingga asap hitam mengepul tinggi menuju langit.
"Kau masih membawa tabung gas mini itu?" Tanya Teo.
"Kita harus lebih memeriahkan pesta api unggunnya." John melemparkan tabung gas mini itu ke arah Gilgamesh.
Segera mungkin setelahnya, ia langsung menembak tabung gas mini dengan anak panah miliknya.
SHOOT!!!
DUUUAR!!!
Ledakan besar terjadi. Suaranya begitu lantang hingga menggema ke seluruh area kampus. Api besar berkobar semakin hebat dan tidak terkendali.
Gilgamesh berhenti berteriak. Ia akhirnya menyerah oleh api yang membakar tubuhnya. Teo dan John akhirnya berhasil mengalahkan The Unknown itu.
Di lain tempat, Agasa dan Clara pun hampir selesai dengan luka Alwi. Mereka tinggal memberikan sentuhan akhir dengan melilitkan perban pembungkus ke seluruh area perut bocah itu.
__ADS_1
"Kau memang luar biasa. Kau begitu berani untuk anak seusiamu," ucap Agasa berusaha menghibur Alwi.
"Garfield, lihat? Kak Alwi berani, yah?" Ucap Clara sambil menghibur Alwi. Ia memanfaatkan kelucuan tingkah laku Garfield.
"Apa kita menang?" Tanya Alwi.
Agasa dan Clara saling melihat satu sama lain. Mereka juga penasaran dengan nasib dari The Unknown Gilgamesh yang super kuat itu.
"Apa rencana selanjutnya?" Tanya John.
"Kami sementara akan menetap di kampus ini. Ada hal yang harus kami lakukan di sini," jawab Teo.
"Seperti apa?" Tanya John kembali.
"Seperti mengupgrade senjata dan membuat sebuah alat yang bisa membawa kita pulang kembali ke dunia nyata. Seperti itu," jelas Teo. Ia menoleh ke arah John.
"Kalian bisa membuat alat seperti itu?" Tanya John menoleh ke arah Teo dengan penuh rasa terkejut.
"Bukan kami, tapi ada satu orang. Ia adalah Profesor Agasa. Tapi kami bertiga akan membantunya untuk merealisasikan alat itu. Karena sampai detik ini, hanya alat itu satu-satunya cara agar kita bisa kembali ke dunia nyata." Teo menghela napas. Ia sangat puas setelah Gilgamesh menjadi abu.
"Aku ikut, ingin rasanya berpetualang layaknya party di dalam sebuah game RPG dan melawan berbagai banyak monster di tengah perjalanan," ungkap John.
"Terserah kau saja, tapi maaf, kami tidak memiliki Champagne untuk merayakan kedatanganmu." Teo menghampiri Alwi dan lainnya.
"Apa kita menang, Kak?" Tanya Alwi. Ia melihat ke arah Teo.
"Tentu. Kita menang telak," jawab Teo sambil tersenyum.
"Akhirnya, kita bisa istirahat," ungkap Clara.
"Sebaiknya kita segera mencari tempat untuk kita tidur malam ini," pikir Agasa.
"Tenang, semua hal itu bisa diatur oleh tuan Jonathan Saint Michael ini," ucap John.
"Oh, si variabel tambahan. Kau akhirnya memilih untuk bergabung?" Tanya Clara.
"Apa? Variabel tambahan?" Gumam John dalam hati.
"Tentu. Karena visi dan misi pemimpin kalian ini sangat inovatif dan juga kreatif," ungkap John sambil menepuk bahu Teo.
"Terima kasih atas sindirannya," ucap Teo. Ia merebahkan dirinya di lantai.
"Gilgamesh dan Crawler, kira-kira apa lagi yang akan kita temui?" Pikir Alwi.
"Gilgamesh? Apa itu?" Tanya Teo.
"Itu adalah sebutan bagi The Unknown yang kita kalahkan tadi. Keren, bukan?" Pikir Clara.
"Terserah saja," ucap Teo.
Ia baru tahu tentang nama itu. Teo segera memejamkan matanya dan mencoba untuk tidur sebentar. Tubuhnya sudah begitu lelah setelah berjalan jauh dan menghadapi dua zombie.
"Jadi kalian memberikan nama ke setiap monster yang ada di dunia ini? Menarik sekali. Lain kali, izinkan aku juga untuk memberikan nama pada The Unknown," ucap John. Ia duduk bersandar dan menghela napas.
"Silahkan, itu pun bila kau bisa menemukan nama-nama yang menarik." Clara bermain dengan Garfield.
Pertempuran melawan The Unknown Gilgamesh di tutup dengan rasa lelah yang sangat parah. Mereka berlima memilih untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Selanjutnya, apa agenda kita?" Tanya Alwi.
"Membuat senjata berlapis perak dan emas, serta badan reaktor." Agasa tersenyum sambil melirik ke arah Alwi.