
"Jangan menanyakan hal yang sulit untuk dijawab saat ini," sahut Teo.
"Aku serius, bila profesor Agasa adalah orang yang bertanggung jawab atas tragedi badai energi itu, artinya ia tahu setidaknya satu cara untuk pulang," pikir Clara.
Wanita berumur kira-kira sama dengan Teo itu menoleh untuk mendapatkan jawaban dari Agasa.
"Aku memang tahu, tapi untuk saat ini, cara itu masih sangat mustahil," jawab Agasa.
"Apa itu?" Tanya Clara.
Ia bersikeras ingin tahu. Bila itu mustahil saat ini, berarti bisa dilakukan suatu saat nanti.
"Arc Quantum Reactor. Alat yang sama dengan Quantum Ark namun dalam bentuk lebih kecil yang akan membentuk sebuah badai energi lagi. Idenya adalah membuat paradoks waktu untuk kembali ke bumi kita. Layaknya distorsi waktu, seperti itu," jelas Agasa.
"Layaknya lorong waktu? Atau mesin waktu?" Pikir Clara.
"Kurang lebih begitu," jawab Agasa.
Profesor Agasa membawa cetak biru dari Arc Quantum Reactor yang sedang dikerjakannya, namun semua itu belum selesai sepenuhnya.
"Ini adalah cetak biru yang sedang aku kerjakan," ucap Agasa.
Clara, Teo dan Alwi melihat cetak biru tersebut. Walaupun mereka tidak mengerti, namun mereka bertiga sangat antusias dengan hal yang bisa membuat mereka bisa pulang.
"Apa yang harus kita lakukan pertama untuk membuat alat ini?" Tanya Clara.
"Aku butuh laboratorium untuk riset. Lalu beberapa bahan dasar seperti logam untuk membuat badan reaktornya. Dan beberapa unsur untuk membuat inti reaktornya," jelas Agasa.
"Alwi tidak mengerti, tapi Alwi bisa bantu untuk cari bahan-bahannya," sahut bocah polos itu.
"Ini bukan soal mencari bahan, tapi kita harus berkeliling kota untuk mencari semua hal itu," ucap Teo.
"Menurutmu, apakah di Jakarta ada tempat seperti laboratorium super lengkap yang bisa kita datangi?" Tanya Clara.
"Tunggu, memang kau bukan berasal dari Indonesia?" Tanya Agasa.
Ia begitu terkejut karena Clara tidak mengetahui seluk beluk di wilayah Jakarta.
"Aku dari Jerman, maaf mengecewakanmu," ucap Clara sambil tersenyum.
Teo berpikir, ia baru mengingat satu tempat milik pemerintah yang berada di bumi tempatnya berasal.
"Ada. Laboratorium BATAN. Tempat itu bisa kita gunakan. Ia ada di Jakarta Selatan. Agak jauh, namun bisa kita lakukan bila bekerja sama," jelas Teo.
__ADS_1
"Ada di selatan Jakarta? Artinya aku harus balik ke sana lagi?" Keluh Clara.
"Apa rencananya?" Tanya Agasa.
"Hari ini kita siapkan semua perbekalan. Segala sesuatu yang bisa kita bawa untuk bisa bertahan hidup di jalan dan di gedung lab," jelas Teo.
"Kuharap kita bisa sampai di sana," ucap Clara.
"Aku lebih berharap kita bisa balik ke sini dengan keadaan hidup. Itu cukup," sahut Teo.
Teo mulai membagi tugas untuk mereka berempat. Teo menugaskan Alwi untuk membawa bahan makanan kaleng untuk perbekalan di sepanjang perjalanan, serta air mineral.
Lalu, Agasa ditugaskan untuk membawa beberapa peralatan seperti perkakas atau hal yang bisa digunakan seperti kompor mini dan tabung gas portable serta tenda kemah.
"Kau menyiapkan berapa senjata untuk kita gunakan?" Tanya Clara.
Ia mengikuti Teo untuk melihat ke gudang.
"Lumayan, mungkin flare gun yang kau bawa itu juga bisa berguna nantinya," jawab Teo.
Mereka berdua masuk ke dalam gudang kantor. Di sana Teo meletakkan katana miliknya, busur dan anak panah, beberapa jenis pisau, tombak, pistol milik Jeremiah & granat aktif berjumlah 10 buah.
"Kau benar-benar gila! Ini semua senjata yang menarik," kejut Clara sambil tersenyum lebar.
Di lain tempat, Agasa dan Alwi berburu bahan makan dan beberapa bahan pendukung di area pusat perbelanjaan.
"Jangan menjelajah terlalu jauh, ingat!" Ucap Agasa.
Mereka berdua mulai berpencar. Alwi dan Agasa masing-masing membawa backpack yang cukup besar dan dua backpack lagi untuk Teo dan Clara.
"Kenapa kau memilih bersama mereka berdua?" Tanya Clara.
"Apa maksudmu?" Tanya Teo kembali. Ia merasa bingung.
"Kau pandai menggunakan senjata dan juga bisa menggunakan teknik bela diri. Sejujurnya, di antara kita berempat, kau yang memiliki peluang besar untuk hidup lama," pikir Clara.
"Apa itu mengganggumu? Tentang alasanku tetap tinggal bersama Profesor dan Alwi?" Tanya Teo.
"Mungkin. Aku hanya ingin tahu alasannya. Di saat kau bisa bertahan hidup sendiri dan tidak perlu direpotkan oleh mereka, kau malah memilih untuk melindungi mereka," pikir Clara.
"Menurutmu, apa yang didapat dari bertahan hidup di dunia yang hampir musnah ini?" Tanya Teo sambil menyiapkan seluruh jenis pisau.
"Hidup?" Jawab Clara.
__ADS_1
"Kesepian," jawab Teo.
"Kau bisa saja bertahan, namun kau akan berjalan di sepanjang waktu dengan belenggu kesepian. Kedua, rasa putus asa. Kau akan merasa bahwa dirimu hanya sendiri di dunia sampah ini. Dan suatu hari nanti, hanya tinggal menunggu waktu bagimu untuk memilih bunuh diri dari pada harus hidup sendirian," pikir Teo.
Clara mengangguk. Ia memahami alasan Teo melakukan semua itu. Memang benar, tidak asyik bila berkelana sendirian dan berakhir kesepian di dunia yang sudah 99% hancur ini.
"Benar juga, tapi itu belum menjadi alasan kuat untuk diterima. Kau punya keluarga di dunia nyata, dan mereka menunggumu. Mereka sudah cukup untuk menjadi motivasi untukmu kembali, bukan? Pikir Clara.
"Intinya, aku butuh orang yang sangat cerdas dan punya IQ superior untuk membuat motivasi yang kau bilang itu menjadi kenyataan. Alias, aku butuh orang yang bisa membuat Arc Quantum Reactor seperti Profesor Agasa untuk kembali ke dunia nyata," jelas Teo.
"Apa menurutmu orang sepertiku bisa memikirkan cara membuat reaktor seperti itu?" Tanya Teo.
"Good answer," ucap Clara.
Teo dan Clara membawa semua senjata tersebut keluar gudang. Agasa dan Alwi pun telah kembali dengan dua backpack yang sudah penuh dengan bahan makanan dan perkakas pendukung.
Mereka berdua memberikan dua backpack itu ke Teo dan Clara untuk diisi dengan senjata.
"Pistol ini hanya memiliki 5 peluruh tersisa, ini akan sangat tidak berguna," pikir Clara.
"Profesor, apa kau bisa membuat peluru untuk pistol ini?" Tanya Teo.
"Tentu, bila ada alat pencetak pelurunya," jawab Agasa.
"Di mana kita bisa mendapatkan alat itu?" Tanya Alwi.
"Apa kau bisa membuat cetakan alat itu?" Tanya Teo.
"Mustahil untuk sekarang, butuh waktu untuk menyelesaikan cetakan pelurunya. Setelah itu, kita juga harus mencetak pelurunya. Lebih baik gunakan busur panah, itu jauh lebih efektif," jelas Agasa.
"Baiklah, untuk saat ini sebaiknya kita istirahat. Persiapkan mental dan tenaga, itu akan menjadi faktor untuk bisa terus hidup," ucap Teo.
Teo pergi ke lantai bawah untuk mencari sesuatu di area pusat perbelanjaan. Sedangkan Clara dan Agasa memilih untuk bersantai di rooftop.
Sedangkan Alwi memilih untuk latihan menggunakan busur panah dengan sasaran kaleng minuman.
"Profesor, aku ingin bertanya," ucap Clara.
"Silahkan," jawab Agasa.
"Berapa persen keberhasilan Arc Quantum Reactor untuk membawa kita pulang?" Tanya Clara.
"Jujur, Arc Quantum Reactor adalah sesuatu hal yang mustahil di dunia yang telah hancur seperti ini. Sesuatu hal yang bisa jadi hanya mitos untuk tercipta. Tapi, bila kita tidak melakukannya, artinya kita menyerah dan memilih untuk tinggal selama sisa hidup kita di dunia ini," pikir Agasa.
__ADS_1
"Apa menurutmu masih ada warga lokal dunia ini yang masih hidup selain para The Unknown?" Tanya Clara.
"Mungkin saja," pikir Agasa.