City Of The Dead

City Of The Dead
Bab 9 Teo vs Crawler


__ADS_3

Teo menghindari serangan dari Crawler yang melompat ke arahnya. Ia menggulingkan badannya ke arah kanan dan bangkit kembali, lalu menjauh lima meter dari Crawler. Sedangkan mereka bertiga mundur lebih jauh lagi sekitar 20 meter ke belakang.


Teo mengambil pisau jelajah miliknya dan memegangnya di tangan kanan, sedangkan tombak milik Clara, ia hunuskan dengan tangan kiri.


"Come on baby!" Teriak Teo begitu bersemangat.


Crawler mendekati Teo dengan berlari sangat cepat. Ia mengambil ancang-ancang dan menyerang Crawler sambil berlari ke arahnya. 


Saat Crawler lompat ke arahnya, Teo menjatuhkan badannya dalam posisi telentang sambil menghunuskan tombak ke arah perut bagian bawah Crawler.


Teo segera menjaga jarak kembali. Tombak milik Clara tertancap di perut Crawler. Ia merintih kesakitan dan terus berusaha untuk menarik tombak itu dari perutnya.


"Maaf, bung. Tapi apa yang sudah tombak itu tusuk, akan terus membekas sangat lama." Teo mengambil satu pisau jelajah lagi dan memegangnya dengan tangan kiri.


"Apa kau berpikir bahwa Teo sangat menikmati duelnya melawan Crawler?" Tanya Clara penasaran.


"Kau juga berpikir seperti itu? Aku berpikir, ya," jawab Agasa.


"Bagaimana menurut Alwi?" Tanya Clara.


"Alwi tidak tahu, tapi yang Alwi lihat, Kak Teo sangat menikmatinya," pikir Alwi.


"Apa ia punya kecenderungan mengidap penyakit mental seperti psycho?" Tanya Clara.


"Maksudmu ia seperti psikopat?" Ucap Agasa.


"Kurang lebih," jawab Clara melirik Agasa.


Crawler berhasil mencabut tombak itu dari perutnya. Ia melempar tombak itu menjauh dari dirinya. Dengan cepat, Crawler kembali berlari lagi ke arah Teo dengan darah hitam yang berceceran di sepanjang jalan ketika ia sedang berlari.


Teo menyiapkan ancang-ancang, ia diam di tempat sambil menunggu Crawler mendekatinya. 


"Come on!!!" Teriak Teo.


Ia menghindari Crawler dengan berguling ke arah kiri depan melewati zombie itu. Lalu ia segera berbalik badan dan lari menuju ke arah Crawler yang belum sempat siaga untuk berbalik badan.


Teo segera menghujamkan dua pisau sekaligus dengan melompat ke arah Crawler tersebut dan menusuk tulang tengkoraknya. 


Satu pisau ia tarik dari tengkorak kepala Crawler dan ia sayat dalam leher Crawler hingga hampir putus.


Darah hitam busuk keluar sangat deras. Suara jeritan yang terus merintih terdengar nyaring menggema. Teo menarik kedua pisaunya dan menjauhi Crawler tersebut.


Ia mengatur napas berulang kali. Teo terlihat begitu terengah-engah, namun ia tersenyum senang dengan aksi dirinya. Crawler terus memegangi lehernya hingga ia kehabisan darah dan mulai tidak bergerak.


Teo segera mengelap bekas darah hitam busuk milik Crawler dari pisaunya. Ia menghampiri mereka bertiga sambil berjalan dengan santai.


"Kak, awas!" Teriak Alwi.

__ADS_1


Anak panah dari Crossbow milik Agasa melesat menghujam dahi zombie yang tiba-tiba berlari ke arah Teo.


WUSH!!!


JLEB!!!


Anehnya, zombie itu terbakar dan menjadi abu layaknya vampir yang terkena sorot sinar matahari. 


"Apa yang kau tembakan?" Tanya Teo sambil melihat ke arah zombie yang perlahan terbakar dan berubah menjadi abu.


Agasa pun bingung saat menyaksikan kejadian itu. Ia, Clara dan Alwi segera mendekati zombie itu. 


"Bagaimana mungkin?" Tanya Agasa bingung.


"Profesor, apa kau menembakkan peluru dengan dilumuri oleh air suci?" Tanya Clara tercengang.


"Profesor, apa mungkin–," pikir Alwi. ucapannya terpotong.


"Apa!?" Tanya Teo penasaran.


"Peluru panah Crossbow milik Profesor Agasa terbuat dari perak murni, bukan?" Pikir Alwi.


"Tunggu sebentar. Maksudmu zombie itu terbakar menjadi abu karena peluru panah Crossbow milik Agasa?" Tanya Teo yang merasa heran.


"Mungkin sebaiknya kita mencobanya lagi ke tubuh Crawler yang mati di sana," ucap Agasa menghampiri mayat Crawler.


Saat peluru menghujam menusuk masuk ke sela-sela kulit Crawler, zombie itu mulai terbakar layaknya serpihan kayu, di mana api kecil membakar perlahan tubuh itu hingga menjadi abu. 


Menyaksikan hal itu, mereka berempat yakin dengan keampuhan logam perak untuk membakar para The Unknown khususnya para zombie di kota itu.


"Profesor, berapa banyak peluru panah yang kau bawa?" Tanya Teo. 


"Satu tempat peluru panah sekitar 50 batang. Aku membawa 5 tempat peluru, artinya ada sekitar 250 batang peluru panah. Ditambah dengan yang masih terpasang di Crossbow, di sini masih ada 48 batang lagi," jelas Agasa.


"Jangan hanya mengandalkan peluru Crossbow milik Profesor, kita juga harus melapisi semua senjata kita dengan perak," ucap Clara.


"Ada satu masalah lagi, saat peluru panah perak itu menembus tubuh para The Unknown, peluru itu juga hancur menjadi abu. Artinya butuh racikan yang pas dengan menambahkan logam lain sebagai campuran untuk menambah daya tahan terhadap reaksi yang dihasilkan oleh tubuh The Unknown," jelas Agasa.


Ia mengambil sisa abu milik Crawler untuk penelitian. Dengan menggunakan tabung kimia kecil, ia bertindak layaknya seorang tim forensik yang berada di TKP.


"Pertama, dari mana kita bisa mendapatkan perak yang banyak? Lalu logam jenis apa yang sebaiknya digunakan sebagai campuran yang pas?" Tanya Alwi yang merasa bingung.


"Wah, kau semakin pintar ternyata," puji Teo. 


Ia mengelus rambut Alwi sambil tersenyum.


"Emas! Kita butuh emas untuk campuran itu, dan ditambah beberapa logam perekat untuk dicampurkan. Serta besi baja bermutu tinggi tentunya," jelas Clara.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa menyimpulkan harus emas yang jadi campurannya?" Tanya Agasa.


"Emas termasuk logam mulia yang memiliki keunggulan tidak berkarat dan di katakan sempurna. Aku belajar dari kuliah teknik kimia di Jerman," jelas Clara.


"Ternyata kau anak kuliah, aku terkejut," ucap Agasa.


"Oke, kalau begitu kita lanjut jalan. Bila ada gedung atau tempat bagi kita untuk mendapatkan emas dan baja, kita bisa mampir mengambilnya," ucap Teo.


"Setuju," jawab Clara yang masih setia mengelus kepala Garfield.


"Maaf bila menyela, tapi kau butuh tempat untuk melebur semuanya. Apa kau bisa membuat itu semua?" Tanya Teo. 


Ia kembali memandu jalan.


"Ada gedung Universitas di depan!" Teriak Alwi sambil menunjuk ke arah gedung itu.


"Luar biasa, sepertinya Tuhan masih berpihak pada kita," sahut Clara.


"Sayangnya kita tidak tahu, apakah Tuhan juga ada di bumi paralel ini atau tidak," sahut Teo yang merasa ragu.


"Kau meragukannya atau kau sedang tidak ingin mempercayainya?" Tanya Agasa.


"Banyak hal yang direnggut Tuhan dariku, lupakan saja, itu hanya alasanku untuk melawan-Nya." Teo memandu mereka menuju gedung Universitas itu.


Mereka memasuki gedung Universitas yang memiliki cat bangunan berwarna biru. Dengan gaya gedung modern berjumlah enam hingga tujuh lantai dan memiliki beberapa bangunan tambahan di sekitar area gedung. Teo tetap waspada. Ia menghunuskan tombak Clara ke depan.


"Apa yang harus kita cari terlebih dahulu?" Tanya Clara. 


"emas, baja dan workshop mesin untuk mengupgrade senjata," ucap Agasa.


"Artinya kita bakal menginap di sini untuk sementara," ucap Teo.


"Bila di sini ada bahan untuk reaktor, mungkin kita tidak perlu jauh-jauh sampai ke Lab BATAN." Agasa dan lainnya mengelilingi bangunan itu untuk mencari informasi letak laboratorium kimia dan workshop fakultas mesin.


"Kita butuh uranium untuk membuat reaktor itu, mana mungkin bisa didapatkan dari gedung Universitas ini," pikir Teo.


"Kau benar, sebaiknya kita juga mencari informasi mengenai keberadaan Uranium," sahut Agasa.


"Setahu Alwi, di Indonesia jarang ada Uranium yang ditempatkan di satu tempat sembarangan seperti di wilayah kota. Kemungkinan besar mereka ada di PLTN," pikir Alwi.


"PLTN? Apa itu?" Tanya Agasa bingung.


"Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Kalau tidak salah yang terdekat ada di daerah Bandung," jawab Teo.


"Artinya kita harus ke sana? Seberapa jauh Bandung itu?" Tanya Clara.


"Sangat jauh bila ditempuh dengan jalan kaki," ucap Teo.

__ADS_1


Mereka berempat akhirnya menemukan gedung direktorat. Teo dan lainnya segera masuk ke dalam.


__ADS_2