
Clara dan Alwi berhasil menemukan fakultas teknik mesin. Mereka segera masuk ke dalam gedung. Namun setelah menelusuri setiap sudut gedung, mereka tidak menemukan keberadaan workshop itu.
Selanjutnya, Clara memandu Alwi untuk mencari ruang workshop ke bagian belakang dari gedung fakultas. Ia melihat ada bangunan gedung berlantai dua yang terpisah dari gedung fakultas utama. Mereka segera ke sana.
Agasa yang lari meninggalkan Teo sendirian mencari kesana-kemari keberadaan Clara dan Alwi. Hingga akhirnya, ia menemukan gedung fakultas kimia. Agasa segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan laboratorium.
Pria tua itu langsung menuju ke penyimpanan laboratorium. Ia mengambil beberapa botol asam sulfat dan pergi menuju ke ruangan praktek.
"Apa yang bisa aku gunakan? Berpikirlah Agasa!" Ia begitu panik hingga tidak tahu harus melakukan apa.
Di sisi lain, Clara dan Alwi segera mendobrak pintu gedung yang terpisah itu. Dan benar, di dalamnya adalah ruangan workshop fakultas teknik mesin. Mereka segera mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata.
"Kita mulai?" Ucap Teo yang begitu bersemangat.
The Unknown Gilgamesh berlari ke arah Teo dengan sangat cepat. Teo pun juga berlari ke arahnya. Ia melewati tombak besar Gilgamesh yang masih menancap di aspal. Teo melemparkan tombak miliknya ke arah makhluk besar itu.
WUSH!!!
"Oh, no!" Teo merasa terkejut.
Tombak itu menancap ke tubuh Gilgamesh, namun tidak berpengaruh apa pun.
Teo segera lari dan menjauh dari Gilgamesh. Saat ini ia tidak tahu cara untuk melawan makhluk besar itu.
"Profesor! Di mana kau!" Teriak Teo sambil berlari.
Gilgamesh mengambil tombak miliknya yang tertancap dan langsung melemparkannya lurus ke depan menuju ke arah Teo berlari.
WUSH!!!
Teo melihat tombak itu mendekat. Ia berhenti dan merebahkan dirinya ke tanah. Tombak Gilgamesh melewati tubuhnya sepersekian detik dan menghantam sebuah bangkai mobil yang telah usang.
BRAK!!!
"Astaga! Dua kali hampir saja jadi daging giling!" Teo segera bangun dan bergegas masuk ke gedung di samping kirinya.
Gilgamesh jalan mengambil tombak miliknya. Ia seperti membiarkan Teo pergi menjauh.
"Profesor! Kau di mana!" Teriak Teo kembali.
"Kemari! Cepat!" Teriak Agasa yang berada di lantai dua, gedung sebelah.
Teo melihat ke belakang, tidak ada tanda-tanda dari Gilgamesh. Tapi tiba-tiba dinding gedung yang berada di dekatnya, kira-kira 5 meter jaraknya, hancur berlubang.
BRUAK!!!
Dan tombak milik Gilgamesh melesak cepat menuju ke arah Teo. Untungnya, dengan reflek spontan yang bagus, Teo menghindar dengan melompat ke kiri.
BRAK!!!
Tombak itu langsung menancap ke dinding gedung fakultas kimia.
"Astaga, apa dia monster?" Pikir Agasa.
"Ya, tentu saja ia monster, Agasa! Betapa bodohnya pertanyaanmu itu!" Ucap Agasa kembali. Ia menjawab dirinya sendiri.
Agasa segera menuju ke lantai bawah menemui Teo sambil membawa lima botol asam sulfat.
"Luar biasa! Aku tidak percaya, ia melemparkan tombak itu melubangi dinding gedung." Teo berdiri dan melihat ada Agasa di depan pintu masuk fakultas.
__ADS_1
Namun, di sisi lain ada Gilgamesh yang datang ke arahnya. Teo segera menghampiri Agasa. Kaki kanannya mengalami cedera karena menghindar tadi. Ia tidak bisa berlari untuk sementara.
"Apa yang kau bawa?" Tanya Teo.
"Asam sulfat," jawab Agasa. Ia memberikan tiga botol asam sulfat ke Teo.
"Apa kau bisa mencarikan bensin atau sesuatu hal yang bisa membakarnya," tanya Teo.
"Tentu bisa, tapi apakah kau bisa menahannya sebentar?" Tanya Agasa.
"Kau pikir dari tadi aku melakukan apa, Profesor!" Teo menjauh dari Agasa. Ia mencoba lari-lari kecil menuju ke perempatan jalan.
Agasa segera kembali ke penyimpanan laboratorium di lantai dua. Ia mencari beberapa botol alkohol dan berhasil menemukan 3 liter alkohol murni. Agasa segera kembali menemui Teo yang berdiri di perempatan jalan, di antara dua gedung fakultas.
"Happy sulfat day!" Teriak Teo sambil melemparkan botol kaca berisi asam sulfat ke arah Gilgamesh.
PRANK!!!
HEAAARGH!!!
Gilgamesh berteriak histeris. Asam sulfat langsung membakar kulit wajahnya. Teo segera melempar satu botol lagi ke wajah makhluk itu. Dan ia menjerit kembali. Gilgamesh menjadi kesulitan untuk melihat.
"Berhasilkah?" Tanya Agasa yang tiba-tiba datang dengan membawa 3 liter jerigen alkohol.
"Apa itu?" Tanya Teo.
"Alkohol. Kita akan membakarnya," ungkap Agasa sambil memberikan satu liter jerigen ke Teo.
Ia juga memberikan pemantik ke Teo sebagai pemicu apinya.
"Kau yakin ingin mendekatinya?" Tanya Agasa.
Agasa melempar satu botol lagi ke arah Gilgamesh yang masih menjerit dan berteriak sangat keras.
HEAAARGH!!!
Jeritan Gilgamesh semakin menjadi-jadi. Makhluk itu berusaha mengelap sisa asam sulfat di wajahnya.
Selagi Gilgamesh masih sibuk dengan asam sulfat, perlahan Teo diam-diam mendekati Gilgamesh dan menuangkan dua liter alkohol murni sekaligus ke arah Gilgamesh.
Ia kembali secepatnya ke tempat profesor dan mengambil satu liter alkohol lagi. Teo membuka tutup jerigen dan langsung melemparnya ke arah Gilgamesh.
"It's show time!" Teriak Teo.
Ia langsung memantik api dari pemantik yang dibawa profesor dan melemparkannya ke arah Gilgamesh.
HEAAARGH!!!
HEAAARGH!!!
Teriakan Gilgamesh semakin menjadi-jadi. Api membakar seluruh tubuhnya tanpa celah. Ia memberontak tidak karuan dan terus berteriak tiada henti.
"Aku harap ia bisa mati dalam damai," ucap Teo yang merasa kasihan.
"Entahlah, apa kau berpikir bila api itu bisa membakarnya?" Tanya Agasa.
"Jangan menakutiku. Berharaplah ia terbakar, Profesor," ucap Teo.
Clara dan Alwi masuk ke dalam gudang di dalam workshop mesin, mereka menemukan sebuah gergaji mesin diantara perkakas di dalam gudang. Clara berusaha mencari bensin di antara beberapa alat-alat perkakas yang masih tertata rapi.
__ADS_1
"Alwi, cepat cari bensin!" Icap Clara.
Ia meletakkan Garfield dahulu di lantai. Clara sampai harus masuk di antara celah sempit antara rak untuk menemukannya.
Di lain sisi, Alwi segera pergi keluar gudang dan berusaha mencarinya di sekitar workshop.
"Oh, Tuhan!"
Teo dan Agasa terbelalak melihat apa yang ada di depannya. Gilgamesh masih hidup. Api yang membakar dirinya perlahan padam. Meski tubuhnya sepenuhnya terbakar, tapi ia masih bisa berdiri tegak seakan tidak terjadi apa pun.
"Apa ia iblis?!" Ucap Agasa.
"Tentu, karena bila ia manusia maka bentuknya tidak seperti itu, Profesor!" Teo tampak kesal.
HEAAARGH!!!
Teriakan dari Gilgamesh menggema ke seluruh area gedung. Layaknya seekor singa yang tengah menandai mangsa, Gilgamesh tersenyum ke arah Teo dan Agasa sambil melirik tombak miliknya.
"Damn! Run Profesor, Run!!!"
Teo berteriak begitu keras, ia langsung menarik tangan Agasa untuk segera lari. Mereka tidak sempat melihat ke belakang lagi.
Gilgamesh segera mengambil tombak miliknya yang tertancap di jalan aspal. Ia kembali tersenyum ke arah Teo dan Agasa yang sedang berlari.
"Masuk ke fakultas mesin, cepat!" Teriak Teo.
Keduanya segera mengunci pintu fakultas mesin. Mereka segera menuju ke bagian belakang gedung.
"Di mana Alwi dan Clara?" Teo terlihat panik.
Agasa tidak sengaja melihat Alwi sedang mendekati sebuah drum besar berisi bensin.
"Alwi!" Teriak Agasa.
Bocah itu menoleh ke arah Agasa. Ia melihat sebuah besi panjang dengan duri di ujungnya baru saja keluar dari dinding yang bolong.
BRAK!!!
Tombak milik Gilgamesh langsung menghujam tepat ke arah Alwi. Dengan refleks spontan, Alwi langsung melompat ke arah kiri.
"Astaga! Alwi!" Teo dan Agasa segera menghampiri Alwi.
"Apa itu?" Tanya Alwi yang merasa heran, bingung dan terkejut.
"Tombak milik The Unknown raksasa tadi," ucap Agasa. Ia membantu Alwi untuk berdiri.
"Di mana Clara?" Tanya Teo.
"Di dalam. Kak Clara menemukan gergaji mesin, dan Alwi membutuhkan bensin ini untuk menghidupkannya," jelas Alwi.
"Waw!" kejut Teo.
HEAAARGH!!!
Gilgamesh lari dan menabrak pintu yang di kunci oleh Teo hingga hancur berkeping-keping.
Makhluk itu menatap ke arah Teo dan Agasa sambil tersenyum. Dendam ketika ia dibakar tadi sepertinya menjadi pemicu makhluk itu terlihat lebih agresif.
"Oh, tidak!" Teo menelan ludah.
__ADS_1