City Of The Dead

City Of The Dead
Bab 8 Crawler, The Unknown tipe A


__ADS_3

Hari baru kembali menyambut di sebuah dunia yang telah kehilangan kehidupannya. Suasana kota mati di pagi yang cerah dengan sorotan benderang dari sinar matahari terlihat sangat nyaman untuk ditinggali, namun penuh dengan kegelapan didalamnya.


Teo dan ketiga temannya segera bangun dan mempersiapkan beberapa hal sebelum mereka memulai perjalanan untuk berburu seluruh bahan yang digunakan membuat Arc Quantum Reactor. 


Teo membawa backpack berisikan senjata di punggungnya. Ia menyelipkan katana miliknya di antara punggung dan backpack sebagai senjata utama. Kedua tangannya mengenakan sarung tangan kulit sintetis untuk memegang senjata agar tidak licin. 


"Katana itu, kau mendapatkannya dari mana?" Tanya Clara.


"Aku membawanya dari dunia kita." Teo menoleh ke arah wanita itu. 


"Oh, pantas saja. Kukira kau merampok di toko terbengkalai," pikir Clara sambil tersenyum meledek Teo.


Di kedua pinggangnya terpasang dua pisau jelajah yang dipakai khusus para pemburu, ukuran pisau tersebut ada yang sedang dan besar. 


Lalu, di kedua pergelangan kakinya terselip dua pisau lipat kecil untuk berjaga-jaga. Dan tambahan dua pisau jelajah ukuran kecil di kedua lengannya.


Clara yang tampil dengan busana ala wanita pemburu di hutan juga membawa backpack dengan isi 10 granat dan beberapa senjata tambahan di backpacknya. 


"Kau seperti seorang penjelajah mematikan dalam film Jumanji: welcome to the jungle," ucap Teo yang tersenyum melihat visualisasi Clara.


"Ini tahun 2100, kau masih menonton film jadul di tahun 2017-an?" Sindir Clara.


"Aku hobi menonton beberapa film masterpiece bertema komedi," ucap Teo.


Di kedua pinggangnya ada flare gun dengan 10 peluru miliknya dan satu pistol milik Jeremiah yang tersisa lima peluru saja. Di belakang pinggangnya terselip satu pisau jelajah berburu ukuran besar untuk mengimbangi dua senjata api. 


Dan senjata utama miliknya berupa tombak panjang bermata ganda yang dibuat oleh Agasa. Panjang tombak itu kira-kira sekitar 150 sentimeter.


"Profesor, lain kali aku lebih memilih robot android atau Terminator sebagai senjata utamaku." Clara meledek.


"Kenapa kau tidak jinakkan beberapa zombie untuk jadi bodyguard saja?" Agasa tersenyum mendengar ocehan Clara.


Di lain tempat, Alwi yang ditugaskan membawa backpack berisi pasokan bahan makanan kaleng dan minum dibekali dengan busur dan anak panah sebagai senjata utama. Ada sekitar 25 anak panah dengan bahan dasar besi yang dibuat handmade oleh Agasa untuknya. 


"Wow, ini benar-benar keren! Busur panah dan anak panahnya terlihat kuat sekali," ucap Alwi. Ia mengagumi hasil kerja si pria tua.


"Tentu saja! Aku hampir saja begadang untuk membuat itu!" Agasa menunjuk ke arah bocah itu.


Ia menyelipkan tempat anak panah yang disebut Quiver di antara punggung dan backpack yang dibawanya. Alwi juga dilengkapi dengan dua pisau jelajah ukuran besar di kedua pinggangnya, dan dua pisau lipat yang ditempatkan di kantong jaketnya.


Yang terakhir adalah Profesor Agasa. Ia membawa backpack berisi peralatan pendukung seperti kompor portable mini. Lalu beberapa tabung gas portable mini untuk bahan bakar kompor. 


Beberapa pemantik api, gelas, peralatan makan seperti panci dan piring serta sendok dan bahan untuk membuat dua tenda berukuran dua orang.


"Aku seperti seorang pendaki gunung yang membawa banyak peralatan untuk bertahan hidup," pikir Agasa.


"Bagus, bukan? Ini akan menjadi perjalanan paling menegangkan," balas Teo.


Tidak lupa ia juga membawa peta dunia dan tentu saja cetak biru dari Arc Quantum Reactor yang dibuatnya. 


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Agasa.


"Senjata yang bagus. Ternyata kau terampil juga membuat hal seperti itu," ucap Teo yang melihat senjata utama milik Agasa.


Agasa juga membawa Crossbow otomatis sebagai senjata utama dengan pegas yang bisa menembakkan kurang lebih dua puluh peluru secara kontinu tanpa jeda. Ia juga dibekali dengan pisau jelajah ala pemburu di kedua pinggangnya.


"Apa semua siap?" Tanya Teo. 


"Tentu saja! Hari ini kita siap untuk berburu!" Sahut Clara.


"Siap!" Teriak Alwi dengan semangat.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera bergegas," pikir Agasa.


"Tentu. Mari berburu!" Ucap Teo lirih sambil tersenyum senang.


Teo memandu mereka bertiga untuk turun ke lantai dasar. Mereka memulai perjalanannya dengan menyusuri jalan utama di depan pusat perbelanjaan menuju ke arah selatan. 


Di sepanjang jalan, para zombie belum terlihat. Mereka berjalan dengan mengendap-endap begitu pelan agar tidak menimbulkan suara. Mereka tidak ingin membangunkan rasa penasaran para zombie di sekitarnya.


"Para The Unknown sepertinya sedang tidak lapar, mereka semua menghilang entah ke mana," pikir Clara.


Ia melirik di antara sela-sela gedung mencari para zombie.


"Berharaplah mereka tidur, walau aku tidak berpikir mereka bisa melakukannya," sahut Agasa.


"Kak, kita akan berjalan berapa lama dan seberapa jauh?" Tanya Alwi.


Ia memegang busur panahnya di tangan kiri.


"Sekitar satu sampai dua kilometer. Bila kita kontinu melakukannya, kita bisa sampai di sana siang hari." Teo melirik kanan dan kiri dengan mode waspada.


Di sepanjang jalan, banyak mobil dan beberapa gedung serta tempat makan yang terbengkalai dan dipenuhi dengan tanaman rambat serta debu yang sudah menutupi lantai.


"Menurut kalian, kapan kiamat di bumi ini terjadi?" Tanya Agasa penasaran.


"Benar juga, kita seharusnya juga mencari informasi mengenai hal itu," pikir Clara.


"Alwi penasaran, bagaimana para zombie tercipta? Dan kiamat seperti apa yang menghantam bumi ini?" Tanya Alwi.


"Saat ini sangat susah mencari informasi mengenai awal terjadinya kiamat," pikir Teo.


SREK!  SREK!


"Berhenti!" Perintah Teo. 


Ilalang itu bergoyang seakan ada sesuatu yang hidup bersembunyi di sana. Alwi segera mengambil kuda-kuda untuk menembakkan anak panahnya. 


Clara dan Agasa bersiap dengan Crossbow dan tombaknya. Sementara itu, Teo mencabut satu pisau jelajah di pinggang kanannya dan menghunuskannya dengan tangan kiri.


Teo mendekati ilalang tersebut dengan langkah perlahan. 


SREK! SREK!


Ia berhenti. Sesuatu keluar dari balik ilalang. Teo segera membungkuk sedikit untuk bersiap melompat dan menusuk apa pun yang keluar dari ilalang itu. 


"Tunggu!" Teriak Alwi. 


Profesor Agasa dan Clara langsung melihat ke arah Alwi. Ada sesuatu yang keluar dari balik ilalang nan lebat.


"Meong…." 


Seekor kucing Persia keluar dengan penuh wajah memelas dan mata berbinar. Teo menghentikan posisi menyerangnya. Ia segera mengambil kucing itu dan membawanya ke hadapan mereka bertiga.


"Ouh, lucunya." Clara begitu gemas dengan kucing itu.


"Halo, siapa namamu?" Tanya Alwi mengelus kepala kucing itu yang berbentuk seperti bola bulu.


"Sangat menyeramkan bila ia bilang tentang namanya," pikir Agasa yang ikut mengelus bulu halusnya.


"Kita boleh bawa dia, Kak?" Tanya Alwi.


"Baiklah, tapi tetap prioritaskan keselamatan kita dahulu," ucap Teo.

__ADS_1


"Aku yang pegang, sini." Clara mengambil kucing itu dari tangan Teo. Ia menitipkan tombak miliknya ke Teo.


Akhirnya, mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Namanya siapa, yah?" Pikir Clara.


"Garfield!" Teriak Alwi begitu bersemangat.


"Benar juga! Ia berwarna oranye dan lumayan gemuk, kita namai dia, Garfield," senyum Clara sambil terus mengelus mesra Garfield.


Tidak terasa mereka memasukkan kucing itu ke dalam anggota keluarga mereka berempat. Terlihat Teo merasa senang melihat Alwi dan Clara yang tersenyum.


"Apa tidak apa memelihara kucing saat ini?" bisik Agasa ke Teo.


"Garfield hanyalah binatang, tidak perlu mencemaskan sesuatu hal yang tidak-tidak," ucap Teo.


GRRR!!!


Meong! Meong! Meong!


Garfield terus bersuara sambil memperlihatkan wajah meringis marah. Clara dan Alwi sangat bingung dengan tingkah Garfield. Teo dan Agasa yang mendengar suara Garfield langsung menghampirinya.


"Ada apa sayang?" Tanya Clara terus menatap Garfield.


"Lihat!" Seru Alwi. 


Ia langsung menarik busur panah miliknya dan mengarahkannya ke arah antara dua bus terbengkalai di depan mereka berlima. 


Teo dan lainnya menoleh ke arah busur panah yang diarahkan oleh Alwi.


"O-M-G! Apa itu!" Teriak Agasa. 


Ia merasa tidak percaya. Agasa segera bersiap untuk menembak dengan Crossbow miliknya.


"Teo!" Teriak Clara yang mundur ke belakang. 


Ia dijaga oleh Alwi dan Agasa. Sedangkan Teo terlihat langsung maju di depan Clara dengan tombak terhunus.


"Waw, kita baru saja bertemu spesies baru dari para zombie," pikir Teo.


"Tapi kenapa ia merangkak layaknya Smeagol dalam film The Lord of The Ring?" Tanya Alwi.


"Aku tidak ingin bertanya padanya tentang bagaimana cara ia menjadi seperti itu, tapi aku benar-benar penasaran sekarang. Benar Alwi, kenapa ia merangkak seperti itu?!" Pikir Agasa.


"Diam dan tetap dalam posisi siaga! Mundur ke belakang lima langkah! Cepat!" Perintah Teo.


"Kau ingin melawannya sendirian?" Teriak Clara.


Ia mencoba menenangkan Garfield yang terus saja terlihat gusar dengan keberadaan makhluk itu.


Teo memegang tombaknya dengan kedua tangan. Ia mengeratkan genggamannya. Makhluk itu mulai mendekati Teo dan bersiap untuk menyerang.


"Aku akan menamainya Crawler, The Unknown tipe–," ucap Clara bingung.


"Crawler? Apa karena ia suka merangkak, makanya kau menyebutnya seperti itu?" Tanya Agasa.


"Benar, tapi aku bingung. Apakah ia masuk The Unknown tipe A atau S?" Pikir Clara bingung.


"Seriously!? Kalian berdua permasalahkan klasifikasinya?" Sahut Teo kesal.


"Fokus saja untuk menembak!" Teriak Teo.

__ADS_1


"Ok! Ia adalah Crawler, The Unknown tipe A!" Teriak Clara.


__ADS_2