City Of The Dead

City Of The Dead
Bab 12 Bala Bantuan


__ADS_3

"Apa yang harus kita lakukan?" Pikir Agasa yang begitu panik.


"Lari! Aku akan pancing makhluk itu agar menjauh. Dan segera siapkan senjata apa pun yang bisa membunuhnya," ucap Teo.


"Apa kau bisa bertahan? Kau bahkan bisa saja mati bila di tinju olehnya," pikir Agasa.


"Pikirkan saja cara membunuhnya! Jangan memikirkanku, Profesor." Teo lari menjauh dari Agasa dan Alwi.


Gilgamesh melihat Teo yang lari menuju ke arah jalan raya. Ia meringis dan lari menuju ke tombak miliknya. Namun sebelumnya, Agasa dan Alwi sudah lari bersama-sama menuju ke dalam gedung workshop.


Teo terus lari hingga ia membuat jarak yang begitu jauh dari Gilgamesh. Ia berhenti sejenak untuk mengambil napas, terlihat dirinya begitu kelelahan. 


"Sial! Bila aku mati di sini, maka ini sangat buruk bagi reputasiku," ungkap Teo.


Ia merasakan getaran dari jalan aspal. Seperti ada yang sedang berlari menuju ke arahnya.


Akhirnya ia melihat ke arah belakang, Gilgamesh menghunuskan tombaknya sambil berlari, ia melepaskannya ke arah Teo. Sambil mengambil ancang-ancang panjang, makhluk jelek itu menekuk kedua kakinya dan membuat gaya momen untuk melompat sejauh mungkin.


WUSH!!!


Makhluk itu melompat hingga menggapai ke tempat Teo berada.


BRAK!!!


Tombak besar dengan ujung berduri itu menghantam jalanan aspal hingga tertancap begitu dalam. Teo berhasil menghindarinya, namun Gilgamesh sudah berada di dekatnya. Ia meninju Teo tepat di bagian dada hingga Teo terhempas jauh ke belakang hingga membentur dinding.


BRAK!!!


AAAARGH!!!


Teriakan merintih kesakitan keluar dari mulut Teo.


Ia melihat dinding di belakangnya terlihat telah hancur ketika ditabrak olehnya,  namun untungnya tidak sampai berlubang.


"Sepertinya tulang rusukku ada yang patah," pikir Teo.


Darah segar keluar dari mulutnya. Ia terluka di bagian organ dalam. Untungnya Teo masih bisa mengurangi tenaga tinju Gilgamesh dengan mundur ke belakang sedikit.


Makhluk itu berlari menuju Teo. Ia mencabut tiang besi pertanda jalan dan menggenggamnya erat di tangan kirinya. 


"Oh, boy…." Teo melihat hal itu.


Ia berusaha secepat mungkin bangun. Teo segera lari masuk ke dalam gedung di belakangnya.


Tanpa pikir panjang, ia terus lari dan naik ke lantai tiga hingga akhirnya menuju ke rooftop atas. Namun sialnya, Gilgamesh juga mengikutinya dari belakang.


Di tempat lain, Agasa, Alwi dan Clara bekerja sama untuk menghidupkan kembali gergaji mesin.


"Berikan bensin itu, aku akan mengisi tangki bahan bakarnya," ucap Agasa. 


Ia segera mengisi tangki bensin dari gergaji mesin dengan dibantu oleh Alwi. Sedangkan Clara membuat 10 tombak ukuran 150 centimeter dengan menggunakan gerinda dan beberapa mesin yang ada di workshop. 

__ADS_1


Lalu, yang dilakukan oleh si kucing gembul, Garfield, hanyalah melihat kesibukan mereka bertiga. Dasar!


DUAR!!!


Gilgamesh mendobrak pintu rooftop hingga terlempar jauh. Ia melihat ke arah kanan, di mana Teo sudah berdiri di tepi dinding pembatas rooftop. Napasnya begitu terengah-engah, ia mengalami kebuntuan ide agar bisa lari dari Gilgamesh.


"Kau sangat luar biasa untuk seukuran monster! Aku menghargainya. Tapi sayangnya, kita berdua harus berpisah di sini. Dan aku sepertinya juga harus berpisah dan mengucapkan selamat tinggal pada mereka bertiga," pikir Teo. 


Ia merasa akan mati.


Gilgamesh mulai mengambil ancang-ancang, ia berlari dengan sangat cepat menuju ke arah Teo. Wajahnya begitu murka, dengan gigi yang saling merapat serta daging di area alis yang terangkat ke atas.


"This is it, good bye all." Teo menekuk kedua kakinya. Ia berusaha kembali untuk melompat.


ON THE LEFT!!!


Teo mendengar sebuah teriakan dari sisi kiri. 


Sebuah anak panah yang terbuat dari besi solid dengan tali tambang yang terikat di ujungnya melesak lurus di depan Teo. 


Anak panah itu menancap di lantai beton dengan tali tambang ditarik di sisi lain ujungnya. Dalam hal ini, di tempat seseorang yang memanahnya.


"Ambil talinya!" Teriak seorang pria yang tidak dikenal.


Teo langsung berlari ke sisi kiri gedung hingga ia melompat dan meraih tali itu. Di belakangnya, sepersekian detik, Gilgamesh juga ikut melompat untuk meraih tubuh Teo.


"Alwi lempar!" 


HWAAARRGGGH!!!


Tombak itu mengenai makhluk itu tepat di bagian rusuk sebelah kanan. Gilgamesh sampai kehilangan keseimbangan, ia tidak bisa meraih kaki Teo yang begitu dekat. Dan akhirnya makhluk besar terjatuh.


Teo yang berhasil meraih tali itu langsung berayun dan menghantam gedung di depannya. Ujung tali yang ada di atas rooftop di tahan oleh orang tidak di kenal itu.


"Yes! Kena!" Teriak Clara. 


Mereka bertiga sangat senang, namun Gilgamesh kembali bangkit. Clara menuntun Alwi dan Agasa untuk bersembunyi di sebuah rongsokan mobil ambulans.


"Ia belum mati!" Ucap Agasa kesal.


"Profesor, sepertinya kita harus menggunakan rencana Alwi. Itu ide yang bagus," ungkap Clara. Ia masih setia menggendong Garfield.


"Siapa orang yang ada di rooftop gedung itu?" Tanya Agasa penasaran.


"Anggap saja ia sebagai variabel tambahan yang bisa kita masukkan ke dalam rencana ini," pikir Clara.


"Kau memang bisa memanfaatkan orang ternyata," sindir Agasa.


Teo di tarik ke atas, orang tidak dikenal itu mengulurkan tangannya untuk membantu Teo naik ke atas rooftop.


"Terima kasih," ucap Teo.

__ADS_1


"Simpan ucapan itu dahulu, makhluk itu masih hidup." Ia mengambil senapan shotgun di pundaknya. 


"Dari mana kau mendapatkan shotgun itu?" Tanya Teo yang merasa heran.


"Aku hanya bertamu ke beberapa rumah di sekitar sini. Apa kau punya rencana?" Tanyanya.


"Itu namanya kau seenaknya mencuri dari setiap rumah," pikir Teo dalam hati.


"Aku? Tidak. Tapi mereka yang ada di bawah sana, mungkin punya rencana," pikir Teo.


"Kalau begitu kita harus memberikan mereka waktu untuk menyiapkan semuanya," ucap pria tidak di kenal.


"Siapa namamu? Tanya Teo. Ia mulai berpikir.


"Jonathan Saint Michael," ungkapnya.


"Kau bisa menyingkatnya sebagai Michael atau John," ucapnya.


"John, itu lebih baik," ungkap Teo.


Gilgamesh mengetahui keberadaan Agasa dan yang lainnya. Dengan cepat Alwi segera menyulut api diujung tombak yang ia bawa.


Alwi segera keluar dari persembunyiannya. Ia menuju ke tengah jalan dan menatap Gilgamesh sambil menghela napas.


"Apa anak itu punya rencana?" Tanya John.


"Aku pikir, iya?" Pikir Teo yang tidak begitu yakin.


"Aku siap. Profesor cepat lilitkan granatnya di ujung tombak," ucap Clara. 


Ia meletakkan Garfield sementara di bawah. Clara dan Agasa segera mengikatkan dua buah granat di kedua tombak. Alwi tetap tegar berdiri di sana sambil menunggu persiapan Clara dan Agasa siap.


Teo yang melihat Alwi memegang dua tombak dengan ujung terbakar langsung tahu apa yang ingin mereka lakukan. 


"John, apa kau cukup jago menjadi sniper?" Tanya Teo.


"Tentu, karena aku tergabung dalam pasukan S.W.A.T di Amerika Serikat," ungkapnya.


"Good, karena kita akan membantu anak itu untuk membakar The Unknown ini," ucap Teo.


"The Unknown?" John bingung.


"Itu sebutan yang kami sematkan untuk menyebut para penduduk lokal di dunia ini," jelas Teo.


"Menarik, aku suka." John akhirnya mengikuti Teo. 


Mereka mencari sesuatu seperti alkohol atau apapun yang bisa di bakar. Kebetulan, mereka berada di atas gedung fakultas kimia. Teo segera mencari sesuatu di ruang lab.


"Kurasa kita bisa menggunakan ini," pikir John.


Teo menghampirinya, ia tersenyum sambil menatap John. "Ini menarik."

__ADS_1


__ADS_2