
Malam ini cuaca sedikit mendung, angin berhembus kencang membuat para penghuni bumi lebih memilih berdiam diri di rumah saja, Tapi tidak dengan gadis remaja yang sekarang sedang berjalan sendirian di trotoar jalan.
Saat ini waktu menunjukan pukul 22:00 wib ia terus berjalan menyusuri gang-gang yang sempit dan gelap itu, ia sudah terbiasa jadi tidak ada rasa takut sedikitpun saat ia harus berjalan sendiri saat jam hampir tengah malam seperti ini.
"Aku pulang Bu"
Clarissa masuk ke dalam rumah yang terlihat sepi dan gelap, selalu ini yang ia temui setiap kali pulang bekerja, Ibunya yang sudah tertidur, dan keadaan rumah yang sangat sepi.
Clarissa melangkahkan kakinya menuju kamar, Lalu ia merebahkan dirinya di atas kasur yang tidak begitu empuk, Sejujurnya dia lelah sekali dengan jalan hidupnya ini, tapi mau bagaimana lagi?.
Setelah beberapa saat termenung Clarissa melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelahnya tidur.
___
"Pagi Bu" Clarissa mengecup pipi ibunya.
"Pagi sayang, pulang jam berapa semalam?"
"Seperti biasa, jam 10, dan ibu sudah tidur pulas" jawabnya sambil tersenyum dan menatap sang ibu.
"Maaf ya, ibu selalu sudah pulas saat kamu pulang" keluh sang ibu merasa bersalah.
Clarissa menghentikan sarapannya sejenak, dan mengusap lembut tangan ibunya yang berada di atas meja. "Ga papa Bu, Ibu juga pasti capek, kan?" Dan di jawab anggukan oleh sang ibu.
Clarissa tau ibunya juga pasti lelah setelah bekerja seharian, jadi dia tidak mempermasalahkan soal ibunya yang selalu sudah terlelap saat ia pulang bekerja.
Acara sarapan pun selesai dan sekarang Clarissa sedang berjalan menuju halte bus untuk berangkat bekerja, harusnya ia masih kuliah tapi karna kurangnya ekonomi Clarissa terpaksa harus berhenti kuliah dan fokus bekerja.
Clarissa bekerja di sebuah cafe sebagai pelayan, ia sudah enam bulan bekerja di sana, sejauh ini semua nya tampak berjalan dengan sangat baik. Cafe tempat Clarissa bekerja adalah cafe yang cukup populer di kalangan anak remaja dan pekerja kantoran, memang cafe ini terletak di pusat kota jadi wajar saja jika selalu ramai setiap harinya.
"Ini pesanannya, selamat menikmati" ucap Clarissa ramah.
"Makasih, mbak"
Clarissa kembali ke pantry dan mendudukan diri di kursi yang tersedia di pantry ia meregangkan ototnya yang sedikit terasa kaku.
____
Di lain tempat terlihat dua orang sedang mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, mereka saling mengejar satu sama lain, ya, mereka sedang melakukan balap liar.
"Cupu Lo!" Ucapnya pada sang lawan, yang membuat lawannya itu tersulut emosi.
Dengan cepat ia menginjak pedal gasnya sampai akhirnya dia sampai di garis finish, Semua penonton bersorak ramai, pria itu turun dari motor dan melakukan highfive dengan para anggotanya.
__ADS_1
"Keren lu, bos" Ucap Leo salah satu anggotanya itu.
"Yoi, bos kita ini selalu keren"
Pria yang di sebut bos itu terkekeh ringan melihat tingkah para teman-temannya itu.
"Karna gue menang, besok Lo semua gue traktir di cafe nya David" Ucapnya.
"Serius nih boss?"
"Boleh makan sepuasnya kan?" Tanya Haiden memang Haiden ini sangat suka sekali makan, Makannya badannya terlihat sedikit gemoy, mungkin?.
"Lo ya den, kalo soal makanan aja cepet banget" Seloroh Alex yang mengundang gelak tawa dari semua teman-temannya.
____
Seperti yang sang bos janjikan kalau dirinya akan mentraktir semua teman-temannya di cafe David, mereka sudah sampai sekitar lima menit yang lalu.
"Kalian bebas pesen apapun, gue ke toilet dulu" ucapnya lalu pergi.
Ia keluar dari toilet tapi samar-samar ia mendengar suara tangisan seorang perempuan di bilik toilet perempuan, ia dengan ragu melangkahkan kakinya dan terlihat seorang perempuan sedang menangis menunduk di depan wastafel.
"Sorry sebelumnya, Lo kenapa?" Tanyanya namun tidak di gubris.
Ia bisa melihat kalau perempuan itu dengan cepat berbalik dan keluar dari kamar mandi, iapun mengedikan bahunya acuh dan memutuskan untuk kembali ke tempat teman-temannya.
"Lo lama banget di toilet bos, Lo gak abis aneh-aneh kan" bukan pertanyaan tapi itu tuduhan.
"Apasi Lo ah, Gue abis kencing"
"Narendra Aldio Mahatama thank you traktirannya bro, Lo terbaik"
Narendra mengangguk santai "Sama-sama, Kalian masih di sini atau pulang?"
"Pulang lah, udah mau tutup juga"
"Ya udah, Gue bayar dulu kalian duluan aja ke parkiran"
Setelah membayar semuanya, Narendra langsung pergi meninggalkan cafe, tapi saat sampai di ambang pintu, ia sedikit melirik perempuan yang tadi sempat ia temui di kamar mandi, dan setelahnya ia pergi menyusul teman-temannya.
____
"Lo gak mau nyari pacar aja, sa?" Tanya Vanya.
__ADS_1
Saat ini mereka masih berada di rumah Vanya, tadi mereka merencanakan akan menonton bersama karna ada series baru katanya.
"Nggak" jawab Clarissa dengan pandangan yang masih lurus melihat layar tv.
"Lo belum bisa move on dari masalalu Lo itu?" Vanya memicing penuh selidik.
"Lagi berusaha Van, Tapi emang gak gampang aja"
Clarissa sebenarnya masih memikirkan kejadian di toilet tadi, saat dirinya tiba-tiba melihat kilas bayangan masa lalu nya, tidak biasanya ia akan kambuh di saat jam bekerja seperti tadi.
"Hm, jawaban Lo akan selalu sama".
Vanya adalah sahabat Clarissa sedari kecil, saat mereka menduduki kelas 4 SD lebih tepatnya, Dan saat memasuki SMP dan SMA pun mereka bersekolah di sekolah yang sama, jadi wajar saja jika keduanya sangat dekat.
Bahkan Vanya adalah orang pertama yang Clarissa beri tahu tentang masalahnya pada saat itu. Clarissa merasa bersyukur karna Vanya tidak menjauh setelah tau apa yang di alaminya di masa lalu.
"Lo mau makan apa sa, gue pesenin" Tanya Vanya.
"Apa aja"
Vanya mendengus sebal mendengar jawaban sahabatnya yang terlalu singkat dan membingungkan. dia akhirnya memesan dua ayam bakar dengan paket nasi dan minumannya.
setelah menunggu sekitar tiga puluh menit pesanan mereka datang.
Mereka makan dengan khidmat sebelum suara Vanya memecahkan keheningan di antara keduanya.
"Gimana perasaan Lo sekarang sa?"
"Perasaan apa?" Tanya Clarissa dengan
mengernyitkan dahi nya bingung.
"Nggak, lupain aja" jawab Vanya dengan tersenyum kikuk.
Vanya merutuki dirinya sendiri kenapa bisa-bisanya ia menanyakan hal yang sensitif seperti itu, ia jadi sedikit takut jika Clarissa akan kembali ingat dan kambuh nantinya.
****
"Aku janji gak bakal ninggalin kamu, sayang"
"Aku takut"
"Gak papa, aku kan udah janji, oke?"
__ADS_1
"Clarissa! Astaga, sayang kamu kenapa?" Sang ibu meraih tubuh ringkih Clarissa dalam dekapannya.
Sungguh sakit, saat melihat putri semata wayangnya seperti ini, merasa ketakutan dan kesakitan di setiap malam