
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit akhirnya mereka sampai di taman hiburan, mereka tidak jadi menonton karena tiba-tiba saja Clarissa ingin bermain wahana.
"Capek?" Tanya Narendra, saat ini mereka sedang beristirahat setelah mencoba beberapa wahana tadi.
"Lumayan" jawabnya singkat.
Tiba-tiba saja Narendra menarik dagu Clarissa agar menghadapnya dan mengusap keringat yang bercucuran di sekitar kening Clarissa, Hal itu membuat Clarissa menahan nafasnya sejenak, Tapi dia dengan segera menepis tangan Narendra setelah kesadarannya kembali.
"Tck! Apasi Lo ah" Ketusnya dengan tangan yang mengelap keringatnya sendiri, Narendra terkekeh melihatnya.
Suasana menjadi hening karena Narendra yang hanya diam memandangi Clarissa, dan Clarissa yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri, Dia merasa aneh akhir-akhir ini, Semenjak kejadian di rumah sakit saat itu jantungnya selalu berdetak tidak normal jika sedang bersama Narendra, padahal dia yakin kalau dirinya tidak sedang kambuh.
"Lo cantik, Sa" Celetuk Narendra tiba-tiba.
Uhukk
Clarissa tersedak air liurnya sendiri, Narendra dengan cepat memberikan air pada Clarissa, dia Takut Clarissa mati karena tersedak air liur, Itu bukan berita yang bagus, pikirnya.
"Lo, gak papa?" Narendra menatap Clarissa khawatir, Clarissa hanya menganggukan kepalanya kaku, Dia masih shock kalau mau tahu.
Clarissa bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan Narendra, Dia merutuki dirinya sendiri karna sudah memberikan reaksi kurang bagus tadi saat mendengar celetukan Narendra.
Bagaimana jika Narendra berfikir kalau dirinya salah tingkah tadi? Atau Narendra malah ilfil karna dirinya sudah kegeeran, Karena bisa saja kan Narendra hanya iseng saja? Ah, Clarissa harus bagaimana?.
______
Clarissa terlalu larut dengan pikirannya sampai dia tidak memperhatikan jalan, sampai akhrinya__
Duk
Clarissa mengelus hidungnya yang terasa ngilu karna dia menabrak punggung seseorang.
"Lo bisa jangan ngalangin jalan, gak?" Ucapnya kesal.
Pria itu berbalik menatap Clarissa sontak saja Clarissa membulatkan matanya, tubuhnya menegang kakinya terasa lemas dengan jantung yang berdegup kencang, keringat dingin mulai membasahi sekitar pelipisnya, Tangannya mengepal kuat, dia berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya.
Bayangan masa lalu itu terus saja berputar di kepalanya, Dia benar-benar ketakutan sekarang.
Dengan perlahan kakinya bergerak mundur, dengan mata yang masih menatap lurus pada pria tinggi itu, Tapi kakinya sungguh tidak bisa di ajak kerja sama, dia benar-benar lemas.
"Plis, Jangan lagi" Ucapnya lirih.
__ADS_1
Clarissa jatuh terduduk di tanah dia menangis dengan memeluk kedua lututnya dan kepalanya menggeleng-geleng ribut, dia juga beberapa kali menjambak rambutnya, dan membenturkan kepalanya pada pagar taman.
"Clarissa! Hei astaga, Lo kenapa?"
Narendra berlutut menyamakan tubuhnya dengan Clarissa, Dan membawanya kedalam dekapannya, Lagi-lagi dia di buat bingung dengan sikap Clarissa yang selalu tiba-tiba seperti ini.
Narendra mengusap pelan punggung Clarissa guna menyalurkan kenyamanan, dan lagi dia beberapa kali mengecup pucuk kepala Clarissa tanpa sadar, karna itu terjadi secara naluriah, mungkin?.
Setelah di rasa lebih tenang, Narendra mengurai pelukannya kemudian dia menangkup kedua sisi wajah Clarissa dan mengusap pelan pipinya yang basah karna keringat dan air mata menggunakan ibu jarinya.
"G-gue mau pulang, Ren" Narendra tersenyum lalu mengangguk.
"Iya, kita pulang ya"
Narendra menggendong tubuh ringkih Clarissa ala brydal, dia pulang menggunakan taxi karena tidak mungkin dia membonceng Clarissa dengan motornya dalam keadaan seperti ini.
_____
Setelah mengantar Clarissa pulang Narendra langsung pergi ke markasnya, dia mendudukan diri di sofa ruang utama, tangannya mengambil satu batang rokok dan mematiknya, kemudian dia menghisap dan menghembuskan nya beberapa kali.
Pikirannya masih memutar pada kejadian di taman tadi, mulai dari Dia yang melihat Clarissa seperti ketakutan persis seperti saat di rumah sakit waktu itu, lalu pria tadi, siapa? Tadi dia melihat ada pria yang berdiri di hadapan Clarissa, Tapi saat dirinya tiba pria itu pergi begitu saja.
Saat sedang asik melamun dengan di temani sebatang rokok dia di kagetkan dengan pukulan di kepala bagian belakangnya, Dia menoleh dan Ternyata itu David.
'Narendra ini pendendam sekali' Ucap David dalam hati, dia tidak berani jika mengatakannya langsung, Takut di mutilasi.
"Si Haiden kemana?" Tanya Narendra bingung karena temannya hilang satu.
"Dia lagi nemenin temennya keliling kota sini, Dia baru datang dari luar negeri katanya" Jawab Leo, dan Narendra hanya mengangguk saja.
"Ngomong-ngomong, udah lama loh kita gak turun ke arena bos" celetuk Alex yang di angguki setuju oleh teman-temannya.
"Ya udah nanti kita balapan, sekarang mending Lo beli makanan sana, gue laper"
Narendra menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah muda yang ada gambar bapak-bapak senyum lebar itu pada Candra, Candra menyambutnya dengan mata yang berbinar, Lumayan kan sisanya bisa ia tabung.
"Kopi juga gak?" Mereka mengangguk kompak.
Setelahnya Candra segera keluar dari markas dan dengan bersamaan Haiden datang di antar seseorang, Candra hanya diam memperhatikan interaksi Haiden dengan orang itu yang terlihat sangat akrab, Mungkin itu pria yang di maksud baru datang dari luar negri? Ah Candra tidak perduli.
"Lo mau kemana ?" Tanya Haiden membuyarkan lamunan Candra.
__ADS_1
"Beli makanan"
"Gue ikut" Candra mengangguk menyetujui.
"Cowok tadi siapa den?" Tanya Candra, maunya sih tidak perduli, tapi tetap saja penasaran.
"Temen gue, Yang gue ceritain waktu itu"
"Dia yang katanya dari luar negeri?"
"Iya, Banyak tanya lu ah" jawab Haiden sewot Candra langsung mengatupkan bibirnya rapat.
______
Vanya melangkahkan kakinya keluar dari supermarket, Dia menyusuri jalanan sendirian, tapi saat sedang asik-asiknya menikmati angin malam tiba-tiba saja ponselnya berdering, ia mengambil ponselnya di saku, melihat nama si pemanggil, ternyata itu Clarissa, dengan cepat dia menggeser tombol berwarna hijau.
"Kenapa sa?" Tanyanya.
"Van, D-dia___D-dia kembali" Tubuh Vanya seketika menegang, dia tentu tahu siapa yang di maksud Clarissa, pria brengsek itu.
"Gue kesana sekarang, tunggu!" Tanpa menunggu jawaban, Vanya langsung memutuskan panggilannya sepihak.
Vanya dengan cepat berlari ke arah pangkalan ojek dekat sana, karna lama kalau harus menunggu bus, setelah lima belas menit perjalanan akhirnya Vanya sampai di rumah Clarissa.
Dia dengan cepat masuk kedalam rumah yang sudah sepi dan gelap itu, dia yakin ibunya Clarissa pasti sudah tidur, Vanya melangkahkan kakinya menuju kamar Clarissa, mengetuk pintunya pelan.
Tok tok tok
"Sa, Gue masuk ya"
Vanya membuka pintu kamar Clarissa, Bisa dia lihat di sana, Clarissa duduk dengan tangan yang memeluk kedua lututnya dengan wajah yang di telungkupkan, Dia menghampiri Clarissa dan menyentuh bahunya pelan.
"Sa?"
Clarissa mendongakkan wajahnya, dia segera memeluk Vanya erat, dia kembali menangis dengan tangan yang memukul-mukul punggung Vanya, menyalurkan rasa sesak yang ia rasakan.
Vanya hanya diam membiarkan punggungnya sakit karna pukulan Clarissa, Vanya mengusap punggung Clarissa pelan, Dia menghela nafas lelah, Kapan sahabatnya ini akan hidup tenang, pikirnya.
Setelah beberapa saat Clarissa melepas pelukannya, Vanya memberikan tissue pada Clarissa, Clarissa mengusap wajahnya yang basah dengan tissue yang di berikan Vanya tadi, Lagi-lagi Vanya menghela nafasnya saat melihat penampilan berantakan Clarissa, selalu saja seperti ini.
"Tenang oke?, Gak papa gak usah cerita sekarang" Ucap Vanya dengan mengusap pelan bahu Clarissa yang masih sesegukan.
__ADS_1
"Lo istirahat ya, Sa" Clarissa mengangguk.
Vanya memapah Clarissa menuju tempat tidur, dengan hati-hati dia merebahkan tubuh Clarissa dan menyelimutinya, setelah dirasa Clarissa sudah terlelap dia langsung pulang, dengan pikiran yang berkecamuk.