Clarissa & Narendra

Clarissa & Narendra
●●Chapter Empat●●


__ADS_3

Clarissa bangun dengan keringat dingin yang membanjiri pelipisnya dan dengan nafas yang memburu ia menunduk menangkup wajahnya menggunakan dua tangannya dan menangis, Hah mimpi itu lagi?.


Karna tidak ingin membuat sang ibu khawatir dengan cepat Clarissa bangun dan bersiap untuk pergi bekerja, dia juga harus kembali ke rumah sakit untuk merawat Narendra.


seperti biasa hal pertama yang ia lihat di pagi hari adalah sang ibu yang sibuk menyiapkan sarapan untuknya, Clarissa berhadapan dengan sang ibu, Lalu mereka sarapan dengan khidmat, walaupun hanya berdua tapi tetap terasa hangat.


Seperti biasa Clarissa akan pergi bekerja menggunakan bus, tak terasa setelah dua puluh menit ia sudah sampai di cafe tempatnya bekerja.


Ia melangkahkan kakinya lesu menuju Ruang ganti, dia menyimpan tasnya di loker lalu mengganti pakaiannya dengan seragam, Lalu dia mendudukan dirinya sejenak di kursi dan mengingat kembali tentang mimpinya semalam.


"Kenapa si, Kusut banget" Tanya Vanya yang tiba-tiba saja muncul seperti jelangkung.


"Gue mimpi lagi" ucap Clarissa lirih bersamaan dengan air mata yang mulai berlomba-lomba keluar.


"Lagi?, sa, Lo oke?" Dengan cepat Vanya memeluk  Clarissa dan mengusap punggungnya, Vanya faham kemana arah pembicaraan Clarissa.


Ini yang Vanya benci dari Clarissa, karna kadang Clarissa akan terlihat sangat rapuh, tapi kadang dia juga akan bersikap seolah semuanya baik-baik saja, padahal Vanya tahu Clarissa tidak sekuat itu.


Setelah sesi berpelukan tadi Clarissa dan Vanya kembali bekerja, karna kalau tidak David pasti akan memarahinya plus memecatnya.


"Selamat menikmati" Ucap Clarissa ramah seperti biasa.


_____


"Lo kok bisa kecelakaan gini si bro" Tanya Alex


"Ya bisa lah anjing, namanya juga musibah gak ada yang tau" Itu bukan Narendra yang menjawab, Tapi Candra.


"Santai dong lu" Alex membuat gestur ingin memukul Candra dengan sikunya.


"Gue punya tebak-tebakan" Celetuk Haiden tiba-tiba.


"Apa?"


"Permen apa yang paling besar?" Tanya Haiden dengan alis yang di naik turunkan.


"Lolipopp?"


"Kiss?"


"Yosan?"


"Bukan semua, Ayo-ayo jangan gampang nyerah"


"Apasi emang?" Candra sudah mulai sewot.

__ADS_1


Haiden menarik nafas panjang dengan mata terpejam tangan yang mengalun indah di udara membuat gestur seperti Dirigen lalu menatap temannya satu-satu dengan wajah menyebalkannya dan dia berucap.


"Candy Borobudur"


Entah refleks atau bagaimana, tapi dengan serentak Narendra dan yang lainnya membuat ekspresi wajah datar, karna menurut mereka candaan Haiden ini terlalu garing.


"Apasih Lo ah garing banget" Ucap Leo yang sudah menahan emosi sedari tadi.


"Yang penting gue udah berusaha, ketawa dikit ke anjing"


"Hahahaha" dengan serempak mereka semua tertawa garing.


Di saat bersamaan Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka mereka menghentikan tawa garingnya dan memusatkan atensinya pada pintu.


"O-ohh s-sorry" Ucap nya kikuk, dengan secepat kilat Clarissa kembali keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras, Demi apapun dirinya malu.


"Kita balik ya bro, Besok kesini lagi" Ucap David.


"Ya, thanks kalian udah repot-repot kesini, walaupun gak bawa apa-apa si" Sindir Narendra.


"Kita kesini membawa hati yang tulus dan doa yang senantiasa menyertaimu kakak" Ucap Candra dramatis.


"Najis lu" Ucap Alex sambil memukul belakang kepala Candra.


_____


Hari ini cafe tutup, jadi Clarissa akan langsung ke rumah sakit saja, sekarang baru jam 09:00 wib semoga saja tidak ada teman-temannya Narendra lagi, dia masih malu karna kejadian semalam.


Fyi semalam Clarissa tidak menemani Narendra karna dia berfikir teman-temannya Narendra akan menginap, jadi dia langsung pulang.


Clarissa sampai di rumah sakit ia langsung saja masuk ke kamar rawat Narendra, bisa ia lihat pria itu sedang bermain ponsel sambil beberapa kali mengeluarkan kata-kata mutiaranya.


Narendra mengalihkan atensi nya saat merasa ada seseorang masuk, tanpa sadar dia tersenyum tipis saat melihat Clarissa sedang berjalan ke arahnya.


"Kok udah kesini?, Gak kerja?" Narendra bertanya dengan mata yang masih setia menatap pergerakan Clarissa.


"Nggak" Jawabnya singkat, padat dan rapat.


Lama mereka terjebak di suasana canggung, akhirnya Clarissa membuka suaranya.


"Kayanya kita emang pernah ketemu deh sebelumnya, ya?" Tanya Clarissa masih penasaran, karena dia yakin mereka pernah beberapa kali bertemu sebelumnya, tapi tidak ingat dimana-dimananya.


"Ya, pernah"


"Dimana?"

__ADS_1


Narendra tidak langsung menjawab, dia mengisyaratkan Clarissa untuk duduk di kursi yang berada di samping ranjang menggunakan dagunya, Clarissa yang mengerti pun langsung mendudukan dirinya di sana.


"Jadi?"


"Di cafe David pas Lo nangis di toilet itu pertama kali kita ketemu, beberapa hari setelahnya kita sering ketemu di cafe, cuma mungkin Lo nya kurang ngeuh karna kita belum pernah ketemu tatap muka kaya gini, Terus pas malam itu kita ketemu lagi di taman pusat, dan ketemu lagi sekarang?". Jawab Narendra panjang lebar.


Clarissa mengangguk-anggukan kepalanya sambil mengingat-ingat kembali pada pertemuan pertama mereka, Dia baru ingat ternyata Narendra ini pria yang waktu itu melihatnya menangis?.


Clarissa tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dia berjalan ke arah sofa dan merebahkan dirinya, memainkan ponselnya sejenak lalu menoleh ke arah Narendra.


"Gue ngantuk mau tidur, kalo butuh apa-apa bangunin aja" Narendra hanya mengangguk, sepuluh menit setelahnya Clarissa sudah benar-benar terlelap.


Narendra turun dari ranjang nya berjalan menghampiri Clarissa, dia menyamakan tubuhnya dengan tubuh Clarissa menatap lekat sosok wanita di depannya dan entah dorongan dari mana tangannya terangkat mengelus kepala Clarissa dengan lembut.


"Makasih" Ucapnya tulus dengan senyuman hangat, setelahnya Narendra pergi menuju toilet.


"Plis aku capek, Aku mohon hentikan raff"


"aku gak mau" 


Raffa, pria yang menyandang status sebagai kekasihnya itu dengan cepat menarik tangan si wanita dan membenturkan nya pada dinding, ia mengukungnya, dia menatap lekat wanita itu dan satu detik setelahnya_


 Raffa dengan kasar ******* bibir wanita itu, wanita itu terus berusaha berontak dan menggelengkan kepalanya agar ciumannya terlepas, tapi Raffa tidak menggubrisnya dan semakin kasar ******* habis bibirnya.


"Gue gak bakal lepasin Lo, Clarissa!"


Clarissa membuka matanya, nafasnya tersenggal dengan jantung yang berdetak sangat kencang, Dada yang terasa sesak dan kepala yang terasa sangat sakit, Dia beberapa kali memukul kepalanya dan menjambak rambutnya, tapi itu tidak ber-efek apa-apa.


"Astaga! Lo kenapa, Hei?"


Narendra panik saat kembali dari toilet melihat keadaan Clarissa yang sangat kacau, wajah yang basah karna keringat dan air mata, rambut yang berantakan karna dia Jambak dan tubuh yang bergetar, dan yang paling menyesakkan, Clarissa menangis tanpa suara?.


Narendra mendekap tubuh ringkih Clarissa lembut, dia usap punggungnya halus guna menyalurkan ketenangan, dia terus merapalkan kata-kata penenang.


"Ssstt, tenang ya, Gue di sini"


Narendra mengeratkan pelukannya membiarkan bajunya basah karna keringat dan air mata Clarissa, Dia mengusap lembut rambut Clarissa dan tanpa sadar Narendra mencium kening Clarissa beberapa lama.


Clarissa yang kaget dengan refleks menghentikan tangisannya, dia diam mematung dalam dekapan Narendra, masih mencerna apa yang baru saja terjadi, Narendra menciumnya?.


Tiba-tiba saja jantungnya kembali berdetak dengan kencang tapi tidak menyesakkan seperti tadi, Clarissa dengan cepat melepaskan diri dari Narendra, dia mengusap wajahnya yang basah dengan sedikit gugup.


"S-sorry Sa, Gue refleks" Ucap Narendra sedikit kikuk.


"G-gak papa, Sorry juga baju Lo jadi basah" Sesal Clarissa saat ia melihat baju bagian atas Narendra basah karna airmata dan ingusnya tadi.

__ADS_1


__ADS_2