Clarissa & Narendra

Clarissa & Narendra
●●Chapter Dua●●


__ADS_3

Clarissa berdiri di sisi jendela kamarnya yang langsung menghadap ke pantai, menikmati terpaan angin malam dengan mata terpejam dengan pikiran nya yang menerawang pada kilas balik di masa lalu.


Perlahan ia bisa merasakan detak jantungnya yang bergemuruh, bedetak dua kali lebih cepat dari biasanya, ia meremas dada nya yang terasa sangat sesak dan sakit.


Keringat dan air mata sudah membasahi wajahnya, Ia memegang kepalanya yang kini mulai memutar kembali memori pada saat itu.


"Aku janji gak bakal ninggalin kamu, sayang"


"Tapi, aku takut"


"Gak papa, aku kan udah janji, oke?"


Potongan kilasan itu kembali terlintas dalam ingatan nya, Clarissa terjatuh meringkuk dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat, Ia terus memukul kepalanya yang terasa semakin sangat sakit.


Clarissa mencoba bangkit, dan berjalan ke arah kasur ia berusaha mengambil obat yang ada di dalam laci nakas, tapi kakinya sangat lemas dan otot-otot tubuhnya kini semakin menegang membuatnya kesulitan untuk meraih nakas.


Clarissa membenturkan kepalanya beberapa kali pada sisian ranjang berharap sakit kepalanya akan segera hilang, ia terus melakukanya beberapa kali dengan tangis yang kian memilu.


"Clarissa! Astaga, sayang kamu kenapa?"


Sang ibu meraih tubuh ringkih Clarissa dalam dekapannya.


Sungguh sakit, saat melihat putri semata wayangnya seperti ini, merasa ketakutan dan kesakitan di setiap malam yang berujung menyakiti dirinya sendiri,  Sampai detik ini pun ia belum tau apa penyebab putri nya seperti ini, ia sungguh ibu yang buruk pikirnya.


___


Clarissa mengerjapkan mata nya membiaskan sinar matahari yang perlahan masuk kedalam penglihatannya, Kepalanya sungguh sakit, Dan ada perban? Ah ia kambuh lagi semalam.


"Kamu udah bangun, sayang?" Sang ibu masuk dengan membawa nampan berisi bubur dan air hangat.


"Kamu ga usah kerja dulu ya" ujar Ibu dengan tangan mengusap kepala Clarissa dan merapihkan anak rambut yang menghalangi matanya.


"Kenapa? Aku ga papa Bu, aku kerja aja ya?" Mohon Clarissa dengan wajah yang di buat memelas.


Ibunya terkekeh melihat tingkah putri nya ini, Dan dengan segera memeluk putrinya untuk menyalurkan rasa kasih dan sayang dalam benaknya.


"Ibu sayang sama kamu, Sa, Jangan tutupin apapun dari ibu ya"


Badan Clarissa seketika menegang, ia sungguh belum siap jika harus bercerita sekarang pada ibunya, Ia belum siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nantinya, apalagi sang ibu yang memiliki riwayat jantung.


"Maaf" Ucapan lirih Clarissa sungguh membuat hati sang ibu seperti di tikam batu besar, ia bisa merasakan jika putrinya selalu merasa kesakitan setiap waktu, tapi ia tidak akan memaksa Clarissa untuk cerita sekarang juga, biarlah nanti Clarissa sendiri yang bercerita.


Ibu melepaskan pelukannya dan menatap teduh mata putri semata wayang nya itu, ia menghela nafas pelan lalu tersenyum dan mengecup kening Clarissa, setelahnya ia keluar dari kamar Clarissa.


"Maaf Bu" Clarissa berujar lirih menatap punggung sang ibu yang kini menghilang di balik pintu.


___

__ADS_1


Clarissa baru saja sampai di cafe tempat ia bekerja, kebetulan hari ini Clarissa tidak bersama Vanya karna Vanya yang meminta izin libur karna ada urusan penting katanya.


Clarissa menyimpan tas nya di loker dan mengganti pakaiannya dengan seragam. Ia tersentak kaget saat keluar dari ruang ganti melihat sang atasan berdiri santai di depan pintu.


"Mas David ngapain di sini?" Tanya nya bingung.


"Hari ini Vanya gak masuk" interupsi David tanpa memperdulikan pertanyaan Clarissa.


"Saya tau"


"Saya yang akan menggantikan posisi nya, Gak mungkin kan saya membiarkan kamu kerja sendiri" memang di cafe David ini hanya ada empat orang pegawai saja termasuk Clarissa dan Vanya.


"Saya gak sendiri"


David jengah juga lama-lama dengan sikap pegawainya ini, ia bingung, padahal Clarissa ini perempuan tapi hidupnya terlalu monoton dan Dia kaku dan dingin.


"Terserah, intinya saya jadi partner kamu hari ini" ucap David final.


Clarissa tidak menggubris dan berjalan begitu saja melewati David, David lagi-lagi hanya bisa menghela nafas saja.


"Mas, ada yang nyari di depan"


"Siapa?" Tanyanya.


"Saya kurang tau, katanya si temannya mas David, kalo gak salah namanya Narendra." Ucap salah satu karyawan, dan David hanya mengangguk lalu pergi menghampiri Rendra.


Mereka melakukan highfive seperti biasa.


"Kebetulan aja tadi lewat"


Clarissa mengamati sosok pria yang tengah duduk dengan atasanya itu, ia seperti tidak asing dengan sosok itu. lalu dengan tidak sengaja mata mereka saling bertemu dengan secepat kilat Clarissa mengalihkan pandangannya yang membuat Narendra terkekeh pelan tanpa sadar.


____


"Kayanya gue bakal balik lagi deh kesitu" seru seseorang di seberang sana.


"Serius Lo?"


"Iya, Gue kangen Sama seseorang soalnya"


"So-soan Lo, anjing!" keduanya tertawa entah apa yang mereka tertawakan.


"Ya udah, gue tutup, nanti gue kabarin lagi"


"Oke bro"


Setelah telepon di tutup ia kembali bergabung dengan teman-temannya yang sedang bermain ular tangga di ruang utama.

__ADS_1


"Siapa?" Tanya Leo.


"Temen gue yang di luar negeri, dia katanya mau balik lagi ke sini" Leo hanya ber-oh ria dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Hahaha puas, Turun kan lo" Candra mengejek Alex karna gundunya turun menyusuri tubuh ular berwarna hijau itu, Teman-teman yang lain hanya tertawa melihat tingkah dua manusia itu.


"Bentar lagi punya Lo juga turun"


Dan benar saja, belum satu menit Alex berucap Candra mendapatkan angka dua, dan itu membuat gundunya berhenti di ujung kepala si ular hijau itu berarti gundunya harus turun menyusuri tubuh si ular, semuanya tertawa heboh di sana, karna gundu Candra turun jauh di bawah gundu Alex.


'karma yang terlalu instan' Candra membatin.


"Besok katanya ada pertunjukan di taman pusat, Kesana gak nih?" Tanya Leo.


"Kesana lah, pasti banyak cewek-cewek cantik di sana, lumayan cuci mata" Semuanya mengangguk setuju.


___


Clarissa baru saja selesai mandi ia merasa sangat lelah hari ini karna pengunjung cafe lebih ramai dari biasanya.ia merebahkan tubuhnya di kasur dan bersiap tidur, Tapi tiba-tiba handphone nya berdering menandakan ada panggilan masuk.


Drrtt Drrtt Drrtt....


Ia dengan malas meraih handphone yang ada di nakas dan mendengus saat tahu siapa yang menelponnya tengah malam seperti ini.


"Hm?"


"Sorry ganggu Sa" Suara Vanya terdengar.


"Kenapa?"


"Hmm, Kita jalan-jalan ya bes__"


"Kemana?" Belum sempat Vanya menyelesaikan kalimatnya, Clarissa dengan cepat memotongnya lebih dulu, hal itu membuat Vanya berdecak kesal.


"Ke taman pusat, Besok ada pertunjukan di sana, kita kesana ya?"


Clarissa ingin menolak, karna jujur saja dia tidak begitu suka keramaian, tapi ia juga tidak tega karna Vanya sepertinya sangat antusias, setelah berpikir sejenak akhirnya Clarissa menyetujui ajakan Vanya dan langsung memutuskan panggilannya secara sepihak.


***


BRUKK


"Ah sorry, sorry gue gak sengaja, You okay?" Ia hanya mengangguk.


Pria itu berniat untuk membantu Clarissa berdiri, tapi dengan cepat Clarissa menepis tangan pria itu sebelum sempat menyentuhnya.


"Gue bisa sendiri!" 

__ADS_1


__ADS_2