
"1,2,3..." Ucap Hanin.
Di ucapkan berbarengan memakai nada oleh Maydita dan Hanin.
"Ima... Ima.."
Ima muncul dari balik pintu rumahnya, Dan menyuruh mereka masuk.
"Sini guys masuk ajah.."
Maydita dan Hanin masuk dan menuju kamar Ima, Mereka memang sudah tidak sungkan dengan keluarga Ima jika menginginkan minum saja tinggal ngambil saja tanpa harus meminta. Ima memang baik tapi sayang sifatnya yang sangat bucin membuat Maydita dan Hanin muak, Dikit-dikit nangis kalau pacarnya tidak ada kabar, Lain lagi dengan si Hanin ia adalah orang paling aneh.
Hanin mempunyai pacar yang dahulu adalah mantannya, Sewaktu SMP kelas tujuh mereka pacaran dan tidak lama mereka putus dan setelah putus mereka saling mengejek satu sama lain. Nama mantan sekaligus pacarnya itu adalah Ridwan, Yang lebih parah dia tidak hanya mengejek Hanin sebagai mantan tetapi mengejek semua teman perempuan Hanin yang ada di kelas.
Tapi walaupun sudah saling menghina satu sama lain, Mereka tetap saja balikan lagi si Hanin percaya lagi tentang ucapan si Ridwan yang akan berubah menjadi lebih baik. Padahal sifat sombong si Ridwan itu sudah mendarah daging dari lahir.
"Guys gimana dong mantan gue ngechat?." Hanin memecah keheningan ketika diantara mereka sibuk memainkan handphone masing-masing.
"Inget lo udah punya si Ridwan!!" Ucap Maydita.
"Iaa, Han lo harus inget!." terus Ima.
"Lo masih belum bilang ya lo udah punya pacar han?" Tanya Maydita dengan memasang muka yang sangat serius.
"Iya gue belum terus terang sama dia.." Jawab Hanin sebari memalingkan matanya kearah handphone.
"Kalau kaya gitu lo sama ajah ngasih harapan palsu sama mantan lo.." Maydita memperingatkan Hanin.
"Iya gimana dong?" Keluh Hanin.
Maydita terkadang suka kesal sendiri dengan problem cinta teman-temannya itu, Membuatnya menjadi emosi. Tetapi Maydita selalu siap mendengarkan keluh kesah mereka.
"Ehh iya, Waktu gue maen ke Anyer.. gue pulltime bareng doi gue lohhh.." Wajah Ima terlihat begitu berbinar-binar, Kaya orang kasmaran.
__ADS_1
"Hah.. lo ngapain ajah disana?" ucap Hanin dengan tampang-tampang keponya.
"Yagitu deh.. Kaya suami istri." Ima terlihat begitu malu-malu.
"iiss.... Lo macem-macem yah?" Ekspresi Hanin terkejut.
Maydita hanya menyimak, dan Ima menjawab tuduhan Hanin.
"Ehh.. magsud gue bukan kaya seperti yang lo fikirin, Tapi magsudnya itu adalah kaya makannya dia gue yang siapin, Duduk di bus berdua... Semua serba berdua, gituhhh magsudnya.." Jelas Ima.
"Halah kaya benalu ajah lu nempel-nempel..!" Ucap Maydita ketus. Respon Hanin dan Ima hanya tersenyum dan saling bertatapan.
Setiap hari minggu selalu ada motor yang terparkir didepan rumah Hanin dan Ima, Motor itu adalah motor pacar-pacarnya mereka.
Cuman rumah Maydita saja yang tidak terparkir motor pacar, Karena tidak punya pacar.
Itu adalah rutinitas mereka, Sedangkan Maydita memiliki rutinitas sendiri pada pagi hari, Ia menyeduh segelas kopi dengan gorengan yang sudah disediakan ibunya walaupun terkadang ada terkadang tidak. Ditambah ditemani gitar tua miliknya, Ia tidak peduli dengan tetangganya yang sering konplen tentang suaranya yang sangat menggelegar bagaikan Adel itu mengganggu pendengaran.
Maydita juga tidak habis fikir dengan anak-anak itu, padahal disana Hanya gang kecil dan sempit serta dipinggirnya hanya sebuah kebun, Tetapi mereka anteng bermain dan bercanda tengan temannya yang lain. Tidak memikirkan nasib orang yang berada dikamar itu terganggu. Maydita sering menegur mereka tapi mereka membalas dengan cibiran dan mengetuk jendela dengan sangat keras.
...
Pukul 6:40 WIB menunjukan waktunya Maydita berangkat sekolah, Tas gendongnya ia pake serta ia meniup jilbabnya padahal terlihat tidak berantakan. Gadis sederhana ini memiliki satu sifat yang buruk yang sampai sekarang tidak bisa ia kontrol, Yaitu emosinya sendiri ia tidak bisa meredam emosinya, Maydita mudah tersinggung dan suka menyinggung ketika sedang dilanda emosi.
Untung saja dia mendapatkan keberuntungan dengan adanya orang-orang disekelilingnya yang selalu mengingatkan, Tapi Maydita sadar hidup ia tidak akan selamanya harus diingatkan seperti ini, ia harus memiliki kesadaran tersendiri.
"Hey mell..." Sapa Maydita kepada Melani.
"Hey juga, BTW lo bawa nasi kan?" Tanya Melani.
"Always dong.." Jawab Maydita dan duduk dibangku nya.
Membawa nasi dari hari Senin sampai Kamis adalah komitmen mereka berdua, Alasannya ya untuk mengirit pengeluaran. Mereka mengumpulkan uang jajannya untuk membeli kuota agar bisa melihat pacar mereka masing-masing di instagram, Pacarnya ada yang orang lokal dan juga dari non lokal. Pacar mereka banyak. Tapi harapan yang akan menjadi suami mereka kelak hanya satu yaitu seperti Syakir Daulay dan juga Taqi Malik, Yang intinya menginginkan yang sholeh.
__ADS_1
Walaupun hidup mereka di lingkari dengan banyak kehaluan yang tidak berfaedah seperti menginginkan pacaran dengan lee min ho artis Korea, Nanon korapat artis thailand, Syahrul khan artis India, Dan Aliando artis Indonesia. Tetapi mereka selalu saling mengingatkan akan kebaikan.
"Mel gue mau nanya dong?" Maydita sambil menepak punggung Melani.
Melani terkejut hampir saja hanphone yang dipegangnya terjatuh.
"Bisa gak sih gak ngagetin gimana kalau Chimon gue jatuh ( Chimon adalah nama handphonenya)!, Lo mau nanya apah sihh?." Terpapar jelas mimik muka Melani terlihat kesal sebari mengelus-ngelus handphone milikmya.
"Itu cowo yang ada dikantor murid baru yah?." Tanya Maydita.
Karena Melani adalah salah satu orang yang selalu tau tentang Hot news, Maydita tidak akan salah orang untuk menanyakan hal itu.
"Oh iya.. iya gue lupa ngasih tau lo, gue keasikan mainin chimon." Nada suaranya berubah jadi rimbil lagi. " Dia itu murid baru, Katanya murid baru kelas dua belas, Tapi gak tau deh bakal masuk kelas mana." terus Melan.
Murid baru itu pria, Tampilannya rapih tapi ia menatap Maydita dengan tatapan yang sangat tajam. Dan katanya ia pindahan dari Jakarta, Tapi entahlah mungkin memang ekspresinya saja yang selalu seperti itu. Maydita berfikiran positif saja tentang kejadian tadi dikantor.
Bel masuk berbunyi, Siswa dan siswipun gencar untuk segera memasuki ruang kelas masing-masing. Ekonomi adalah pelajaran pertama Pak Agus memasuki kelas dan dibelakangnya di ikuti oleh murid baru itu, Murid itu memperkenalkan dirinya, Dengan ekspresi kalemnya.
"Assalamu'alaikum?." ucap pria itu.
Anak-anak serentak menjawab.
"Walaikumsallam warohmatullahi wabarokatuh."
"Nama saya Farzan Satya, Pindahan dari sekolah negeri satu Jakarta wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.." Ucap Farzan.
Dengan santainya ia berjalan menuju
bangku paling belakang karena hanya kursi itu yang kosong. Murid-murid di kelas serta Pak Agus terpelongo melihat anak yang satu itu, Belum dipersilahkan langsung duduk begitu saja.
Siapakah Farzan?
Kenapa ia bisa pindah kesekolah ini?
__ADS_1