
"Dasar kebanyakan nonton drama." Gumam Maydita.
---
"Dia mau membantu usaha Ayah?." Ucap Ibu Maydita dengan sangat terkejut.
"Iyah tapi ayah bingung harus menerima nya atau tidak." Jawab Ayah Maydita kebingungan.
Maydita menyimak pembicaraan kedua orang tua nya sebari meminum air putih.
"Terima aja yah!." Ucap Dito menyelah pembicaraan Ayah dan Ibu nya.
"Tuh yah dengerin kata anak nya!." Ibu terlihat begitu bersemangat.
"Ini ngomongin apa sih?." Tanya Maydita kebingungan.
"Pak Hanum mau bantu usaha Ayah jadi lebih besar lagi, Yang jelas nya bikin lestoran." Jelas Ayah Maydita.
Maydita menelan ludah dan mata nya membulat. Ia bergeming di dalam hati nya.
"Kalau misal kan Ayah terima tawaran nya pak Hanum otomatis perlakuan si Farzan ke gue lebih parah dong, Wah bahaya!."
"Jangan Yah jangan di terima!." Ucap Maydita.
"Mening terima aja Yah biar ibu gak kerja lagi, Di tambah kita bisa hidup enak!." Kata Dito yang menentang pendapat Maydita.
"Dito." Ucap Maydita sedikit kesal.
Maydita pergi memasuki kamar nya.
*tring...
*Hanin
kumpul guys
Ima
boleh, Di rumah gue aja sini
me
gue otw*
---
Maydita menyusuri rorong sekolah ia terlihat lesu karena tadi sebelum ia pergi sekolah Ayah nya akan menerima tawaran pak Hanum. Maydita tidak bisa berbuat apa-apa karena semua anggota keluarga nya setuju dan pendapat ia mana di dengar.
Di tengah ia berjalan ada sesosok manusia yang menghalangi nya, Yaitu si Monster.
"Minggir!." Ucap Maydita yang sebari terus menunduk.
Ia mulai mengangkat kepala nya. Dengan seketika Maydita memaling kan pandangan nya lalu menggaruk kepala nya yang sama sekali tidak gatal.
"Ehem.." Ucap Farzan, Sebari melipat kan tangan nya.
"Eh Farzan." Maydita sedikit memanis-maniskan senyuman nya.
"Ikut gue lu!." Ucap Farzan lalu menarik tas Maydita yang otomatis Maydita tertarik paksa.
__ADS_1
"Pelan dong masih pagi nih masa mau langsung di tindas ajah, Gak kasian apah?." Ucap Maydita yang langsung memberhentikan tarikan Farzan.
"Ehh ulet lo ngelawan gue?." Farzan sebari menatap Maydita dengan tatapan sinis nya, Lalu ia menarik kembali Maydita dengan paksa.
Farzan membawa Maydita ke belakang sekolah.
"lo itu bodoh banget sih." Ucap Farzan.
"Magsud kamu apa sih, Gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba langsung ngegas gitu ajah. Ngehina lagi." Ucap Maydita sebari mengkerutkan kening nya dan melipat tangan nya.
Farzan menepak tangan Maydita.
"Berani banget tangan lo kaya gitu di depan gue."
"Sebener nya magsud nya kamu itu apa sih gini salah gitu salah."
"Lo ngerjain tugas gue hampir semua salah."
"Baru hampir kan engga semuanya."
Farzan membuang nafas kasar ke arah kanan lalu berbalik menatap Maydita dengan tajam.
"Pulang sekolah gue tunggu di jembatan biasa harus tepat waktu, Ganti baju lo jangan pake seragam!." Ucap Farzan dengan tegas lalu meninggal kan tempat itu.
Maydita mengusap dada nya seakan-akan menyabarkan diri nya, Ia sebenar nya sangat muak ketika harus di suruh-suruh oleh Farzan.
___
Maydita menghampiri Azka yang sedang duduk di bangku taman.
"Hey ka?." Sapa Maydita.
"lo masih ngambek?." Tanya Maydita.
"Menurut lo." Jawab Azka sinis.
"Ya maaf, Kemarin gue ada masalah harus nya lo ngerti dong kalau lo beneran sahabat gue, Bukan nya malah kaya gini."
"Harus nya lo itu bantu gue bukan malah marah-marah sama gue."
Maydita terus nyerocos berbicara.
"Lah kenapa jadi lo yang ngambek sih?." Ucap Azka.
Maydita membalas nya dengan memutarkan kedua bola mata nya dan memaling kan wajah nya.
"Yaudah maaf-maaf jangan ngambek!." Ucap Azka.
"Iya gue maafin." Maydita mengarah kan senyum manis nya kepada Azka.
"Dasar cewe tetep aja yang salah cowo!." Ucap Azka.
Maydita hanya tersenyum mendengar apa yang Azka ucap kan.
"Yaudah yu jajan yu, Tapi lo yang bayar ya soal nya gue gak biasa keluar duit kalau lagi di sekolah!."
"Kebiasaan lu nyusahin."
Maydita menarik tangan Azka menuju kantin.
__ADS_1
___
Maydita dan Azka duduk di bangku kantin mereka memesan dua mangkok bakso, dan Mereka terlihat begitu asik mengobrol.
Sedang kan Farzan sendiri duduk di bangku kantin yang tidak jauh dari bangku mereka. Farzan terus melihati mereka dan seperti mengawasi gerak-gerik Maydita.
Farzan beranjak dari tempat duduk nya lalu ia berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Sebener nya lo itu ada masalah apa sih?, Sampe lupa ultah gue." Tanya Azka.
Di dalam hati Maydita berkata.
"Sebaik nya gue gak kasih tau Azka yang sebener nya, Takut nya dia emosi dan mancing keributan. Bahaya."
Azka mencubit tangan Maydita.
"Woy!."
"Awww sakit, Kebiasaan kasar sama cewe gak di ubah-ubah."
"Lagian di tanya malah bengong, Kemarin lo ada masalah apa?." Tanya Azka lagi.
"Kemarin gue ngerjain tugas banyak banget terus ketiduran."
"Oh gituh, Makan dong baso nya malah di liatin ajah percuma baso nya gak akan baper. Atau lo gak mau?, Kalau gak mau buat gue ajah?." Ucap Azka usil.
"Apaan si lo, Ya mau lah ya kali gue kasih lo."
___
"Gue kekelas duluan ya." Ucap Maydita, Sebari mengusap perut nya.
"Kebiasaan kalau udah kenyang pergi duluan." Singgung Azka.
Maydita menghirau kan perkataan Azka, Ia dengan dingin nya pergi begitu saja.
"Dari mana aja May?." Tanya Melani.
"Abis ketemu Azka."
"Gue nungguin lo, Nasi gue sampe buluk kaya ginih." Jelas Melani sinis.
"Ya maaf, Tapi gue tadi udah makan baso sama Azka." Maydita sebari menyengir kuda.
"Dasar, Terus gue percuma dong nunggu." Ucap Melani sebari membuka kotak nasi nya lalu memakan nasi nya dengan sangat lahap.
Jam pulang sekolah, Waktu ini sekarang tidak lagi di tunggu-tunggu oleh Maydita karena ia malas untuk meladeni Farzan. Ia lebih baik menetap di sekolah di banding kan harus menyuci motor di tengah terik nya sinar matahari dan juga mengerjakan tugas yang ia tidak mengerti.
Ia terus berjalan menuju rumah nya, Ia sengaja melambatkan langkah kaki nya dan juga sengaja mengulur waktu. Ia tidak peduli Farzan akan marah sekali pun tentang ia yang terlambat menghampiri nya.
Tapi rencana nya gagal ia lupa mematikan hp nya yang akhir nya Farzan pun terus menelpon Maydita, Dan terpaksa ia harus mengangkat nya.
*Hallo?
Satu, Dua..
Tunggu-tunggu ini masih di jalan..
Tiga*..
__ADS_1
Maydita langsung berlari menuju jembatan sampai-sampai ia tidak mematikan telpon nya, Ia berlari dengan kencang agar di dalam itungan ke sepuluh ia sudah berada di depan si Monster itu.