Cloud Hat

Cloud Hat
3. Dasar si SOMBONG


__ADS_3

Saat jam istirahat tiba, Siswa-dan siswi terlihat ceria dan terburu-buru meninggalkan kelas, Terutama kaum laki-laki yang begitu bar-bar, Sampai-sampai saling tabrak menabrak agar segera keluar dari kelas. Farzan si murid baru itu menjadi orang kedua memakai baju dikedalamkan setelah si Asep Cp-- Cp berarti cupu ia adalah salah satu pria dikelas nya Maydita yang menaati aturan. Yang lainnya rata semua tidak mengikuti aturan.


Bedanya Farzan dengan si Cp adalah muka dan bentuk tubuhnya, Farzan memiliki tampang yang lumayan tampan dan ditambah tubuhnya yang menjulang tinggi, Sedangkan si Cp beda jauh dua puluh ribu kali lipat dari si Farzan, Hal itu sudah terbayangkan jadi tidak perlu dicerikan lagi.


Farzan berjalan santai menuju bangku Melani, Setelah sebagian besar murid dikelas sudah pada keluar.


"Minta jadwal pelajaran..!" Farzan berdiri disebelah Melani dengan keadaan tangan dimasukan ke dalam saku celananya, Serta pandangan nya tertuju kearah lain.


"Ngomong sama gue?." Melani melihat kearah Farzan sebari menunjukan telunjuknya kepada dirinya sendiri.


"Ia lah sama lo mau siapa lagi?, Masa sama cewe Ulat yang didepan lo..!" Jawab ketus Farzan kepada Melani.


Seketika Maydita terhenti dari kesibukannya yang sedang memasukan buku kedalam tasnya. Ia melirik kesekeliling kelas dan ternyata yang dimagsud Farzan itu adalah tertuju kepada dirinya.


"Magsud lo cewe Ulat apa..?" Tanya ketus Maydita.


"Mana jadwal..?" Farzan menjulurkan tangannya terhadap Melani menandakan dirinya ingin cepat mendapatkan jadwal itu.


Farzan mengabaikan pertanyaan dari Maydita.


Maydita geram dan menahan malu kerena pertanyaannya di abaikan Farzan, Karena tidak terima ia pun berdiri dari tempat duduknya dan menanyakan kembali apa magsud dari perkataan Farzan barusan.


"Hey lo itu kenapa sih?,Magsud lo apa sih?."telunjuk Maydita sambil menunjuk-nunjuk kedepan muka Farzan.


"Tarik gak omongan lo tadi?, TARIK!." Terus Maydita.


"Apaan si cewe ko kasar banget." Singgung Farzan diakhiri dengan sudutkiri bibirnya yang mengangkat.


"Udah.. udah, Nih jadwalnya dan sekarang lo pergi sanah!!." Melani mererai pertengkaran tersebut.


Farzan berlalu pergi kebangkunya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sedangkan emosi Maydita yang sudah memuncak ia hanya bisa menatap geram, Melani segera mengambil tangan kanan Maydita dan membawanya keluar kelas.


"Sabar may..!" Ucap Melani yang berada disebelah Maydita.


"Gimana bisa sabar coba, Gak punya masalah ajah songongnyan kaya gituh apalagi kalau punya masalah!." Maydita mengakhiri ucapannya dengan memasukkan snack kedalam mulutnya.


Melani hanya menarik nafas panjang lalu ia hembuskan kembali.


....

__ADS_1


Malam hari Maydita menuliskan kejadian tersebut menjadi sebuah karya berupa puisi, Bentuk kekesalannya yang tadi terjadi di sekolah membuat ia kehilangan mood untuk belajar. Padahal ia telah mempunyai mainset jika ia naik kelas ia akan giat belajar untuk lebih mempersiapkan bekal masuk kuliahnya.


Karena ia menyadari bahwa masuk kuliah harus memiliki bekal, Bekal ilmu untuk masuk Universitas yang ia inginkan agar bisa masuk jalur beasiswa. Tekad keinginan untuk kuliah bukan sekedar untuk gaya-gayaan tetapi ia benar-benar ingin merubah nasib kedua orang tuanya, Ia menyadari hal tersebut tergantung Kehendak Allah SWT. Tetapi Maydita hanya bisa berharap, Berdo'a dan terus berusaha sebagaimana menjadi seorang umat.


....


Ayah Maydita memiliki usaha kecil-kecilan, Yaitu berdagang nasi goreng, Yang penghasilan perharinya tidak menentu. Sedangkan Ibunya adalah pembatu rumah tangga, Yang bekerja dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang.


Maydita juga memiliki adik laki-laki yang masih duduk dibangku kelas tiga SMP,


"Ka gantiin aku temenin Bapa dagang yah?, Soalnya aku ada PR dari sekolah banyak.. banget jadi gak bisa nemenin Bapa." Ucap Dito dari balik pintu kamar Maydita.


Maydita yang sedang menulispun langsung mengalihkan pandangan kepada adiknya itu.


"Yah.. ko aku sih!!." Nada melas yang dilontarkan oleh Maydita terdengar jelas.


"May, Sekali-kali kamu jangan Dito terus!." Terdengar suara bernada tegas itu dari ruang tengah, Yaitu Ibunya Maydita.


"Tuh, Dengerin barusan Ibu ngomong apa!." Perintah Dito sebari meledek.


Mood Maydita lagi ancur ditambah lagi pembelaan Ibunya hanya untuk adiknya, Itu membuat Maydita muak.


"Ya Bapa udah berangkat dari tadi.. Kamu sih Lama jadi ditinggalin." Jawab Dito dengan santai.


"Terus gimana dong masa malem-malem gini jalan sendirian." Maydita memegang kepalanya dengan kedua tangan nya, Yang menandakan ia kebingungan.


"Jangan manja tuh pake aja motor Dito!." Selah Ibunya yang sedang anteng menonton sinetron.


Terpaksa Mayditapun mengendarai motor tersebut, Motor tersebut tidak sempurna seperti motor pada umumnya, Karena dibagian depan motor tersebut sudah tidak ada kerangka pelindung, Maklum saja motor tersebut pemberian dari majikan ibunya. Yang asal mulanya untuk rongsok dan sudah rusak, Tapi Dito memperbaikinya karena kebetulan ia suka membantu Pamannya dibengkel jadi ia sedikit-sedikit bisa memperbaiki motor.


Sampailah Maydita ditempat Bapa nya berjualan, Posisinya berada dipinggir jalan dekat konter.


"Dito mana May?." Tanya ayahnya sebari memberikan senyuman kepada Maydita.


"Dito katanya banyak PR jadi gak bisa kesini." Jelas Maydita kepada ayahnya. " Yaudah sini biar May aja yang terusin buat nasi gorengnya!." Terusnya.


"Yaudah nih,, Bapa nganterin pesenan ke toko obat yang diujung sana dulu ya!." Bapa Maydita sebari mengambil jinjingan yang berada di meja lalu pergi.


Pembeli nasi goreng hari ini sepi hanya beberapa orang saja yang membeli, Waktu menunjukkan pukul delapan malam. Pada saat ia istirahat sejenak ada seorang pria paruh baya yang menghampiri Maydita.

__ADS_1


Maydita bangkit dari tempat duduknya, dan langsung bertanya kepada bapa-bapa tersebut.


"Mau beli nasi gorengnya pak?, Silahkan duduk dulu!."


Lelaki paruh baya tersebut duduk dibangku tersebut lalu berkata.


"Saya mau beli dua porsi jangan pakai pedes dua-duanya saya kurang suka pedes." dan diakhiri dengan senyuman.


"Oh, Oke pak siap."Jawab Maydita dan langsung membuatkan nasi goreng untuk bapak tersebut.


Tampilan bapa tersebut terlihat rapih memakai jas hitam, Seperti semacam orang kantoran.


" Oh iya, Bapa kamu kemana?." Tanya Bapak tersebut.


"Bapak saya lagi nganter pesanan pak." jawab Maydita sebari mengaduk nasi goreng yang digorengnya.


"Begitu rupanya,, Kamu anaknya?."


"Iya pak."


"Oh berarti kamu tau saya?"


Maydita menoleh kebelakang sebentar melirik Bapak tersebut dan menjawab pertanyaannya.


" Maaf pak tapi saya tidak tau bapa hhe.." Jawab maydita sedikit kikuk.


"Kirain saya, Bapa kamu sudah menceritakannya kepada kamu, Bahwa saya adalah sahabat kecilnya." Bapak tersebut tertawa kecil.


"Oh begitu, Tapi Bapa belum pernah cerita sama saya hehe..."


"Oiya pa ini di bungkus atau dimakam disini?" Terusnya.


"Di bungkus saja!."


Setelah terjadi percakapan tersebut ada seorang pria yang menghampiri Bapak paruh baya tersebut dengan memanggilnya Ayah.


"Yah ko lama banget Aku nunggu lama banget loh, Pasti ini gara- gara situkang nasi gorengnya yang lemot, Iya kan?" Ucap pria tersebut dengan sangat ketus.


"Tia jangan begitu kalau ngomong Ayah gak suka, Orang ini salahnya Ayah yang ngajak May ngobrol terus." Jelas ayahnya yang sedikit kesal.

__ADS_1


Maydita melihat kearah pria tersebut Mulutnya membulat dan matanya melebar.


__ADS_2