
Setelah menunggu ribuan tahun lamanya. Reinkarnasi telah menemui sosok pria tampan yang sempat mati dalam kurun waktu cukup lama, musim berganti dan keadaan setiap logika manusia mampu ia tembus dengan perubahan zaman.
Putra tunggal dari kerajaan langit yang merupakan pewaris takhta satu-satunya terbangun dari mimpi panjang setelah menjalani empat fase. Fase penyesuaian zaman, fase mengkaitkan jiwa, fase menemukan tubuh baru dan fase pemberian napas panjang menuju sebuah kehidupan kekal.
Jiwa yang terkurung dalam tubuh pria berhati mulia itu, mampu membuat hati dari raja langit untuk mengambil jasadnya dari bumi. Ia adalah orang pilihan.
Peti kematian kembali terbuka setelah sebelumnya pernah terjadi, sebuah papan yang berantaikan besi itu pecah ketika seribu tahun telah berlalu. Tepat di tengah malam sebuah kerajaan langit. Titisan dari Raja Langit membentuk jiwa itu menjadi sebuah sosok yang akan hidup kekal abadi, hidup sejajar bersama malaikat berhati suci.
Berjalan lurus menatap setiap koridor peti yang berisikan jasad-jasad dari manusia pilihan yang sengaja diambil dan disematkan sebuah jiwa di dalamnya. Ya, menuju kehidupan setelah reinkarnasi terjadi pada seseorang berhati mulia.
Tubuh itu tak akan pernah busuk, hanya saja mengalami sedikit perubahan karena zaman yang terjadi beberapa musim.
Jantung berdegup kencang, jari-jemari bergerak setelah sebuah cahaya kehidupan baru menyinari sebuah peti mati dari ruang mayat kerajaan langit. Kala itu, pemuda yang memiliki nama—Reff membuka sebuah peti dan sedikit demi sedikit berdiri di atas peti yang mengurung tubuhnya seribu tahun lamanya.
Rantai pengikat tangan kanan dan kiri melemah dikarenakan jiwa itu telah dititiskan dalam tubuh seorang malaikat baru yang berhasil hidup dari cengkeraman reinkarnasi.
Baca cerita selengkapnya dalam novel yang mengkaitkan dunia fantasi dengan logika kehidupan manusia di bumi. Inilah seri novel berjudul : CROWN FOR MY ANGEL.( A masterpiece of Ahmad Ariandi, SE )
***
1
Di sebuah ruang praktikum, Reka berjalan sambil menenteng berkas-berkasnya berwarna hijau. Melirik ruang mayat yang kala itu bersinar dengan sebuah cahaya berwarna putih kebiruan.
Ia membatin. Itu cahaya apa, ya? Sinarnya seperti gue kenal, akan tetapi di mana? Kapan?
Berjuta pertanyaan tumbuh di dalam isi kepala Reka. Saking penasarannya, ia berjalan lima langkah dan sampailah di depan ruang mayat tersebut.
Membulatkan kedua bola mata setelah mendapati sosok bayangan berwarna hitam melintas beberapa kali dari balik pintu, ia pun terkejut dengan penampakan yang membuatnya harus bertukar tatap menuju tembok. Sementara tubuhnya, masih bersandar di pintu kaca ruang jenazah.
__ADS_1
Denada lewat di hadapanya dengan membawa alat praktikum untuk membahas rapat malam ini. Seraya menutup mulutnya dengan masker lengkap dengan sarung tangan karet berwarna kuning.
"Dena!" panggil Reka dengan nada sedikit tertahan.
Sontak pemilik nama berhenti dan menoleh ke arah samping kiri. "Iya, Rek. Lu manggil gue?" tanyanya untuk sekedar memastikan.
Reka pun mengangguk dengan keringat yang sudah membasahi seragamnya yang berwarna putih, khas dengan penampilan para pegawai rumah sakit.
"Sini." Tangan kanan tengah Reka lambaikan sebagai kode untuk sahabatnya mendekat ke depan ruang mayat.
Tanpa berpikir panjang, Denada mengikuti gelagat lambaian itu dengan berjalan lima langkah. Setelah sampai, ia sesekali melirik ke dalam sebuah ruang yang tak pernah ia tatap sebelumnya. Karena Denada bukanlah orang yang cukup berani untuk menatap ruang mayat tersebut.
"Rek, lu kenapa di sini?" celetuk Denada dengan menatap tajam adik angkatnya.
Reka pun langsung mengembuskan napas panjang dan membuang dari mulut bebarapa kali. "Tadi gue lihat cahaya di dalam ruang jenazah." Suara yang terdengar dari Reka begitu sangat menyeramkan, ditambah ekspresinya menyertai bait-bait kalimat ucapan terdengar sangat mengundang gemetar.
"Rek! Jangan ngomong itu, lu sadar, 'kan, kalau lagi bicara di ruang mayat. Entar ada yang terganggu di sini, ayo, kita masuk ruang praktikum lagi," ajak Denada dengan menelan ludah beberapa kali.
Reka menahan kepergian Denada. "Den! Lu mau ke mana?" tanya Reka bertubi-tubi hingga kakanya berhenti dan tak pagi lanjut berjalan.
"Rek, lu ga bisa baca kalau ruang ini—"
"Iya ... gue tau kalau ini ruang mayat. Enggak usah ulang-ulang gitu, deh," sosor Reka dengan wajah datar.
"Emang lu mau ngapain di sini?" tanya Denada lagi.
'Mungkin Denada belum saatnya tau akan apa yang gue lihat tadi, mungkin suatu saat ia akan memahami peristiwa janggal yang sering gue alami seperti saat malam ini,' celoteh Reka dalam hati.
"Sudahlah, Den. Kita balik lagi aja, jangan bahas apa-apa."
__ADS_1
Sementara lawan bicara menaikkan kening dan memanjangkan bibirnya. Ekspresi manyun dan seperti tengah bodoh dengan melihat gelagat aneh adik angkatnya yang tak lazim.
Akan tetapi, sepertinya dua orang itu tidak seperti biasanya. Ketika mendapati sebuah penglihatan aneh langsung teriak histeris hingga membuat para dokter, suster dan seisi ruangan kebingungan.
Dia Reka, lebih lengkapnya Reka Sazmitha Chintya Paraditha. Bekerja dalam sebuah rumah sakit spesialis yang menangani psikologi seseorang yang tengah terganggu. Kejiwaan, dan seseorang dengan profesi selalu mengkait-kaitkan pada logika nyata.
Sampailah dua orang wanita cantik itu dalam ruang rapat yang sudah penuh dan padat untuk membahas penyakit baru mulai muncul di daerah mereka, beberapa pasien mengalami depresi berat karena satu dan lain hal dalam kehidupan mereka.
Menatap di sebelah kiri sudah ada (Elektrokardiogram) disingkat dengan EKG. Untuk mendeteksi jantung seseorang yang telah lemah karena ketidakberdayaan melawan takdir.
Membolak-balikkan buku fiksi di atas meja. Reka adalah pecandu berat novel romance berbau fantasi, sehingga ia selalu terbayang hal-hal tak lazim ikut dalam mimpi buruknya setiap hari.
"Hei!" sorak Denada dari belakang.
Sontak Reka terkejut dan menatap tajam ke arah kakaknya.
"Lu kenapa? Seperti lagi mikirin sesuatu?" tanyanya seraya membawa dua buah beaker glass di tangan kanan dan kiri.
"Belakangan ini gue merasakan ada yang aneh sama diri gue, Den. Tetapi apa, ya?" Reka nanya balik.
"Udahlah, enggak usah dipikirin. Jangan depresi juga seperti pasien kita yang lainnya. Entar lu bisa gila kalau ngikut mikir yang enggak-enggak."
Reka memukul pundak saudara angkatnya. "Resek banget lu, Den. Gue bukan gila. Akan tetapi, yang gue lihat itu nyata banget."
Sementara Denada hanya menaikkan kedua pundaknya.
Mereka pun saling bekerja sama untuk menggabungkan dua senyawa dari dalam beaker glass. Hasil yang menakjubkan setelah mendapati sebuah perubahan warna begitu kemerlap dengan penuh sinar terpancar dari dalam gelas tersebut.
Namun, dalam hitungan detik kedua gelas retak dan pecah begitu saja. Sementara Dena mengambil beaker glass untuk percobaan kedua, wanita berambut panjang itu sangat bersemangat untuk mencari penawar dari penyakit yang sedang melanda warga di kotanya.
__ADS_1
Bersambung ...