
Melintasi sebuah kamar yang bertuliskan Ruang Bedah sebagai portal pemberitahuan di atas pintu, gadis berusia dua puluh tujuh tahun itu mendapati sebuah cahaya berwarna sama seperti ketika ia lihat beberapa hari di dalam sebuah mimpi.
Tak lazim memang, karena kamar tersebut tak pernah dipakai lagi untuk kegiatan operasi karena konon pernah terjadi sebuah keanehan.
Saking penasarannya, gadis dengan potongan rambut pendek itu masuk melalui pintu dengan jendela kaca di bagian atasnya. Ia pun menatap mantap setelah pandangan greget itu buyar akibat pantulan sebuah lentera merah dekat dengan alat-alat tajam untuk pembedahan.
Sesampainya di dalam ruangan tersebut, kembali ia dapati sebuah tumpukan putih dengan kemerlap. Bersinar cerah hingga membuat mata tak mampu untuk menatap lagi. Seketia ia memalingkan tatapan dan saling tukar pandang dengan cermin yang berbentuk segitiga.
Berjalan dua langkah ke depan, tanpa sengaja Reka menginjak tumpukan putih tersebut. Seperti kapas, dan terbang di udara dengan sekali sentuhan kedua kaki.
Merundukkan badan seperti tengah jongkok, gadis dengan mata sedikit kebiruan menatap lagi benda putih itu. Ia mengambil satu helai, menatap secara seksama dari atas ke bawah, depan dan belakang.
Ia pun berdialog sendiri dengan sehelai benda aneh itu. "Bukankah ... ini bulu burung merpati? Tapi ... kok, kelihatan seperti bagian sayap. Apakah di ruang ini pernah menjadi tempat persinggahan beberapa burung untuk bertelur?"
Menjeda sejenak seraya mengkerutkan kening. Kali ini Reka membatin. 'Ah, apa mungkin ini adalah sayap burung.'
Lalu, rasa penasaran itu tumbuh dan terus tumbuh dari dalam otaknya. Berpikir keras sambil mencium benda tersebut. Sepanjang ia hidup di dunia ini. Bahwa bulu sedikit berbau amis dan tidak sedap, akan tetapi benda yang saat itu ia pegang malah berbau sangat wangi dan halus seperti kapas.
Seraya membuka dompet, Reka memasukkan satu helai bulu itu di dalam bumbung berwarna kecokelatan. Kembali menangkap #suara yang datang dari arah luar pintu, ia mendapati seseorang sedang ada di sana. Menoleh dengan tatapan tajam, ia bangkit dari posisi semula dan berjalan menuju portal bertuliskan Ruang Bedah.
"Hei!" sorak seseorang dari belakang tubuhnya.
Reka menoleh, rupanya seseorang itu adalah Denada. "Eh, lu, Den. Gue kira siapa." Gadis berambut pendek kembali mengelus dada karena degup jantung yang tengah bergetar takut.
"Lu ngapain di sini, Rek? Bukankah jadwal lu udah habis hari ini?" katanya dengan nada ringan.
Perempuan yang selalu menenteng berkas berwarna hijau itu hanya mengangguk dua kali sebagai isyarat bahwa ia akan segera pulang. Dua langkah berjalan, Denada kembali bersorak.
"Rek!"
Pemilik nama putar badan seraya menoleh ke belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Loh, kok, enggak ada siapa-siapa? Perasaan tadi ada yang manggil gue. Akan tetapi telinga gue masih sehat, dan barusan di sana ada Denada."
Membuang firasat buruk. Ia kembali berjalan menuju depan teras dekat dengan taman rumah sakit, seketika ia berhenti karena melihat kakak angkatnya—bernama Denada tengah berada di sana dan asyik bercerita dengan teman-teman satu praktikum.
Merumuskan pertanyaan yang datang begitu saja dari dalam otaknya, berjalan dengan langkah lebar untuk menemui Denada di sana.
Napas ngos-ngosan dan keringat mengalir deras dari dahi gadis dengan tas kecil berwarna kecokelatan. "Dena!" panggilnya dengan nada seperti tengah dikejar setan.
"Eh, Rek. Lu kenapa buru-buru? Habis dikejar setan lu?" tanyanya dengan ringis tawa kecil seperti meledek.
Seketika dua orang yang ada di lokasi pergi. "Den! Gue masuk ke dalam dulu, ceritanya kita sambung besok." Dua sahabat mereka pergi meninggalkan Denada dan Reka.
"Rek, gue masuk dulu." Salah seorang dari sahabatnya memukul pundak lawan bicara dua kali.
"I-iya," lanjut gadis berambut pendek.
Menarik napas panjang dan menelan ludah berkali-kali. "Den, gue mau nanya serius sama lu."
"Nanya apa, Rek?" jawab Denada dengan mengeryitkan alis.
Gadis berambut panjang dengan behel berwarna hijau itu meletakkan tangannya di dahi sahabat. "Rek! Lu enggak lagi sakit, 'kan?"
"Ini serius, Den. Gue tadi lihat lu di sana." Cewek berambut pendek memasang tatapan serius.
"Mungkin lu kurang istirahat. Ayo, pulang," ajak Dena dengan menggandeng adik angkatnya yang mengerocos tanpa henti.
Sesampainya di rumah, kedua gadis dengan umur yang hampir sama, berdiri tegap setelah mendapati sebuah tumpukan bulu burung ada di depan pintu. Denada sepertinya sedang kepo akan benda tersebut yang berserak di bawah keset kaki.
Mengambil satu helai dan mencium benda tersebut.
"Rek, lu sejak kapan melihara burung merpati?" ia nanya dengan meletakkan sehelai bulu itu di hidung adik angkatnya.
__ADS_1
Kok, bentuknya sama seperti yang gue ambil di ruang bedah tadi? Sebenarnya ini sayap apa, sih? Perasaan gue enggak pernah memelihara burung, celotehnya dalam hati.
"Rek!"
Sontak lawan bicara membuyarkan lamunannya. "Eh," sahut gadis berambut pendek itu dengan menggaruk kepala.
"Gue nanya malah dikacangi," omel Denada lagi.
"I-iya, gue seminggu ini memelihara burung merpati. Maklumlah, di rumah enggak ada orang. Jadi gue cari sahabat." Jeda sejenak. "Kita masuk aja, yuk!" ajak Reka dengan menggandeng kakak angkatnya ke ruang tamu.
Denada duduk di atas kursi sofa berwarna hitam. Kala itu, gadis dengan mata sedikit kebiruan membawa sehelai bulu ke dalam kamarnya. Ditambah dengan tas yang ia letakkan di samping bulu tersebut. Selang beberapa menit menatap benda aneh itu, suara teriakan terdengar dari ruang tamu.
Bergegas meninggalkan kamar, Reka pergi menemui kakak angkatnya.
"Ada apa, Den? Kok, lu teriak-teriak dari tadi."
Dengan cengir yang menghias di wajah lawan bicara, ia pun berkata. "Gue haus. Please ... minta minum."
Gadis dengan sebutan nama Erek itu memukul dahinya. "Astaga! Gue kelupaan kalau lu ada di rumah, bentar-bentar. Biar gue bikin minum dulu."
"Yang banyak, Erek ...," teriak gadis di atas sofa berwarna hitam.
Hari ini memang begitu membuatnya lelah. Selalu galfok, salfok dan lain sejenisnya. Banyak kejadian tak masuk akal terjadi begitu saja, belum lagi benda-benda aneh menyertai gadis dengan ejekan Erek itu di sepanjang rumah sakit.
Kala itu, ia membuka sebotol sirup berwarna merah merona dan mengangkat dua gelas minuman ke udara. Seketika kedua bola mata menatap girang, terlihat pantulan seseorang pria dari gelas kaca tersebut.
Seperti ada seseorang di belakang tubuh gue. Siapa, ya? batinnya.
Saking penasarannya, ia pun memutar badan tiga ratus senam puluh derajat. Tanpa sadar gadis berambut pendek membanting dua gelas tersebut.
Sosok itu enggak ada, melainkan hanyalah sebuah karpet yang berdiri tegap. Denada datang menemui adik angkatnya yang telah berdiri kaku seperti patung batu.
__ADS_1
"Rek! Rek! Rek! Lu kenapa?" tanyanya.
...Bersambung ......