CROWN FOR MY ANGEL

CROWN FOR MY ANGEL
7. DIMENSION OF DEATH


__ADS_3

3


Seperti tengah terpukul benda tumpul berkali-kali, sosok wanita yang sekarang hidup sendirian baik di rumah maupun di tempat kerja. Dia adalah Denada, wanita berambut panjang sebagai tempat curhatan hati adik angkatnya ketika masih ada di sisinya.


Melintasi beberapa kali ruang UGD seraya menoleh kembali dari balik pintu, keadaan yang terbujur kaku bersama dengan pendeteksi denyut jantung yang semakin hari semakin melemah.


Tepat satu minggu kehilangan canda tawa dari adik angkat, ia pun mencoba untuk masuk ke dalam ruangan yang siapa pun tak boleh menemui tubuh kaku tersebut.


Seseorang menyentuh pundak gadis berambut panjang dengan kacamata bulat. "Dena, kamu mau apa di ruangan ini?"


Karena sedang ada yang memergoki aksinya itu, ia pun memutar badan ke belakang. "Dok! Gimana keadaan Adik saya?" tanyanya serius sambil membawa beaker glass di tangan kanan.


Lawan bicara menarik napas panjang beberapa kali, ia pun menyentuh pundak dari Denada. "Keadaan Adik kamu, semakin hari semakin memprihatinkan. Apalagi ia sepertinya susah untuk bernapas meski sudah dibantu dengan alat tercanggih di rumah sakit kita."


Ia jeda ucapan sejenak. "Dena, kamu yang sabar. Doa, 'kan yang terbaik untuk kesembuhan Reka. Hanya sebuah keajaibanlah yang bisa membuatnya kembali sembuh, untuk bisa hidup kembali sepertinya ...."


"Sepertinya apa, Dok? Beri tahu saya," sosor gadis bermata kecokelatan seraya mencengkeram kedua kerah baju lawan bicaranya.


Menarik napas panjang, untuk menetralisirkan emosi saat ini. "Sepertinya ia akan kehilangan nyawanya untuk selama-lamanya."


"Enggak!" hardik Denada sangat serius, kemudian. "Jangan berkata kalau Adik saya akan mati, dia akan hidup bersama saya! Katakan itu, dok!" bentaknya lagi.


"Denada! Semua sudah ketetapan Tuhan. Kita enggak bisa berbuat apa-apa lagi sebagai manusia selain mendoakan yang terbaik, mungkin malaikat malam ini akan memberikan mukjizat kepadanya."


Sontak gadis itu menangis histeris, ia pun menoleh ke arah tubuh kaku yang sudah enggak berdaya di atas kasur berwarna putih, lengkap dengan selimut hijau muda.


Dua langkah berjalan menuju tubuh tersebut, sementara para dokter yang sedang memadati lokasi ruang gawat darurat melepas masker mereka dan menatap lirih gadis yang merupakan rekan kerja mereka di rumah sakit.


Denada yang kala itu duduk di samping tubuh—Reka, menatap dengan air mata yang mengalir deras.

__ADS_1


"Reka ... lu enggak boleh mati, Dik. Gue enggak bisa hidup tanpa lu di dunia ini." Gadis berambut panjang itu mencium tangan adiknya yang sudah pucat seperti tak berdarah lagi.


Suasana semakin dramatis, kendatipun peristiwa itu akan terjadi. Yaitu maut sebagai pemisah dua wanita yang hidup sebatang kara sejak kecil, memiliki latar belakang yang sama. Kehilangan kedua orang tua di usia tujuh hari selepas kelahiran.


Tuhan saat itu seperti tengah mempermainkan kehidupan mereka, #bertemu dalam ruang kehidupan yang kelam. Hingga akhirnya berpisah dengan cara sangat tragis.


Perawat yang kala itu berjalan menemui gadis yang sedang terisak tangis, menyentuh lembut rambut panjangnya. Lalu, ia berujar. "Den ... jangan ratapi semua yang telah menjadi ketetapan Tuhan, ia punya rencana besar dibalik dari peristiwa saat ini."


Seraya menatap mantap perawat wanita yang kala itu ada di sampingnya dengan argumentasi seperti para dokter lainnya katakan. "Kamu mau tahu kenapa saya seperti ini! Kamu mau tahu!" hardik Denada ngegas.


"Iya, Den. Saya tahu apa yang kamu rasakan saat ini, karena saya juga enggak punya orang tua lagi sepertimu."


Sontak lawan bicara semakin emosi dan membanting gelas yang ada di atas meja. "Tinggalin saya sendiri! Biarkan saya menemani Adik saya apa pun yang terjadi malam ini. Kalian sama saja semua!"


Jeda sejenak. "Kalian hanya bisa mengatakan kapan manusia akan mati! Kalian bukan Tuhan, dan enggak ada satu pun manusia yang berhak mengatakan demikian pada Adik saya."


Sementara para dokter dan perawat keluar ruangan. Tak bisa berkata banyak lagi, mereka menuruti kehendak rekannya yang ingin menghabiskan malam ini bersama tubuh adiknya.


Di sepanjang jalan menuju ruangan masing-masing, para dokter dan perawat sangat kasihan pada keadaan Denada yang semakin hari seperti orang gila. Menangis sendiri, tertawa sendiri.


Perawat wanita bertopi putih berucap. "Dok! Sepertinya Denada telah mengalami depresi berat."


"Iya, Rin. Saya juga sudah menebak itu telah terjadi padanya."


"Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya menerima ini semua, Dok? Jujur saja, saya enggak tega banget melihat Dena seperti itu terus-terusan."


Sementara dokter yang menjadi lawab bicara hanya menyentuh kepalanya dengan tangan kiri.


"Ya sudahlah, biarkan saja Dena tidur di ruangan UGD bersama Adiknya. Mungkin itu adalah cara terbaik untuk bisa membuatnya menerima keadaan ini," lanjut para dokter yang tergabung sebagai tim medis bedah.

__ADS_1


Erin Fy adalah perawat paling sabar yang dimiliki rumah sakit H. Anwar Mangunkusumo. Ia pun memasuki ruangannya diikuti para dokter yang juga meninggalkan lokasi paling ditakuti oleh sejuta umat.


3


"Rek! Lu ingat enggak, waktu kita masih kecil. Ketika duduk di bangku sekolah dasar. Lucu banget, ya. Lu waktu itu enggak siap nyelesain tugas dari guru, dan gue yang sudah selesai malah ngaku kalau enggak selesai juga. Buat apa coba? Ya ... buat memani lu dihukum di depan kelas."


Denada yang sedari tadi berbicara sendiri tanpa balas kata dari lawan bicara. Arloji menunjukkan pukul 24:00. Tepat tengah malam, gadis berambut panjang itu menutup matanya di samping tubuh kaku Reka.


Dari sudut kamar UGD muncul sosok wanita berambut pendek, ia adalah roh dari adik Denada bernama—Reka. Gadis berambut pendek itu sempat pergi beberapa hari menuju kerajaan langit. Di sepertiga malam, ia datang menemui kakak angkatnya, tersenyum manis dan berdiri mengelus rambut panjang gadis berhati mulia.


Tepat bulan purnama, Reka menggandeng roh Denada untuk keluar dari tubuhnya dan menikmati dimensi setelah kematian.


"Reka! Lu sejak kapan ada di sini?" tanya Denada serius.


"Gue baru aja balik dari istana kerajaan langit," respons adik angkat yang paling ia sayangi.


"Eh, lu yakin bisa menembus langit? Bagaimana caranya?" lanjut Si Kakak dengan nada suara penasaran.


Seketika cewek berambut pendek menunjuk sudut balkon rumah sakit, seorang pemuda bersayap putih sudah ada di sana, berdiri tegap membelakangi mereka berdua.


Dena menatap mantap setelah melihat sosok menakutkan itu. "Dia siapa, Rek?" tanyanya dengan sangat gemetar.


"Dia Reff."


"Reff? Siapa Reff?" timpalnya lagi.


Menggandeng tangan kakak angkat yang sangat penasaran, gadis berambut pendek itu berjalan dua langkah. "Dia adalah raja dari istana langit, selama ini mimpi gue kenyataan. Sosok malaikat yang sering hadir di mimpi gue ada di sini."


Seketika pemuda tampan bermahkota kebiruan membuka lebar kedua sayapnya dan pergi meninggalkan wanita dengan jutaan pertanyaan yang datang secara bertubi-tubi.

__ADS_1


Sang fajar mulai menggandeng matahari untuk pagi yang sangat cerah. Reka mengembalikan roh kakaknya ke dalam tubuh semula, seraya pergi menuju ke istana langit bersama Reff yang sudah menunggunya di balkon ruang praktikum.


...Bersambung ......


__ADS_2