CROWN FOR MY ANGEL

CROWN FOR MY ANGEL
11. HE IS A GUARDING ANGEL


__ADS_3

1


"Gue dinyatain udah meninggal."


"Terus, lu hidup lagi gitu?" tanya Sella.


Mengembuskan napas panjang seraya menadahkan kepala di atas meja.


Reka mengangguk dua kali. "Gue ... mati suri."


"Terus, lu kenapa pakai acara dandanan serba putih keliling taman rumah?" omel Dena dengan nada mulai ngegas.


Jeda sejenak. "Gue cuma cari bandana yang seminggu lalu sempat hilang."


Sambar kedua gadis di hadapannya serempak. "Oh ... tapi enggak apa-apa juga, sih. Akhirnya lu enggak jadi mati. Ya, enggak Sell ...."


Gadis bertubuh mungil itu meringis dengan ekspresi semringah dan mengangguk dua kali.


"Tapi, Sell. Tadi kenapa lu bilang enggak lihat hantunya Reka? Padahal yang nutup horden, 'kan, lu." Dari sebelah kiri gadis berambut panjang mengomel serius.


Lawan bicara hanya tertawa dengan tatapan sangat hati-hati. "He he he ... gue pura-pura aja, biar lu enggak ketakutan. Kalau hantunya Reka—tadi gue lihat, kok."


"Yey! Lu mah, resek banget. Gue kira kalau gue punya indra keenam."


Malam itu di sebuah rumah kontrakan, tiga gadis dengan umur yang tak jauh terpaut. Menghabiskan curhatan seputar kehadiran sosok yang sempat dikabarkan meninggal dunia beberapa hari lalu, tepat di rumah sakit tempat mereka berkerja.


Sella adalah gadis psikolog yang juga tergabung sebagai karyawan rumah sakit paling fenomenal di tanah air, sempat beberapa kejadian mengundang banyak pasang mata di dunia nyata maupun awak media.


Mengabarkan sosok kejadian janggal terjadi di sana, kemunculan seperti malaikat bersayap putih, serta mayat yang hilang secara tiba-tiba.


"Rek!" sorak Sella tertahan.


Seketika pemilik nama membuyarkan lamunannya. "Em, ya. Ada apa?" celetuknya seraya menatap tajam.


"Gue mau nanya sama lu, boleh?"


"Boleh, tanya aja."


Menarik napas panjang dan menoleh ke samping kiri, di sana Denada merapatkan posisi duduk. Pasti ia sudah tau gelagat sahabatnya akan bertanya seputar cerita horror.


"Selama lu meninggal dunia. Apa, sih, yang lu rasain saat itu?"


Jeda ucapan sejenak, seraya menatap mantap wanita bertubuh mungil bernyali sangat berani. "Gue ... gue ...."

__ADS_1


Kedua gadis di depan lawan bicara memajukan wajah sedikit demi sedikit untuk menanti ucapan yang keluar terbata-bata dari orang yang telah dinyatakan mati suri.


"Gue, pergi ke suatu tempat yang ramai dengan makhluk bersayap putih."


Sontak pemberi pertanyaan teriak di posisi duduknya.


"Apa!" ia jeda sejenak dan menelan ludah. Lalu, Sella pun menatap ke samping kiri tepat di mana Dena menggandeng tangannya erat. "Lu kenapa, Den! Kayaknya enggak serem banget ceritanya," omel Sella seraya menyingkirkan wajah yang menempel di tangan kiri.


Reka pun meringis lucu.


"Terus-terus ... kenapa lu bisa sampai bumi lagi, sih. Sumpah otak gue enggak nangkap seputar pembahasan malam ini, seperti kejadian dunia fantasy tau enggak."


"Udah dong ... jangan bahas itu lagi, guys ... gue takut banget tau," celetuk Dena sambil memutar badan ke belakang.


Terpaan angin membanting jendela kaca dengan sangat keras dan #kursi di balkon juga bergeser sendiri. Membuat kedua gadis yang memiliki jiwa komedian bangkit dan memasang posisi kuda-kuda.


"Wes! Wes! Ada yang mau ngajak tawuran, nih," ucap Sella.


"Gue bilang juga apa, jangan bahas itu lagi dong. Kita tidur aja, yuk," ajak Dena dengan menggandeng adik angkatnya.


Ketiga gadis yang merupakan sahabat sejak duduk di bangku SMP menutup kedua bola mata, suasana tanpa setitik cahaya membuat mereka gampang untuk tidur.


Antara sadar dan tak sadar, suara bunyi terdengar di telinga Reka yang baru saja kembali dari kerajaan langit. Kembali memutar kenangan yang pernah terjadi beberapa waktu silam ketika duduk di bangku sekolah dasar.


Dalam satu hari kehilangan tiga orang tersayang dengan bentuk tubuh yang sudah terpisah dan tak lagi utuh. Meratapi semua bayangan muncul dari dalam otaknya. Ia tak mampu lagi untuk menghabiskan malam ini dengan tenang, entah kenapa, kejadian ketika trauma berat melanda di masa kanak-kanak kembali terputar lagi.


Setelah kematian yang ia alami beberapa hari lalu, segala makhluk dunia lain mampu ditembus dengan kedua bola mata. Membuka lebar mata batin dan ia adalah orang terpilih sebagai titisan anugerah dalam melihat sosok aneh di sekitarnya.


Pagi telah tiba, masih dengan rutinitas seperti biasanya, tiga gadis yang saat itu sudah sampai di depan koridor rumah sakit berjalan santai untuk kembali bekerja.


Eh, lihat, deh! Bukankah itu Reka?


Iya, itu Reka. Jadi, dia hidup lagi.


Bukannya seminggu lalu dia sudah meninggal.


Iya, mayatnya juga sempat hilang beberapa hari lalu.


Lantas! Kenapa bisa kembali lagi ke dunia? Apakah itu hantunya.


Hus! Mana ada hantu pagi-pagi.


Begitulah reaksi para pasang mata yang mendapati siluet sosok wanita cantik dengan wajah lebih bugar dari biasanya. Ia adalah Reka, setelah banyak orang mengenal ia memiliki wajah pucat, tetapi hari ini tampak sangat segar dan memesona.

__ADS_1


Para dokter, suster dan perawat yang kala itu memegang berkas seraya berdiri di pinggir koridor menatap heran dan bingung. Gadis yang telah mati, kini hidup kembali.


Sampailah ia di depan ruang praktikumnya, mengambil kunci pintu dan segera memasuki ruangan tersebut. Beberapa menit duduk di atas kursi, sebuah ketukan terdengar dari luar ruangan.


"Masuk," suruh Reka dengan sangat lembut seraya membuka berkas berwarna hijau.


Seorang wanita yang merupakan pekerja untuk mengantarkan kopi pada karyawan seketika terdiam di depan pintu, ia menatap mantap karena melihat sosok gadis berambut pendek lengkap dengan kedua sayap yang membentang di belakang tubuhnya.


Ia pun membuang tatapan menuju ujung sudut ruangan. "Permisi ...," katanya sangat takut.


"Eh, Bibi. Kenapa, kok, kayak lihat hantu gitu?" tanya Reka seraya memberhentikan aktivitasnya tuk membuka berkas.


Ia membatin. 'Kok, si bibi heran gitu melihat ke arah gue. Emang ada yang aneh, ya. Sama penampilan gue hari ini.'


"Hallo ... Bi, kok, melamun?" lanjut Reka melambaikan tangan.


"Eh, enggak. Hanya terpesona aja sama kecantikan, Mbak Reka."


Lawan bicara tersenyum semringah. "Ah, bisa aja."


Seketika wanita paruh baya itu memalingkan wajah. "Oya, bibi kembali lagi ke dapur. Permisi ...."


"Iya, Bi. Terima kasih," ucap Reka sangat senang.


"Iya, sama-sama."


4


'Itu, kok, di belakang tubuh Mbak Reka seperti ada sayap lebar banget. Setelah kemarin geger dinyatain meninggal sekarang hidup lagi, kok, bisa gitu. Semakin bingung aja sama kejadian di rumah sakit ini,' batinnya di balik tembok dekat dengan ruang jenazah.


"Dor!" sorak Denada dengan meringis.


"Astaga! Ih, Bu Dena ngagetin bibi aja," ujarnya dengan mantap greget.


"Lagi ngapain melamun di situ? Entar kesambet loh, lihat itu." Tunjuknya menuju portal bertuliskan Ruang Mayat.


Menarik napas panjang seraya menatap serius.


"Ih, ngeri bibi kalau udah baca itu." Jeda sejenak. "Ya udah, bibi ke dapur lagi, Bu Dena."


"Iya ... jangan melamun lagi," ledek gadis berambut panjang dengan menatap geli.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2