CROWN FOR MY ANGEL

CROWN FOR MY ANGEL
5. INNESTABLE


__ADS_3

"Tidak ...!"


Denada menyentuh kedua pipi adik angkatnya. "Rek! Reka! Bangun!"


Dalam samar, gadis berambut pendek itu mencoba membuka mata dengan perlahan. Sedikit demi sedikit pandangan itu tampak jelas dan wajah seorang wanita yang sepertinya dikenal tengah berada di hadapan.


"Astaga! Gue cuma mimpi."


Seketika Denada menyentuh kening adik angkatnya yang sudah sadarkan diri.


"Lu kenapa, Rek?" tanyanya.


Lawan bicara hanya menoleh ke arah kanan dan kiri seraya menelan ludah berkali-kali. "Den, gue ada di mana sekarang? Apa gue udah mati?" katanya dengan melempar pertanyaan yang datang bertubi-tubi dari gadis berambut pendek.


Menyodorkan segelas air minum pada gadis yang sedari tadi mengigau, mencoba untuk sedikit meredahkan emosi yang kala itu tengah Reka rasakan.


"Nih, minum dulu." Membangkitkan tubuh mungil itu di atas kasur.


Selesai meneguk segelas air mineral hingga tandas, gadis yang menjadi pusat perhatian dari saudara angkatnya menoleh menuju kedua alis Denada.


"Den! Gue masih hidup?" tanyanya dengan sangat serius.


"Lu masih hidup, kok, Rek. Emang sejak kapan lu mati?" saling melempar pertanyaan. Akan tetapi, tak ada jawaban pasti dari keduanya. Sehingga memupuk rasa bingung itu semakin tumbuh dalam benak masing-masing gadis yang sedang diruntuk sebuah kejadian aneh dalam hidup.


Merasa sangat kasihan pada saudara sekaligus sahabatnya sedari orok. Akhirnya, Denada menarik lagi selimut putih tuk menutup sebagian tubuh mungil itu di sampingnya.


"Untuk hari ini, lu enggak usah kerja dulu, Rek. Lu istirahat aja di rumah," celetuk Dena seraya mengembuskan napas panjang.


"Ah, enggak. Gue enggak mau di rumah, pokoknya gue harus ke rumah sakit. Banyak pasien-pasien gue yang menanti di sana," bantah Reka dengan menbuang selimut putih itu ke samping tempat tidurnya.

__ADS_1


Tak mampu tuk mencegah, Denada hanya menggeleng di atas kasur berwarna serba putih. Sementara gadis berambut pendek itu memasuki kamar mandi untuk segera bergegas.


Cewek yang selalu mengikat rambut dengan tali rafia membatin. 'Sungguh mulia jiwa lu, Rek. Apa pun keadaan yang lu alami, enggak menyurutkan semangat lu untuk tetap bekarja seikhlas hati. Gue salut banget sama lu.'


Berjalan berdua bersama adik angkatnya sedari kecil, Denada dan Reka saling tukar tatap. Menarik tas ransel berwarna cokelat. Tiba-tiba, mereka dikagetkan dengan sebuah penampakan yang tak lazim. Membuat sekerumun orang memadati lokasi tepat di depan ruang praktikum mereka setiap harinya.


Di sana sudah ada Jack yang merupakan pemuda dari mantan kekasih Reka dua tahun lalu. Ia menarik tangan sahabatnya erat untuk mendekat ke pusat kerumunan tepat di depan pintu bertuliskan UGD.


Gadis dengan berkas yang ia bawa di tangan kiri memukul perlahan pundak pemuda tampan ketika itu mambawa kamera di atas dada. "Jack!" panggil Reka dengan nada ringan.


Karena tengah ada yang memukul pundaknya, pemuda itu menoleh ke belakang. "Iya, Rek. Ada apa, ya?" tanyanya seraya mengedarkan senyum kecil.


"Lu ngapain di sini? Enggak biasanya pagi-pagi gini lu sampai depan ruang praktikum gue."


Pemuda berambut gondrong itu menggaruk kepalanya. "Eh, ini ... gue mau meliput berita di rumah sakit yang sedang viral di social media."


Seketika dua gadis yang merupakan dokter di rumah sakit tersebut membungkam. Reka pun melirik ke arah kiri dengan tatapan mantap, ia merumuskan pernyataan yang datang dari mulut pemuda—mantan kekasihnya.


Jangan pura-pura enggak tahu. Udahlah jangan sembunyi-sembunyi lagi dengan sosok kedatangan pria bersayap di rumah sakit ini. "Celetuknya." Sementara kedua gadis itu membungkam, karena mereka berdua tak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan Jack.


Denada menyiku tangan kiri gadis di sampingnya dan menarik tangan Reka sangat erat. Ia berjalan dengan langkah laju menuju samping ruang praktikum tepat di sebelah ruang kosong yang mengikat pintu tersebut dengan #Rantai.


"Jack! Entar kita sambung lagi, kami ke belakang bentar!" teriak Dena dengan nada ngegas.


Sampailah dua gadis itu di depan ruang praktikum tepatnya di samping kamar dengan portal bertuliskan Runang Jenazah. Mereka membulatkan kedua bola mata seraya memastikan bahwa percakapan itu tak di dengar oleh siapa pun.


Wanita dengan ikat rambut tali rafia menatap Reka tajam. "Maksud dari Jack prihal berita viral itu apa, ya? Gue bingung banget sama wartawan yang memadati ruang praktikum kita."


Membalas dengan wajah bingung, gadis berambut pendek sebagai lawan bicara tak mampu menjawab. Hanya bisa menarik napas panjang dan menggeser sedikit tubuhnya, karena para dokter tengah memasuki ruang tersebut melalui jalur samping juga.

__ADS_1


"Den! Emang sejak kapan di rumah sakit kita ini ada pemuda bersayap? Udah seperti cerita dongeng aja tau enggak," bisik Reka dengan membuang tatapan menuju ruang jenazah.


"Oya! Gue baru ingat, Rek."


"Hmmm ... ingat apa lu, Den?" sambar wanita berambut pendek dengan tas ransel berwarna kecokelatan di belakang tubuhnya.


Menjeda ucapan sejenak. "Gini, ya. Kemarin, ketika kita pulang ke rumah, lu lihat tumpukan bulu burung yang ada di depan pintu rumah gak?"


Seraya memutar kembali kejadian kemarin, Reka merasa sangat pusing untuk memaksa otak mengingat kejadian aneh itu.


"Gue pusing banget, Den. Apa yang terjadi sama gue?" tanyanya seraya menekan kepala dengan kedua telapak tangan.


Membantingkan tubuh di lantai, Reka tak mampu untuk membuka kedua bola matanya.


Dua hari kemudian ...


3


"Sepertinya Reka sedang mengalami depresi berat, Den," celetuk dokter dengan membawa 'automated external defibrillator' di tangan kanan dan kirinya.


"Dok! Please, lakukan sesuatu untuk Reka. Saya mohon, cuma dia orang satu-satunya yang saya punya di dunia ini." Denada menatap dengan deraian air mata yang mengalir deras dari kedua bola matanya.


Menempelkan wajah yang sudah lebam karena setiap hari menangisi akan keadaan adik angkatnya. Bahkan, 'Elektrokardiograf' yang ada di samping tubuh gadis itu mungkin melemah setiap jamnya tanpa disadari.


Beberapa kali pingsan dalam ruangan praktikum karena teringat masa-masa indah ketika bersama dalam pekerjaan, Denada memutuskan untuk berdiam diri dalam ruangannya tanpa menanggapi satu orang pun pasien yang datang berkunjung tuk menanya keluhan seputar penyakit.


Dia Denada, lebih lengkapnya Denada Prawiryo Pujiastuti. Bekerja dibidang 'Psikitier' di salah satu rumah sakit ternama yang ada di Indonesia. Selalu mengikat rambutnya dengan tali rafia warna-warni, ia adalah orang yang bersifat hamble pada siapa saja.


Berteman dengan Reka sejak mereka berdua lahir di rumah sakit yang sama, waktu yang sama, serta harus menerima insiden sama yaitu kehilangan orang tua yang meninggal dengan cara tak wajar.

__ADS_1


Hidup berdua seperti saudara kandung, membuatnya selalu memberikan perhatian penuh untuk Reka yang ia anggap lebih dari adik kandungnya. Para dokter simpang siur melintasi Denada yang sedang melamun tanpa beranjak dari atas bangkunya, sejak mendapati keadaan yang semakin parah telah Reka alami hari ini.


...Bersambung ......


__ADS_2