
"Den! Dena ... bangun, sudah pagi."
Suara yang terdengar sangat pasih di kedua telinga, membuat gadis berambut panjang itu membuka mata secara spontan.
"Astaga! Sudah pagi, ternyata gue cuma mimpi," celetuknya seraya menatap sumber dari panggilan itu.
Ia menoleh kanan dan kiri ruang UGD rumah sakit. Akan tetapi, di lokasi tak ada seorang pun. Hanya ada ia dan Reka yang masih terbujur kaku dengan selang oksigen terlepas dari lubang hidung.
Tak beberapa lama, air mata mengalir dari lekuk pipi adik angkatnya. Seketika gadis berusia hanya berbeda satu haru dengan—Reka menghambur keluar ruangan, alat (Electrocardiogram) atau disingkat dengan ECG tak lagi mengeluarkan bunyi.
Gadis itu berteriak histeris. "Tolong ...."
Tak seorang pun mendengarnya. Lalu, ia kembali berteriak dengan frekwensi nada lebih keras. "Tolong ...."
Seketika para dokter dan perawat berlari menemui sumber suara, tepat di depan portal bertuliskan 'Ruang Gawat Darurat' sekelompok tegaga medis membawa alat (Automated External Defibrillator) atau di singkat dengan AED.
Sementara Denada sudah menangis tanpa henti di depan pintu ruangan. Tidak berapa lama, ketiga dokter tersebut menyerah dan membuka kacamata pelindung dari sinar yang menembus pupil, hal tersebut dapat membuat kebutaan jika tak memakai alat pelindung.
Membuka sarung tangan sebelah kanan dan kiri, seketika perawat wanita dengan menggunakan topi berwarna putih berbentuk segitiga menutup jasad Reka yang benar-benar kehilangan nyawanya.
Sontak sang kakak menambah episode tangisannya yang sangat mendalam. Ia pun berjalan lambat menuju tubuh kaku yang sudah tertutup selimut berwarna hijau, air mata berlinang deras dari lekuk pipi membasahi kain lembut sebagai tabir kematian.
"Reka ... bangun, Rek. Lu enggak boleh mati sekarang. Gue enggak punya siapa-siapa di dunia ini." Gadis berambut panjang itu mengambil tangan adik angkatnya dan mencium tanpa melepasnya begitu saja.
Perawat wanita dan para tenaga medis yang ada di ruangan tersebut juga terhanyut sedih.
Seseorang tengah berucap lirih dari belakang tubuh sahabatnya. "Den ... sabar, ikhlaskan kepergian Adik lu, ia sudah tengang bersama pelukan Tuhan."
"Dia belum mati, Rin ... Adik gue enggak mungkin mati."
Sambarnya lagi dengan nada sama. "Den ... semua makhluk yang memiliki nyawa pasti akan mati, enggak ada yang kekal di dunia ini. Jangan ratapi kepergiannya, biarkan ia tenang di sini Tuhan."
"Diam!" bentak Dena sekuat tenaga. "Reka belum mati, dia masih hidup lihat tubuhnya #perubahan apa yang tampak jelas, sehingga kalian mengatakan dia sudah mati," lanjutnya.
Menadahkan kepala selang beberapa menit, ia pun seperti tengah kerasukan sosok makhluk dari dimensi lain. Tawa kekeh tengah ia keluarkan. "Ha ha ha ...."
__ADS_1
"Dok! Bagaimana ini. Dena sepertinya depresi berat," celetuk perawat wanita yang berjalan mendekati para tenaga medis.
Para pemuda sebagai tim pembawa jenazah telah tiba di dalam ruangan tersebut. Mereka membawa mayat Reka untuk bersama dengan mayat lainnya dalam ruang yang telah menjadi ketentuan rumah sakit.
"Kalian mau apa!" bentak Denada dengan menatap kesal.
Kedua pemuda itu membawa secara paksa jenazah wanita berambut pendek.
"Jangan bawa dia, gue mohon jangan bawa Reka pergi."
"Dena! Adik lu udah meninggal, terima kenyataan," cetus kedua pemuda itu dengan nada suara ngegas.
Gadis berambut panjang berteriak histeris sebelum akhirnya pingsan dalam ruang yang menjadi peristirahatan terakhir adik angkatnya.
***
4
Malam itu, di sebuah ruang praktikum. Terdengar benerapa suara yang sangat aneh. Tepat di dalam ruang tempat biasa Reka menjalani rutinitasnya dalam menangani berbagai keluh kesah para pasien.
Perawat wanita yang sedang melintas menatap mantap menuju pintu ruang milik Reka. Di sana, di portal bertuliskan (Ruang Psikolog) menjadi sebuah momok mengerikan setelah kepergian sosok wanita cantik berhati lembut tepat di hari, Senin pagi.
Sementara wanita di samping sudah gemetar melihat kejanggalan yang tampak jelas, seraya menelan ludah berkali-kali, mereka sampai di depan pintu ruang praktikum.
Erin berdiri di dinding pintu sebelah kiri, semenatara Siska berada di sebelah kanan. Keduanya sama-sama memasang wajah takut, sepanjang mereka bekerja di rumah sakit, baru malam ini terjadi kejadian aneh.
Erin berbicara sedikit berbisik. "Sis! Lu buka pintunya."
Sementara lawan bicara yang membawa serung tangan sedikit mendesah. "Ah, enggak. Gue takut banget."
"Ya elah ... biasa juga lu sering jaga malam bersama para mayat," celetuk Erin dengan nada was-was.
"Gue emang biasa jaga mayat, tapi enggak pernah setakut ini, Rin. Lu aja gih, yang buka pintunya."
Saling tolak menolak untuk membuka pintu yang membawa—cahaya berkilau sedikit keemasan. Kedua perawat tetap berdiri tegap di balik pintu ruang praktikum.
__ADS_1
Seketika pintu tersebut terbuka lebar dengan suara sangat menyeramkan. Saling bertukar tatap, Erin dan Siska membulatkan mata girang.
"Gue bilang juga apa, Rin. Pasti ada yang enggak beres di dalam sana," tunjuk Siska dengan sangat gemetar.
Wanita dengan arloji berwarna hitam di tangan sebelah kiri berujar. "Kita pergi aja dari sini, yuk."
"Iya, Rin. Dalam hitungan ketiga kita lari."
Jeda sejenak, Siska pun kembali melanjutkan kata-kata dengan memberi aba-aba. "Satu ... dua ... tiga ...."
"Hantu ...!" teriak mereka berdua secara serempak.
Dua menit berlari dan mereka berhenti di depan ruang dengan cahaya lampu terang. Kala itu, Denada melintas dari samping koridor sambil membawa satu gelas air hangat. Ia mendapati dua orang perawat yang merupakan sahabatnya di rumah sakit dengan napas ngos-ngosan.
"Hai!" sorak Dena dengan nada keras.
Kedua perawat wanita yang sedang menutup mata berteriak. "Hantu ...!"
"Jangan ganggu gue, Rek ... please ... kalau gue ada salah selama ini maafin gue," lanjut Siska dengan membentuk posisi jongkok.
"Hei! Gue D E N A D A." Gadis dengan segelas air hangat melipat kedua tangan di atas dada.
Dalam samar, kedua perawat berseragam putih itu membuka kedua bola mata. Sedikit demi sedikit mereka menatap mantap wajah gadis yang selalu mengikat rambutnya dengan tapi rafia warna-warni.
"Eh, Dena ...," ringis Erin tersipu malu.
"He he he ... enggak lucu tau! Kalian, ya. Wajah cantik seperti ini dibilang hantu, emang gue sejelek itu?" omel Denada seraya membuang tatapan datar menuju tembok.
Kedua perawat cantik itu menelan ludah dan mengganti posisi berdiri. "Den! Gue tadi lihat cahaya aneh dari ruangan praktikum—Reka!"
"Apa!" teriak Dena serius. "Terus ... apa lagi yang kalian lihat?" lanjutnya sangat penasaran.
"Pintu ruangannya terbuka sendiri. Serem banget tau enggak," timpal Erin dengan sangat gemetar.
Sementara gadis bermata kecokelatan itu melipat tangannya dan ekspresi itu begitu acuh. "Gue enggak percaya. Gini, ya. Rumah sakit itu memang tempatnya makhluk halus, karena udah berapa nyawa yang melayang di sini," celetuk Dena dengan ceplos.
__ADS_1
"Ih ... udah dong ... jangan bahas hantu lagi, serem tau," tambah mereka berdua.
...Bersambung ......