Daisy Meets Johann

Daisy Meets Johann
Prolog


__ADS_3

Kalau bisa, aku ingin bergerak. Sekadar merangkak juga tak masalah agar pulpen di atas meja bisa ku raih. Aku ingin memberitahu dengan kecepatanku. Berharap tidak terlambat sama sekali. Kau yang bergerak secara impulsif dan menyimpulkan sesuatu yang tidak benar tentang mereka dan aku. Aku akan menghentikanmu sebelum malam tiba.


Namun, langit di luar sudah memerah.


Lalu, ketika tak ada yang bisa menahan waktu bergerak begitu cepat daripada detak jantungku sendiri, Johann, dia sudah berdiri di depan pintu kamarku.


"Kau bercanda, kan? Pura-pura lumpuh seperti itu."


Suaranya seperti potongan-potongan es yang tajam dan satu per satu menghujam setiap bagian tubuhku.


Ah, aku kalah. Lihat saja. Dia sudah salah paham dan kapan saja aku bisa mati di tangannya.


"Daisy. Ini kesempatan terakhirmu." Aku masih tidak bisa mengalihkan pandanganku pada kedua matanya yang tidak lagi sama. Johann bukan lagi dirinya yang dulu. Atau mungkin, inilah dirinya yang sebenarnya.


"Kalau kau mau ikut denganku, aku akan memaafkan semua kesalahanmu. Dan aku akan melupakan semua yang terjadi saat ini."


Kata-katanya sangat manis, tetapi aku terlanjur benci padanya. Tidak. Aku sangat marah bahkan rasanya ingin sekali menebasnya dengan pedang.

__ADS_1


Ku pikir dia bukan orang yang seperti ini. Ku pikir, aku akan benar-benar suka padanya karena dia sudah baik pada keluargaku.


Tapi, memangnya sejak kapan aku menganggapnya orang yang baik? Yang bahkan mustahil untuk menginjak semut sekalipun. Atau aku tidak bisa melihatnya dengan jelas? Ataukah diri ini terlalu bodoh untuk menyadarinya?


Di sisi lain, pikiran positifku seolah membisikkan sesuatu ke telingaku bahwa kami sedang dalam situasi salah paham yang amat fatal. Dan aku yang membuatnya menjadi sedemikian buruk hingga tidak mungkin bisa lagi diperbaiki.


Namun, kata-katanya itu tidak membuatku serta merta mengikuti pikiranku yang baik. Aku mungkin salah, tetapi dia juga sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Ah, sangat besar melebihi gunung-gunung tinggi di dunia ini.


Dia memang baik pada keluargaku, tetapi apa alasannya dia membunuh mereka.


Ah, air mataku jatuh lumayan deras. Namun, tidak sebesar gemuruh di dadaku yang terlanjur mati rasa.


Aku tidak terima dia melakukan hal itu. Kemudian, menuduhku dengan hal semacam itu. Apakah aku bisa membalas padanya? Sesuatu yang mungkin akan menyakitkan jika dilakukan?


Rasanya aku ingin menyalahkan diriku yang masih sempat berpikir bahwa ini hanya salah paham. Bahwa aku harus menuliskan sesuatu padanya untuk menjelaskan salah paham itu.


Sangat disayangkan sekali. Karena ketika aku bisa melihat ekspresi wajahnya yang sudah kepalang tanggung penuh dengan kemarahan, ku rasa akan sia-sia.

__ADS_1


Sesuatu yang akan meledak ini sudah tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Aku hanya menatapnya dengan tatapan yang ku harap bisa memberikan kutukan untuknya.


"Kalau kau bilang begitu, apa boleh buat."


Kedua tangannya dengan tanpa ragu dan beban mengangkat kembali pedang yang berwarna merah darah itu. Darahku akan menempel di sana. Ku harap bisa mengutuk dan memberi karma padanya.


Tapi, apa ini? Air mataku tidak bisa berhenti.


Jauh di dalam lubuk hatiku, ada satu perasaan yang tampaknya ingin diakui. Kenapa baru sekarang?


Kenapa baru sekarang aku menyadarinya?


Johann.


Sepertinya aku memang tidak bisa benci padamu.


Dan sebuah tebasan darinya menghentikan semua waktu yang berjalan untukku.

__ADS_1


__ADS_2