Daisy Meets Johann

Daisy Meets Johann
Bab 1.4 : Aku Bertemu Dengannya


__ADS_3

Tidak ada satupun kendaraan yang lewat pagi ini. Bahkan ketika dengan sengaja ku amati sampai sekitar jam 8 suara mesin pun tidak kedengaran dari kejauhan. Apakah ini tidak terlalu aneh?


Sama sekali tidak aneh. Sekarang hari Minggu. Orang-orang akan tetap berada di rumah, menghangatkan diri dari musim yang sebentar lagi menuju bulan November dan aku sudah siap dengan berbagai minuman herbal yang setidaknya menghangatkan tubuhku, karena aku tidak tahan dengan musim dingin.


Lahir di negara tropis tidak sertamerta membuatmu menyukai musim yang jarang kau rasakan. Pertama kali aku datang ke negara ini, saat itu awal bulan Januari, aku langsung benci dengan musim dingin. Bibirku pecah-pecah sampai berdarah karena salahnya aku tidak menyiapkan lipbalm dengan kadar kelembaban tinggi. Aku tidak suka memakai peralatan make up sampai sama sekali tidak memiliki satupun produk itu kecuali pelembab kulit hingga lupa kalau salah satu dari mereka berfungsi tidak hanya untuk memulas wajah.


Pagi ini masih terlihat cemerlang meski di tengah kabut yang membuatnya sedikit tampak muram. Jalanan yang basah yang bisa ku lihat dari balkon tampak berkilauan oleh sinar matahari. Aku ingin keluar mengunjungi rumah Matthew. Tidak ada daftar nama lain yang sedang luang di saat seperti ini selain dia.


Air panas yang ku jerang tadi mulai dingin di gelas keramik berwarna merah yang ku taruh di atas meja. Aku lupa untuk menyelupkan teh ke dalamnya. Setelah membereskan kamar, menyedot debu dari sudut ke sudut, dan melap semua yang berpotensi menyimpan debu, aku agak lelah untuk sekadar mengambil teh celup di toples yang ku taruh di rak atas.


Atau ada hal lain yang menggangguku.


Nomor Matthew ada dalam jangkauan mataku saat ku buka display smartphone. Aku agak ragu untuk menelepon, tapi aku perlu seseorang untuk menemaniku hari ini.


Nada panggil terdengar hanya sebentar, lalu seseorang dengan suara berat menjawab teleponku dari seberang.


"Marie. Tumben tiba-tiba kau meneleponku pagi-pagi. Biasanya kau memanfaatkan waktu sarapanmu untuk lebih produktif."


Matahari sebenarnya sudah hampir di atas kepala kalau cuacanya tidak berkabut dan mendung. Suaranya seperti orang yang baru bangun tidur. Aku agak bersalah meneleponnya, tapi aku benar-benar butuh seseorang untuk bicara.


"Matthew. Kamu masih ingat jalan ke apartemenku?"


***


"Jadi, kau sedang homesick?"


Dahiku mengkerut mendengar jawabannya. Aku sudah menceritakan padanya rahasia terbesar dalam hidupku dan reaksinya hanya begitu.


"Mat. Aku tidak akan memaksamu untuk percaya, tetapi please. Beri aku sudut pandang yang serius saat seperti ini. Yang ku hadapi ini nyata dan bukan karena aku terlalu merindukan kampung halamanku,"ucapku dengan tampak ku buat seserius mungkin. Dia harus percaya ini.


"Kau tahu aku tidak berbakat menganalisa hal-hal yang fiksi. Buku yang ku baca semua hanya setebal majalah Bazaar dan yang ku baca akhir-akhir ini pun tentang Lady Di. Lalu satu lagi, aku seorang fotografer Marie. Aku butuh sesuatu yang bisa ku lihat dengan kedua mataku sebagai bukti, bukan tulisan sebanyak ini yang kemungkinan besarnya kamu yang menulis semua ini."


"Tapi, kalau kau mengandalkan pengalaman fotografimu, bukankah kau pasti tahu kalau ini bukan tulisan tanganku."


Matthew agak urung melihat lagi untuk mengecek, tapi dia sadar akan hal itu. Lalu dengan berat hati dia membuka halaman di buku agenda itu. Tampaknya dia mulai sedikit tenggelam.


Sembari menunggu, aku membuatkannya segelas kopi yang terlupakan. Mungkin aku terlalu bersemangat untuk menceritakan hal itu padanya sehingga ketika ia datang aku langsung menodongnya buku agenda itu di depan wajahnya saat masuk ke dalam apartemenku.

__ADS_1


Aku memperhatikan wajah Matthew dengan saksama. Dia tampaknya mulai tertarik dengan cerita itu sehingga cukup fokus tanpa bisa sadar bahwa aku mengamati dirinya.


Rambutnya yang berwarna merah ginger dan kedua matanya yang berwarna baby blue mengingatkan aku pada Johann. Memang warna rambutnya tidak sama. Namun, kesan yang ku dapat mirip. Meski begitu aku menjamin karakter mereka berdua bertolak belakang.


Keberadaan Matthew sendiri selalu membuat nyaman orang di sekitarnya. Sekarang dia memakai sweater berwarna lemon sherbet dan mengombinasikannya dengan celana jeans berwarna gelap. Astaga. Seharusnya dia jadi model saja daripada jadi fotografer.


"Kau tahu kalau aku suka membahas tentang hal-hal yang berbau historis, tapi aku lebih suka skandal dalam keluarga kerajaan. Lalu tidak ku sangka cerita ini benar-benar membuatku tertarik. Boleh tidak aku membacanya sampai selesai?"


Aku tertegun mendengarnya. Memang aku tahu selera Matthew, hanya saja ketika dia menyebutkannya secara spesifik, bahwa dia menyukai skandal, aku hanya bisa manggut-manggut dan memaklumi. Ku biarkan dia tenggelam dalam waktunya, dan aku kembali pada beberapa surel yang menumpuk di laptopku.


Satu setengah jam berlalu, aku yang kadung tenggelam pada pekerjaanku tidak sadar bahwa Matthew sekarang sedang mencorat-coret di atas kertas kosong. Kertas itu sekarang sudah penuh, tapi akhirnya aku mulai menyadari perubahan aktivitasnya. Ku picingkan mataku ke arah kertas itu. Ada banyak tulisan, angka, dan simbol yang tidak umum.


"Jadi, kau ingin tanya padaku apakah ceritanya runut sesuai susunan waktunya?"


Oh, wow. Ada seorang cenayang baru lahir di sini. Aku ingin menyahutnya dengan pertanyan, tetapi Matthew lebih dulu bersuara lagi.


"Dari reaksimu berarti benar. Kalau begitu mari ku jelaskan padamu karena sepertinya kau lumayan terkejut mendengar pertanyaanku."


Dia menata kertasnya saat aku berjalan mendekatinya. Di sana aku jadi paham beberapa angka yang ku lihat tadi.


Matthew memandangiku yang masih kebingungan. Ku pikir aku menangkap sedikit maksudnya, hanya saja aku butuh penjelasan lagi.


"Marie. Apakah kamu sadar bahwa tidak ada sudut pandang Johann di sini."


∆∆∆


Tawa yang meledak-ledak itu sungguh tidak bisa ditiru. Aku hampir tenggelam bersama semua pikiranku jika ayah tidak menyadarkanku di tengah perkumpulan keluarga meski secara tidak sengaja.


Hari ini keluarga Lord Brahm dan Erick bertandang ke rumah.


Aku tidak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka karenanya aku pamit untuk kembali ke kamar. Namun, ketika aku berjalan keluar setelah menutup pintu ruang keluarga, seseorang tiba-tiba memanggilku. Erick dengan tergesa-gesa menghampiriku.


"Untuk yang siang tadi, maaf."


Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi kalau hal ini tentang Johann, aku bisa maklum.


"Tidak. Aku malah berterima kasih karena kau memberitahuku hal itu. Hanya saja aku agak kesal mendengarnya mengingat dia sudah dua tahun tidak pulang ke rumah, tahu-tahu orangnya selama ini ada di sekitarku, tapi tidak berusaha menemuiku. Kelakuannya sungguh tidak masuk akal."

__ADS_1


Ada jeda waktu cukup lama di antara kami berdua. Erick sepertinya bingung untuk menyahut.


"Kalau kau bertemu dengannya lagi, tolong beritahu dia untuk pulang. Dan maaf karena sudah melampiaskan kemarahanku padamu."


"Ah, tidak. Aku hanya heran saja. Soalnya sepertinya tidak hanya aku yang dia hadang untuk bertemu denganmu. Tapi, sepertinya kata 'hadang' terdengar berlebihan, ya."


"Kalau begitu aku hanya akan makin marah padanya,"potongku dengan sedikit mengela nafas. Rasanya berat karena pikiranku dipenuhi oleh Johann. Apa alasannya dia melakukan itu? Kenapa dia tidak pulang ke rumah?


Lalu aku pun menyimpulkan, mungkin aku tidak perlu merasa bersalah melakukan hal itu padanya.


"Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu lagi, Daisy."


Dia agak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Aku menunggunya berbicara dengan penuh kesungguhan. Mau tidak mau dia harus jujur lagi padaku akan satu hal.


"Johann. Dia....."


∆∆∆


Aku terbangun begitu sigap penuh keringat karena mimpi. Memangnya sejak jam berapa aku tertidur? Rasanya baru saja Matthew di sini dan kami mendiskusikan hal yang di luar dugaan.


Ini gara-gara Matthew. Apa yang dikatakannya membuatku kepikiran setengah mati.


Ku tengok langit di luar sana yang benar-benar telah gelap. Bahkan kelihatan jelas bulan purnama.


Oke. Tunggu dulu. Bulan purnama. Seingatku kalau kemarin malam tidak mendung, bulan seharusnya masih berada di paruh akhir. Butuh tiga minggu lagi untuk melihat bulan penuh karena baru seminggu lebih lalu aku melihatnya.


Aku pun tersadar pada hal lain. Ada yang berubah. Kamarku tidak pernah dalam keadaan gelap. Gara-gara cahaya bulan, aku agak terlambat menyadari kalau tidur dengan lampu mati. Tapi, apa lagi ini. Memangnya sejak kapan selimutku sehalus beludru.


Meski dengan pencahayaan dari bulan, aku masih belum bisa melihat dengan jelas sekitarku. Udaranya lembab dan agak panas. Itu aneh karena musim panas telah berlalu dua bulan lalu.


Entah kenapa aku mulai panik. Rasanya banyak hal yang aneh. Rambutku tidak pernah sepanjang ini, lalu aku merasakan apa yang ku kenakan menjuntai panjang hingga ke lantai. Lengannya agak panjang, tetapi leherku serasa dicekik karena kerahnya tinggi. Aku tidak tahu bereaksi seperti apa lagi.


Segera ku turun dari tempat tidur dan sebisa mungkin mencari sakelar lampu. Namun, dindingnya entah berada di mana. Rasanya berada di dalam kegelapan yang luas.


Ku lirik tempat yang kena cahaya bulan. Jendela itu terbuka. Itu lebih aneh lagi. Ku tarik nafas dalam-dalam dan dengan cepat menghelanya.


Aku yakin sekali dan tidak salah lagi, ini bukan kamarku.

__ADS_1


__ADS_2