
Namaku Marie Oliver. Bekerja sebagai kontributor tetap majalah mode untuk perempuan dan lebih sering menulis kolom wisata dan budaya karena gaya hidup nomaden yang telah ku jalani sejak lulus dari SMA. Dan karena itu juga sejak dua tahun yang lalu aku memutuskan secara permanen bekerja jarak jauh.
Masih lajang hingga saat ini karena belim beranjak dari cinta bertepuk sebelah tangan dengan Matthew. Aku tidak akan memperpanjang bagian ini.
Tidak pernah merasakan kehidupan sebagai mahasiswa karena fokus bekerja paruh waktu sebagai penulis lepas. Aku beruntung sempat mengikuti klub majalah dinding saat SMA dan berkatnya, jam terbang menulisku bisa dimulai lebih awal meski sejak bisa membaca dan menulis, aku sudah banyak menulis di buku jurnal berkat pengaruh dari ibu. Bedanya aku belum sempat berkontribusi untuk dipublikasikan ke umum.
Kalau ku uraikan lebih lanjut perjalanan hidupku secara lengkap bahkan jika ku sisipkan portofolio dalam bentuk narasi, aku tidak berniat pamer, tetapi percayalah, itu hanya akan menghabiskan waktu seseorang untuk berakhir pekan selama tiga hari jika itu versi cerita pendeknya dan kemungkinan menghabiskan waktu seminggu jika ada versi buku biografinya. Apalagi kalau hanya akan menguras energiku untuk mencerna situasi yang ku alami saat ini. Terlebih lagi, ini tidak akan bisa masuk sebagai ke dalam daftar riwayat hidupku nanti jika aku sudah masuk masa pensiun.
Mungkin aku masih tidur atau kemungkinan aku ketiduran ketika Matthew menjelaskan sudut pandangnya pada cerita di buku agenda itu. Aku ingin sekali menganggap ini hanya mimpi, tetapi probabilitas untuk itu sepertinya berada dalam angka nol, karena kombinasi rasa manis dan kecut ini membangunkanku dari pura-pura tidurku. Sepiring Lemon cheese cake dihidangkan di atas nampan besar di sebelahku berbaring. Ini menu sarapanku yang katanya adalah kesukaanku.
Aku tidak tidur semalaman karena terbangun di tengah malam dan ku sadari aku tidak berada di kamarku yang biasanya. Maksudku, di mana tirai putih dengan jendela kaca dan lantai kayu dengan karpet ungu di bawah kasur? Semua itu digantikan dengan ranjang empat tiang yang ditutupi dengan tirai sutra berwarna keemasan dan merah hati dengan motif seperti daun siprus. Tidak sampai di situ, interior kamarku berubah menjadi seperti kue pengantin dengan warna pastel kuning dan cokelat. Ukurannya tiga kali kamarku, ukuran royal suite.
Di sisi lain aku tidak mau ini hanya sekedar mimpi, tetapi ada hal lain yang lebih mencengangkan yang membuatku tidak mau mengakui bahwa ini nyata.
"Miss Daisy." Seseorang memanggil dari luar pintu kamar.
Oh, tidak ada yang salah dengan nama itu. Yang salah adalah nama itu tidak ditujukan padaku melainkan pada tubuh orang lain yang ku masuki. Aku benar-benar ingin mengelak kenyataan ini, tetapi takdir membuat lelucon yang sangat kejam.
Bagaimana tidak? Kau tahu rasanya terbangun dari tidur yang sepertinya hanya sebentar lalu menyadari kau berada di dalam tubuh orang lain. Ditambah lagi, tubuh ini masih berumur sepuluh tahun. Umurku dikurangi dengan tujuan apa? Bagaimana caranya aku bisa berada di dunia gadis kecil bernama Daisy ini?
Ingatan terakhirku saat itu adalah aku bersama Matthew sedang berbicara di ruangan kerjaku, lalu terbangun dengan keadaan sakit kepala sebelah. Aku masih belum sepenuhnya sadar ketika seseorang memasuki kamar dengan suaranya yang penuh kecemasan, memanggil nama yang bukan namaku, yang membuatku langsung sadar, aku tidak kenal orang ini dan juga diriku yang dipanggil dengan nama itu. Waktu terasa cepat sekali ketika aku pingsan karena terkejut dan terbangun lagi tidak lama dengan banyak orang mengelilingi ranjang. Semua wajah mereka mengingatkanku pada wajah hantu di film horor. Bukan karena kemiripan dan sensasi takutnya, tetapi karena keberadaan mereka bisa membuatku menjerit histeris sepanjang pemutaran di bioskop. Aku tidak berlebihan soal ini, tetapi aku bisa menahannya ke dalam isi hatiku.
Karena tidak mendengar jawabanku, orang itu masuk ke kamar begitu saja. Seorang wanita paruh baya memakai seragam maid dan pembawaannya mengingatkanku pada Mrs. Crocombe, kepala juru masak di Audley End House. Ada lima orang yang mengikutinya berpakaian yang hampir mirip, tetapi mereka tampak lebih muda.
"Miss Daisy. Bagaimana keadaan anda?"tanyanya dengan nada formal. Aku menoleh pandanganku ke arah lain karena tidak tahu bagaimana harus merespon pertanyaan itu. Mungkin dia akan mengira aku mengabaikannya, tetapi aku tidak tahu apa-apa soal gadis ini, yang kehidupannya ku ambil alih. Ada rasa sedikit bersalah, tetapi aku menyadari kondisi tubuh ini tidak baik-baik saja. Kurus dan malnutrisi. Tubuhnya seringan kapas. Aku bisa merasakan tulang yang kelihatan di kaki dan tangannya.
"Mrs. Hogan dan Lord Hogan sedang ada di ruang makan. Setelah membersihkan diri, mereka akan datang datang ke kamar Miss Daisy. Akan ada dokter yang datang setelahnya juga untuk memeriksa anda."
__ADS_1
Lugas dan efisien. Aku tidak perlu bertanya lagi, cukup mengangguk kecil sebagai respon.
Aku belum sampai pada tahap terbiasa, tetapi dengan terpaksa mengikuti alur kegiatan di pagi hari. Para pelayan itu melepaskan bajuku begitu saja dan mengarahkanku ada sebuah bak yang sudah diisi air panas. Beberapa orang di belakang ternyata membawa beberapa ember air panas. Aku lumayan terkejut ketika bajuku dibuka langsung, tetapi aku sadar ini tubuh gadis umur sepuluh tahun dan bukan tubuh milikku. Kulit gadis kecil ini terlalu pucat dan kelihatan benar dia bermasalah dengan kesehatannya. Namun, aku belum tahu hanya rasanya tubuh ini terlalu lemah untuk bergerak sedikit.
Hanya untuk urusan mandi rasanya bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Namun, aku respek dengan selera mereka memberi aromaterapi di bak mandi. Baunya seperti lemon cake yang ku makan tadi. Selanjutnya, mereka memakaikanku gaun panjang sederhana berwarna biru laut dikombinasikan dengan beberapa kain renda dan pita warna putih terikat di pinggang. Rasanya seperti karakter Alice in Wonderland.
Saat menghadap cermin aku begitu terperangah dengan wajah gadis ini. Rambutnya bergelombang hingga ke pinggang berwarna golden blonde. Seketika rasa percaya diriku yang biasanya selalu bisa di bawa acara perhelatan peragaan busana Karl Lagerfeld, luntur seketika setelah mengetahui wajah gadis ini. Dia perpaduan antara Christine di Phantom of The Opera dengan Dakota Fanning saat masih kecil ketika dia berperan sebagai Lucy di Film I am Sam.
Astaga. Kenapa dari tadi aku tidak bercermin untuk melihat wajah ini, malah menghabiskan waktu merenung terlalu lama di atas tempat tidur.
Tidak salah, sih, karena secara mental aku masih belum bisa menerima situasi yang ku hadapi ini. Mungkin aku juga belum benar-benar bisa menghadapinya.
Jadi, sebelum menghadap kedua orang tua gadis kecil ini, aku harus mengingat kembali pertemuanku dengan Matthew.
Apa yang terjadi di antara selang waktu diskusi kami hingga terbangun di dunia ini. Mengapa aku bisa berakhir di dalam cerita yang tertulis di buku agenda ibu? Samar-sama kata-kata Matthew menyusup ke dalam ingatan. Dengan susah payah, ku mencoba memicu sesuatu sebagai petunjuk.
"Matthew. Apa yang terjadi saat itu? Apa yang terjadi padamu?
"Ini persis buku harian, tetapi hampir semua sudut pandang karakternya ada di sini. Yang tidak ada hanya Johann. Kau tahu kenapa?"
Matthew mengarahkan pandangannya padaku dengan tatapan serius. Aku hanya menggeleng, pasrah, dan menyerah untuk memutar otak sekali lagi. Karena bagaimana pun semua ini sama sekali tidak masuk di akal.
Matthew masih urung menjawab.
"Jangan membuatku menunggu, Mat. Karena aku penasaran setengah mati."
Matthew mengerutkan dahinya, ekspresinya terlihat agak kecewa.
__ADS_1
"Seharusnya kau yang sudah lama membaca ini lebih tahu."
Baiklah, aku bukan pembaca yang baik. Aku akui itu. Dan aku tidak mau berdebat panjang dengannya. Ekspresi wajahnya begitu antusias. Aku tidak mau mengecewakannya, tapi aku sungguh tak punya petunjuk lain. Aku payah dalam analisis, tetapi tidak dalam mengumpulkan informasi. Dengan semua catatan kaki itu, aku masih tidak bisa menarik benang merahnya.
"Johann. Tidak adanya sudut pandang dia di sini mungkin karena dia yang menulis cerita ini."
Aku tidak akan terkejut jika Stephen King menulis novel genre roman, tetapi kalau Johann beda cerita. Ini di luar dugaanku dan reaksiku hanya tertawa sambil meringis.
"Kau boleh berkata lain, tapi lihat latar belakangnya yang ditulis setengah-setengah. Meski dia benar ada dalam ceritanya, tetapi dia ini bagaimana yang mengungkapkannya dalam kata-kata. Biasanya kau yang lebih mahir soal memilih diksi."
"Tidak. Tepatnya kata-kata itu mampet di kepalamu."
Aku jadi kesal sekali karena rasanya aku dikalahkan orang yang baru membaca cerita ini.
"Lagipula tidak ada skandal dalam hidup Johann maupun keluarga Hogan,"timpalku cepat sebelum Matthew bisa menyahut hal lain. Mungkin dia mau menambahkan sesuatu yang hanya akan membuatku kalah lagi.
"Keluarga ini dengan Johann punya hubungan yang amat kompleks. Lalu, kenapa rasanya seolah Johann menyukai gadis yang seharusnya kakak tirinya ini. Bukankah itu sudah cocok menjadi skandal."
"Mereka tidak ada hubungan darah jadi wajar. Lagipula Johann ini entah kenapa membuatku takut. Bukan karena dia melakukan kejahatan yang terlalu kejam, dia membuatku bersimpati pada apa yang dilakukannya. Tidak ada yang bisa membenarkan pembunuhan apapun bentuknya, tetapi kalau sampai merasa kasihan dan mudah memaafkannya, apakah aku terlalu baik untuk orang-orang semacam ini."
Matthew menggeleng tidak setuju.
"Kau bukan Bunda Theresa. Mungkin hanya orang-orang tertentu. Karena selama bertahun-tahun kau mengikuti ceritanya, kau jadi merasa punya ikatan batin dengan semua karakter di cerita ini tidak terkecuali Johann."
Itu masuk akal. Terutama jika hal ini telah bersamamu begitu lama. Johann adalah karakter yang membuatku bisa di posisi apapun. Bisa sebagai orang yang membencinya atau orang yang amat mengasihinya. Mungkin karena ditulis di dalam buku agenda peninggalan ibu, aku mengharapkan sesuatu pada cerita ini.
Gadis bernama Daisy ini juga tidak bisa memutuskan berada di posisi mana. Kadang dia hanya bisa menyalahkan dirinya dan suatu hari dia begitu ingin menjadi kakak yang baik.
__ADS_1
Kemudian, sebuah pikiran terlintas di benakku.
"Matt. Bagaimana perasaanmu ketika harus bertahan hidup dengan cara membunuh orang-orang terdekatmu?"