
Seharusnya aku bisa memulai hari ini dengan satu kutipan bagus dari buku yang baru ku baca tadi pagi saat aku tidak menyempatkan diri untuk sarapan.
"Hidup cuma sekali. Nikmatilah."
Rasanya malah seperti mendengar iklan TV entah dari mana di sudut bacaku yang seharusnya kedap suara ini. Kalimat itu sedikit membuatku goyah untuk memulai aktivitas. Hampir saja tatanan daftar kegiatanku di jam pertama molor. Satu menit saja aku tidak bisa menoleransinya.
Kalau bisa aku juga ingin mendengar seluruh album Taylor Swift yang terbaru dan sejenak santai duduk menikmati danau buatan di taman belakang rumah yang dikelilingi hutan yang penuh dengan pohon cedar. Lagipula aku sudah terlalu lama terjebak di dalam apartemen karena pekerjaan meski sesekali keluar hanya untuk makan.
Memang sangat menggoda untuk melakukan barbeque di luar ruangan apalagi aku baru tahu ada danau tidak jauh dari tempatku tinggal. Hanya 500 meter berjalan kaki, tapi mustahil saat cuaca sedingin ini.
Seharusnya aku mengambil cuti setelah musim dingin berakhir. Toh, aku tidak suka cuaca yang terlalu panas dan terlalu dingin. Perhitunganku salah.
Hari ini juga kenapa aku harus menerima pesan dari orang yang minta uang pagi-pagi saat aku sudah dalam mode standby untuk bekerja.
Ibu
Marie. Kamu bisa kirimkan uang hari ini tidak? Ibu tunggu sampai jam 09:00. Soalnya sekalian mau keluar ketemu Bu Somi. Anaknya baru lahiran jadi sekalian. Love you. ❤️❤️
PS : Boleh ditambahkan satu juta untuk bayar asuransi, nggak?
Ini bukan sesuatu hal yang baru ku alami, tapi cukup membuatku muntab. Dan memikirkannya sampai seperti ini juga hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Langsung ku transfer saat itu juga dan pikiranku ku fokuskan pada pekerjaan hari ini .
__ADS_1
Aku ini apa terlalu baik atau hanya bersikap sok keren? Yang manapun alasannya, aku tidak mau memikirkan orang itu seharian. Menyelipkan diri sebagai orang baik juga rasanya pahit. Tidak cocok.
"Sudahlah." Aku menarik nafas dalam-dalam dan masuk ke dalam ruang berukuran 4×4. Hanya ada barang-barang pribadiku di sana yaitu dua rak buku tingkat tujuh dan sebuah kursi akasia yang diberi bantalan agar aku nyaman duduk untuk membaca. Kursi itu mencegahku tertidur saat membaca buku.
Aku tidak punya tempat yang disebut kantor. Perusahaan di mana aku bekerja secara permanen memperbolehkan karyawannya bekerja dari rumah. Itu sejak dua tahun lalu. Tepatnya si pemimpin redaksi, terinspirasi untuk mengubah atmosfer tempat kerja menjadi lebih manusiawi. Memangnya sebelumnya tidak begitu? Tidak. Sama saja. Yang berubah hanya dari faktor efisiensi.
Aku suka caranya memimpin dan beruntung sekali rasanya bisa bekerja di bawahnya. Mungkin karena inilah aku tidak mau merusak kepercayaannya padaku. Paling tidak, aku selalu menyelesaikan semua artikel sebelum deadline.
Sambil menyalakan komputer, buku agenda itu ku taruh di atas meja kerjaku. Seberkas cahaya biru sedikit membuat mataku silau. Padahal pencahayaan di ruangan terpusat pada matahari di luar sana yang meski jendela kaca di balkon belum sempat ku buka karena suhu dingin mencapai 15 derajat, intensitas cahaya matahari sebenarnya lumayan mendukung. Mungkin minus di mata bertambah.
Semalam aku baru bisa tidur jam satu karena mengebut satu artikel yang akan keluar pagi ini di website. Gara-gara seorang teman telat mengecek finishing-nya, aku jadi harus lembur. Tapi untungnya, hari ini tidak banyak yang harus ku tulis. Setelah semua pekerjaan ku selesaikan dalam kurun waktu 4,5 jam, aku kembali mendapatkan waktu luang. Senggang memang, sayangnya sangat tidak cocok jika ada ada di musim saat matahari jarang keluar.
Buku agenda itu ku buka kembali. Banyak catatan kaki menggunakan pensil di beberapa baris. Tulisan yang terbaru masih tetap sama seperti kemarin.
Aku belum tahu apakah dia menyesal karena telah melakukannya atau tidak? Masalahnya adalah, tidak seorang pun karakter dalam cerita itu tahu siapa sebenarnya Johann. Orang seperti apa dia? Masa lalunya bahkan belum tertulis selama lima tahun ini.
Kalau aku diberi kesempatan menulis ulang ceritanya, yang ada aku tidak akan pernah bisa menaruh muka lagi di tempatku bekerja. Aku hanya akan merusak citranya karena yang akan tertulis di sana cuma cerita klise yang kebanyakan menggunakan plot picisan dengan konflik mengada-ada. Bosku langsung memecatku kalau dia yang menjadi editornya.
Aku terbiasa menulis artikel yang berisi tips-tips yang kebanyakan ku dapat dari narasumbernya langsung. Tidak akan pernah masuk ke dalam daftar pencarian pertama di google karena mungkin tidak cukup populer. Lalu dengan pengalaman itu, apakah tulisanku akan membuat karisma Johann tambah bersinar? Yang ada kisah dia akan jadi prasasti berupa cap kaki saja di batu. Tidak ada tulisannya.
Daisy dan Johann. Mungkin akan mustahil sekali membuat kisah dua orang ini. Apalagi dengan urutan waktu yang berantakan karena ada banyak kepingan jigsaw yang masih hilang. Johann yang pikirannya sulit dibaca dan Daisy yang penuh dengan keraguan.
__ADS_1
Sedih sekali, tetapi aku berharap tulisan selanjutnya akan menjelaskan mengapa kronologi ceritanya tidak berurutan.
∆∆∆
Masa lalu, dua hari sebelumnya. Kecurigaanku bertambah ketika beberapa temanku bersaksi bahwa mereka secara kebetulan melihat Johann datang di setiap kelasku. Dan anehnya dia sama sekali tidak menemuiku. Apakah dia sengaja meski tahu kalau aku mengambil kelas yang sama dengannya.
Aku tidak tahu kenapa dia marah sekali saat pertemuan yang terakhir itu. Saat aku tidak sengaja menumpahkan minuman ke bajunya. Sejak hari itu sudah dua tahun berlalu. Sudah selama itu aku tidak mendengar kabarnya lagi.
Tidak mungkin, kan, dia tidak mau bertemu denganku selama itu hanya karena hal sepele itu. Aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk minta maaf karena dia pergi begitu saja dari hadapanku.
Johann, meski kita menjadi keluarga sejak kecil, dia tidak pernah terbuka pada kami. Apa yang kami lakukan padanya seperti hanya sekedar balas budi. Tidak ada ketulusan. Apakah dia berpikir seperti itu?
"Daisy!"
Aku terkejut karena seseorang memanggilku dengan suara itu. Suara yang amat khas, yang dalam terdengar menghanyutkan. Pemilik suara ini adalah dia.
"Erick?"
"Daisy. Ku pikir aku tidak akan bertemu lagi denganmu,"sapanya dengan tersenyum yang amat dibuat-buat. Apa maksud dari perkataannya.
"Maksudku, setiap kali aku ingin menemuimu, Johann selalu menghalangiku. Aku tidak tahu dia begitu konsisten ke sini untuk membuatku tidak bisa bertemu denganmu."
__ADS_1
"Apa?"