
"Kayaknya setting waktunya agak berantakan. Bukan. Lebih tepatnya amat kacau."
Ku buka halaman sebelumnya dari buku agenda ibu. Sudah satu tahun sejak aku hanya menerima dua kalimat setiap bulannya, kelanjutan cerita ini, dan buku agenda ini masih belum penuh tertulis.
Sejak dua puluh tahun yang lalu, saat itu umurku lima belas tahun. Ibu mewariskanku buku agendanya yang masih kosong. Buku yang lumayan tebal untuk dijadikan sebagai catatan kegiatan. Kecuali kalau itu buku jurnal. Saat aku menerimanya aku berpikir, memangnya akan ada berapa banyak kegiatan yang ku ikuti selama setahun.
Biasanya buku agenda dibuat sebagai catatan kegiatan per tahun jadi di halaman depan tertulis angka tahun saja. Namun, milik ibu tertulis dimulai persis tahun 1845. Di depan angka ditulis dengan tanda tilde.
Saat itu aku sama sekali tidak penasaran dengan detail sekecil itu. Yang membuatku tertarik hanya buku ini. Halamannya terlalu banyak. Itu saja. Bahkan mengalahkan ketebalan buku fiksi fantasi novel Harry Potter seri ke 6.
Tiba-tiba di luar hujan. Langit yang baru beberapa menit cerah menjadi kelam seketika. Pohon-pohon maple yang memerah terlihat seperti bayangan hitam saat aku menutup pintu kaca di balkon. Aku benar-benar tidak suka musim yang terlalu basah dan gelap ini. Beruntung aku segera pulang setelah sarapan di restoran keluarga. Kalau tidak, bukan hanya kehujanan, tetapi aku harus melewati jalan yang selalu gelap di daerah yang didominasi dengan bangunan berwarna batu dan bahkan sebagian sudah lama berdiri.
Apartemen lantai delapan ini adalah satu-satunya bangunan yang tampak modern, mencolok karena warnanya dicat kuning. Hanya saat musim panas, apartemen ini menarik untuk dilihat.
Kalau aku hanya tertarik pada balkon dan jaraknya yang dekat dengan tempat kerja. Sisanya hanya bonus dan juga resiko. Aku merasa sedang tinggal di Castle Combe, tapi di waktu yang salah.
Seperti yang terjadi pada naskah ini.
Agak sulit mengingat semua plot yang terjadi di dalamnya. Sampai sekarang pun aku belum tahu apa judul ceritanya. Hanya nama tokoh dan karakteristik latar waktu dan tempat dalam cerita. Seperti membaca novel sejarah.
__ADS_1
Ku keluarkan buku catatanku yang lain yang berbentuk saku dari rak meja kayu mahoni. Ku tinggalkan beberapa penanda buku di sana dan sticker yang ku beri label.
Nama-nama tokoh, karakternya, latar waktu, mode pakaian, hingga gaya hidup mereka. Semua cocok jika dimasukkan ke era abad ke 19. Hanya saja nama negara dan kota tempat tinggal mereka fiksi. Tidak ada di halaman pencarian google. Tapi bisa saja aku salah menebak latar waktunya.
Terlepas dari semua itu, kalau memang benar urutan waktunya tidak sesuai, bisa jadi berarti beberapa naskah ada yang terlewatkan atau seluruhnya tidak berurutan.
"Kenapa aku baru sadar sekarang?"
Bukannya peristiwa pembunuhan itu sudah terjadi di awal. Kenapa ini kali pertama Daisy bertemu Johann? Apakah memang benar-benar ada naskah yang ku lewati? Lalu kalau urutan waktunya bahkan salah, bagaimana cara menyusunnya? Semua tertulis begitu saja di sana. Aku hanya bisa menunggu tulisan selanjutnya muncul.
Apa benar ini versi novel atau hanya sebuah draf yang sengaja oleh entah siapa di luar sana dengan keajaiban dan kekuatannya menulis di buku ini.
Aku terpaku pada satu nama saja. Johann.
Hingga sekarang tidak ada petunjuk sama sekali kenapa dia melakukan pembunuhan itu. Padahal di mataku, Johann si mata berlian, adalah seorang yang mudah sekali dicintai. Aku bahkan juga menaruh rasa padanya.
Ku pejamkan mataku. Berharap mendapat petunjuk, tetapi dengan suara hujan yang sayup-sayup membuat dadaku sesak, aku hanya ingin tertidur saja.
∆∆∆
__ADS_1
Yang halus seperti debu itu, telah diubah menjadi sesuatu yang tajam. Bukan sebuah benda melainkan kata-kata dan perasaannya padaku.
Johann tidak pernah peduli dengan orang lain. Kehidupan mereka hanya dianggap seperti fungsi perabotan rumah tangga. Dipakai kalau butuh saja.
Apakah memang dia seperti itu atau aku yang terlalu kejam mendeskripsikan karakter seorang Johann?
Ini salahku karena tidak terlalu memahaminya bahkan sama sekali tidak ada inisiatif untuk mengetahui orang seperti apa dia. Aku hanya menyimpulkan hasil akhir. Hal yang telah dia lakukan padaku dan keluargaku.
Apakah perlu untuk mencari alasannya apa sementara kemungkinan saja dia melakukan ini karena ketidakpedulian. Hanya hal sesederhana itu.
Kalau kau peduli, saat tubuhmu lapar kau pasti akan makan. Kalau kau peduli, kau akan memperhatikan dan mulai melakukan sesuatu untuk orang itu, tumbuhan itu, hewan itu, atau tanaman itu.
Johann.
Seandainya aku masih hidup. Aku akan mulai dengan hal yang paling sederhana dan hal yang selama ini telah diambil darimu.
Tidak hanya kepedulian, tetapi meyakinkan padamu bahwa kau memiliki keluarga.
Mungkin itu saja yang ku harapkan jika terlahir kembali.
__ADS_1