Daisy Meets Johann

Daisy Meets Johann
BAB 1.1 Aku Bertemu Dengannya


__ADS_3

Oh! Ini mungkin rasa takut. Tanganku gemetar, tetapi detak jantungku anehnya sangat tenang. Dua baris kata ku temukan di sana saat aku menelan roti scone bulat-bulat. Aku hanya hampir tersedak, tetapi buru-buru ku abaikan meski rasanya air mataku berlinang dan ekspresi wajahku tidak karuan.


Sayang sekali, aku hanya bisa terpaku pada tulisan di kertas yang ku pegang. Di sana beberapa kata-kata yang ku nantikan sejak dua Minggu yang lalu muncul. Aku tidak pernah begitu histeris dan seheboh ini.


KEDUA MATA BERWARNA BIRU ITU SEINDAH BERLIAN. AKHIRNYA JOHANN MENEMUKAN KEBERADAANKU YANG TERPERANGAH MENATAP KEINDAHAN DIRINYA.


"Wow!!! Gila!!! Akhirnya mereka bertemu!!!"


Aku berteriak tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarku yang hanya terkejut lalu geleng-geleng kepala melihat kelakuanku. Ini memang tidak sopan. Apalagi aku sedang berada di sebuah rumah makan keluarga dekat apartemenku. Aku hanya ingin mampir pagi ini karena semalam tidak sempat makan malam. Seringnya malas hanya untuk sarapan dan sudah menjadi kebiasaan setiap kali bangun tidur jam 10 pagi menjelang siang. Parahnya lagi itu hampir setiap hari.


Aku bersyukur tidak sia-sia kali ini bangun pagi karena akhirnya masih sempat membaca "berkah dari langit". Kenapa ku sebut begitu?


Mungkin ini terdengar tidak masuk akal. Saat pertama kali mendapatkan narasi cerita itu lima tahun yang lalu, saat itu umurku 15 tahun, aku sama sekali tidak curiga dengan munculnya tulisan di buku agenda milik ibu yang kebetulan semua halamannya masih kosong. Kupikir mungkin seseorang telah iseng menulis di buku itu saat di sekolah. Bahkan aku tidak sempat merobek halaman yang tertulis itu.


Namun, setelah dua Minggu berlalu, hari itupun datang. Saat aku baru bangun tidur agak pagi karena ada acara di sekolah, aku dibuat terkejut ketika buku agenda ibu terbuka.Lalu muncullah beberapa baris kata yang ditulis oleh sesuatu yang tidak terlihat.


Aku tidak tahu siapa atau kekuatan apa yang bisa melakukan hal itu. Hanya saja, reaksi pertamaku adalah diam melongo bukannya terkejut atau apa. Ekspresi selanjutnya aku dibuat kagum karenanya.


Dan lebih gila lagi, entah sejak kapan aku mulai terbiasa dengan semua kiriman tulisan itu. Aku bahkan sudah terbawa dengan cerita yang tertulis di Minggu kedua.


Satu tokoh di sana yang bernama Johann, menarik perhatianku. Aku memberikannya julukan, Si Mata Berlian. Mungkin karena kedua matanya itu dia mampu merekam semua hal yang terjadi sehingga tidak diragukan lagi bahwa kejeniusannya berasal dari sana. Dia memiliki apa yang tidak banyak orang miliki. Ingatan visual yang mengagumkan. Membicarakan hal tentang dia takkan habis dalam satu hari. Sebesar itulah aku memuja karakternya di cerita itu.

__ADS_1


Biasanya aku mendapat satu paragraf, tetapi sepertinya setiap kali umurku bertambah hingga sekarang umurku menginjak 20 tahun, satu kalimat terus berkurang.


"Sekarang dia sudah bertemu dengan Daisy. Mustahil dia akan lupa dengan wajahnya. Daisy, kamu sudah berada dalam sasarannya."


Aku tertegun dengan apa yang ku katakan tadi. Ralat.


"Sebaiknya, untuk sementara Daisy harus lari dari Johann."


Merujuk dari kata "sasaran". Rasanya terdengar tidak etis kalau menggunakan kata itu. Memangnya Daisy papan dart? Itu lebih bahaya lagi.


Aku mulai gelisah. Betapapun aku mengagumi seorang Johann, ada rahasia lain yang baru ku sadari darinya saat aku menerima tulisan tentangnya di umurku yang ke tujuh belas.


HUJANNYA TERLALU LANTANG MALAM ITU SAAT KEDUA MATA BIRU MENYUSUP KE DALAM RUMAHNYA YANG DULU. TIDAK AKAN ADA SAKSI DAN TIDAK AKAN ADA YANG BISA MENDENGAR JERITAN NANTINYA. JOHANN, MEMBIARKAN DIRINYA BERDOSA PADA PERBUATAN IMPULSIFNYA. TIDAK DIRENCANAKAN, KARENA HAL ITU ADALAH SEBUAH PEMBELAAN DIRI. DIA HARUS HIDUP, KARENANYA DIA HARUS MEMBUNUH KEDUA ORANG TUA ANGKATNYA. DIA TAHU, MALAM ITU DIA AKAN DIBAWA KE TEMPAT YANG JAUH DAN DIASINGKAN. TIDAK ADA JAMINAN DIA AKAN HIDUP DENGAN TINGGAL DI NEGARA LAIN.


ENAM KALI TEMBAKAN DALAM SEKALI HELAAN NAFAS. MENARIK PELATUK TERLIHAT SEMUDAH MEMEGANG PENSIL UNTUK MENULIS ATAU MEMEGANG SENDOK SAAT MAKAN. EKSPRESI KAKU, SEDIH, MARAH, DAN KAKU LAGI BERGANTIAN MENGHIASI WAJAHNYA. KEMUDIAN YANG TERAKHIR ADA EMOSI YANG TIDAK BIASA. PERASAAN HARU SEOLAH BERHASIL TELAH MELAKUKAN SESUATU. SEBUAH PENGHARGAAN. DIA MERASA MENERIMA HAL ITU.


Sekarang aku mulai cemas untuk cerita selanjutnya. Daisy adalah satu-satunya karakter cewek yang tidak boleh mati. Dia pantas hidup untuk mendampingi Johann yang seperti itu. Apalagi, Daisy memang sejak lama jatuh cinta pada pria itu.


"Ku harap "happy ending" untuk kalian berdua,"ucapku berdoa dalam hati. Ku seruput secangkir teh di depanku yang ternyata masih panas. Di luar cuacanya masih dingin. Sepertinya musim gugur bukanlah musim yang baik untuk sebuah pertemuan.


∆∆∆

__ADS_1


*Kami menyambutnya dengan ramah malam itu ketika seharusnya penghuni rumah tertidur. Namun, kami tidak menaruh kecurigaan apapun. Pria ini adalah sosok yang kami kasihi. Sudah seperti bagian di keluarga Hogan. Kami membesarkannya hingga menjadi orang yang bisa dibanggakan dan terlepas dari semua prestasi dan kesuksesannya di dunia pendidikan, dia tetaplah seorang anak yang kami cintai.


Keluarga Hogan tidak memiliki keturunan sampai seorang anak perempuan lahir setelah mengadopsi anak ini.


Daisy masih di kamarnya setelah acara pesta dansa itu. Mungkin dia akan terkejut di pagi hari nanti dia akan menemukan Johann di ruang makan.


"Madam dan Tuan Hogan. Maafkan kedatangan saya yang tiba-tiba ini."


Aku menyadari mantelnya basah. Apakah dia kehujanan dalam perjalanan. Tapi, sedari tadi cuaca cerah.


"Kamu kehujanan di mana Johann?"tanyaku sambil menyuruh pelayan mengambilkan handuk. Ku usap wajahnya yang juga basah. Anak ini masih sama. Wajah yang kosong itu tampak tidak pernah bahagia meski kami sudah menganggapnya keluarga. Aku selalu ingin bertanya padanya, apakah dia menganggapku sebagai ibu?


"Saya tidak bermaksud apa-apa dan saya ingin berterima kasih untuk semuanya, tetapi saya harus melakukan ini."


Aku terlalu fokus memperhatikan wajah dan ucapannya sampai tidak menyadari sesuatu menembus perutku. Suamiku berteriak histeris terdengar begitu mencekam. Tubuhku limbung ke depan jatuh dalam pelukan Johann.


Ah!! Aku mendengar suara tembakan. Suamiku ambruk di lantai. Aku ingin mengerang, meradang dalam ketidakmampuanku untuk menjerit. Lalu aku mulai risau, kecewa, sedih, dan sakit. Memangnya apa yang telah kami perbuat padamu Johann sehingga kau membalas sampai seperti ini.


Daisy. Bagaimana dengan anak itu? Dia pasti sedih. Tapi, dia harus selamat. Daisy anakku dia.....


"Johann.....,"bisikku dengan sekuat tenaga. "Daisy tolong jaga dia."

__ADS_1


Aku menyadari sesuatu. Anak ini, dia menangis sambil memelukku. Apakah kau tidak berniat untuk melakukan semua ini? Adakah seseorang yang memaksamu untuk melakukan hal sekeji ini? Kalau memang benar begitu, aku hanya berharap, kau masih bisa melindungi Daisy*.


__ADS_2