
Aku mundur cepat-cepat.
Ketika aku berbalik, di sana seseorang berdiri menghalangiku dengan tubuhnya yang tinggi agak besar dan mata yang membuatku ketakutan hingga tersungkur ke belakang.
Aku gemetar ketakutan, tetapi suaraku tertahan karena menyadari hal itu akan lebih membahayakan diriku. Bagaimanapun aku masih bisa menguasai emosiku yang sebenarnya ingin menjerit karena rasa takut. Aku punya sedikit keberanian meski hal itu tidak akan memberi keberuntungan sedikitpun.
"Nona Daisy. Ku pikir anda ingin bertemu dengan Nyonya dan Tuan Hogan sekarang jadi saya datang menjemput,"ucapnya sembari membungkuk. Wajahnya yang menyeramkan tadi hilang begitu saja saat dia menunjukkan rasa hormatnya dan menawarkan tangannya untuk membantuku berdiri.
Meski ragu aku tidak mau terlihat duduk di lantai dengan wajah memalukan dan hampir mengotori dress yang ku kenakan.
Aku heran, ke mana rasa takut yang ku rasakan tadi? Karena orang ini, yang mengantarku keluar dari kamar mengeluarkan aura yang sangat berlawanan dari kesan pertama. Dia kini tampak seperti paman berjenggot dari kutub utara. Hanya saja, paman ini memakai tuxedo seperti butler dan bukan kostum warna merah.
Barangkali aku yang terlalu mudah beradaptasi dengan keadaan. Atau karena keadaan mentalku yang lain yang tidak bisa ku deskripsikan. Entah sejak kapan aku merasakan beberapa hal yang familier mulai dari kamar, pelayan yang membantuku membersihkan diri dan memakaikan dress, dan mungkin orang-orang yang menganggapku Daisy.
Dua orang yang mereka sebut Nyonya Hogan dan Tuan Hogan. Mereka benar-benar orang tua yang hangat. Saat turun dari tangga dan berjalan menuju ruang makan, meski dengan susah payah karena rasa letih entah karena apa, aku menemui mereka yang ternyata masih menungguku. Mereka belum mulai makan sama sekali.
"Daisy....,"panggil seorang wanita yang ku tebak adalah Nyonya Hogan. Beliau berjalan mendekatiku dan memelukku begitu saja. Aku tersentak, namun tidak bisa menolak. Ku rasakan sesuatu yang hangat yang jarang ku dapatkan. Aku sudah lupa apakah ibu pernah memelukku seperti ini.
"Ibu lega karena akhirnya kau mau bertemu dengan kami, nak. Ibu sangat merindukanmu...."
Aku tertegun mendengarnya karena aku tidak pernah tahu bagian cerita ini. Mungkin aku lupa, tetapi rasa yang amat familier tadi seketika menghilang ketika kembali lagi aku sadar bahwa aku berada di tempat yang salah. Maksudku, aku tidak tahu. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul membuatku semakin kebingungan.
__ADS_1
Tidak bisa ditahan juga tidak bisa ku jelaskan. Semuanya tercampur dalam ingatan.
Ada ingatan berdasarkan narasi dan alur dari cerita yang ku baca. Ada juga ingatan yang memaksaku untuk tenggelam ke dalam sosok Daisy. Ini ingatan miliknya. Keduanya melebur menjadi satu hingga ujung jariku pun seperti mati rasa. Aku tidak pernah mengalami hal ini. Rasanya seperti ada dua kutub magnet yang saling menolak dan saling menarik. Atau ada minyak dan air seharusnya saling menolak malah dicampur dengan sabun.
Pikiranku tidak bisa berjalan baik, sehinggaku emosiku meluap begitu saja. Air mataku mengalir tanpa bisa ku sadari. Aku bahkan tidak tahu kenapa. Ini sama sekali tidak bisa ku proses secara logis.
"Maafkan ibu karena meninggalkanmu bersama orang itu, sayang,"ucapnya lagi sambil memelukku semakin erat. Tanganku kebas tidak bisa membalas pelukannnya. Di sisi lain, aku mendapat pelukan dari belakang. Dia juga menangis meminta maaf padaku.
"Maafkan ayah juga, nak."
Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Pikiranku tiba-tiba kosong dengan semua ingatan dan perasaan yang campur aduk. Tubuhku juga makin lelah karena ini. Rasanya semua emosi yang membanjiri keadaan mentalku ini adalah penyebab dari kelelahan fisik yang tidak tertahankan ini. Energi dikuras tanpa sebab karenanya. Karena hal yang sebenarnya dipaksakan masuk ke dalam diriku.
Setelah ini aku harus tidur lagi dalam waktu yang cukup lama.
"Pelan-pelan saja. Jangan terlalu berpikir keras untuk cerita ini. Uraikan satu-satu dan nanti kau akan paham."
Dahiku berkerut mendengar penjelasan yang jauh dari kata paham. Dia memancing kesabaranku.
"Soalnya tidak masuk akal kalau Johann yang menulis. Kalau benar begitu, semua ini hanyalah bohongan. Rekayasa karena mengambil sudut pandang dari dia."
"Bisa saja begitu. Aku tidak menyangka bahwa dia hanya ingin terlihat jahat di sini."
__ADS_1
"Astaga!"pekikku menyadari sesuatu akan kata-katanya. Memang aneh.
Sekarang aku merasa sedikit paham sesuatu. Kalau memang sesuai yang dikatakan Matt, maka aneh jika begitu. Johann, entah kenapa tidak ada sisi baiknya sama sekali dalam cerita ini. Semua hal yang baik dari dirinya digambarkan sebagai kepura-puraan dan formalitas. Meski begitu aku tidak bisa melihat hal ini karena menganggapnya hal yang wajar. Atau hal yang bisa dimaafkan. Atau mungkin aku hanya bersimpati tanpa alasan hanya karena aku mengagumi karakter ini. Entah hal apa yang ku kagumi dari dirinya.
Mungkin dalam hal ini juga aku bisa dianggap aneh. Apakah ini hanya selera saja atau hanya intuisi belaka, karena dengan semua sisi buruk itu aku masih melihat Johann sebagai karakter yang tidak bisa ku benci sama sekali.
"Aku tidak tahu apakah kau berkata jujur mengenai kau mendapatkan naskah cerita ini secara magis atau sebenarnya kau sedang mengarang cerita yang akan kau terbitkan dalam waktu dekat. Hanya satu hal yang kau perlu tahu. Berdasarkan deskripsi latar tempat tinggal karakter utama, sebenarnya ada satu tempat yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan di bab pertamanya."
Matthew membuka halaman pertama buku agenda dan mencari sesuatu di beberapa halaman berikutnya di bab pertama. Aku secara sengaja menuliskan babnya sesuai pergantian alur cerita karena tidak ada penanda sama sekali untuk mengetahui adanya pergantian plot dan narasi. Maksudku, dengan semua cerita yang tertulis itu tanpa menyisipkan nomor halaman, aku juga akan bingung jika sudut pandang cerita sebenarnya telah berganti.
"Kau tahu. Orang lain pasti akan menganggap bahwa kau yang menulis ini, apalagi kalau tempatnya benar-benar ada dalam dunia nyata."
Matthew menunjukkan sesuatu dari display smartphone-nya. Sebuah foto bangunan terbengkalai yang terlihat mengerikan karena dikelilingi pepohonan besar yang tidak berdaun. Batangnya berwarna hitam seperti dibakar. Kalau melihat tumbuhan di sekitarnya yang berwarna merah sepertinya foto itu diambil saat musim gugur.
"Aku pernah baca kalau puri ini pernah terbakar dulunya. Tak ada satupun tersisa kecuali bangunannya. Peristiwa itu terjadi karena terbakarnya hutan di sekitar puri itu. Sampai sekarang tidak ada satu orang pun yang tahu siapa pemilik puri ini karena tidak ada satupun petunjuk maupun barang yang tersisa. Tapi katanya ada buku yang menyimpan foto lama puri itu. Sayangnya orang terakhir yang memiliki buku itu beserta fotonya sudah meninggal. Dan buku itu hilang saat pemakaman orang itu. Dia juga tidak punya keluarga dan sedikit gila karena mengaku pernah tinggal di puri ini. Tidak ada yang percaya karena Puri ini diperkirakan berdiri sekitar abad 18 dan mustahil orang yang lahir di abad itu masih hidup hingga abad ini."
Ku fokuskan pandanganku pada foto bangunan itu. Entah kenapa dadaku sesak melihatnya. Ada sesuatu yang menyakitkan ketika melihat tempat itu.
Padahal sepertinya dulu sekali, tempat itu penuh dengan kebahagiaan.
"Aku menunggu Johann pulang saat itu...,"ucapku tiba-tiba tanpa sadar.
__ADS_1
Dan saat itulah aku tahu bahwa sesuatu memanggilku. Dan semuanya terjadi begitu cepat tanpa sempat bisa ku ingat.