
Walau sudah kelas tiga SMA, Dhara masih saja gemar bermain - main. Bahkan disaat liburan kenaikan kelas akan segera berakhir. Dan sebagai penutup liburan, ia menghabiskan waktunya untuk bersenang - senang bersama sahabatnya. Hari ini Dhara dan sahabatnya, Jihan akan pergi kesebuah peluncuran buku yang ada di gramedia Jakarta Selatan.
Jihan sangat gemar membaca buku, apalagi saat dia mengetahui bahwa kak Dirga alumni dari SMA mereka sekarang telah menjadi seorang penulis novel. Oleh karena itu sejak seminggu yang lalu Jihan terus memaksa Dhara agar menemaninya ke peluncuran buku pertama kak Dirga.
"Ahh akhirnya gue bisa ketemu langsung ama kak Dirga, gak nyangka banget gue. Gilaaaa... makin ganteng aja tuh orang " Jihan meloncat kegirangan saat keluar dari gedung Gramedia, sambil memeluk buku novel yang telah ditanda tangani oleh kak Dirga.
"Yelah Jihan... sampe segitunya yah? Btw Ji masih suka ama kak Dirga? " tanya Dhara sambil menatap kearah Jihan yang senyumnya perlahan memudar.
Ya dulu sahabatnya itu pernah menjalin sebuah hubungan dengan kakak alumninya itu, namun sayangnya hubungan mereka harus berakhir dan Dhara tidak tau alasannya apa.
"Hahh ya enggak lah, udah dua tahun berlalu juga gue udah move on kali. Lagian gue kan juga udah punya pacar sekarang..." Jihan tersenyum kecut. Dhara hanya mengangguk tanda mengerti, lalu Jihan kembali bertanya pada Dhara.
"Terus lo sama Egan gimana? "
Sontak pertanyaan itu membuat gadis berambut panjang itu mual, padahal Jihan tahu bahwa gadis itu sama sekali tidak menyukai Egan.
"Please deh Ji... lo kan tau gue sama Egan cuman temen "
Jihan tertawa meledek, dia tahu kalau Dhara tidak suka mendengar pertanyaan seperti itu.
"Yah kalau secantik dan sepintar lo, pasti selalu banyak yang suka yah..." puji Jihan.
"Ah apa sih? gak juga kok..."
Tapi Dhara sangat sadar bahwa, memang banyak anak cowok disekolah yang menyukainya. Terlebih lagi ketika awal masuk SMA, gadis itu sudah banyak sekali mendapatkan pernyataan cinta. Baik itu dari teman - teman sekelasnya ataupun kakak kelasnya.
Setiap hari dia selalu menemukan banyak sekali hadiah yang berada di laci meja, berharap pernyataan cinta itu dibalas. Namun sayangnya diantara banyak cowok yang menyatakan cintanya pada Dhara, gadis itu sama sekali tidak tertarik.
Meskipun Dhara sempat pernah beberapa kali berpacaran dengan cowok - cowok yang cukup populer disekolahnya maupun dari sekolah lain hubungan itu tidak akan bertahan lama. Seminggu atau dua minggu bisa dibilang itu adalah rekor pacaran ala Dhara.
Ya begitulah Dayana Andhara. Gadis yang biasa disapa Dhara ini adalah primadona disekolahnya. Selain punya paras cantik dan mempesona, ia juga anak yang sangat pintar dan cerdas. Dia selalu mendapat peringkat dan nilai yang bagus di setiap mata pelajaran. Maka tak heran banyak yang menyukainya. Terutama para guru disekolah yang tak pernah kecewa akan prestasi yang di dapatnya.
"Mau makan jagung bakar dulu gak?" tanya Jihan membuat Dhara tersadar dari lamunannya.
"Maulah, lo yang bayar tapi..." jawab Dhara cengengesan.
Jihan menatapnya sinis, tidak bermodal sekali Dayana Andhara ini pikirnya.
"Emang dasar ya lo..." Jihan mencubit pipi Dhara, lalu mereka segera pergi ke angkringan pedagang kaki lima langganan mereka.
Sambil menunggu jagungnya dibakar, mereka duduk sambil menikmati pemandangan malam. Terasa dingin, udaranya begitu menusuk kedalam kulit walaupun sudah memakai pakaian yang cukup tebal. Sesekali mereka menggosok - gosokkan telapak tangan mereka agar mendapat hawa yang hangat.
Udara dimalam hari berubah menjadi dingin seketika, padahal siang tadi Dhara hampir mati karena kepanasan. Dan sekarang ia mengeluh karena kedinginan. Begitulah terkadang manusia kurang bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan.
__ADS_1
Setelah menunggu cukup lama, karena antrean yang juga cukup banyak. Akhirnya jagung bakar pun siap dihidangkan di meja mereka. Ketika tengah menikmati jagung bakar tersebut, dua orang pria datang dan duduk dihadapan mereka.
"Udah lama disini? " tanya salah seorang pria yang duduk dihadapan Jihan. Dhara memperhatikan pria yang duduk dihapan Jihan dengan malas.
Jihan melihat pria itu dengan tersenyum sangat manis, pria itu mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
"Iyah lama banget..." jawab Jihan dengan manja. Jihan melirik Dhara yang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan julid. Jihan terkekeh melihat ekspresi sahabatnya itu.
"Ishh... dia ngapain kesini sih? " tanya Dhara sangat kesal.
"Eyy suka - suka gue lah, gue mau nyamperin pacar gue emang salah? Lo ajak juga pacar lo kesini, biar gak sendirian terus " Irfan balik mencibir Dhara yang julid kepadanya.
Dhara mendecak sebal, ia langsung menoleh ke Jihan.
"Hehehe... gapapa kan Ra??" Jihan merasa tidak enak pada Dhara karena telah mengajak Irfan ikut bergabung bersama mereka.
"Hemm iyah gapapa " Dhara melanjutkan kegiatan makannya yang terhenti karena kedatangan irfan dan temannya. Ya Irfan tidak datang sendirian, ia datang bersama temannya. Dan pria disamping Irfan itu begitu menarik perhatian seorang Dayana Andhara.
Dhara yang sama sekali tidak pernah merasa tertarik dengan seseorang sebelumnya kini ia hanya bisa mematung memperhatikan ketampanan pria di hadapannya ini.
Sambil menikmati Jagung bakar tersebut ia sesekali melirik pria yang fokus dengan handphone dihadapannya.
Aksi lirik melirik antara Dhara dan pria dihadapannya itu menarik perhatian Jihan dan Irfan yang tadinya sedang fokus mengobrol. Irfan pun langsung membuka forum bicara.
"Ah iyah gue hampir lupa. kenalin Ra, ini temen gue... Hendery "
"Panggil aja Nata..." kata Hendery sambil melihat Dhara.
Dhara menyembunyikan eskpresi senangnya. Karena Hendery menatapnya. Namun Dhara memilih untuk tidak bereaksi apa - apa. Ia membalas perkenalan itu dengan senyum dan anggukan kecil.
"Nat... kenalin ini sahabat gue, Andhara " kata Jihan sambil memegang bahu Dhara.
"Andhara..." ucap Dhara dengan tersenyum.
Hendery mengangguk.
Saat itu juga Irfan dan Jihan pergi meninggalkan mereka berdua dengan sengaja.
"Fan aku mau martabak manis, ke angkringan sana yuk.." Jihan beralasan.
"Gue ikut dong..." kata Dhara sambil memegang lengan Jihan.
"Yaelah bentaran doank... kgak lama kok" Jihan menarik lengannya.
__ADS_1
"Der bentar yah... gue mau kesana beli mertabak buat mbak pacar " Irfan tersenyum licik dan pergi bergandengan tangan dengan mesra bersama Jihan. Hendery geleng - geleng kepala melihat kelakuan not have akhlak kedua temannya itu.
Kini hanya tinggal Dhara dan Hendery saja yang duduk berhadapan di warung angkringan kaki lima tersebut. Suasana sangat hening, mereka hanya berdiam - diaman sesekali saling melirik.
Udara malam itu semakin dingin sama halnya dengan sikap pria dihadapan Dhara ini. Sangat dingin dan cuek. Baru kali ini dia bertemu pria yang mengabaikan dirinya seperti ini. Dari setiap laki - laki yang berkenalan dengannya, diantara mereka pasti ada yang bertanya - tanya tentang dirinya atau melontarkan berbagai macam gombalan. Tapi tidak dengan Pria yang bernama Hendery ini, sangat dingin dan cuek. Dhara benar - benar merasa bosan. Ia bahkan berkali - kali mengecek handphonenya. Namun kala itu isi whatsapp nya benar - benar kosong.
Hendery menghembuskan nafas panjang, tanda pria berjaket denim itu sudah merasa bosan dan merasa ngantuk. Ia memasukkan handphone nya kedalam saku celananya. Ia melirik jam di pergelangan kirinya. menunjukkan pukul 21.30.
Namun di seberang sana Irfan masih asik berpacaran. ia mengirim kan pesan singkat pada Irfan.
Hendery memundurkan kursinya pelan dan suara kursi itu membuat kantuk gadis di hadapannya itu buyar seketika.
"K..kenapa??" tanya Dhara sambik mengucek matanya.
Namun Hendery tidak menjawab, ia langsung berdiri dan hendak berjalan menuju parkir, sepertinya pria itu bergegas ingin pulang. Dhara pun juga ikut berdiri dan memegang lengannya.
"Kamu mau pulang? " tanya Dhara, Hendery melihat Dhara memegang lengannya dengan tatapan tidak suka. Dhara langsung melepasnya. "maaf" lirih nya.
Hendery langsung membayar apa yang ia pesan begitu juga Dhara. Ia mengikuti Hendery yang menghampiri parkir.
"Kamu mau pulang yah? Terus aku gimana? boleh tungguin aku bentar aja sampai jemputan ku datang?" pinta Dhara.
Dhara merasa sedikit ketakutan karena langit tampak lebih gelap dari biasanya, bahkan bulan pun tak terlihat. Sepertinya akan turun hujan. Hendery tetap tidak menjawab, ia sudah duduk diatas keretanya dan hendak memakai helm.
"Hen.." lirik Dhara.
"Kita baru pertama kali bertemu, jadi aku rasa tindakan mu itu benar - benar tidak sopan " ketus Hendery.
Dhara mencoba mengingat tindakan mana yang sudah tidak sopan? Bukankah sedari tadi Dhara tidak bersikap berlebihan?
当我遇见你时,世界突然变得温暖、明亮、友好
Dāng wǒ yùjiàn nǐ shí, shìjiè túrán biàn dé wēnnuǎn, míngliàng, yǒuhǎo
Dhara terbelalak kaget mendengar bahasa yang diucapkan oleh Hendery. Satupun kata tidak bisa ia ingat apalagi untuk ia cerna. Ternyata les bahasa Mandarin yang sudah setahun ia pelajari karena keinginan keluarga ibunya sama sekali belum bisa ia pahami. Ia mendadak jadi orang bodoh dihadapan Hendery yang tersenyum kecil padanya. Hendery langsung pergi begitu saja dari hadapan Dhara. Gadis itu mendadak lemas.
"Itu... bahasa mandarin kan? aku sama sekali gak ngerti...!! kira - kita artinya apa? bahkan aku gak inget dia ngomong apa aja "
Dhara merasakan jantung nya tengah berdegup sangat kencang.
"Aneh... kenapa aku ngerasa berdebar - debar kaya gini sih? " Dhara terus menatap kepergian Hendery yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.
Saat itu juga Irfan dan Jihan menghampirinya.
__ADS_1
"Lo ngapain disini? gerimis nih, yuk pulang supir gue udah jemput."
"Dhara hanya diam dan mengikuti Jihan dari belakang"