
Pak Bambang membawa Andhara kerumah sakit, Hendery mengikuti mereka dari belakang dengan keretanya. Pak Bambang dengan segera menghubungi ayah Andhara.
Mereka pun sampai dirumah sakit. Andhara langsung dibawa keruang rawat. Hendery menghampiri pak Bambang dan saat itu ayah Andhara datang.
“ Andhara baru aja sampai dan sekarang dokter lagi nanganin dia ” kata Pak Bambang menenangkan ayah Andhara.
“ Terimakasih pak, kalau ga ada bapak mungkin gak akan ada yang nolong Andhara ”
“ Saya cuman kebetulan lewat aja pak, Hendery yang nolong Andhara tadi ”
Eric ( ayah Andhara ) menoleh ke Hendery yang berdiri disamping pak Bambang.
“ Terima kasih banyak nak Hendery udah nolongin Andhara” kata Eric sambil memegang bahu Hendery.
“ Iyah pak sama – sama ”
“ Kalau begitu saya izin pulang dulu. Permisi...”
“ Hati – hati Hendery...” kata pak Bambang.
Hendery pun pergi.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan.
“ Gimana putri saya dok? Saya Ayahnya ” tanya Eric dengan cemas.
“ Putri bapak cuman kelelahan aja, akhir – akhir ini pola makannya tidak teratur. Andhara punya riwayat penyakit anemia, kalau terus – terusan seperti ini bisa sangat berbahaya pak...” kata Dokter itu.
Penyakit Anemia yang diderita Andhara sejak kecil membuatnya tidak boleh terlalu banyak bekerja, karena itu akan membuatnya sangat mudah lelah dan letih. Kalau sudah seperti itu ia akan sering merasa sakit kepala bahkan sesak nafas. Dan hal ini sudah menjadi kebiasaan Andhara ketika akan ikut olimpiade seperti ini. Ia akan belajar sampai larut malam, dan jarang makan karena terlalu fokus dengan belajarnya. Eric terlalu sibuk bekerja, tidak ada yang memperhatikan Andhara. Oleh karena itu tidak ada yang memperhatikan kesehatan Andhara.
“ Kalau begitu, Andhara tidak usah ikut olimpiade. Andhara harus istirahat dirumah” kata Pak Bambang.
“ Tapi pak... olimpiade kali ini tuh sangat berarti bagi saya...” kata Andhara yang masih terbaring lemah ditempat tidur.
“ Andhara... tolong sekali ini aja, pikirkan dulu kesehatan kamu...” pinta Eric.
Andhara langsung diam ketika Eric yang berbicara, ia tahu betul pasti ayahnya sangat khawatir. Terlebih lagi Andhara hanya anak satu – satunya.
“ iyah Ayah... Andhara gak akan ikut olimpiade itu...”
__ADS_1
Andhara merasa sangat sedih karena ia tidak bisa berpartisipasi dalam lomba itu, terlebih lagi ayahnya meminta izin selama seminggu kepada Pak Bambang untuk Andhara agar tidak masuk sekolah dulu. Andhara hanya bisa menurut perkataan ayahnya kali ini.
Andhara pun di izinkan untuk pulang.
Dan sesampainya dirumah ayahnya langsung meminta bik Imah agar tinggal dirumah selama seminggu untuk merawat Andhara. Kali ini ayahnya benar – benar tegas padanya.
Andhara bahkan tidak di izinkan untuk belajar dulu, pola tidur Andhara juga harus dijaga. Andhara hanya diam dikamar, ia merasa sangat bosan.
Padahal dua hari lagi olimpiade akan segera dimulai, Andhara sangat sedih karena tidak bisa ikut. Tapi tidak apa – apa, lagipula sudah cukup selama ini ia selalu berpartisipasi dalam ajang seperti itu. Bahkan dari awal masuk SMA ia sudah banyak mendapat tawaran untuk ikut dalam berbagai macam perlombaan Sains. Dan setelah mengikuti perlombaan dan menyabet gelar sebagai seorang juara saat itu juga Andhara langsung jatuh sakit. Ia sudah beberapa kali keluar kota untuk mengikuti perlombaan Sains bahkan terakhir kali ia mengikuti perlombaan Sains juga di singapore dan mendapat juara II.
Andhara menatap layar handphone nya, banyak pesan masuk dari beberapa teman – temannya, terutama Jihan. Dan bahkan saat ini Andhara berharap bahwa ia akan mendapat ucapan cepat sembuh dari Hendery. Namun sepertinya itu tidak mungkin terjadi.
Beberapa minggu yang lalu, Irfan sempat memberikan nomor whatsapp Hendery pada Andhara, gadis itu dengan senang hati menyimpan nomor tersebut. Dan bahkan ia langsung mengirim pesan pada Hendery. Namun sayangnya tidak pernah dibalas oleh Hendery, padahal pria itu selalu akrab dengan handphone nya dan bahkan sangat aktif di group chat kelas. Tapi kenapa beberapa pesan singkat Andhara tak kunjung dilihat ataupun dibalas olehnya? Ya cuman Tuhan yang tahu ada apa dengan Hendery.
Siang ini Andhara tidak mengikuti kelas mandarin karena tidak mendapat izin dari ayahnya. Dan Andhara tidak punya pilihan lain selain menurut perkataan ayahnya.
...***...
Keesokan harinya disekolah, Pak Bambang memberitahukan kepada peserta yang ikut olimpiade bahwa Andhara tidak bisa mengikuti perlombaan tersebut karena harus beristirahat total dirumah. Pak Bambang memberikan pengarahan agar mereka harus lebih kompak lagi menjawab soal tanpa Andhara.
“ Memang berapa hari Andhara gak masuk pak?” tanya Egan.
“ Kurang lebih seminggu...” jawab pak Bambang.
Ketiga muridnya mengangguk mengerti. Mereka pun kembali masuk keruang belajar dan membahas materi disana sambil membaca – baca buku referensi.
...***...
Siang ini dikelas Mandarin rasanya terasa sepi walau kelihatannya sangat ramai. Hendery memberikan materi baru kepada murid – muridnya. Ia pun membagikan tugas puisi yang kemarin dibuat oleh anak – anak muridnya. Tinggal tersisa satu buku ditangan kanan Hendery, pemiliknya tidak datang. Dayana Andhara namanya tertulis sangat indah disampul buku itu. Hendery kembali membuka buku tulis itu dan kembali membacanya puisinya.
Kamu yang sedingin es...
Meskipun begitu aku tidak bisa berhenti untuk menyukaimu...
Tidak ada seorang pun yang suka diabaikan, terlebih lagi dari orang yang kita suka karena setiap orang pasti ingin diperhatikan oleh orang yang disukainya.
begitulah kira – kira kalimat terakhir yang ditulis oleh Andhara dalam bahasa Mandarin.
Hendery lalu mengambil handphone nya dan membuka aplikasi chat, ia melihat beberapa chat yang ia arsipkan. Ia mencari nomor Andhara yang tidak di simpannya sama sekali, bahkan chat itu berada diurutan paling bawah dari 200 pesan yang diarsipkannya. Pesan yang sama sekali belum ia baca, terdapat 107 pesan dari Andhara. Dengan ragu ia membuka isi chat tersebut. Ia melihat sejak kapan Andhara mengiriminya pesan.
__ADS_1
Ternyata pesan itu sudah berumur dua bulan dan sama sekali belum ia baca. Dan sudah dua bulan juga Hendery bersekolah di SMA WIRYA, selama itu juga Andhara berusaha mengejar –ngejar nya. Namun Hendery terlalu cuek sehingga tidak pernah melihat betapa Andhara berusaha membuktikan perasaannya.
Ia membaca pesan itu dari awal.
Hendery sempat terkekeh melihat beberapa pesan lucu yang dikirimkan Andhara kemudian ia menyimpan nomor Andhara.
“ Kalau gue save gak bakal jadi masalah kan yah?”
Hendery lalu menyimpan buku tulis Andhara kedalam tas nya. Kelas mandarin pun usai, semua murid pun mengosongkan kelas tersebut. Hendery segera merapikan kelas itu dan duduk di kursi Andhara.
“ Lo sengaja kan Andhara, milih duduk didepan supaya bisa lihat gue dengan jelas...”
Hendery terkekeh.
Ia kembali mengambil hanphone nya dan mengetikkan sesuatu namun kembali dihapusnya. Ia bingung ingin bilang apa.
...***...
“ Pasti Hendery udah siap ngajar...”
“ Kira – kira hari ini bahas materi apa yah??”
“ Biasanya jam segini aku belum pulang kerumah... karena masih ngerjain tugas”
Andhara pun membuka aplikasi chat dan melihat pesan yang ia kirim kepada Hendery sudah mendapat centang biru, itu artinya Hendery sudah membaca pesannya. Tapi kenapa Hendery belum juga membalasnya??
Jari Hendery mulai mengetik kembali, ia mengirimkan beberapa file tentang materi hari ini. Namun kala itu Andhara sudah tidak aktif lagi, padahal ketika ia mengetik untuk pertama kali gadis itu tiba – tiba saja online.
Kemudian di akhir, Hendery mengirimkan voice not kepada Andhara.
“ Ehkm... cepat sembuh Andhara” Hendery mengucapkannya dengan lembut lalu mengirimnya.
__ADS_1
Hendery benar – benar tulus mengatakan itu.
Semoga saja Andhara tidak pingsan mendengar suara Hendery, meskipun mereka sering berinteraksi secara langsung tapi moment ini pasti sangat langka bagi Dhara.