
Pelajaran pertama bersama bu Riska dengan mata pelajaran Kimia. Semua anak laki - laki dikelas itu tampak bersemangat. Yah bagaimana mereka tidak bersemangat diajari oleh soerang guru muda nan cantik. Bu Riska adalah guru baru pengganti pak Anto yang sudah pensiun.
"Oke materi yang akan kita bahas hari ini adalah sifat koligatif larutan, semuanya tolong catat apa yang saya katakan " suruh bu Riska.
"Bu sebelum itu saya mau tanya boleh?" Tanya Irfan menghentikan aktivitas menyatat teman-teman dikelasnya.
"Tanya apa irfan?" Sahut bu Riska.
"Ibu cuman ngajar kimia doang? "
"Ah iyah ibu lupa kasih tau, ibu juga megang fisika sama biologi " jelas bu Riska.
"Berarti setiap hari bakal ketemu dong bu?"
"Iya... memangnya ada apa irfan?"
"Gapapa bu, cuman tanya aja..." irfan cengengesan.
"Modus tuh bu... " ledek Key
"Paan sih lu..." Sinis Irfan.
"Cowo lu tuh Ji... mata keranjang emang " bisik Key kepada Jihan yang duduk di depannya.
Jihan langsung memukul kepala Irfan yang berada disampingnya dengan buku paket kimia. Irfan mengusap kepalanya yang terasa sakit namun tetap tersenyum genit dengan Bu Riska.
"Udah - udah... lanjut lagi belajarnya "
" Bu, ibu hari ini terlihat seperti Tembaga + Telurium "
Bu Riska terkekeh mendengar gombalan Irfan, Bu Riska sangat mengerti maksud Irfan. Begitu juga murid yang faham maksud Irfan.
Jihan yang berada disampingnya tidak mengerti maksudnya.
Jihan mengirim pesan pada Dhara.
Jihan : Oi maksudnya apaan tuh kata Irfan tadi?
Dhara : Tembaga \= Cu Telurium \= Te
Jihan langsung Faham dengan apa yang dijelaskan Dhara, ia menatap Irfan sinis. Dan menginjak kaki Irfan, Irfan meringis pelan.
^^^*CuTe \= imut^^^
...***...
Satu les pelajaran kimia bersama bu Riska akhirnya selesai, semua siswa pun beristirahat sebentar sembari menunggu pelajaran selanjutnya.
Dikesempatan itu Dhara melirik Hendery yang tengah fokus membaca buku. Dhara tersenyum melihatnya, saat itu Hendery sadar bahwa ada seseorang yang tengah melirik nya. Hendery pun menoleh ke samping kanannya dan mendapati Dhara yang tengah tersenyum padanya.
Hendery menghela nafas panjang, dan segera menutup wajahnya menggunakan buku bahasa mandarin.
"Kayaknya aku harus les bahasa mandarin lagi..."
Dhara segera mengeluarkan handphonenya dan mengirimkan pesan singkat pada Ayahnya bahwa ia ingin kembali kesekolah bahasa yang diselenggarakan pamannya waktu itu.
Saat itu juga Irfan masuk ke kelas dengan mendobrak pintu sambil berteriak heboh.
"Ehh ehh tau gak, gue baru dengar gosip katanya ada yang ngancurin perpustakaan sekolah"
Seisi kelas mendadak heboh, terutama Dhara yang langsung mendengarkan cerita Irfan dengan seksama.
"Haa serius??? Siapa pelakunya??" Tanya Jihan antusias.
"Gue gak tau, tapi wakil kepala sekolah sama pak Fandy lagi cari tau"
Seisi kelas terlihat penasaran dengan pelaku yang membuat perpustakaan sekolah itu menjadi tragis.
"Dan denger - denger tadi pas gue lewat kantor katanya akan ada murid yang di diskualifikasi dari persiapan olimpiade Fisika tahun ini karena nilainya anjlok tau gak"
Semua tampak heboh terutama Dhara, karena ia juga perwakilan dari siswi yang ikut olimpiade itu dan dua hari yang lalu ia ikut tes ujian Fisika tersebut.
"Pak bambang sampe marah - marah di kantor, apalagi pak Fandi... behhhh masalah perpustakaan aja belum selesai ini malah nambah lagi..."
Semua menghembuskan nafas panjang tak habis pikir.
Lalu saat itu juga, Pamela masuk ke kelas dengan tatapan tajam kearah Dhara, seisi kelas sontak kaget melihat ekspresi wajah Mela yang tak seperti biasanya.
"Andhara...dipanggil keruang bimbingan konseling sekarang..."
Mendengar perkataan itu, seisi kelas mendadak hening dan semua mata tertuju pada Dhara kecuali Hendery.
"Rara?? Lo buat kesalahan apa?"
__ADS_1
"Gak tau tuh... aku kesana dulu yah"
Dhara pun keluar dari kelas, dengan perasaan yang gugup dan gelisah, bagaimana bisa ia dipanggil keruang BK padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Baru dua minggu sekolah dan ia sudah dipanggil keruang BK.
Dhara pun tiba diruang Bimbingan konseling dan duduk dihadapan pak Fandy. Ia terus meremas jari jemari nya yang terasa dingin.
Pak Fandy memukul meja dengan sangat kuat menggunakan telapak tangannya yang lebar.
"Kamu tau kan apa kesalahan mu??" Bentak pak Fandi.
Dhara menggeleng pelan.
"Andhara bagaimana bisa kamu ceroboh menjawab soal fisika ini?? Lihat kertas jawaban kamu ini!!"
Pak Fandy meletakkan kertas soal itu dengan kasar kehadapan Dhara.
Dhara melihat kertas soal yang bertuliskan nama 'Andhara'.
"T...tapi pak... ini bukan kertas soal saya "
Pak Fandi tak percaya.
"Kamu mau coba ngelak?? Jelas - jelas nama kamu tertera disitu " bentak pak Fandi.
"Tapi ini bukan punya saya pak, saya gak pernah jawab soal dengan asal - asalan seperti ini..." Dhara menyeka air matanya.
"Sumpah pak saya gak buat kesalahan untuk olimpiade kali ini, saya jujur " jawab Dhara dengan isakan yang ditahan.
Pak Fandi tetap tidak percaya. Gara - gara kertas soal milik Dhara, skor yang diperoleh turun drastis 50%.
"Karena sifat ceroboh yang kamu punya, kamu saya keluarkan dari Peserta olimpiade Fisika tahun ini"
Mata Dhara berkaca - kaca dan perlahan air mata itu menetes membasahi pipinya.
"Kesalahan kamu bukan hanya ini yah Andhara, saya mendapat laporan bahwa kamu telah mengacak - acak dan mencoret - coret ruang perpustakaan"
Mendengar itu mata Andhara terbelalak kaget, gadis disiplin seperti dia apakah mungkin melakukan hal yang buruk seperti itu? Apakah mungkin Andhara yang melakukan kerusakan di perpustakaan itu?
Andhara berdiri dan menumpahkan semua air matanya.
"Dua tahun saya sekolah di SMA WIRYA ini pak. Dan tahun ini adalah tahun terakhir saya menempuh pendidikan disini...
Selama dua tahun pula saya mengisi hari - hari dengan mengharumkan nama sekolah ini hingga ke kancah internasional. Saya bawa nama baik sekolah ini, saya gak mungkin ngelakuin perbuatan buruk sperti itu, dan sekali lagi kertas soal ini bukan punya saya." Dhara memundurkan kursinya dan keluar dari ruangan itu.
"Aku gak ngelakuin apapun... kenapa pak Fandy nuduh aku kayak gitu sih? Aku juga udah jawab semua soal Fisika dengan teliti dan jujur... tapi kertas itu bukan punya aku..."
...***...
Dikelas suasana terlihat sangat hening dan beberapa diantaranya tampak cemas, sampai sekarang Dhara belum juga kembali ke kelas.
Hendery pun sepertinya berdebar - debar menanti kedatangan Dhara.
Namun nihil gadis itu belum juga kembali ke kelas. Sampai seorang adik kelas masuk ke kelas mereka dan mengambil tas sekolah Dhara.
"Kenapa??" Tanya Jihan pada adik kelasnya itu.
"Kak Dhara disuruh pulang sama pak Bambang " Gadis itu segera meninggalkan kelas itu.
Seisi kelas mulai kembali heboh. Apa yang terjadi??
"Ini ada apa sih sebenarnya? " tanya jihan.
"Ehh mela, Dhara kenapa dipanggil ke ruang BK tadi ??" Tanya Irfan penasaran.
"Lo juga bakal tau nanti..."
"Jangan bilang kalau semua yang terjadi ada hubungannya sama Dhara " celetuk Irfan.
Seisi kelas mulai menatap kearahnya.
Hendery yang mendengar itu langsung meninggalkan kelas. Dan mencoba mencari Dhara namun tidak ditemukan.
...***...
Keesokan harinya, karena tidak mau membuat ayahnya khawatir, Dhara memustuskan untuk berangkat kesekolah meski sebenarnya ia tidak ingin pergi, apalagi cuaca pagi itu sama seperti isi hatinya saat ini. Pasti isu buruk tentang dirinya sudah banyak didengar oleh seisi sekolah.
"Apa Hendery berfikir aku pelakunya?? Kalau sempat dia berfikir seperti itu, aku gak bakal sanggup ketemu dia. Aku bakal dicap buruk "
Dhara menghembuskan nafas panjang. Dituduh sebagai pelaku kerusakan disekolah benar - benar membuat hatinya hancur, sangat hancur. Apalagi ketika mengingat perkataan pak Bambang siang kemarin sebelum dia dipulangkan kerumah. Bahwa wali kelasnya kecewa padanya.
Bahkan tadi malam Dhara tidak bisa tidur dan terus mengingat kejadian disekolahnya.
Dituduh sebagai pelaku kerusakan disekolah dan di keluarkan dari kompetisi oliampiade karena kertas soal yang salah. Hidup Dayana Andhara benar - benar kacau.
__ADS_1
Ia sampai disekolah dan masuk ke kelas lalu mencari Jihan, namun saat itu Jihan belum datang.
Ia duduk sendiri didalam kelas. Dan mendengat cibiran dari beberapa teman dikelasnya tentang kejadian yang melanda sekolah mereka.
"Gue gak nyangka yah Ra, cewek kaya lo bisa jadi benalu disekolah "
Cibir Manda.
"Yah sama gue juga, udah rame beritanya. Lo ngacak - ngacak perpus terus ceroboh jawab tes soal Fisika dan dikeluarin. Malu - maluin lo emang " cibir Sandy gantian.
Dhara kembali menyeka air matanya. Dan memilih keluar dari kelas tanpa menjawab cibiran dari kedua temannya.
Ia lari ke koridor yang semalam dikunjunginya, masih terlihat sepi. Ia merapikan rambutnya yang berantakan karena berlari.
"Apa?? Apa yang harus gue lakuin?? Gdak yang percaya... mustahil kan gue ngelakuin hal itu? Gimana cara jelasinnya ??" Dhara menumpahkan air matanya.
"Andhara..." panggil Hendery.
"De...dery??"
Dhara semakin lemas ketika namanya dipanggil oleh Hendery, rasanya ia ingin melepas wajahnya. Dhara tidak tau harus berekspresi seperti apa. Dhara berfikir pasti Hendery kesini untuk menuduhnya juga.
"Gue percaya... bukan lo pelakunya "
Mendengar perkataan lembut Hendery, Dhara merasa tak percaya.
"Kertas tes itu memang bukan punya lo... kertas nya ketuker sama punya anak kelas bawah yang juga ikut olimpiade Fisika dan kebetulan namanya sama kaya lo"
Dhara benar - benar tidak percaya.
"Nilai lo udah diperiksa ulang, dapat 100"
"Aku sedikit lega... tapi tetap aja dituduh sebagai perusak perpustakaan sekolah rasanya aku gak bisa nerima der... "
"Gimana bisa aku nerima perkataan mereka, atas perbuatan yang sama sekali gak aku perbuat der..."
"Gue kemarin udah bilang sama para guru terutama pak Bambang dan pak Fandy kalo bukan lo pelakunya " jelas Hendery.
"Ha?? " Dhara tak percaya.
"Dari hasil catatan selama dua tahun lo sekolah disini, gadak catatan buruk tentang lo. Sama sekali gadak"
"Laporan yang bagus, dan sama sekali gak punya kasus selama disekolah bisa membuktikan siapa kita yang sebenarnya"
"Dari sebuah laporan dan perbuatan kita bisa mengenal seperti apa orangnya..."
"Gue percaya... lo gak akan ngelakuin hal kayak gitu Dhara..."
Hanya dengan melihat laporan dan catatan sekolah Dhara selama dua tahun, Hendery percaya bahwa bukan Dhara pelakunya.
"谢谢亨德利"
"Xièxiè hēng dé lì" (Makasih Hendery)
Hendery tersenyum ramah pada Dhara.
"别客气"
"Bié kèqì" (Sama - sama)
"Ah iyah satu lagi...Gausah dengerin perkataan orang - orang yang gak suka sama lo... kita lebih kenal diri kita dibanding mereka... biarin mereka ngecap lo buruk yang terpenting hati lo gak kayak gitu..."
Cuaca mendung pagi itu berubah menjadi cerah seketika, seperti perasaan Dhara. Hendery tersenyum dan memberikan nasihat yang membuat jantung Dhara berdegup sangat kencang. Bisa ia rasakan pipinya memerah.
...***...
Selama ini Andhara memang selalu memikirkan tentang pendapat orang lain mengenai dirinya, apalagi dia sangat populer diantara anak - anak lelaki. Banyak anak - anak perempuan yang iri kepadanya. Baik itu karena penampilannya yang selalu terlihat cantik dan imut ataupun karena prestasi yang selama ini didapatnya. Maka dari itu ia benar - benar tidak menyangka popularitasnya akan membuat nya masuk kedalam masalah seperti ini.
Tapi ia bersyukur karena masalah yang didapatnya, akhirnya jarak antara ia dengan Hendery semakin dekat.
Sepertinya Dhara bukan hanya menyukai Hendery pada pandangan pertama saat di warung kaki lima. Tapi ia benar - benar telah jatuh cinta pada sosok Hendery Adinata yang katanya mirip seperti Huang guan heng salah satu member wayV.
Hendery yang kadang sikapnya dingin, kadang humble, kadang juga ketus tapi dibalik itu ia punya sejuta kehangatan ?? Ah tidak bukan sejuta, lebih tepatnya kehangatan yang tidak terhingga.
...***...
Hendery Adinata
Dayana Andhara
__ADS_1